CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Penolakan Beruntun


__ADS_3

Rumah termegah di salah satu kompleks perumahan elit baru saja kedatangan tuannya. Namun, kunjungan itu tak berlangsung lama. Tiga puluh menit berlalu, seorang sopir dari tuan pemilik rumah membukakan pintu mobil mewah dan mempersilakan tuannya. Tancap gas, mobil mewah itu mulai berlalu pergi.


Juno memerhatikan mobil mewah yang baru saja keluar dari rumah Mario. Namun, dia tidak melihat wajah orang-orang di dalamnya. Juno hanya mengenali sopir yang mengemudikan mobil mewah itu karena kaca pintu mobil yang sedikit terbuka. Sopir itu adalah salah satu sopir yang bekerja di rumah Mario.


Juno bergegas memarkir motornya di halaman rumah Mario, setelah sebelumnya terlebih dahulu menyapa security di dekat gerbang. Begitu motor terparkir dengan benar, Juno melangkah masuk ke dalam rumah untuk bertemu Mario dan Ken yang sudah lebih dulu di sana.


"Juno, sini!" tutur Ken saat Juno masih berdiri di ambang pintu masuk.


Juno santai berjalan mendekat ke sofa ruang tamu. Mario tampak sedang mengemas beberapa barang, sedangkan Ken sibuk dengan kue nastar dalam toples. Di meja ada beberapa cangkir teh. Dua cangkir isinya telah tandas dan ada satu cangkir lagi yang isinya masih lebih dari setengah. Juno langsung berpikir cepat dan mengaitkan dengan kedatangan seseorang.


"Baru ada tamu ya, Mas?" tanya Juno.


"Iya, ayahnya Mario baru saja berkunjung. Dia khawatir dengan Mario setelah dapat kabar ada maling mau bobol rumah ini." Ken langsung menjelaskan tanpa diminta.


"Serius? Pantes aku lihat di depan sana security udah nambah dua aja. Mas Mario tapi nggak apa-apa, kan?" tanya Juno memastikan.


"Tidak ada yang bisa menyentuh ataupun menyakitiku, Juno!" tegas Mario.


"Haha ... Dia mulai lagi, Jun. Oh iya, lama amat sih datangnya! Mana batagor pesananku?" tanya Ken tiba-tiba.


"Ketinggalan, Mas. Ntar kuceritain, deh. Mas Mario, aku pinjam kolam renangnya, ya!" ujar Juno setengah berteriak.


"Silakan!" jawab Mario singkat.


Byuuur


Kolam renang rumah Mario cukup luas dengan bentuk yang elegan. Juno leluasa berenang. Sesekali dia menyandar ke dinding kolam, terdiam, kemudian berteriak-teriak.


Aaaa ....


Byuuur


Juno kembali berenang dengan intensitas lebih dari sebelumnya. Dia sampai menerapkan tiga gaya berenang. Setelah merasa puas, dia menepi dan keluar dari kolam. Handuk yang memang sudah siap di dekat kolam langsung dia ambil, kemudian segera mengeringkan badan dan rambutnya. Namun, lagi-lagi dia berteriak, lalu disusul dengan tawa lepas.


Mario dan Ken dibuat khawatir oleh Juno. Selama mereka berteman, baru kali ini melihat Juno tiba-tiba berenang di rumah Mario padahal sebelum-sebelumnya selalu menolak saat diajak Ken. Ditambah lagi, Juno berteriak tidak jelas saat di kolam renang.

__ADS_1


"Juno, ceritakan apa yang ingin kamu ceritakan pada kami. Jika ingin marah, marah saja. Jika ingin tertawa, tertawa saja. Kami berdua temanmu. Jangan sungkan-sungkan. Benar begitu, Ken?" ujar Mario.


"I ... iya, Mario. Eh, tumben kali ini kau lebih peka? Mantap!" tutur Ken senang.


Juno memilih untuk duduk lebih dulu sebelum bercerita. Dia mengambil posisi duduk nyaman dengan bersandar. Tak lupa juga dia mengambil segelas jus mangga yang baru saja dihidangkan oleh bibi yang memasak di rumah Mario. Segelas jus mangga seketika habis dalam beberapa detik saja.


"Gimana dengan batagornya?" tanya Ken yang seperti tak puas dengan jawaban sebelumnya.


"Ketinggalan, Mas. Ah, bukan! Ada perasaanku yang tertinggal di sana. Hahaa .... Uh!" jelas Juno disusul senyuman di wajahnya.


Mario dan Ken semakin terheran dengan penjelasan Juno. Bukankah penjelasannya itu menandakan bahwa Juno sedang patah hati? Lalu, kenapa Juno malah tertawa?


"Aku ditolak Anjani," tutur Juno sambil tetap tersenyum.


Penuturan itu sukses membuat Mario lebih memerhatikan Juno. Bahkan, gelas berisi jus mangga seketika dia letakkan di meja. Dia tidak pernah menyangka bahwa Juno akan seberani dan senekat itu.


"Dua kali sudah aku ditolak. Pertama saat perjodohan di desa yang akhirnya batal. Kedua, tadi sebelum aku datang ke sini." Juno kembali menjelaskan dengan mengumbar senyuman. Dia masih ingat betul bagaimana cara Anjani menolak perasaannya.


________________________________________


“Anjani, terimalah perasaanku!” ungkap Juno sambil menyodorkan setangkai mawar putih.


“Eh?” ucap Anjani dan Meli bersamaan.


Anjani sedikit terkejut dengan aksi Juno yang mendadak romantis. Dia tidak pernah menyangka Juno akan kembali melakukan hal yang sama seperti yang pernah dilakukan di desa dulu. Saat itu Anjani langsung menolak, tapi malah muncul ide perjodohan dari Ma dan ayah Juno. Kali ini berbeda, hanya ada Meli yang tahu tentang aksi itu, dan tidak akan ada kabar tentang perjodohan yang dipaksakan lagi.


"Aku menolak," ujar Anjani.


"Eh, langsung ditolak, ya? Haha ...." Juno jadi salah tingkah.


Meli seketika menarik lengan Juno untuk sedikit menjauh dari Anjani. Meli sadar betul akan jadi seperti apa jika Juno terus membahasnya. Anjani sedang sensitif, akan mudah sekali terpancing emosi.


"Juno, harusnya kamu pakai strategi sebelum menyatakan perasaanmu. Buat dia menyadari keberadaanmu lebih dulu. Biasanya nih, perasaan itu akan mengalir dengan sendirinya." Meli menjelaskan dengan sedikit berbisik agar tidak sampai terdengar Anjani. Sesekali dia melirik ke arah Anjani untuk memastikan dia tidak memerhatikan percakapannya dengan Juno.


"Rasa-rasanya kamu bakalan bantuin aku," ujar Juno senang.

__ADS_1


"Haha .... Tentu saja nggak, Juno. Aku sih apa kata Anjani. Dia sukanya sama siapa. Kalau dia sukanya sama Kak Mario ya masak aku mau maksa dia buat suka kamu, sih!" jelas Meli sambil tetap berbisik.


"Emang Anjani naksir Mas Mario?" tanya Juno benar-benar penasaran.


"Ya mungkin aja. Mas Mario kan idola kampus kita. Udah, ya. Saranku, kamu jangan sampai patah hati karena baru aja ditolak. Kalau beneran suka, ya usaha lagi juga oke. Yuk, ke sana!" saran Meli pada Juno.


Juno mengekor di belakang Meli sambil berpikir keras. Perkataan Meli ada benarnya. Kini, Juno merasa usahanya terlalu gegabah.


"Oke, deh. Aku pamit pulang, ya. Bunga itu untuk kalian berdua saja. Dan ... ini ada batagor juga buat kalian saja. Oh ya, Anjani. Aku sudah tau tentang tantangan yang kalian buat dengan Berlian. Kalau butuh bantuanku jangan sungkan bilang, ya. Aku juga bersedia menjadi pacar pura-puramu. Itu sih kalau kamu setuju. Oke kalau begitu aku permisi dulu. Sampai jumpa, Anjani."


Juno akhirnya pamit pulang setelah berkata bersedia menjadi pacar pura-pura Anjani. Kaki Juno mulai melangkah menjauh, meski sesekali dia menoleh untuk sekedar ingin tau reaksi Anjani. Juno tidak melihat ekspresi berlebih. Anjani hanya terkejut sesaat, kemudian kembali mengobrol dengan Meli.


________________________________________


Juno menceritakan penolakan cinta yang baru saja dia alami. Dia bercerita tanpa menunjukkan ekspresi sedih. Bahkan, dia tertawa sesekali. Mungkin begitulah cara dia mengatasi rasa kecewa di hatinya.


"Begitu rupanya. Batagor pesananku jadi korban juga. Ah, Juno!" tutur Ken sedikit kecewa karena gagal menikmati batagor pesanannya.


"Yaelah, Mas Ken. Masa iya lebih peduli sama batagor daripada sama temen sendiri. Dasar, Mas Ken!" protes Juno.


"Haha .... Iya, maaf. Nih, jus mangga bagianku. Ambil buatmu!" tutur Ken sembari menyodorkan segelas jus mangga bagiannya.


Tiba-tiba Juno menoleh ke arah Mario. Sedari tadi, Juno belum mendengar komentar apa pun semenjak nama Anjani disebut. Selain itu Juno sempat teringat dengan penuturan Meli. Juno mengakui bahwa Mario adalah idola kampus, dan bisa jadi banyak yang menaruh hati padanya termasuk Anjani.


"Mas Mario, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Juno.


"Tanyakan saja, Juno. Jangan dipendam!" ujar Mario dengan nada santai.


Juno sedikit mengubah posisi duduknya agar lebih menghadap ke arah Mario. Mata Juno menatap serius mata Mario. Kali ini, dia benar-benar ingin tahu fakta yang sebenarnya.


"Apa benar Mas Mario sudah dijodohkan?" tanya Juno langsung pada topik. Pertanyaannya itu disambut dengan perubahan ekspresi pada wajah Mario.


Bersambung ....


***

__ADS_1


__ADS_2