
"Anjani?" Salah satu teman sekelas Anjani menyapa dengan ekspresi terkejut.
"Uwu, cantik!" celetuk teman sekelas lainnya saat melihat Anjani.
"Anjani, jadi adem lihat kamu, nih!" puji teman sekelas lainnya.
Anjani menanggapi semua itu dengan sebuah senyuman. Langkah kaki Anjani terus membawanya menuju salah satu bangku di barisan kedua dari depan.
Begitu duduk, Anjani segera menoleh ke sahabatnya, Meli. Sedari tadi wajah Meli ditekuk. Berulang kali pula Berlian menggoda Meli agar ceria, tapi percuma saja.
"Mel, ada apa?" tanya Anjani sambil meletakkan tas kuliahnya.
"Sebel!" seru Meli.
"Sebel kenapa, sih?" Giliran Berlian yang bertanya.
Meli melepas tas kuliahnya dan meletakkan di atas bangkunya. Terdengar pula sebuah dengusan kesal yang menyertainya.
"Sebel, dari tadi Anjani melulu yang dipuji. Nggak lihat apa? Aku kan juga hijrah. Hu-hu-hu." Meli memasang wajah memelas.
Mendengar alasan yang meluncur dari mulut Meli, seketika membuat Berlian tepuk jidat. Berlian sempat mengira bahwa Meli tidak akan mengungkit-ungkit lagi soal pujian, nyatanya tidak.
Anjani menggeser bangku yang didudukinya agar lebih dekat ke tempat Meli. Anjani lalu menopang dagu sambil melihat ke arah sahabatnya itu. Seuntai senyum menghiasi wajah Anjani sebelum akhirnya terucap kalimat hangat teruntuk Meli.
"Meli sahabatku, kamu cantik. Penampilan barumu membuatmu semakin cantik. Niatanmu benar-benar cantik. Jika tidak ada yang memujimu, aku sebagai sahabatmu yang akan memujimu. Andai aku tidak memujimu, tenang saja. Ada Dia Yang Maha Tahu niatan hambanya yang akan memuji pilihan hijrahmu. Sekarang, pilih mana? Tetap cemberut atau kucubit hidungmu?" Ujung-ujungnya Anjani memberi pilihan yang membuat Meli tertawa begitu lepas.
"Hahahaha!" tawa Meli pecah membahana, membuat seisi kelas melihat ke arahnya.
"Suuut!" kode Berlian agar Meli memelankan tawanya.
"Duh, gemes-gemes! Kucubit kau, ya!" Meli malah mencubit gemas pipi Anjani.
Anjani tidak mengeluh dengan apa yang dilakukan sahabatnya itu. Anjani justru terkekeh pelan.
"Sudah lebih lega?" tanya Anjani begitu Meli melepas cubitannya.
"Hihihi. Iya-iya. Astaghfirullah. Maafkan Meli, Ya Allah. Meli tadi khilaf. InsyaaAllah niatan ini tulus. Bismillaah," tutur Meli seraya sikap berdoa dengan mengatupkan kedua tangannya.
Anjani tersenyum mendengar penuturan Meli. Sementara itu, Berlian bergegas merangkul Meli, hingga membuat Meli kembali heboh sendiri.
Anjani, Meli, Berlian, mereka bertiga duduk di bagku barisan kedua dari depan. Tanpa mereka bertiga sadari, sedari tadi Juno memperhatikan keasyikan obrolan dan canda yang dibuat mereka bertiga. Juno memperhatikan cukup lama, khususnya memperhatikan Anjani. Pandangan mata Juno sulit terlepas dari Anjani.
Dika yang duduk di samping kiri Juno mulai terlihat kesal karena perkataannya sama sekali tidak mendapat tanggapan dari Juno. Dika yang saat itu membahas salah satu materi kuliah, ingin meminta pendapat Juno, tapi keinginan itu tidak bersambut. Awalnya Dika hendak protes. Akan tetapi, saat mengikuti arah pandangan mata Juno, Dika seketika memaklumi.
Puk-puk-puk. Dika menepuk-nepuk bahu Juno, lalu bertanya. "Liatin apa, Bro?" tanya Dika basa-basi, padahal sudah tahu kalau sedari tadi Juno melihat ke arah Anjani.
"Nggak ngelihatin apa-apa, kok." Juno mengelak.
"Anjani cantik, ya?" kata Dika tiba-tiba.
Juno seketika menoleh dan memperhatikan mimik wajah Dika. Juno heran dengan penuturan Dika. Tidak biasa-biasanya Dika memuji wanita.
"Maksudmu?" tanya Juno.
"Maksudku, jalan baru Anjani membawa dampak baik. Mendadak aku jadi ingin hijrah juga. Aku juga sholat sih, meski bolong-bolong. Bismillaah, semoga setelah ini bisa istiqomah, rutin." Dika menjelaskan.
"Oh, baguslah. Kok tadi kamu bilang Anjani cantik? Kamu naksir dia, ya?" tuduh Juno dengan mimik wajah serius.
"Uwow! Santai, Bro. Yang tadi aku hanya memuji. Bukankah yang naksir Anjani itu kamu? Iya, kan?" Kali ini Dika yang memandang serius ke arah Juno.
Juno terdiam, lalu membuang pandang tak lagi melihat ke arah Dika. Beberapa detik posisi itu bertahan.
__ADS_1
"Kamu masih ada perasaan pada Anjani, kan?" tanya Dika sekali lagi, dan tetap tidak dijawab oleh Juno.
"Sudah cukup. Ada dosen datang," kata Juno kemudian.
"Mana?" tanya Dika tanpa menoleh ke arah pintu. Dika masih melihat ke arah Juno, berharap agar Juno menjawab pertanyaannya tadi.
Selanjutnya Juno hanya memberi kode tangan. Dika segera melihat ke arah yang ditunjuk Juno. Terlihat Pak Nizar baru saja melewati pintu masuk kelas.
Semua mahasiswa di kelas itu segera membenahi posisi duduknya. Obrolan seketika dihentikan. Beberapa ada yang segera mengeluarkan buku catatan.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang semuanya," salam sapaan Pak Nizar dan seketika dijawab oleh seluruh mahasiswa.
"Hari ini pertemuan terakhir di semester ini, selanjutnya kalian akan menempuh ujian. Sudah siap?" tanya Pak Nizar dengan nada kejawa-jawaannya.
Sebagian besar menjawab telah siap. Ada pula yang mengeluh karena merasa belum siap. Beda lagi dengan Meli, dia langsung mengangkat tangan kanannya.
"Em, Meli ya?" tanya Pak Nizar yang pangling dengan penampilan baru Meli.
"Iya, Pak. Saya Meli," jawab Meli sambil tersenyum.
"MasyaaAllah. Alhamdulillaah penampilan baru, semoga istiqomah. Ada yang ingin ditanyakan?" tanya Pak Nizar.
"Iya, Pak. Saya dan Anjani butuh bantuan. Em, nanti akan saya jelaskan setelah kelas, Pak. Boleh, ya Pak?" Meli penuh harap.
Anjani terkejut karena namanya dibawa-bawa. Padahal dirinya sedang tidak memiliki niatan apa pun apalagi sampai membutuhkan bantuan Pak Nizar. Akan tetapi, Anjani diam saja tanpa protes. Anjani yakin sahabatnya itu punya niatan penting sampai berani mengungkapkan keinginannya di depan kelas.
"Baiklah. Kalau begitu sekarang kita mulai kelasnya," kata Pak Nizar.
Kelas mata kuliah yang diajar oleh Pak Nizar pun dimulai. Pak Nizar me-review kembali semua materi yang pernah diajarkan, memberi pertanyaan-pertanyaan yang bisa dijawab lisan oleh mahasiswa di kelas itu. Saat tidak ada satu pun mahasiswa yang berhasil menjawab salah satu pertanyaannya, Pak Nizar akan membahasnya lagi.
Semua mahasiswa terlihat menikmati mata kuliah hari itu. Mahasiswa yang semula merasa tidak siap menghadapi ujian, mendadak hatinya termantapkan. Sementara mahasiswa yang sedari awal sudah siap menghadapi ujian, semakin mantap dan tidak sabar menunggu jadwal pelaksanaan ujian.
***
"Ini mau minta bantuan apa, sih?" tanya Anjani yang masih belum diberi tahu oleh Meli.
"Sudah, kamu iku aja. InsyaaAllah demi kebaikan kita. Biar hijrahnya makin mantap," jelas Meli.
"Oke, deh."
Setengah perjalanan menuju ruang dosen, tiba-tiba Juno memanggil dari arah belakang. Anjani dan Meli pun kompak menoleh.
"Juno? Ada apa?" tanya Meli begitu Juno sampai.
Juno tidak menjawab pertanyaan Meli. Pandangan mata Juno langsung tertuju pada Anjani. Sadar dirinya ditatap oleh Juno, Anjani cepat-cepat menundukkan pandangannya.
"Ini untukmu," kata Juno sembari menyodorkan kotak kado kecil. "Bros untuk hijab cantikmu," imbuh Juno.
Anjani melihat Juno sekilas. Tampak senyum tulus di wajah Juno. Perlahan tangannya meraih kado kecil dari Juno. Langsung dibuka, dan isinya benar-benar bros berornamen mawar.
"Terima kasih," kata Anjani.
"Sama-sama," jawab Juno tanpa memudarkan senyumnya.
"Ehem." Meli berdehem.
Dehem itu membuat Anjani dan Juno kompak menoleh ke arah Meli. Saat itu Meli sudah bersedekap.
"Hehe, tenang saja. Aku juga punya satu untukmu. Ini," kata Juno sembari menyodorkan kotak kado kecil ke Meli.
Meli menerima kado kecil dari Juno dengan hati riang gembira. Namun, begitu kado itu dibuka, wajah cerianya sedikit memudar.
__ADS_1
"Kok nggak sama?" tanya Meli.
"Meli Sayang, yang penting dapat juga, dan sama-sama bros," kata Anjani.
"Iya sih, tapi bentuknya abstrak." Meli merasa kurang puas.
Meli melirik ke arah Juno. Yang dilirik justru cengengesan.
Meli memang mendapat bros, tapi bentuk brosnya berbeda dengan milik Anjani. Bros milik Meli bentuknya tidak beraturan, tapi memiliki warna yang cerah. Meski sempat protes, pada akhirnya Meli menerima kado itu dan memakainya seketika itu juga.
"Makasih ya," kata Meli.
Juno hanya mengangguk lalu kembali melihat ke arah Anjani dengan mempertahankan senyum di wajahnya. Anjani merasa kurang nyaman terus diperhatikan oleh Juno. Demi mengalihkan perhatian, Anjani pun segera menarik tangan Meli menuju ruang Pak Nizar. Tak lupa, Anjani melambaikan tangan dan pamit pada Juno.
***
Di ruang dosen.
Saat Anjani dan Meli memasuki ruang dosen, terlihat Pak Nizar duduk di mejanya sambil memakai headset. Wajahnya berhias senyum sambil memperhatikan layar smartphone miliknya.
Meli mendahului langkah Anjani. Perlahan mendekat ke meja Pak Nizar. Sempat terlihat di layar smartphone Pak Nizar, sebuah logo audio. Artinya, Pak Nizar sedang mendengarkan rekaman. Senyum yang tertoreh di wajahnya bukan karena sedang berbalas pesan dengan seseorang.
"Assalamu'alaikum, Pak." Meli menyapa lebih dulu.
Pak Nizar sedikit kaget karena tidak menyadari kehadiran Meli.
"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Nizar.
Anjani menyusul, memberi salam, dan mendapat jawaban yang sama.
Begitu duduk, Meli segera mengutarakan niatannya tanpa basa-basi terlebih dahulu. Meli benar-benar meminta bantuan Pak Nizar. Sebuah bantuan agar bisa diajari mengaji.
Anjani yang sebelumnya tidak tahu tentang hal itu, kini berada di pihak Meli dan setuju dengan tindakannya. Alasan Meli logis. Anjani saat itu pula sadar bahwa langkah hijrahnya tidak boleh setengah-setengah.
Pak Nizar menyambut baik permintaan Meli. Hal itu membuat Anjani dan Meli antusias.
"Akhir pekan ini akan saya kenalkan pada teman saya. InsyaaAllah dia bisa mengajari kalian berdua," jelas Pak Nizar.
"Loh, bukan Pak Nizar yang mengajari?" tanya Meli blak-blakan.
"Sst, Mel." Anjani memberi kode agar Meli bersikap sewajarnya saja, tapi tidak mempan.
"Kebetulan ada mahasiswa sini juga yang belajar mengaji bersama saya. Begini saja, waktu dan tempat belajarnya disamakan. Namun, kelompok belajarnya berbeda. Bagimana?" Pak Nizar menawarkan.
Anjani melihat ke arah Meli, begitu juga Meli melakukan hal yang sama. Beberapa detik kemudian keduanya kompak mengangguk setuju.
"Jadwalnya akan saya kabari lebih lanjut, ya." Pak Nizar menjelaskan lagi.
"Siap!" sahut Meli.
"Maaf, Pak. Tadi katanya ada mahasiswa sini yang belajar mengaji juga. Kalau boleh tahu siapa, ya Pak?" tanya Anjani.
Semula Anjani tidak ingin bertanya. Lama-lama Anjani kepo juga dan memberanikan diri untuk bertanya. Walau bagaimana pun, nantinya mereka akan berada dalam satu tempat belajar yang sama. Wajar saja jika Anjani sangat ingin tahu.
"Kakak tingkat kalian. Namanya Mario. Mario Dana Putra," jawab Pak Nizar.
Anjani dan Meli sama-sama terkejut mendengar nama yang disebutkan oleh Pak Nizar. Wajah terkejut Meli hanya bertengger sebentar, sesudahnya dia senang luar biasa. Sementara Anjani, wajah dan hatinya mengekspresikan keterkejutan yang sama.
Mungkinkah ini hanya kebetulan? Apakah ini bagian dari takdir-Mu juga? Mario .... Batin Anjani penuh tanya.
Bersambung ....
__ADS_1
***
Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan lanjutan ceritanya, ya. Krisan buat author juga boleh lho 😉🌹. See You ❤