CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Ada Bidadari


__ADS_3

Hari-hari berlalu meninggalkan jejak kisah yang baru. Setiap hari terlalui dengan kisah yang benar-benar berbeda dari masa lalu. Senantiasa tercipta pembelajaran bermakna di setiap hari yang terlalui. Bukan sekedar pembelajaran tatap muka seperti saat kuliah, tapi banyak lagi yang lainnya. Tertoreh pula pembelajaran hidup yang membuat diri lebih dewasa, juga semakin dekat dengan Sang Pencipta.


Anjani menjalani hari-harinya dengan terus berpijak pada jalan hijrahnya. Pakaian muslimah yang menutupi auratnya pun kini tidak lagi hanya tiga. Jumlahnya semakin bertambah karena Ma dan Paman Sam juga mendukung niatan baik Anjani. Ma bahkan memesankan satu set gamis batik kepada salah satu tetangga di desa sana.


Anjani bersyukur dikelilingi oleh teman-teman yang juga memiliki niatan yang sama seperti dirinya. Kini yang berhijab bukan hanya dirinya dan Meli, Berlian pun mengikuti jejaknya. Alasan toko bunga Kak Lisa tutup lebih awal beberapa waktu lalu adalah karena Berlian meminta Kak Lisa untuk menemaninya berbelanja gamis dan hijab. Tidak ada lagi rambut panjang bergelombang khas Berlian. Rambut panjangnya telah tertutupi oleh hijab.


Anjani tidak hanya menyaksikan perubahan Berlian, melainkan menyaksikan perubahan baik dari sosok cantik lainnya. Alenna, dia juga berhijab sekarang. Ada hikmah luar biasa, efek samping dari rasa sakit hati setelah Juno memutuskan hubungan dengan Alenna. Bahkan, si bule cantik Alenna kini biasa mencurahkan isi hatinya kepada Sang Pemilik Hati. Tentu saja Mario juga berperan mengompori niatan Alenna.


Anjani juga bersyukur karena telah bertemu dengan lingkungan yang baik, dengan orang-orang baik pula. Seperti halnya Pak Nizar dan ustaza Nuri. Pak Nizar bukan hanya sekedar dosen ekonomi, melainkan telah menjadi perantara pertemuannya dengan ustaza Nuri. Kini, ustaza Nuri bukan hanya guru mengaji biasa, tapi juga berperan sebagai teman berbagi cerita. Lebih tepatnya teman Meli, Berlian, dan Alenna dalam berbagi cerita. Selama beberapa menit usai kegiatan mengaji pun digunakan oleh Meli, Berlian, dan Alenna untuk curhat masalah hati. Untungnya ustaza Nuri sabar dan pengertian. Itulah salah satu alasan Meli, Berlian, dan Alenna merasa nyaman.


Apakah Anjani tidak ikutan berbagi cerita kepada ustaza Nuri? Tidak. Anjani tidak melakukannya. Anjani menyimpannya, dan akan dibagi di sepertiga malam kepada-Nya. Ada kemerduan dan rasa nyaman saat Anjani melakukan itu. Hingga saat ini, itulah yang masih menjadi keteguhan hati Anjani.


***


Semester baru dimulai.


Freelance di toko bunga Kak Lisa berakhir hari ini. Anjani dan Meli menerima upah atas waktu kerjanya. Sebagai bonus, Anjani dan Meli boleh memilih bunga apa pun yang disukai, tentunya bunga yang ada di toko bunga Kak Lisa. Tidak hanya itu saja, Kak Lisa juga menghadiahi masing-masing satu set gamis untuk Anjani dan Meli.


"Alhamdulillaah," ucap Anjani disusul ucapan terima kasih untuk Kak Lisa.


"Rezeki anak solihah," celetuk Meli sembari memeluk paper bag berisi gamis pemberian Kak Lisa.


"Ayo, silakan dipilih bunganya. Bisa diletakkan di rumah atau bisa diberikan pada seseorang yang spesial mungkin. Hehe," kata Kak Lisa.


"Kalau Anjani sudah bisa ditebak bakal pilih bunga apa. Pastinya ...." Kata-kata Berlian sengaja dihentikan dan melirik ke arah Meli.


"Mawar putih," kata Berlian dan Meli bersamaan.


"Ih, bukan. Aku ambil bunga lili. Yang ini, ya kak?" Anjani menunjukkan bunga lili yang dipilihnya pada Kak Lisa.


"Oke. Sip. Pilihan yang bagus," puji Kak Lisa dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Eh, kok bukan mawar putih?" tanya Meli terheran.


"Iya, nih. Tumben." Berlian menimpali.


"Lagi ingin bunga lili aja," jawab Anjani sembari mengedipkan sebelah matanya.


Meli dan Berlian kompak ber-oh ria.


Lima menit pun berlalu setelah acara tebak menebak jenis bunga pilihan. Setelahnya Anjani dan Meli pamit pulang. Tak lupa ucapan terima kasih untuk ke sekian kalinya dihaturkan kepada Kak Lisa dan Berlian.


***


Anjani dan Meli mampir ke sebuah toko bahan pangan usai pamit pulang dari toko bunga Kak Lisa. Motor Meli membawa mereka menuju salah satu toko yang memiliki stok barang yang lengkap. Anjani dan Meli membeli gelas kertas dalam jumlah banyak di toko tersebut. Gelas kertas yang biasanya digunakan sebagai wadah kopi atau teh saat ada acara-acara tertentu. Gelas kertas itu nanti akan digunakan untuk kebutuhan konsumsi panitia penyambutan mahasiswa baru yang dilaksanakan besok pagi. Anjani dan Meli yang bertugas di bagian konsumsi panitia ditugasi koordinator bidang untuk membelinya.


"Mel, coba cek. Siapa tahu ada yang harus dibeli lagi. Mumpung masih di sini," saran Anjani.


"Bentar aku telponin dulu," kata Meli sembari mengeluarkan smartphone miliknya.


Anjani menunggu Meli yang sedang menelepon koordinator bidang konsumsi. Sembari menunggu, Anjani mengamankan gelas kertas yang baru saja dibeli ke dalam kresek besar. Usai meletakkan gelas kertas itu, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang memandang sinis ke arahnya. Anjani yang terheran segera bertanya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Anjani pada wanita di depannya itu.


"Bisa minggir nggak? Lu ngalangin jalan gue!" Si wanita terlihat tidak suka kepada Anjani.


"Astaghfirullah, aku di tengah jalan. Maaf, silakan." Anjani yang merasa dirinya bersalah pun segera menepi dan mempersilakan si wanita untuk lewat.


Wanita cantik berambut sebahu itu pun lewat dengan tangan bersedekap. Wajah sinis masih bertengger di wajah cantiknya.


"Siapa sih dia? Sombong banget. Padahal trotoarnya luas. Nggak liat apa?" Meli protes.


"Sst. Sudah-sudah. Aku yang salah," sahut Anjani.


Rupanya protes Meli terdengar oleh si wanita tadi. Otomatis wanita berpakaian modis nan seksi itu pun berbalik badan, semakin menunjukkan wajah sinisnya, lalu menghampiri Anjani dan Meli.


"Astaghfirullah," kata Anjani khawatir.


Wanita itu pun berhenti tepat di depan Anjani dan Meli. Tangannya masih bersedekap. Wajah sinisnya pun tak berkurang sedikit pun dari wajah cantiknya.


"Bisa diulang perkataanmu yang tadi?" pinta si wanita cantik itu.


"Ya nggak bisalah. Ini bukan ulangan!" Meli tersulut emosinya.


Anjani bingung harus berbuat apa. Meskipun Anjani memberi kode pada Meli untuk mengakhiri, tetap saja Meli antusias melanjutkan.


"Lu ngajak gelut? Nggak tau ya gue itu siapa?" Si wanita cantik menunjukkan pesonanya dalam balutan raut wajah dingin, tanpa mengurangi kesinisannya.

__ADS_1


"Emang situ siapa, ha?" Meli masih meladeni dan terus menanggapi kata-kata si wanita cantik itu.


Anjani bertambah khawatir. Atmosfir di sekitarnya sudah terasa berbeda. Lengan Meli pun dipegangi oleh Anjani, khawatir Meli nekat melakukan sesuatu yang tidak-tidak setelah kata 'gelut' disebut-sebut.


"Cih. Gue itu ...."


"Vina!" seru Leon memanggil nama wanita cantik itu.


Anjani dan Meli kompak menoleh ke belakang, menuju suara Leon. Vina semakin tidak suka karena merasa Leon telah mengganggunya.


"Ck. Ngeganggu aja, sih!" protes Vina, dan sekarang dia berkacak pinggang.


"Leon?" kata Anjani begitu melihat Leon tersenyum kepadanya.


"Hai, Anjani. Kamu makin cantik aja. Lama ya kita nggak ketemu. Gimana kabarnya, nih?" tanya Leon dan asyik mengajak ngobrol Anjani.


"Alhamdulillaah baik," jawab Anjani sambil tersenyum ramah.


"Kak Leon kenal sama wanita judes ini?" Meli asal memberi julukan pada Vina.


"Apa lu bilang? Gue judes?" Vina tidak terima dengan julukan yang diberikan Meli padanya.


"Eh, sudah-sudah. Jangan bertingkah seperti anak kecil di sini," nasihat Leon.


Anjani mengangguk setuju. Sementara Meli dan Vina kompak membuang muka.


"Vin, udah dong. Oya, kenalin. Mereka berdua ini juniormu. Namanya Anjani, dan Meli. Anjani, Meli, ini Vina. Vina ini senior kalian dan akan satu angkatan dengan Mario." Leon memperkenalkan sekaligus menjelaskan.


"Nggak sudi gue punya junior nggak sopan kayak mereka. Udah yuk balik aja. Gerah gue di sini!" seru Vina, lalu menarik lengan Leon agar mengikutinya menuju mobil.


"Balik dulu, ya!" pamit Leon.


Leon pamit sembari melambaikan tangannya kepada Anjani dan Meli. Leon tak lupa tersenyum penuh arti kepada Anjani. Bahkan, jari jempol dan telujuk Leon membentuk tanda hati ala korea. Simbol cinta dari Leon itu ditujukan pada Anjani.


"Ih, Kak Leon ada maksud tuh sama kamu, Anjani." Meli yang melihat simbol itu pun segera memperingatkan Anjani.


Anjani tidak mau ambil pusing dan tidak ingin menduga-duga lagi seperti dulu. Anjani segera mengajak Meli untuk pulang.


"Gelasnya kamu bawa, ya. Besok aku jemput seperti biasanya," terang Meli sembari memakai helmnya.


Saat motor Meli hendak melaju, tiba-tiba saja Anjani menepuk bahu Meli dan menyuruhnya untuk mematikan mesin motornya. Meli terheran kenapa Anjani memintanya urung melajukan motor.


Anjani lebih dulu turun, melepas helmnya, dan memberikannya pada Meli.


"Mau kemana?" tanya Meli.


"Itu ada mbak-mbak kebingungan. Sepertinya butuh bantuan. Tunggu sini bentar, ya." Anjani menjelaskan sebentar lalu melangkah menuju mbak-mbak yang dimaksud.


"Yaelah, Anjani. Baik banget sih kamu. Oke, deh." Meli meng-klik helm milik Anjani, lalu menunggunya di motor.


Anjani melangkah menuju mbak-mbak yang sedang kebingungan itu. Mbak-mbak yang dimaksud Anjani seorang muslimah. Terlihat dari gamis dan jilbab yang dipakainya. Mbak-mbak itu tengok kanan-kiri, melihat smartphone miliknya, dan kembali menengok lagi hingga berputar ke segala arah.


"Assalamu'alaikum, Mbak." Anjani menyapa mbak-mbak itu.


"Wa'alaikumsalam," jawab mbak-mbak itu sembari menoleh ke arah Anjani.


"Maaf, mbak terlihat sedang kebingungan. Ada yang bisa dibantu mungkin?" tanya Anjani.


Mimik wajah mbak-mbak itu pun seketika cerah setelah mendengar tawaran bantuan dari Anjani. Senyum sumringah menghiasi wajah cantiknya.


"Alhamdulillah. Saya mencari gedung Dedaun Permata. Saya cari lewat map, tapi malah nyasar di sini. Apa mungkin saya yang salah masukin petunjuk alamatnya ya?" jelas mbak-mbak itu.


Anjani seketika mengingat-ingat nama gedung yang dimaksud mbak-mbak itu. Gagal mengingatnya, Anjani pun membawa mbak-mbak itu menemui Meli untuk bertanya, karena Meli lebih mengenal kota. Sukses, Meli tahu dan segera memberi petunjuknya pada mbak-mbak itu.


Gedung Dedaun Permata rupanya terletak persis bersebelahan dengan kantor Mario, yakni kantor yang saat ini dipimpin oleh Leon. Anjani baru mengingatnya setelah Meli menjelaskan letak gedungnya.


"Dari sini masih jauh, ya?" tanya mbak-mbak itu.


"Nggak begitu jauh, sih. Tapi kalau dijelasin cukup rumit juga belok-beloknya," terang Meli.


Anjani seketika mengusulkan untuk mengantarkan mbak-mbak itu. Beruntungnya Meli langsung setuju dengan ide Anjani. Mbak-mbak itu pun berulang kali mengucap hamdalah karena dibantu.


Anjani dan Meli berboncengan menggunakan motor Meli, sementara mbak-mbak tadi menggunakan motornya. Anjani dan Meli memimpin jalan di depan dengan laju pelan, diekori oleh mbak-mbak tadi.


Beberapa menit berlalu, dengan beberapa persimpangan jalan yang telah dilalui. Anjani, Meli, dan mbak-mbak itu telah sampai di gedung Dedaun Permata.


"Oh sedang ada acara rupanya," kata Meli.

__ADS_1


Meli melihat parkiran gedung penuh. Beberapa banner terpasang. Tertulis 'talk show' di banner tersebut.


"Loh, mbak ini pengisi acaranya toh? Tuh fotonya ada di banner." Anjani menunjuk ke arah banner yang terpasang di depan gedung.


"Iya benar. Masih tiga puluh menit lagi acaranya dimulai. Sebenarnya tadi panitia sudah mau menjemput, tapi saya menolak karena ada perlu sebentar. Saya kira masih hafal jalanan di kota ini karena dulu saya kuliah di kota ini. Eh ternyata malah nyasar. Hehe," terang mbak-mbak cantik itu dengan suara yang lembut sekali terdengar di telinga Anjani dan Meli.


"Mbak dulu kuliah di sini? Berarti mbak ini dari luar kota, ya?" tebak Meli.


Mbak-mbak cantik itu pun mengangguk dengan senyuman menghiasi wajahnya.


"Kalau boleh tahu ini talk show tentang apa, Mbak? Kelihatannya menarik," kepo Anjani.


"Em, semacam sharing pengalaman aja sih. Kebetulan saya suka menulis novel dan kebetulan juga beberapa waktu lalu dapat rezeki bisa menang di salah satu even festival film pendek. Kebetulan saya penulis naskahnya. Makanya diundang ke sini. Mau ikut ke dalam? Gratis kok," kata mbak-mbak itu.


Anjani dan Meli sebenarnya tertarik untuk ikut, tapi mereka berdua harus segera pulang. Besok ada kegiatan yang bersiap menyambut mereka di kampus.


"Mungkin lain kali kalau ada yang seperti ini lagi, insyaAllah ikut. Hehe. Kami pulang dulu, ya Mbak." Anjani pamit pada mbak-mbak itu.


"Eh kita belum kenalan," seru mbak-mbak itu.


"Aku Meli, dan ini Anjani. Kami berdua mahasiswa, hehe. Senang sekali bisa bertemu seorang penulis hari ini." Meli menjelaskan statusnya dan Anjani sebagai seorang mahasiswa.


"Salam kenal, Meli, Anjani. Namaku Bidadari," kata mbak-mbak itu menyebutkan namanya.


"Bidadari?" ulang Anjani takut salah dengar.


Mbak-mbak cantik itu pun mengiyakan, mengangguk-angguk sambil tetap tersenyum. Namanya memang Bidadari.


"Panggil saja Bida," imbuh mbak-mbak itu.


"Salam kenal Mbak Bida. Kalau begitu kami pamit pulang dulu. Assalamu'alaikum," kata Anjani.


"Wa'alaikumsalam. Terima kasih banyak atas bantuannya." Mbak Bida berterima kasih.


Mbak Bida segera masuk ke dalam gedung Dedaun Permata. Meli memutar motornya dan Anjani pun bersiap naik di boncengan motor. Namun, tiba-tiba ada motor yang dikenalnya parkir di dekat motor Meli.


"Mario?" tutur Anjani.


Anjani tidak menyangka akan bertemu Mario. Niatnya untuk naik di boncengan motor Meli pun diurungkan. Anjani menyapa Mario. Meli yang sangat peka dengan itu pun langsung turun dari motor dan ikut menyapa Mario.


"Kak Mario mau ke dalam gedung ini?" tanya Meli.


"Iya. Mau ikut jadi pesertanya," terang Mario sambil tersenyum.


Pandangan mata Anjani tertuju pada buket mawar putih yang dibawa di tangan Mario. Anjani tersenyum, mengira buket bunga itu untuknya.


"Bunganya cantik. Buat siapa?" tanya Anjani pada Mario.


Mario seketika tersenyum mendengar pertanyaan dari Anjani. Untuk beberapa detik Mario memandangi buket mawar putih yang dibawanya itu sembari menyentuh sebuah pesan di kertas kecil yang tertempel di sana.


Melihat ekspresi Mario yang seperti itu, membuat Anjani semakin yakin bahwa buket bunga itu untuknya. Hatinya sudah berbunga-bunga, bak taman bermekaran.


Senyum Mario masih menghiasi wajah tampannya. Anjani pun semakin merasa dag-dig-dug saja melihatnya.


"Bunga ini untuk pemateri acara ini," kata Mario.


Deg!


Astaghfirullah. Ternyata bukan untukku. Astaghfirullah, batin Anjani.


"Oh. Oke, kalau begitu aku sama Meli pulang dulu, ya." Anjani pun pamit.


Setelah mengucap salam, Anjani menarik lengan Meli untuk segera menghidupkan motornya. Saat motor yang dikendarai Anjani dan Meli melaju, barulah Mario masuk ke dalam gedung Dedaun Permata.


"Yakin mau pulang, nih? Ada Kak Mario, lho." Meli bertanya, mengira mungkin saja Anjani berubah pikiran.


"Udah, pulang aja." Anjani mantap berbicara, dan Meli pun menurut saja.


Di sepanjang perjalanan, Anjani bertanya-tanya tentang Mario yang memberikan buket mawar putih untuk pemateri acara. Anjani tahu pemateri acara itu adalah Mbak Bida yang baru beberapa menit lalu dikenalnya.


Apa Mbak Bida calonnya Mario, ya? Ah, sepertinya bukan. Mbak Bida kan beberapa tahun lebih tua. Sudah kerja pula. Em, tapi kan yang namanya jodoh nggak kenal tua ataupun muda. Kalau jodoh ya jodoh. Ah, kenapa aku jadi penasaran begini? Mario, kenapa kamu memberinya bunga? Siapa sebenarnya muslimah cantik bernama Bidadari itu? batin Anjani dipenuhi tanya.


***


Bersambung ....


Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Tunggu lanjutan ceritanya, ya. Kritik saran buat author juga ditunggu. Vote-nya juga boleh, lho. 😊 See You.

__ADS_1


__ADS_2