
Kenapa aku memakai sepatu ini? batin Anjani sembari memperhatikan sepasang sepatunya.
Sepatu itu adalah sepatu pemberian Mario di malam itu. Malam berbintang dengan bangku berornamen mawar dan air mancur menari taman alun-alun kota. Malam yang begitu berarti, karena malam itu adalah malam ketika Mario mengungkapkan cintanya pada Anjani. Malam ketika Mario meminta Anjani untuk menjadi pendamping hidupnya. Malam yang sungguh indah, dan sepatu itulah salah satu saksinya.
"Kenapa sepatu ini yang kupilih hari ini?" gumam Anjani sambil tetap memperhatikan sepatunya.
Sepatu itu memang pemberian Mario di malam pengungkapan cinta. Namun, semua itu telah menjadi bagian dari masa lalu. Masa lalu Mario-Anjani. Kini, semua sudah berlalu dan terganti dengan lembaran baru.
"Astaghfirullah," ucap Anjani.
Anjani memejamkan matanya sebentar, membukanya kembali, lalu mengusap wajahnya dengan tangan kanannya. Tutur lembut kata yang mendamaikan terlontar kemudian, yakni bacaan istighfar yang diucapkan untuk ke sekian kalinya.
Anjani lekas memakai sepatunya. Anjani berusaha keras agar tidak kembali terjebak dalam ingatan masa lalunya. Senyum pun mengembang seiring istighfar yang terus digumamkan.
"Sst, lama amat sih pakai sepatunya? Harus ngelamun dulu gitu, terus pakai sepatu?" tanya Meli yang sedari tadi sudah menunggu Anjani.
Masih tetap tersenyum, Anjani menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Meli. "Sudah. Yuk, berangkat!" ajak Anjani.
Baru saja Anjani dan Meli selesai menunaikan fardu ashar di mushollah dekat toko bunga Kak Lisa. Sebenarnya Anjani dan Meli freelance di toko bunga Kak Lisa hanya sampai pukul satu siang. Ada cukup waktu pula untuk pulang lebih dulu hingga waktu sore tiba. Namun, Anjani dan Meli memilih menunggu waktu sore itu di salah satu gazebo area pusat jajanan kota yang letaknya juga tak jauh dari toko bunga Kak Lisa. Hingga azan ashar berkumandang, Anjani dan Meli segera menuju mushollah terdekat untuk menunaikan kewajibannya.
Kini, langkah kaki Anjani dan Meli membawa mereka menuju parkiran motor. Meli mengemudikan motornya, dengan Anjani yang duduk di bagian boncengan motor. Motor Meli melaju pelan menuju sebuah alamat yang beberapa menit lalu disampaikan oleh Pak Nizar.
"Huft," desah Anjani saat sudah lebih dekat dengan alamat tujuan.
"Anjani, are you okey?" tanya Meli yang ternyata mendengar desah nafas itu.
"Iya, aku baik-baik saja. Benarkah di sini alamatnya? Coba menepi dulu, Mel!" saran Anjani, khawatir salah jalan.
Motor Meli pun berhenti. Anjani turun dari boncengan motor lalu memperhatikan Meli yang sedang mengecek alamat yang tadi dikirimkan Pak Nizar. Meli yang lebih mengenal daerah itu beberapa kali sempat mengedarkan pandang, lalu mengangguk-angguk.
"Iya, benar di sekitaran sini. Ayo, naik lagi!" suruh Meli.
"Oke. Bismillaah," kata Anjani, lalu duduk di boncengan motor.
Motor kembali dilajukan dengan pelan. Anjani dan Meli fokus memperhatikan nomor yang tertera di setiap bangunan di sana. Mereka mencari nomor 21, dan ... ketemu.
Meli segera mematikan mesin motornya. Anjani yang duduk di boncengan motor segera turun, lalu melepas helmnya. Meli juga melepas helmnya.
"Loh? Harusnya kan mushollah? Kenapa rumah?" Meli terheran.
"Coba chat Pak Nizar lagi, Mel." Anjani menyarankan.
Meli baru saja hendak mengetik sebuah pesan untuk menanyakan kebenaran alamat yang dikirimkan sebelumnya. Namun, pesan itu urung dikirimkan saat Meli dan Anjani mendengar salam dari sosok yang sangat dikenal.
Salam itu dari Pak Nizar. Pak Nizar keluar dari rumah nomor 21 itu, lalu membuka lebar gerbangnya. Buru-buru Anjani dan Meli menjawab salam dari Pak Nizar.
Pak Nizar memerintahkan agar motor yang dikendarai Anjani dan Meli untuk diparkir di halaman rumah itu. Segera Meli menuntun motornya dan memarkir rapi motornya di sana.
"Maaf, Pak. Belajar ngajinya bukannya di mushollah?" tanya Meli.
"Sebenarnya memang di mushollah, tapi kebetulan saat ini sedang ada acara pengajian ibu-ibu di sana. Jadi, saya alihkan di sini saja. Maaf, ya. Saya terlupa memberi tahu." Pak Nizar menjelaskan. "InsyaaAllah selanjutnya kita belajar di mushollah," imbuh Pak Nizar.
"Iya tidak apa-apa, Pak." Anjani lebih dulu menanggapi, disusul Meli yang manggut-manggut lalu tersenyum.
Pak Nizar mempersilakan Anjani dan Meli masuk ke dalam rumah yang tidak lain adalah sebuah kontrakan. Anjani dan Meli pun melangkah menuju pintu masuk. Ketika hampir mendekati ambang pintu, terjadilah sesuatu yang tidak terduga.
Kedua pasang mata itu pun bertemu, beradu tatap. Sebuah tatapan yang dulunya sering bertemu dalam kehangatan jalinan perasaan. Sebuah tatapan yang telah lama tak pernah lagi saling bertemu. Kini, tatapan itu pun menyatu dalam sebuah ketidaksengajaan. Tatapan mata Mario-Anjani.
Beberapa detik berlalu, keduanya pun tersadarkan. Mario-Anjani kompak mengalihkan pandang. Anjani melihat ke arah ubin lantai, sedangkan Mario melihat langit-langit ruangan.
"Kak Mario!" seru Meli dengan nada girang.
Anjani lekas menyikut Meli dan memberi kode mata pada Meli.
"Sst. Jaga sikap, Mel!" perintah Anjani setengah berbisik.
"Ups, iya-iya." Tangan Meli refleks membungkam mulutnya sendiri.
Tidak lama kemudian Pak Nizar pun menghampiri dan izin pulang sebentar ke kontrakannya untuk mengambil beberapa Alquran untuk mereka belajar.
"Loh, terus ini kontrakannya siapa, dong?" tanya Meli spontan saat mendengar Pak Nizar akan ke kontrakannya.
"Ini kontrakannya Mario. Tunggu di sini sebentar, ya. Sebentar lagi teman saya juga datang, kok." Pak Nizar pun pamit.
Meli mengangguk, lalu tersenyum ke arah Mario. Sementara Anjani bingung harus bagaimana dan harus melakukan apa. Anjani hanya tahu bahwa dirinya sebisa mungkin harus bersikap biasa saja di depan Mario.
__ADS_1
"Silakan duduk," kata Mario mempersilakan.
Anjani hanya mengangguk tanpa berani menatap Mario. Baru selangkah kaki itu diayunkan, terdengar suara lain dari dalam kontrakan Mario.
"Mas Mario, airnya sudah mendidih, tuh!" seru Juno. "Loh?" Juno terkejut melihat Anjani dan Meli.
"Juno?" Anjani juga terkejut melihat Juno ada di sana.
Jadilah, sekarang di sana ada Anjani, Mario, dan Juno. Ketiganya terdiam dalam posisinya, tidak ada yang berkata-kata. Anjani kembali menundukkan pandang, tak berani menatap Mario ataupun Juno. Sementara itu, Juno sempat melirik ke arah Mario. Namun, Mario tidak mau ambil pusing dengan lirikan itu.
"Ehem!" Meli sengaja berdehem agak lantang, hingga sukses membuat Anjani, Mario, dan Juno melihat ke arahnya. "Hei, Jun. Ngapain di sini?" tanya Meli kemudian.
"Tadinya cuma mau mampir bentar buat sharing sama Mas Mario, tapi sepertinya aku akan berada di sini cukup lama nemenin kalian sampai pulang" jelas Juno dengan nada datar.
"Bukankah tadi kamu bilang mau pergi sama Alenna?" tanya Meli.
"Kapan bilangnya? Nggak, tuh!" Juno menyangkal.
"Loh, tadi itu kamu bilang." Meli tetap pada prasangkanya.
"Nggak tuh!" Juno kembali menyangkal.
Meli dan Juno sudah terlihat seperti dua orang yang hendak bertengkar. Cepat-cepat Anjani menyuruh mereka untuk menyudahi.
"Sudah-sudah. Lebih baik kita duduk saja, dulu." Anjani menyarankan.
Anjani dan Meli lekas duduk di sofa. Mario hendak duduk pula, tapi tempat duduknya diserobot oleh Juno, karena tempat duduk itu berseberangan langsung dengan Anjani. Mario pun mengalah, dan memilih duduk di kursi plastik dekat tempat duduk Meli.
Lagi-lagi setelah mereka berempat duduk, tidak ada obrolan yang langsung terjadi. Semua terdiam. Meli yang menyadari kekikukan itu pun segera mencomot sembarang kata.
"Juno, kau mending pulang aja, deh." Meli tiba-tiba berkata demikian.
"Apa? Ngusir, nih. Yang punya kontrakan aja nggak ngusir, tuh." Juno menimpali.
"Kalian berdua ribut melulu, sih. Mending kalian berdua saja yang pulang," celetuk Mario.
"Heeee?" kata Meli dan Juno bersamaan.
Anjani hanya geleng-geleng kepala menghadapi itu semua. Meski Anjani merespon keadaan di sana, tapi Anjani tetap tidak berani memandang ke arah Mario.
"Assalamu'alaikum," kata Pak Nizar diikuti suara seorang wanita yang juga memberi salam.
Pak Nizar mempersilakan seorang wanita masuk. Terlihatlah seorang wanita cantik bergamis dengan jilbab terjulur panjang. Wanita itu tersenyum ramah pada semua yang ada di ruangan itu.
"Anjani dan Meli akan belajar bersama teman saya ini. Namanya Nuriati. Panggil saja ustaza Nuri." Pak Nizar memperkenalkan temannya itu.
Anjani, Mario, dan Juno kompak tersenyum ke arah ustaza Nuri. Namun, tidak demikian dengan Meli. Meli segera melontarkan tanya, tanpa basa-basi, seperti biasanya khas seorang Meli.
"Apakah ustaza Nuri ini gebetannya Pak Nizar?" tanya Meli.
"Astaghfirullah, Meli." Anjani refleks bertutur demikian.
Anjani segera mendekat ke arah Meli. Sambil setengah berbisik, Anjani kembali mengingatkan Meli untuk menjaga sikap dan tidak bertanya yang tidak-tidak.
"Aku kepo, nih." Meli ngotot, tapi dengan nada lirih karena berbisik kepada Anjani.
"Ah, kamu nih." Anjani pasrah, dan akhirnya menyerah dengan sikap sahabatnya itu.
Juno tepuk jidat melihat sikap Meli yang seolah tak ada sungkan-sungkannya. Sementara itu, Mario dan Pak Nizar hanya tersenyum menyikapinya. Namun, ustaza Nuri rupanya berbaik hati menjawab pertanyaan Meli.
"Saya ini temannya Nizar. Saya juga sudah berstatus sebagai istri dari suami yang sangat saya cintai," kata ustaza Nuri.
"Alhamdulillaah sudah menikah, hehe." Meli girang.
Anjani hanya melirik sahabatnya yang kegirangan itu.
"Malah alhamdulillaah," celetuk Juno.
"Sudah-sudah. Lebih baik kita mulai saja mengajinya." Mario memberi saran.
"Ide bagus. Anjani dan Meli akan belajar bersama ustaza Nuri di ruang tamu ini. Mario dan Juno akan bersama saya di ruang tengah," terang Pak Nizar.
"Loh, kok nggak jadi satu sama Kak Mario, sih." Protes Meli kembali dilayangkan tanpa sungkan.
Sebelum Meli protes lebih jauh lagi, Anjani segera menarik lengan Meli untuk bergeser tempat duduk agar lebih mendekat ke tempat duduk ustaza Nuri.
__ADS_1
***
Kegiatan belajar mengaji pun dimulai. Sedikit banyak Anjani masih ingat pelajaran tentang tajwid, karena saat masih SD dulu Anjani sempat belajar mengaji bersama beberapa teman di desanya. Rupanya itu sangat membantu Anjani. Meski bacaan Alquran Anjani masih banyak yang perlu dibenarkan, tapi Anjani tidak pantang mundur. Dengan penuh perhatian, Anjani menyimak pelajaran dari ustaza Nuri.
Anjani dan Meli senang sekali karena mendapat guru mengaji yang ramah seperti ustaza Nuri. Sore itu tidak hanya belajar tentang cara membaca Alquran. Ustaza Nuri juga sedikit menyelipkan kisah tauladan nabi, serta beberapa kisah sahabat yang benar-benar menginspirasi.
Ya Allah. Terima kasih atas segala kesempatan yang Engkau berikan sore ini kepada hamba. Sejuk sekali hati ini bisa berikhtiar kembali dekat kepada-Mu, batin Anjani.
Jelas sekali wajah bahagia Anjani sore itu. Gambaran wajah bahagia itu semakin terlihat jelas saat sesi belajar ditutup dengan membaca beberapa surat pendek.
"Alhamdulillaah, sore ini cukup sampai di sini dulu, ya. Kita lanjutkan lagi di pertemuan selanjutnya. Anjani, Meli, apakah ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanya ustaza Nuri.
"InsyaaAllah tidak ada. Terima kasih banyak atas waktu dan ilmunya sore ini, ustaza." Anjani berterima kasih.
"Sama-sama," kata ustaza Nuri ramah.
Tiba-tiba saja Meli mengacungkan tangan, hendak bertanya. Anjani sudah mengira bahwa pertanyaan Meli akan seputar hal-hal di luar pelajaran mengaji. Dugaan Anjani tepat, terjawab setelah Meli melontarkan pertanyaannya.
"Ustaza Nuri ini beneran sudah menikah? Bukan gebetannya Pak Nizar, kan?" tanya Meli.
Kali ini Anjani tidak lagi mengingatkan Meli. Anjani membiarkan sahabatnya itu untuk bertanya apa pun semaunya.
"Iya. Nizar itu teman saya, dan saya ini sudah menikah. Ini lagi isi," kata ustaza Nuri sambil mengelus perutnya.
"Ustaza, maafkan teman saya ini. Pertanyaannya memang suka begitu," kata Anjani.
"Tidak apa-apa," jawab ustaza Nuri dengan ramah.
"Ustaza, kenapa ya Pak Nizar belum mencari gebetan? Maksud saya mencari seorang istri." Meli menanyakan kembali apa yang ada di pikirannya.
"Saya sendiri kurang tahu. Itu privasinya," jawab ustaza Nuri.
"Meskipun Pak Nizar menaruh hati pada seseorang, kan nggak harus ngasih pengumuman sama kamu, Mel. Hehe," goda Anjani.
"Iya juga, sih. Aku sendiri pernah memergoki Pak Nizar pakai headset, dengerin rekaman audio sambil senyum-senyum sendiri. Apa mungkin itu rekaman suara wanita yang disukai Pak Nizar, ya?" duga Meli.
"Hus, sudah-sudah." Anjani mengingatkan Meli.
"Rekaman?" kata ustaza Nuri lirih, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
Setelahnya, Mario, Juno, dan Pak Nizar kembali bergabung di ruang tamu. Ustaza Nuri segera pamit pulang lebih dahulu karena sudah dijemput oleh suaminya. Tak lama kemudian, Pak Nizar yang pamit pulang ke kontrakan.
Melihat dosen dan ustazanya pulang, Anjani segera mengajak Meli untuk pulang juga.
"Anjani aku anterin pulang, ya?" Juno menawari.
"Eit, jangan macam-macam. Anjani pulang bareng aku. Modus aja, nih!" tegas Meli.
"Ah, Meli nggak asik!" Juno protes.
Rupanya protes Juno dan Meli berlanjut, membuat keduanya seperti dua orang yang sedang bertengkar. Anjani diam saja melihat teman-temannya itu, karena sudah berulang kali dinasihati tapi tetap diulang lagi.
Mario pun awalnya diam saja sambil tersenyum melihat Juno dan Meli bersikap kekanakan. Namun, setelahnya Mario berjalan mendekat ke arah Anjani berdiri.
Sadar bahwa Mario berjalan mendekat, Anjani pun sedikit canggung, kikuk, dan bingung harus bersikap bagaimana. Akhirnya, Anjani berpura-pura fokus melihat Meli dan Juno yang masih beradu kata.
"Anjani," panggil Mario.
"Iya?" jawab Anjani.
Anjani sempat menoleh sebentar ke arah Mario. Lagi-lagi tatapan tak disengaja itu terulang lagi. Mario-Anjani kompak menunduk kali ini setelah tersadar.
Beberapa detik, atmosfir di sekitar Anjani mendadak berbeda. Jelas ada kecanggungan antara dirinya dengan Mario di sana.
"Anjani. Tak perlu lagi kita berdua saling menghindar. Biarlah semua berjalan tanpa banyak yang perlu dikhawatirkan. Tak perlu juga sungkan menyapa, mengobrol, ataupun sungkan menegur, seperti yang selama ini kita lakukan. Selama niatan kita baik, insyaAllah hati kita tetap terjaga," tutur lembut Mario tanpa melihat Anjani.
Anjani spontan menoleh. Sungguh Anjani tidak percaya Mario akan berkata sepertu itu. Rasanya ada sebuah perasaan lega mendadak merasuki dadanya. Tembok kecanggungan itu pun bergetar hebat dan runtuh seketika itu juga. Perlahan, senyum Anjani pun mengembang.
"Terima kasih," kata Anjani kemudian.
Mendengar ucapan terima kasih dari Anjani, Mario pun menoleh ke arah Anjani. Namun, Anjani cepat-cepat kembali menghadap ke depan.
Mario tersenyum, lalu menjawab. "Sama-sama."
***
__ADS_1
Bersambung ....
Terima kasih sudah setia membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan lanjutan ceritanya. Krisan buat author ditunggu, ya. See You 😊