CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Senang Seharian (2)


__ADS_3

Masih di pusat perbelanjaan. Refreshing ringan dengan cara cuci mata melihat barang-barang yang dijual di sana. Hitung-hitung, kegiatan hari itu adalah penyegaran pikiran setelah ujian.


Juno celingukan, mengedarkan pandang ke segala arah. Sesekali Juno menampakkan wajah kesal. Tingkah Juno yang seperti itu memancing reaksi Ken untuk mendekat.


“Jun. Suntuk banget tuh muka,” kata Ken sambil menimpuk Juno dengan topi yang akan dia beli.


“Aw. Mas Ken kebiasaan banget suka nimpukin aku. Nanti kalau fans-ku tahu bisa diburu, lho.” Juno PeDe membanggakan dirinya.


“Iya percaya yang habis jadi ketua panitia maba (mahasiswa baru). Banyak fans jadi ke-PeDe-an kau, ya!” seru Ken sambil menjitak kepala Juno.


Juno nyengir sambil menahan tawanya. Ucapan Ken diakui Juno benar adanya. Semenjak Juno menjadi ketua penyambutan mahasiswa baru kala itu, banyak sekali yang mengidolakannya di kampus. Meski demikian, hati Juno sama sekali tidak bisa lepas dari Anjani.


“Cari siapa, sih?” tanya Ken lagi, karena Juno lagi-lagi mengedarkan pandangan matanya.


“Ya cari siapa lagi, Mas.” Juno berkata santai sambil tetap mengedarkan pandang.


“Alenna?” tebak Ken. “Tuh, baru aja gabung sama Meli, Berlian, dan Vina.” Ken menunjuk ke bagian pernak-pernik untuk hijab. Ada Alenna, Berlian, Meli, dan Vina di sana.


Juno melihat sekilas ke arah yang ditunjuk Ken. Sesaat kemudian Juno bersedekap dan membuang pandangannya ke sisi lain.


“Aku cari Anjani,” kata Juno datar.


Ken sudah menganggap Juno sebagai saudaranya sendiri. Ken tak lagi heran ataupun terkejut saat Juno menyinggung-nyinggung nama Anjani.


Ken menepuk bahu Juno. “Bantu pilih hoodie, yuk!” ajak Ken kemudian.


Ken sengaja mengalihkan perhatian Juno agar tidak mencari-cari Anjani. Ken tahu bahwa Anjani pasti sedang bersama Mario. Hanya mereka berdualah yang saat itu terpisah.


“Oke, deh. Aku juga mau beli satu buat ayah di desa. Biar couple-an ayah dan anak.” Juno sumringah saat mengingat ayahnya di desa.


“Let’s go!” seru Ken bersemangat. Dia berhasil mengalihkan perhatian Juno.


“Dika! Cepetan ikut!” Juno menyempatkan diri untuk mengajak Dika.


“Oke. Yuk!” Dika meletakkan topi yang dia lihat, lalu mengekor di belakang Ken dan Juno.


Ken, Juno, dan Dika pergi ke deretan hoodie. Berlian menyadari kepergian tiga teman-temannya itu. Berlian tahu, karena sedari awal dia diam-diam mencuri-curi pandang kepada Ken.


“Kita nggak mau ikutin mereka?” tanya Berlian pada teman-temannya.


“Nggak mau, ah! Ntar gue dikira stalker. Mending kita lihat-lihat gamis,” saran Vina.


“Yuk-yuk-yuk!” Alenna antusias dengan saran Vina.


Berlian tampak kecewa karena tidak bisa mengikuti Ken. Akan tetapi, Berlian menghormati ajakan teman-temannya. Walau bagaimanapun, kehidupannya bukan semata tentang cinta. Ada pula jalinan pertemanan yang harus tetap dia jaga.


“Oke, deh. Yuk!” Berlian akhirnya setuju.


Berlian baru saja akan melangkah mengekori Vina dan Alenna. Akan tetapi, langkahnya terhenti saat melihat Meli masih asik melihat smartphone sambil senyum-senyum sendirian.


“Pesan dari siapa kok sampai senyum-senyum gitu, hm?” tanya Berlian sambil berusaha mengintip layar smartphone Meli.


Cepat-cepat Meli menyembunyikan smartphone miliknya, lalu membuat ekspresi menggemaskan di wajahnya. Meli enggan menunjukkannya pada Berlian.


“Aku kepo, nih. Siapa sih yang bikin kamu senyum-senyum?” Berlian mengambil posisi berdiri di sisi lain agar bisa mengintip smartphone Meli, tapi masih saja gagal.


“Eit. Ra-ha-si-a. Udah, yuk nyusul Vina sama Alenna!” Meli malah meninggalkan Berlian dan melangkah cepat menyusul Vina dan Alenna.


“Astaghfirullah. Malah aku yang ditinggal. Pesan itu pasti dari your hero in Jogja, kan?” Seru Berlian tapi tak dihiraukan oleh Meli.


“Meli. Tungguin!” Berlian lalu bergegas menyusul langkah Meli.


***


Di sisi lain pusat perbelanjaan. Anjani dan Mario terlihat ceria, berjalan beriringan sambil melewati bagian rak-rak yang memajang sepatu-sepatu.


Anjani lekas teringat pada awal perjumpaannya dengan Mario dulu. Anjani bahkan pernah mengira bahwa Mario adalah seorang sales sepatu. Nyatanya Mario justru adalah anak dari pemilik pabrik sepatu. Mengenang masa lalunya itu membuat Anjani tersenyum-senyum. Ingin tertawa, tapi dia tahan.


“Kenapa, Anjani?” tanya Mario sambil tetap berjalan.


“Ehm. Di antara sepatu-sepatu yang ada di sini apa ada produk dari perusahaanmu?” tanya Anjani iseng.


Mario mengangguk, dan menjelaskan. “Ada. Itu yang di sisi kanan. Di bagian utama yang dipajang itu juga. Lalu yang di sana, dan ….”

__ADS_1


“Oke-oke. Ehm, main game apa ini?” tanya Anjani kemudian.


“Di sebelah sana. Ikuti aku!” Mario tersenyum sambil menujukkan tempatnya.


Anjani mengikuti langkah Mario. Sosok tampan nan gagah yang saat itu berjalan di depannya adalah sosok yang namanya masih memenuhi sebagian ruang hatinya. Anjani tersenyum saat tiba-tiba merasakan debaran merdu di hatinya.


Mendadak Mario menoleh dan menangkap senyum Anjani. Langkah Anjani pun harus terhenti tiba-tiba.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Mario, setengah menahan tawanya.


"Ng-nggak, kok." Anjani menyangkalnya. "Yang mana permainannya. Ah, yang itu ya!" tunjuk Anjani pada salah satu mesin pencapit boneka.


Anjani melewati Mario yang masih tetap berdiri sambil tersenyum memperhatikan. Anjani lekas berdiri di depan salah satu mesin pencapit boneka.


"Ini kan yang mau kita mainkan?" Anjani mantap menebak.


Mario semakin mengembangkan senyumnya, kemudian melangkah mendekat. "Iya. Ini dia! Mau main ini?" tanya Mario.


"Siapa takut. Ayo!" Anjani terlihat paling antusias. "Eh, Mario. Kita kan udah beli boneka sapi. Masa iya harus main ini buat dapat boneka lagi?" Tetiba saja Anjani berpikiran seperti itu.


Mario mengangkat bahunya. "Tidak masalah. Yang penting kita berdua senang," kata Mario dengan senyum maksimal.


"Kita berdua?" lirih Anjani, tapi Mario masih bisa mendengarnya.


"Iya, kita berdua. Yang mau main ini kan kamu sama aku." Mario mempertegas.


"Hehe. Iya juga. Haruskah kita panggil yang lain buat main ini juga?" Anjani meminta persetujuan Mario.


"Em .... Aku rasa tidak perlu!" Mario mantap berbicara.


Cukup kita. Hanya kita. Kamu dan aku. Berdua saja. Batin Mario.


Anjani mengangguk lalu tersenyum setuju. Anjani ingin lekas mencoba memainkan mesin pencapit boneka itu. Bahkan Anjani mengajukan diri untuk mencobanya lebih dulu.


Mario lekas memasukkan koin pada mesin pencapit. Koin itu baru saja dia dapatkan dari penjaga di sana. Layaknya sedang mempersilakan tuan putri, Mario membungkuk sambil membuat gerakan tangan untuk mempersilakan Anjani memainkan mesin pencapit boneka.


"Hehe. Kamu sedang apa, sih?" tanya Anjani.


"Sedang mempersilakan Tuan Putri Anjani," kata Mario seraya tersenyum.


"Bismillaahirrahmaanirrahiim. Kiri, terus kiri, dan .... Yee, aku dapat! Alhamdulillaah," sorak sorai Anjani.


Mario berkedip cepat. Dia tak menyangka Anjani bisa menguasai mesin itu dalam waktu singkat. Niat hati Mario, dia dan Anjani bisa berlama-lama memainkan game itu, karena Mario beranggapan akan sulit mencapit boneka yang diincar. Nyatanya, hanya dalam beberapa detik saja Anjani bisa mencapit boneka yang dia incar.


"Boneka sapi. Um, gemes!" seru Anjani.


"Ini kuambil. Buat koleksi di rumah," kata Mario sambil merebut boneka sapi dari tangan Anjani.


"Eh? Koleksi? Sejak kapan kamu suka ngoleksi boneka? Hehe." Anjani terkekeh. Dia sama sekali tidak percaya bahwa Mario memiliki koleksi boneka.


"Em. Maksudku, buat Alenna. Biar bisa dipeluk kalau malam." Mario mencari-cari alasan.


"Dipeluk? Jadi sejak kapan Alenna suka boneka. Seingatku Alenna tidak suka." Anjani mengingat-ingat dengan mempertahankan senyum di wajahnya.


"Baru-baru saja suka boneka. Jadi, boneka ini kuambil. Sekarang, biar kudapatkan satu boneka untukmu," terang Mario.


Giliran Mario yang bersiap untuk bermain. Mario membuat gerakan pemanasan kecil. Dia memainkan jemarinya, lalu memutar-mutar kepalanya. Tarikan nafas dalam pun tak luput dilakukan pula olehnya.


Sambil memegang boneka sapi dan beberapa barang belanjaan Mario, Anjani terkekeh. Sungguh, Mario bersikap lucu saat itu.


"Semangat!" Anjani memberi semangat.


"Anjani, boneka mana yang kamu mau?" tanya Mario sebelum menggerakkan tuas mesin capitnya.


"Boneka sapi," jawab Anjani mantap sambil menatap lekat ke arah boneka sapi dalam mesin capit.


"Tunggu. Kamu kan sudah punya satu," kata Mario, urung memainkan tuas dan beralih melihat Anjani.


"Biar boneka sapinya punya teman sesama boneka sapi," jawab Anjani polos.


Mario mengangkat sebelah alisnya. Dehem juga meluncur kemudian. Mario gemas saat Anjani berkata polos seperti saat itu.


"Baiklah. Boneka sapi," kata Mario, kembali fokus dan mulai memegang tuas mesin pencapit.

__ADS_1


Satu, dua, tiga gerakan tuas dan percobaan pertama Mario gagal. Cepat-cepat Mario memasukkan satu koin lagi. Mario kembali mengarahkan tuas pada boneka sapi. Gerakan halus dilakukan, dan ... gagal.


"Ah!" Mario memegangi kepalanya. Dia tak percaya sudah dua kali gagal.


"Sudah mau menyerah?" tanya Anjani.


"Tidak akan! Oke, coba lagi!" tegas Mario, dan kali ini terlihat serius.


"Semangat!" seru Anjani menyemangati Mario.


Baru saja kata 'semangat' itu selesai diucapkan, dan Mario lagi-lagi gagal.


"Em. Nggak harus boneka sapi, kok. Boneka yang lain juga lucu. Boneka beruang, katak, atau ulat itu juga lucu." Anjani memberi usulan agar Mario tidak terfokus pada boneka yang dia inginkan.


"Tidak bisa. Boneka sapi!" tegas Mario sambil kembali memasukkan koin pada mesin pencapit boneka.


Anjani tidak bisa mencegah Mario. Dalam hati Anjani terus berdoa agar Mario bisa mencapit boneka sapi yang diinginkannya. Namun, Mario masih saja gagal, gagal, dan gagal. Beberapa anak kecil yang kebetulan lewat di sana bahkan menertawakan Mario.


"Hihi," tawa Anjani, dan tidak bisa ditahan.


"Anjani, kamu menertawakanku juga?" tanya Mario, berkacak pinggang sambil tersenyum pada Anjani.


Anjani cepat-cepat menggeleng. "Mau aku yang memainkan itu?" Anjani menawarkan diri.


"Ti-dak! Aku bisa!" Mario kembali fokus pada mesin capit.


Satu koin segera dimasukkan ke dalam mesin capit. Mario berkonsentrasi penuh. Boneka sapi dalam mesin menjadi incarannya. Satu ... dua ... dan ... GAGAL.


"Aaaaa! Sepertinya mesin ini rusak," protes Mario.


"Mario. Biar aku mencobanya sekali lagi, ya?" Anjani meminta.


"Tidak! Boneka sapi itu harus berhasil kudapatkan. Anjani, kamu cukup berdiri di situ, dan semangati aku. Jangan tersenyum! Aku takut tidak fokus. Satu lagi, agak mundur!" perintah Mario pada Anjani.


"Mundur?" Anjani mundur beberapa langkah menjauhi mesin. "Seperti ini?" tanya Anjani.


"Bagus. Diam di situ! Jangan tersenyum, dan tahan nafas!" perintah Mario.


Meski terdengar aneh, Anjani menurutinya, kecuali bagian tahan nafas.


Mario kembali fokus pada boneka sapi yang diincarnya. Tuas sudah dalam genggaman tangan.


"Baca basmallah dulu, Mario." Anjani mengingatkan.


"Bismillaahirrahmaanirrahiim," ucap Mario mantap.


Tuas mulai digerakkan. Perlahan, mesin capit bergerak ke arah boneka sapi yang diinginkan Anjani. Mario membuat gerakan halus menuju boneka sapi.


"Sedikit ke kiri, dan dapat!" seru Mario. "Aaah! Yang kecapit malah boneka bebek!" Mario sungguh tak percaya.


"Tidak apa-apa! Dapatkan itu, Mario!" seru Anjani.


Mario mengangguk, dan akhirnya berhasil mendapatkan sebuah boneka bebek dari mesin capit itu.


"Alhamdulillaah. Akhirnya berhasil setelah penuh perjuangan," kata Anjani sambil melangkah riang mendekati Mario.


"Nah, bebek. Baik-baik sama sapi, ya." Mario berlagak memberi pesan pada si bebek untuk menemani si sapi. "Ini untukmu, Anjani." Mario menyerahkan boneka bebek itu pada Anjani.


"Terima kasih, Mario. Tuan sapi pasti senang bisa mendapatkan teman. Ohya, ini!" Anjani menyerahkan smartphone Mario yang tadi dititipkan padanya.


"Hm?" Mario menerima smartphone miliknya dan lekas melihat ke layar.


"Seru banget barusan," kata Anjani.


"Kamu merekam aksi kerenku, ya?" Dengan Pedenya Mario berkata seperti itu.


"Betul sekali. Rekamannya sudah kubagikan pada teman-teman juga, dan sebentar lagi mereka ke sini," jelas Anjani sembari tersenyum.


"Apa?" seru Mario, kaget.


Bersambung ....


***

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan lanjutan ceritanya, ya. Dukungan kalian selalu berarti buat author, lho. Vote, like, dan komentari karya ini, ya. See You. 😉


__ADS_2