CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Sebuah Rencana


__ADS_3

❤❤❤


like, comment, click fav, and vote sebanyak-sebanyaknya, ya readers. Terima kasih selalu mendukung novel CINTA STRATA 1. Happy reading.


❤❤❤


Nongkrong? Siapa yang tidak kenal dengan istilah itu. Nongkrong tidak selalu identik dengan membuang-buang waktu. Ada kalanya jalinan pertemanan, ide-ide menguntungkan, bahkan penghibur kegundahan bisa didapat dari nongkrong bersama seseorang. Benar, itulah yang biasanya dilakukan Juno. Meski tidak sering, Juno sesekali mengajak temannya untuk nongkrong. Namun, kali ini dia tidak sekedar nongkrong biasa. Ada sebuah rencana perayaan yang telah dibuat dengan teman-temannya.


Juno memainkan sedotan. Dia menggunakan sedotan itu untuk mengaduk-aduk jus melon yang telah terhidang lima belas menit lalu. Sesekali dia melihat smartphone, berharap ada sebuah pesan masuk. Namun, sedari tadi smartphone miliknya teramat sepi, tidak ada yang menelepon ataupun mengirim pesan.


"Galau amat, sih! Mereka pasti datang, Juno. Tunggu aja!" ujar Ken yang duduk di hadapannya.


Pesanan enam mangkuk salad buah telah datang. Juno membantu pelayan cafe Bro-Sis memindahkan sekaligus menata mangkuk-mangkuk salad buah di meja. Benar-benar salad buah yang menggoda, membuat siapa pun yang melihatnya ingin cepat-cepat melahapnya hingga habis tak tersisa. Potongan buah kiwi tampak hijau segar di antara potongan-potongan buah melon, semangka, anggur merah, dan jelly-jelly berbentuk lucu. Taburan keju yang melimpah juga semakin mempercantik tampilan salad buah.


"Aw!" jerit Ken. Dia kaget karena Juno menepis tangan kanannya saat berniat mencicipi keju pada salad buah.


"Nggak boleh! Tunggu Anjani dan yang lain datang dulu, Mas Ken." Juno memperingatkan.


"Uh, pelit amat!" ujar Ken sedikit mengejek. Dia pun kembali pada jus melon miliknya.


Dua menit berlalu, yang ditunggu-tunggu telah berdiri di ambang pintu. Juno langsung berdiri karena terlalu senang melihat kedatangan teman-temannya. Ken memanfaatkan momen itu untuk mencomot keju di salah satu mangkuk salad buah, bergegas melahapnya, lalu ikut-ikutan berdiri di samping Juno untuk menyambut Anjani dan teman-temannya.


Sebenarnya itu bukan acara formal, tapi Anjani, Meli, dan Dika memakai pakaian rapi dan terlihat semi resmi. Juno selaku tuan yang mengundang teman-temannya bahkan mengenakan kemeja lengan pendek dipadu dengan celana jeans. Hanya Ken satu-satunya yang memakai pakaian santai dengan kaos oblong warna putih dan celana cargo pendek.


"Hai teman, selamat datang. Terima kasih sudah memenuhi undangan Juno. Silakan duduk!" ujar Ken sopan sambil berlagak menirukan seorang penerima tamu.


"Mas Ken formal amat, sih! Tapi tetep keren. Aku suka," tutur Meli.


"Sst, mulai lagi deh. Mending kamu duduk, Mel." Dika gemas melihat tingkah Meli yang selalu seperti itu saat bertemu Ken, apalagi Mario.


Semua telah duduk di kursi masing-masing, dengan salad buah di depan mereka. Juno langsung menyodorkan daftar menu pada teman-temannya untuk memesan minum juga. Sudah diputuskan, Juno memesankan dua jus jeruk, dan satu jus alpukat.

__ADS_1


Anjani melihat satu kursi yang masih kosong, dengan salad buah terhidang di depannya. Anjani bisa langsung menebak kursi dan salad buah yang tersisa itu milik siapa.


"Mario belum datang?" tanya Anjani pada Juno.


"Ah, sudah kuduga pasti kau mencarinya, Anjani. Mas Mario sepertinya datang terlambat. Oh ya, apa bunga yang kau pegang itu untukku?" tanya Juno sambil nyengir dan memainkan kedua alisnya.


"Iya, nih buatmu. Selamat ulang tahun. Semoga apa yang kamu cita-citakan terwujud." Anjani memberikan buket bunga sekaligus dua tangkai mawar putih pemberian Kak Lisa.


Juno tidak menanggapi ucapan dan doa dari Anjani. Dia malah tertawa, tapi tetap menerima bunga-bunga yang diberikan padanya.


"Hari ini bukan ulang tahunku, Anjani!" ujar Juno sambil menahan tawanya.


"Loh, kok?" Dika terkejut.


"Apa ini prank?" tanya Ken. Rupanya dia juga terkejut.


"Apa maksudmu, Juno? Bukankah tertulis jelas di undangan bahwa acara hari ini adalah acara ulang tahun?" tanya Anjani yang ingin mendapat penjelasan.


"Tunggu-tunggu, ini minuman kalian datang. Terima kasih, Mas!" ujar Juno saat ada pelayan cafe mengantarkan pesanan.


"Ahaha, iya iya. Maaf, ya. Sebenarnya hari ini ulang tahun ayahku di desa. Tahu sendiri kan saat ini aku sedang di kota. Jauh dari rumah. Kalian bukan hanya sekedar teman bagiku. Kalian keluargaku di perantauan ini. Jadi, aku ingin merayakannya bersama kalian. Boleh, kan?" tanya Juno.


Ada sebuah ketulusan dari perkataan Juno. Kata-kata itu seolah tercurah dari hatinya. Dan ... perasaan kuat itu dapat dirasakan oleh teman-temannya. Seketika suasana pun berubah penuh haru. Iringan doa hingga penguatan hati turut menyertai. Juno bahagia karena dikelilingi orang-orang yang peduli padanya.


"Jun, aku mellow, nih!" ujar Meli.


"Kalau gitu, lebih baik segera kita rencanakan saja acara liburan ke desa. Aku juga sudah kangen Ma. Jadi, siapa aja nih yang ikut?" tanya Anjani. Dia seketika antusias saat membahas rencana liburan ke desanya.


Sepertinya topik rencana liburan ke desa tempat asal Anjani dan Juno telah menepis suasana haru. Masing-masing telah bersemangat mengikuti arus obrolan yang baru.


"Aku, Anjani, Meli, Dika, dan ... Mas Ken. Iya kan?" tanya Juno memastikan pada Ken.

__ADS_1


"Mario harus ikut bersama kita. Serahkan padaku, Jun." Ken mantap berbicara.


Saat nama Mario disebut, Meli sontak berekspresi heboh. Dia senang Mario akan ada dalam rombongan. Anjani yang melihat kehebohan Meli cepat-cepat menyikutnya. Anjani mengingatkan Meli agar bertingkah biasa saja, meski sejujurnya dia juga merasa senang Mario akan berkunjung ke desanya.


"Nah, karena liburannya lumayan lama sebelum kuliah semester depan dimulai, kalian tidak boleh hanya sehari di sana. paling nggak ya tiga hari. Meli ntar tidur di rumah Anjani dan yang cowok tidur di rumahku. Minggu depan kita berangkat. Setuju?"


"Setuju!" jawab mereka berbarengan.


Acara hari itu selesai dengan banyak topik yang telah dibahas, terutama rencana liburan minggu depan. Tepat saat pembahasan rencana liburan selesai, Juno mendapat pesan permintaan maaf dari Mario yang mendadak tidak bisa hadir karena ayahnya sedang ada di rumahnya. Salad buah bagian Mario pada akhirnya diambil Ken. Meski hari itu diselimuti keceriaan, tapi tetap saja ada yang kurang tanpa kehadiran Mario.


"Cari siapa?" tanya Meli saat melihat Anjani celingukan seperti sedang mencari seseorang. Saat itu mereka berdua sudah ada di parkiran dan hendak pulang.


"Bukan siapa-siapa," jawab Anjani.


"Ah, aku tahu, nih! Udah, Kak Mario nggak akan datang. Tadi udah kirim pesan ke Juno gitu, sih!" tegas Meli sambil sedikit menggoda Anjani.


"Bukan dia, Mel. Udah, ayo pulang!" ajak Anjani kemudian. Dia bergegas mengalihkan perhatian Meli agar tidak membahas Mario lagi. Ya, meski Anjani memang celingukan berharap melihat sosok Mario tiba-tiba datang.


Sepertinya memang tidak datang, batin Anjani.


***


Suasana ruang tamu rumah Mario sedikit tegang. Baru saja dia dan ayahnya adu pemikiran. Bukan tentang bisnis, melainkan tentang seseorang.


"Jadwal penerbangannya ditunda. Minggu depan dia akan tiba di Indonesia." tegas ayah Mario.


"Ayah, tapi aku dan Alenna itu ...." Perkataan Mario disela oleh ayahnya.


"Cukup! Ayah sudah bosan mendengarnya, Mario. Pastikan kau menyambutnya dengan baik. Ayah permisi dulu. Jika ada orang mencurigakan seperti waktu itu, hubungi security di depan. Jaga diri baik-baik."


Kalimat ayah Mario yang terakhir menyiratkan kasih kayang. Dia peduli pada Mario. Sebenarnya rasa sayang Mario pada ayahnya juga besar. Namun, sikap yang ditunjukkan Mario saat itu adalah sebuah rasa enggan untuk menuruti perintah ayahnya, terutama tentang Alenna.

__ADS_1


"Alenna, kenapa juga kau kembali ke Indonesia, he?" teriak Mario saat mobil ayahnya telah berlalu.


***


__ADS_2