
Selepas maghrib, Meli mengunjungi rumah Mario-Anjani sembari menenteng sebuah kotak berukuran lumayan besar juga satu paper bag berukuran sedang. Baru saja Meli turun dari taxi. Sengaja Meli tidak membawa motor sendiri. Selain barang bawaan yang besar, Meli juga sedikit lelah karena baru tiba di rumah usai menempuh perjalanan Jogja-Jember.
Bibir Meli mencebik begitu turun dari taxi. Kotak lumayan besar itu dia turunkan sendiri meski berat.
"Pak sopirnya nggak peka amat, sih. Barang bawaan segede ini nggak dibantu nurunin. Bodyguard yang ngumpet-ngumpet di sana juga nggak peka. Masa istri cantiknya Mas Azka nggak ada yang nolongin," protes Meli yang ternyata didengar oleh security rumah Mario-Anjani.
"Non, Meli, ya? Mari kami bantu, Non." Dua security langsung tanggap membawa barang bawaan Meli.
"Hihi. Makasih ya bapak-bapak yang peka," celetuk Meli dan langsung ditanggapi cengengesan.
Langkah Meli begitu ringan menuju pintu depan rumah. Kebetulan Mommy Monika dan John hendak keluar, sehingga merekalah yang pertama kali menjumpai Meli.
"Meliiii. Duh, mommy kangen, nih. Baru pulang dari Jogja, ya?" Mommy Monika langsung memeluk Meli dengan eratnya.
"Iya, Mom. Meli mau ketemu Anjani sama pengantin baru. Mereka ada kan, Mom?" tanya Meli.
"Ada. Kalian mengobrollah. Eit, jangan lupa kue-kuenya dimakan, ya. Jangan sungkan!" John terkekeh pelan.
"Siaap! Kalau begitu Meli ke dalam dulu," pamit Meli.
Dua security masih mengekori Meli. Begitu sampai di ruang tamu, barulah mereka meletakkan barang-barang Meli dan meninggalkannya. Di saat yang bersamaan pula, Mario-Anjani turun menemui Meli.
"Istrinya Mas Azka apa kabar?" Anjani menghambur memeluk Meli.
"Alhamdulillaah baik. Kamu sendiri gimana? Tau nggak sih, pikiranku sempat nggak tenang. Tetiba saja kepikiran kamu. Ponselmu juga sempat nggak aktif. Apa ada yang terjadi?" tanya Meli sembari melepas pelukannya.
Anjani tersenyum. Diliriknya sang suami yang sedari tadi melihat adegan peluk-pelukan Anjani dan Meli. Yang dilirik tentu saja peka.
"Mel, aku tinggal ke dapur dulu, ya. Kalian berdua mengobrollah." Mario tersenyum ramah.
Meli mengangguk, lantas mengikuti Anjani duduk di sofa ruang tamu. Meli segera meminta Anjani bercerita. Tanpa ragu lagi Anjani menceritakan apa yang telah dia alami. Mulai dari awal dirinya dibekap Daniel, hingga pelecehan yang dilakukan Daniel padanya. Anjani juga menceritakan sekilas bagaimana cara Mario menyelamatkan dirinya.
"Huuuuum. Si Daniel itu pengen kupecel aja. Nggak punya akhlak banget sih. Terus-terus, Daniel sudah mendekam di penjarakah?" Meli geram.
Anjani menggeleng.
"Loh? Masih kabur, dong. Duh! Anjani, kamu harus waspada, ya. Aku bener-bener kuatir, nih."
Wajah Meli kentara sekali kekhawatirannya. Sekilas dia teringat hal serupa yang meliputi keluarga besar Azka, khususnya Via-Farhan yang pesaingnya dimana-mana. Meli pun teringat juga bagaimana keselamatan dirinya hampir juga terancam saat menjenguk Eyang Probo di rumah sakit. Untung saja bodyguard yang biasa melindungi keluarga Via dan Farhan gesit menggagalkan. Meli sungguh tidak ingin sesuatu hal buruk menimpa Anjani.
Anjani tersenyum. Mimik wajahnya berusaha meyakinkan Meli bahwa semua akan baik-baik saja.
"Mas Azka apa kabar, Mel?" Anjani membuat topik baru agar Meli tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.
"Alhamdulillaah. Mas Azka baik. Keluarga di Jogja alhamdulillaah juga baik. Eyang bahkan juga lebih terlihat bugar. Tapi ...." Meli menggantung kata-katanya. Wajahnya tertunduk.
Tak biasa-biasanya Meli murung seperti itu. Anjani yakin sekali ada sesuatu yang sedang dirasakan oleh sahabatnya itu.
"Cerita aja, Mel!" tutur lembut Anjani sambil mengusap pelan bahu Meli.
"Semakin ke sini, rasanya aku semakin nggak bisa jauh dari Mas Azka. Di sampingnya, aku benar-benar merasa nyaman. Mas Azka itu sosok imam yang uwwu ... susah dideskripsikan deh. Solih, menyenangkan, sering banget aku dimanja sama Mas Azka. Hehe, meski kadang agak usil, sih. Jadi ... sepertinya hatiku sudah mantap akan pindah kuliah di Jogja semester depan," ungkap Meli pada akhirnya.
__ADS_1
Kembali Anjani tersenyum lembut.
"Itu artinya, ikatan cintamu sama Mas Azka semakin kuat. Aku setuju. Lama-lama LDR juga nggak baik. Bisa-bisa tiap hari banjir melulu karena kamu nggak bisa nahan rindu," goda Anjani yang sukses membuat Meli terkekeh pelan.
"He'em. Setelah ngasih tau kamu soal ini, aku makin mantap aja!" Binar mata Meli lebih cerah.
"Sebenarnya, Mario mengajakku tinggal di Jakarta usai dia wisuda. Itu nggak lama lagi. Jadi ... yaps, aku pasti bakalan nyamperin kamu di Jogja. Beri sambutan yang terbaik loh," ujar Anjani.
"Asiiik. Sesekali aku juga pasti bakal ngajak Mas Azka ke Jakarta. Lagipula, aku kan juga ingin lihat tugu monas itu seperti apa."
Gelak tawa lantas menghampiri keduanya.
"Wah, seru sekali kalian, ya. Mel, silakan diminum tehnya. Kuenya juga dihabiskan. Jangan sungkan!" Mario mempersilakan, lantas duduk di sebelah Anjani.
Tanpa sungkan lagi Meli menyeruput tehnya. Menikmati teh di depannya itu mengingatkannya dengan pelajaran baik dari Azka, saat mereka berdua menikmati santap saur, seling menyuap menikmati sepiring nasi goreng berdua. Seulas senyum segera tersungging kala ingatan itu terulang. Hatinya semakin mantap untuk segera tinggal bersama Azka di Jogja.
"Kak Mario. Pengantin barunya mana?" Tetiba Meli teringat Alenna dan Rangga.
"Lagi di mushola. Ngaji bareng. Alenna disuruh Rangga setoran hafalan juz 30 sambil nunggu isya'."
"Uwwu. Baru sah udah disuruh rajin ibadah. Mantap betul Kak Rangga. Beruntung deh Alenna bisa segera sah sama Kak Rangga. Eh, kalau Anjani gimana? Masih lanjut hafalannya?" tanya Meli.
"Insya Allah masih. Karena aku sama suamiku ini baru saja hijrah. Jadi kami saling menyimak. Sama-sama masih berusaha nambah hafalan," jawab Anjani sejujurnya.
"Yang penting istiqomah," sahut Meli.
Rasa syukur membuncah hati. Meli senang sahabat-sahabatnya bisa berada di lingkungan yang baik. Begitu pula dengan dirinya. Dikirimkan sosok Azka yang solih adalah anugerah terindah dalam hidupnya.
"Kalau begitu, aku titip hadiah kecil dariku ini untuk Alenna, ya. Kalau yang ini oleh-oleh buat kalian dari Jogja," terang Meli sambil memberikan bawaannya.
"Udah, makasih. Aku mau pamit. Baru aja aku ingat, sedari di kereta nggak buka HP sama sekali. Sekarang HPku di rumah. Nggak tau juga dayanya habis apa nggak, hehe."
Meli cengar-cengir. Sebenarnya dirinya mau berlama-lama bertamu. Begitu teringat tentang HP, mendadak Meli ingin segera pulang. Khawatir Azka menghubunginya.
"Aduh, kamu ini kebiasaan. Cerobohnya masih sama." Anjani gemas sampai mencubit pelan pipi Meli yang kemerahan.
"Hihi. Untungnya Mas Azka tetep cinta," celetuk Meli sambil membalas Anjani dengan cubitan gemas di hidung. "Yaudah, aku balik dulu, ya. Sampai ketemu di kampus besok!" Meli pamit.
"Sebentar. Aku minta sopir dulu untuk mengantarmu pulang." Mario sigap melangkah menemui sopir pribadi keluarganya.
Meli menurut. Apalagi Anjani juga memintanya.
"Sst. Ada kabar apa lagi yang aku lewati?" tanya Meli.
"Banyak, lho. Kak Ken mulai besok belajar menjabat sebagai wakil pimpinan anak perusahaan. Mario sendiri yang akan melatihnya. Terus, Kak Ken juga berencana menikahi Berlian setelah wisuda." Wajah Anjani ceria mengabarkannya.
"Uwwu. Ikut seneng deh dengernya. Terus-terus?" Meli ingin tahu yang lainnya.
"Saat kami pindah ke Jakarta nanti, ruko akan diberikan pada Dika. Yang ini kamu seneng nggak dengernya?"
"Ya seneng, dong. Kan sama aja berita bahagia. Dika pasti bisa mengelola ruko dengan baik. Semoga juga Dika lekas menemukan jodohnya. Sst, bilangan ke Dika dong. Kalau misal nggak nemu-nemu, ke Jogja aja. Ntar aku kenalin sama Kak Cahyanti. Banyak stok nama dianya, ada Sal ...."
__ADS_1
"Sopir sudah siap." Mario datang mengabarkan, membuat Meli cengar-cengir tidak melanjutkan kata-katanya.
"Sst, satu lagi." Kali ini Meli berbisik di telinga Anjani.
"Apa?" Anjani yang kepo pun ikutan berbisik.
"Kamu nggak nunda kehamilan, kan?" tanya Meli sembari tetap berbisik.
"Enggak sama sekali, kok. Kamu sendiri?" Anjani balik bertanya.
Meli tak lagi berbisik. Dia tersenyum lantas mengangguk mantap.
"Tos dulu. Kita sama!" Meli menjulurkan tangan kanannya.
"Yuhuu, sama!" seru Anjani setengah tertahan. Dia menyambut tangan Meli dengan tos.
"Eheem!" dehem Mario membuyarkan bisik-bisik dua sejoli.
Anjani dan Meli kompak menoleh lantas senyum-senyum. Tentu saja Mario tidak memahami maksud di balik senyuman istri dan sahabatnya itu.
"Pamit pulang dulu, ya. Kak, jagain Anjani. Kalau bandel cubit aja hidungnya! Assalamu'alaikum!" seru Meli dan mobil pun melaju.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mario-Anjani bersamaan. Senyum mereka mengembang karena keceriaan yang Meli tinggalkan.
Mario melirik Anjani. Dia merasa kehadiran Meli barusan mampu membuat rasa trauma Anjani pada perlakuan Daniel terkikis. Mario dapat merasakan perubahannya dengan jelas. Mario yakin, besok dan seterusnya persahabatan Anjani dan Meli akan terus terjalin. Bahkan sampai anak cucu mereka.
"Sayang. Tadi anak buah ayah menelepon. Daniel sudah ditemukan. Ayah dan anak buahnya bersiap membuat Daniel menyusul Leon," terang Mario.
Anjani terkejut sekaligus lega dengan kabar itu. Ucap syukur tak lupa dirapalkan.
"Bagaimana dengan seseorang yang dipanggil bos oleh Daniel?"
Mario menggeleng. "Tidak dapat dilacak keberadaannya. Entah bersembunyi di mana dia. Besar kemungkinan tidak lagi di negara ini. Tapi, bos Daniel sudah diketahui identitasnya," imbuh Mario.
"Siapa?"
"Ayahnya Leon."
Anjani mematung. Tak disangka pelaku utama masih ada hubungannya dengan Leon.
"Kalau dalang utama tidak bisa dilacak. Lalu, apa ada kemungkinan akan kembali berbuat yang tidak-tidak?" Kekhawatiran kentara sekali di wajah Anjani.
"Kemungkinan iya. Kita tetap harus waspada. Ayah juga tidak akan tinggal diam soal ini," terang Mario.
Mario memandang lekat manik mata Anjani. Dia berusaha meyakinkan sang istri bahwa semua akan baik-baik saja. "Jangan khawatir berlebihan. Sesungguhnya yang berlebihan itu tidak baik. Kita harus selalu percaya, bahwa Allah akan selalu melindungi kita," imbuh Mario menenangkan hati Anjani.
Perasaan sejuk menghampiri Anjani. Itu semua karena kata-kata sang suami.
Kuyakin hari esok akan semakin indah. Ada aku, kamu, dan buah hati kita. Batin Anjani membuncah syukur hamdalah.
***
__ADS_1
Author banyak dapat curhatan kecewa karena CS1 End. 😖 Rupanya ada juga yang ngefans sama Mario-Anjani. Kan authornya jadi terharu nih ðŸ˜. And now, ini spesial part buat ngobatin rasa rindunya reader CS1. Hayuuk yang belum kasih komentar di bab 170, silakan beri komentar. Maukah dilanjutkan di season 2? 😉 Author tunggu sampai malam tahun baru, ya.
Ikuti juga cerita ke-uwwuan Meli dan Azka di novel akak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Insya Allah banyak pelajaran tentang keislaman di sana. Happy Reading 😘