
Tiga hari berlalu. John sudah kembali dari Jakarta. Ayah Mario itu tidak langsung menemui pimpinan anak perusahaan, melainkan pulang ke rumah. Kedatangan John disambut istri tercinta.
"Kamu merindukanku?" tanya John.
"No! Aku malah merindukan putri kita. Bagaimana keadaan Alenna di Jakarta?" tanya Mommy Monika.
John terkekeh. Rupanya sang istri lebih rindu pada putrinya.
"Masuk dulu. Sebentar lagi kuceritakan. Oya, mana pengantin barunya?" John mencari Mario-Anjani.
"Mario ada di kampus. Dia gencar ingin lulus lebih cepat demi membantu anak perusahaan. Tadi Mario sempat pamit akan langsung menemui Daniel. Kalau Anjani masih bersiap di atas. Sebentar lagi dia dijemput Meli mau ke ruko bareng," terang Mommy Monika.
John mengangguk-angguk. Dia beriringan langkah dengan istrinya menuju sofa ruang tamu.
Tak lama kemudian, Anjani turun dari lantai dua. Dia lekas memberi salam, menyapa dan menanyakan kabar Alenna di Jakarta.
"Kalian ini kompak banget, ya. Sama-sama tanya Alenna," tawa John pecah. "Alhamdulillaah, Alenna baik. Menurut pengamatan Paman Li, Alenna semakin rajin beribadah. Tapi .... " Kalimat John menggantung.
Anjani dan Mommy Monika saling tatap. Mereka sama-sama kepo dengan lanjutan kalimat John.
"Tapi ya gitu. Alenna masih memiliki perasaan yang besar untuk Rangga," terang John.
Awalnya John hanya tahu potongan cerita saat Alenna dan Rangga masuk dalam jebakan Leon. Namun, saat berbincang banyak dengan Paman Li, bodyguard, dan mata-mata yang ditugaskan John untuk menjaga Alenna, John tahu banyak hal. John telah tahu perasaan Alenna pada Rangga. John juga tahu sikap mesum putrinya pada Rangga.
"Anjani, apakah kamu juga sudah tahu tentang perasaan Alenna pada Rangga?" tanya John tiba-tiba.
Anjani sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun, dia tidak mau berbohong apalagi menutup-nutupi.
"Iya, Ayah. Alenna memang menyukai Mas Rangga. Demikian pula sebaliknya, Mas Rangga sepertinya juga mulai tertarik dengan Alenna," jelas Anjani.
John mengangguk-angguk. Dia membenarkan penjelasan Anjani. Sebenarnya, sejak dua hari lalu John menyuruh anak buahnya untuk mencari info lebih tentang Rangga.
Mommy Monika dan Anjani saling lirik lagi saat mendapati John terdiam. Lelaki penuh wibawa itu seperti tengah berpikir.
"Anjani, tolong beritahu suamimu nanti setelah isyak kita semua berkumpul di ruang keluarga. Ada yang ingin ayah bahas bersama kalian. Ini tentang Alenna," terang John.
Anjani mengangguk. Setelahnya terdengar suara motor yang sangat dikenali Anjani. Itu motor Meli.
"Ayah, Mommy, Anjani pamit ke ruko dulu," pamit Anjani.
"Oya, Anjani. Jika ingin pergi kemana-mana kamu bisa minta sopir untuk mengantarmu. Sekarang kamu sudah jadi Nyonya Mario. Jangan sungkan, ya!" John tersenyum.
"Iya, Ayah. Insya Allah lain kali Anjani akan minta sopir untuk mengantar," terang Anjani.
Anjani pamit. Dia segera menemui Meli di halaman depan. Security di rumah mewah itu sudah memberi akses bebas keluar masuk khusus untuk Meli. Mario-Anjani yang memintanya.
"Sst, ditanyain nggak?" bisik Meli.
"Iya pasti. Aku disuruh minta antar sopir. Besok-besok aja, deh. Lain kali aku yang jemput kamu ya, Mel." Anjani tidak menerima penolakan.
"Hehe. Siap-siap! Ayo naik! Kak Rangga barusan telepon ada pelanggan yang komplen lagi di ruko, tuh!" Mimik wajah Meli berubah gemas.
"Oke-oke. Sini aku yang nyetir. Nyonya Azka duduk manis aja di boncengan," perintah Anjani sambil mulai mengambil alih setir.
"Nyonya Mario perhatian banget sih sama Nyonya Azka. Kapan-kapan kita ajak suami kita pergi honeymoon bareng, yuk. Duet couple!" Ide Meli muncul begitu saja.
__ADS_1
"Mel, kamu ada-ada aja. Tapi oke juga sih idenya. Udah, yuk berangkat!"
"Lets Go!" seru Meli begitu duduk di boncengan motor.
***
Sesampainya di ruko, Anjani dan Meli dibuat bingung dengan sikap Rangga. Jelas-jelas ada pelanggan olshop yang protes atas pesanannya, tapi mimik wajah Rangga sama sekali tidak menunjukkan kebingungan. Rangga sumringah.
"Loh, Kak. Katanya ada yang protes. Kok Kak Rangga kelihatan bahagia gitu?" Meli terheran-heran.
"Emang ada yang protes. Tuh lihat. Bantu selesaikan, ya. Aku mau siap-siap jamaah dhuhur sama Dika," terang Rangga tanpa memudarkan rasa bahagianya.
Anjani dan Meli saling lirik. Mereka memilih mengacuhkan sikap Rangga. Keduanya pun fokus menyelesaikan masalah yang ada di ruko.
Rangga melangkah riang. Hatinya begitu berbunga lantaran ajakan Alenna tiga hari lalu via telepon. Alenna mengajak Rangga menikah. Dengan tanpa mendustai perasaannya, Rangga pun bersedia. (Tengok novel baru author untuk detil percakapan Rangga-Alenna, ups #promo)
***
Tepat pukul setengah satu siang. Mario mengunjungi ruko. Wajahnya tampak lesu. Ada gurat lelah yang menghias wajah tampannya. Anjani menghampiri suaminya itu. Menyambutnya dengan wajah berhias senyum teduh.
"Sudah makan siang?" tanya Anjani.
"Belum. Temani aku makan di atas, ya. Aku juga bawakan makanan untuk yang lain." Mario mengisyaratkan pada Dika untuk membantu Anjani membagikan makanan yang dia bawa. Sementara Mario sendiri mendahului langkah menuju lantai dua.
Begitu di lantai dua, Anjani mendapati Mario tengah bersandar di sofa. Anjani mendekat, tapi sesaat kemudiannMario justru terjaga dan langsung mendekap tubuhnya.
"Eh-eh, Sayangku jangan manja di sini dong! Malu dilihat yang lain!" desis Anjani setengah berbisik.
Mario tak bergeming. Dia malah mempererat pelukaannya pada sang istri.
Anjani terkekeh mendengar protes suaminya. Namun, dia melakukannya semata untuk menemani Mommy Monika karena suaminya sedang di Jakarta. Lagipula itu waktu yang bagus untuk mengakrabkan diri dengan mertuanya.
"Cup-cup-cup. Kasian betul sayangku ini. Oya, ayah sudah pulang dari Jakarta. Selepas isya' nanti kita disuruh kumpul di ruang keluarga. Ada yang mau dibahas tentang Alenna," terang Anjani sambil membalas pelukan sang suami.
"Yaah. Kok malam, sih!" Mario benar-benar manja pada Anjani.
Satu cubitan mendarat di perut Mario. Anjani begitu gemas dengan sikap manja sang suami. Jika sudah seperti itu, tak lagi terlihat lelaki cool yang penuh wibawa. Yang terdengar justru rengekan dan protes ala anak kecil.
Atas cubitan di perutnya, Mario justru semakin mengeratkan pelukannya. Hingga kemudian terdengar dehem dari Ken yang baru saja tiba di ruko dan hendak mengambil box sepatu di lantai dua.
"Ehem! Tempat kerja!" kode Ken dengan dehem kerasnya.
Cepat-cepat Anjani menjauhkan Mario darinya.
"Kamu makan siang sendiri. Aku ke bawah dulu," kata Anjani cepat lalu berlarian kecil menuju lantai bawah menemui Meli.
Ken cengar-cengir melihat ekspresi Anjani yang terburu-buru. Baru saja Ken mau kabur, tapi lebih dulu Mario mencegahnya.
"Ke sini kau, Ken!" seru Mario.
"Aduh!" Ken tepuk jidat.
***
Malam hari, Mario-Anjani menemui ayah dan mommy di ruang keluarga. Tampak sang ayah dan mommy sudah menunggu mereka di sana. Sempat ada pembahasan bisnis sedikit antara Mario dan John, yang tentunya sama sekali tidak dipahami Anjani. Setelahnya, barulah mereka membahas tentang Alenna.
__ADS_1
"Ayah sudah tahu bahagaimana IKATAN CINTA ALENNA pada Rangga. Ayah pun pernah merasakan masa muda. Di proses perbaikan diri Alenna, ayah tidak yakin di Jakarta sana Alenna akan berhenti memikirkan Rangga. Ayah tadi sempat membahas ini lebih dulu dengan Mommy kalian. Ayah dan Mommy sepakat akan menikahkan Alenna dengan Rangga. Bagimana menurut kalian?" tanya John pada Mario-Anjani.
Mario dan Anjani kompak saling tatap. Mereka berdua seolah sedang berkomunikasi dalam diam. Beberapa detik kemudian keduanya pun mengangguk setuju.
"Anjani sendiri setuju. Mas Rangga rajin ibadah, insya Allah akan menjadi suami yang baik untuk Alenna." Senyum Anjani mengembang.
"Mario juga setuju. Rangga bisa ikut Alenna ke Jakarta. Soal pekerjaan untuk Rangga, itu bisa diatur. Untuk keluarga Rangga yang di sini juga bisa kita bantu cukupi, karena Rangga punya tanggungan dua adik kembar yang masih sekolah. Jika keluarga Rangga berkenan, mereka semua bisa diboyong ke Jakarta," terang Mario panjang lebar.
John tertawa lepas. Dia mengacungkan jempolnya untuk sang putra.
"Itulah kenapa ayah menyuruhmu cepat menyelesaikan kuliahmu dan mengambil alih pimpinan anak perusahaan, Mario. Kau punya pemikiran jauh ke depan hanya dalam waktu singkat," puji John. "Namun, ada sedikit gangguan yang bisa saja berdampak besar bukan hanya untuk anak perusahaan, tapi juga induk perusahaan di Jakarta sana," imbuh John.
Mario-Anjani kembali saling tatap. Mereka sama-sama merasakan firasat kurang enak.
"Sebenarnya, tiga hari lalu saat ayah kalian ke Jakarta, Alenna dipinang oleh Arvero Dewanggi. Anak tunggal pebisnis kaya yang duda itu," jelas Mommy Monika.
"Maksudnya, Vero yang bekerjasama dengan anak perusahaan kita?" Mario tampak terkejut.
Dari awal dirinya sudah curiga kenapa perusahaan sebesar itu justru membidik anak perusahaan. Rupanya ada maksud untuk bisa menikahi Alenna.
"Tepat sekali. Awalnya sebelum ayah tahu Alenna menyukai Rangga, ayah mendukung niat baik Vero. Saat perjalanan pulang, tiba-tiba saja ayah berubah pikiran. Kebahagiaan Alenna nomor satu," terang John.
Sebenarnya Mario senang sang ayah merestui Alenna dengan Rangga. Namun, fakta yang baru saja diketahui justru membuatnya khawatir. Pikiran Mario membuat banyak sekali dugaan dalam waktu bersamaan. Salah satunya, entah apa yang akan dilakukan Vero begitu tahu ayahnya malah akan menikahkan Alenna dengan Rangga.
"Mario. Jangan berpikiran terlalu jauh. Tentang rencana menyatukan Alenna dan Rangga, serahkan itu semua pada ayah. Ayah minta bantuanmu untuk mengawasi Daniel," tegas John.
"Pak Daniel? Kenapa dengan dia ayah?" tanya Mario.
"Ayah mendengar selentingan kurang sedap. Jadilah berguna. Tetap kuliah, dan bantu ayah!" Kali ini John serius.
Mario mengangguk. Dia sudah terbiasa membagi-bagi waktunya. Untunglah kepengurusan ruko sudah dia serahkan pada Anjani. Paling tidak fokusnya bisa dialihkan untuk yang lain.
"Em, ayah. Apakah Alenna sudah tahu tentang rencana pernikahan itu?" Anjani ingin tahu.
John tersenyum pada menantunya itu.
"Belum. Biar Mommymu ini yang akan memberitahunya," terang John.
"Siaap laksanakan!" Terdengar nada ceria Mommy Monika.
Sekembalinya dari ruang keluarga, Anjani tidak nonton TV bersama Mommy seperti biasanya. Anjani menghampiri Mario yang sudah lebih dulu naik ke ranjang.
"Kamu terlihat lelah." Anjani ikut berbaring.
"Hanya sedikit. Sayang, doakan semuanya dimudahkan, ya. Semoga tidak ada lagi niat-niat jahat yang menghampiri," lirih Mario sambil mengusap pelan kepala Anjani.
"Insya Allah doaku selalu untukmu. Sekarang tidurlah. Semua akan baik-baik saja." Anjani menenangkan hati suaminya.
Meski sama-sama terpejam, Anjanilah yang lebih dulu terlelap. Mario tetap terjaga. Pikirannya melambung ke mana-mana. Dia telah setuju untuk menyerahkan urusan penyatuan Rangga dan Alenna kepada orang tuanya. Namun, yang memenuhi pikirannya saat ini adalah Daniel.
Gelagat pengkhianatan itu sudah tercium sejak awal. Untung saja ayah sadar lebih awal. Daniel, semoga semua dugaan ini salah! Batin Mario.
Bersambung ....
Lanjutan Rangga-Alenna tersedia di novel baru author yang berjudul IKATAN CINTA ALENNA. Lalu, apakah dugaan Mario tentang Daniel benar-benar salah? Apakah kejahatan akan terulang? Bagaimana dengan Anjani, sudahkah tidak ada yang mengincar untuk memilikinya? Tunggu lanjutan ceritanya, ya. Cari tahu juga lanjutan cerita suami Meli di novel kece Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR.
__ADS_1