CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Mulai Meminta Restu


__ADS_3

"Assalamu'alaikum ... ayah," salam Meli pada ayahnya.


"Wa'alaikumsalam," jawab ayah Meli.


Meli berdiri di dekat kopernya. Meli terdiam, tidak berniat masuk rumah, atau bahkan memasukkan semua barang-barangnya. Meli masih saja terdiam. Hingga detik itu otaknya masih saja merancang kata yang tepat untuk memulai obrolan tentang Azka.


"Meli!" panggil Fatimah, ibu Meli.


Mendengar seruan ibu yang memanggil namanya, membuat Meli spontan menoleh.


"Eh, iya Bu?" tanya Meli polos.


"Siapa yang mengandungmu selama sembilan bulan?" tanya Fatimah.


"Tentu saja ibu, dong. Masa ayah, sih!" jawab Meli.


"Terus kenapa kamu salam sama ayahmu saja?" tanya Fatimah lagi dengan wajah dibuat menyerupai anak kecil yang lagi ngambek.


"Ouuumm. Meli sayang ibu. Sini peluk. Maaf, hehe." Meli cengar-cengir di pelukan Fatimah.


"Gitu aja cemburu kau," celetuk Roni.


"Biarin!" Fatimah cuek saja.


Roni membawa masuk barang-barang Meli. Fatimah membawakan koper milik putrinya itu. Sementara Meli hanya mengekor di belakang ayah ibunya. Otaknya masih saja terus memikirkan kata-kata yang tepat untuk memulai obrolan tentang Azka.


Meli izin untuk mandi dan ganti baju. Pikirnya, setelah mandi bisa saja ide-ide segar untuk memulai percakapan akan muncul dan mengalir begitu saja.


Selama Meli mandi, Fatimah menata oleh-oleh Meli dari Jogja. Fatimah memisahkan oleh-oleh pribadi juga teman-teman Meli. Selesai dengan itu, Fatimah lekas membuka bungkusan bakpia, geplak, dan yangko. Fatimah menghidangkannya di piring.


Piring-piring berisi bakpia, geplak, dan yangko oleh-oleh dari Jogja itu dibawa menuju meja ruang tamu. Di sana ada Roni yang sedang asik menghitung laba-rugi hasil penjualan kacang-kacangan seharian ini.


“Sambil dimakan, Yah. Enak, nih. Asli dari Jogja,” kata Fatimah pada suaminya.


“Iya bentar, tinggal dikit lagi ini.” Jemari tangan Roni masih berkutat dengan kalkulatornya.


Fatimah mengambil bakpia. Dikunyahnya bakpia khas Jogja itu perlahan sambil memperhatikan suaminya.


“Ayah,” panggil Fatimah.


“Hm. Ada apa, Sayang?” sahut Roni tanpa beralih dari pembukuan di depannya.


“Coba ayah perhatikan dan ingat-ingat, ada yang aneh nggak sih sama sikap putri kita?” Fatimah akhirnya menyampaikan apa yang sedari tadi dia rasakan.


Pertanyaan Fatimah menarik perhatian Roni. Bolpoin dan kalkulator seketika diletakkan demi mendengar lanjutan kata-kata istrinya.


“Biasanya kan Meli ceria banget. Suka heboh dan aneh-aneh tingkahnya. Ini tadi kok agak kalem, ya. Mana yang dikasih salam cuma Ayah lagi,” jelas Fatimah.


“Benar juga, sih. Tumben-tumbenan Meli kalem.” Roni membenarkan pemikiran istrinya. “Gini aja, coba setelah ini kamu tanyain dia. Ada apa. Siapa tahu ada yang lagi dipikirin. Tapi kecil sih kemungkinannya. Anak kita itu kan biasa ceplas-ceplos. Hehe. Mirip banget sama aku.” Roni malah terkekeh saat mengingat-ingat lagi sikap putrinya yang begitu mirip dengannya.


“Aku coba ke kamarnya dulu, ya.” Fatimah pamit pada suaminya.


“Eeeeh. Itu piring isi yangko mau dibawa kemana?” tanya Roni saat melihat Fatimah membawa salah satu piring di meja.


“Aku bawa ke kamar Meli. Masa iya basa-basi nggak bawa cemilan. Meli kan suka nyemil,” terang Fatimah.


“Yang ini aja. Bakpia. Yangkonya buat aku,” pinta Roni.


Fatimah mengiyakan saja permintaan suaminya itu. Sepiring bakpia dibawanya menuju kamar Meli.


Pintu kamar Meli diketuk pelan. Meli lekas keluar dengan penampilan yang lebih segar. Gamis dan hijab instan yang dipakainya begitu senada dan pas di tubuh Meli. Saat itu Meli juga memakai bros pemberian Azka.


“Wow. Cantik banget gamisnya!” puji Fatimah.


“Iya, cantik. Bros ini kan pemberian Mas Az ….” Kata-kata Meli terhenti. Dia menyadari sesuatu yang salah.


“Bros? Yang ibu puji kan gamis, Meli.” Fatimah mengoreksi.

__ADS_1


Meli terlihat salah tingkah. Detik berikutnya Meli mengeluarkan jurus ampuhnya, yakni cengar-cengir dengan wajah polos tanpa dosa.


Fatimah semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sedang dipikirkan Meli. Buktinya Meli tidak fokus.


“Yuk temani makan bakpia. Di dalam kamarmu saja,” ajak Fatimah.


Meli mengangguk, lalu mempersilakan ibunya untuk masuk ke kamarnya yang ... alhamdulillaah rapi. Meli menarik kursi di dekat meja belajarnya untuk diduduki sang ibu. Sepiring bakpia diletakkan di atas meja belajarnya. Sementara Meli, dia memilih untuk duduk di tepian kasurnya.


“Bakpianya enak ya. Ibu sudah makan beberapa. Ini kamu yang beli atau Anjani?” tanya Fatimah lagi.


“Bukan Meli ataupun Anjani yang membelikan. Uang saku dari Paman Sam bahkan masih utuh tuh di dompet Meli. Bakpia, geplak, dan yangko semuanya dibelikan bundanya Mas Azka. Pokoknya Mas Azka sama keluarganya itu baiiiiik banget," terang Meli dengan antusias.


“Ooooh. Jadi Mas Azka yang ngasih bros itu,” kata Fatimah sambil memainkan alisnya.


“Eh?” Meli terheran.


Meli merasa ada yang aneh. Meli merasa telah masuk dalam jebakan sang ibu. Tadi Meli tidak selesai menyebut nama Azka saat ibunya memuji gamis cantiknya. Kini, Meli bahkan dengan senang hati menyebut nama Azka saat sang ibu bertanya tentang bakpia.


“Apakah ada sesuatu yang mau kamu ceritakan tentang Mas Azka?” tanya Fatimah yang kini menampilkan senyum penuh makna.


Dag-dig-dug


Mendadak debaran itu melanda. Jantung Meli berdetak lebih cepat. Meli sama sekali tidak menyangka bahwa tibalah saat bagi dirinya untuk mulai bercerita tentang Azka. Semudah itu. Padahal sebelumnya otak Meli sudah berputar-putar mencari kalimat yang tepat untuk memulai obrolan.


“Huft.” Meli menghela nafas panjang. Dia memantapkan hati untuk mengucapkan sebuah tanya yang begitu besar maknanya.


“Bu, bolehkah Meli menikah dengan Mas Azka?” tanya Meli tanpa basa-basi lebih dulu.


Fatimah terperanjat. Bola matanya bahkan sempat membulat.


Meli berkecil hati melihat ekspresi ibunya. Debaran merdu jantungnya mendadak bercampur rasa sesak. Wajah Meli tak lagi menampilkan keceriaan. Hanya gundah yang tampak di wajah manisnya.


“M-Meli nggak boleh menikah dulu, ya?” lirih Meli, tapi cukup bisa didengar oleh Fatimah.


Melihat putrinya murung, Fatimah lekas tersenyum. Dia berpindah posisi duduk persis di sebelah Meli.


“Siapa yang bilang kamu tidak boleh menikah?” tanya Fatimah dengan ramah.


“Jadi Meli boleh menikah dengan Mas Azka?” Meli antusias bertanya.


“Sst. Pelan-pelan. Sabar. Sekarang, coba ceritakan pada ibu seperti apa sosok Azka,” pinta Fatimah.


Meli antusias. Dia bahkan mantap mengangguk, bersedia berbagi cerita dengan ibunya.


Cerita Meli pun dimulai. Fatimah menjadi pendengar yang baik. Meli menceritakan awal mula dia berjumpa dengan Azka, hingga dia sempat menganggapnya sebagai hero. Meli mengaku bahwa perasaannya pada Azka bukanlah sebatas rasa kagum lantaran Azka telah menolongnya saat di Jogja. Meli menyadari adanya desiran merdu yang sering menjadi candu hingga seringkali membuat senyum-senyum.


Meli juga menceritakan tentang keharmonisan keluarga Azka. Meli terus menerus memuji keluarga Azka di depan sang ibu. Tentang keluarga Azka yang baik ibadahnya, akhlaknya, juga tutur katanya. Pujian itu juga tentang Azka yang bisa diandalkan. Lebih dari itu, Meli juga menyampaikan pesan dari Bu Aisyah, Bundanya Azka, yang akan segera datang melamar begitu restu orangtua Meli didapatkan.


“Kamu sungguh mencintai Nak Azka? Yakin yang kamu rasakan itu cinta, Mel? Dengan waktu sesingkat ini, lho.” Fatimah sengaja melontarkan tanya guna mengetahui seberapa mantap hati Meli.


“Bu, Meli pernah dengar yang seperti ini. Katanya rasa cinta itu adalah anugerah. Jadi kalau Allah sudah memutuskan untuk memberikan anugerah cinta itu pada Meli, maka jadilah rasa cinta yang ada di hati Meli."


Meli mengambil jeda untuk menghela nafas panjang.


"Meli memang tidak akan pernah bisa mendefinisikan arti kata cinta dengan benar. Yang jelas untuk saat ini, Meli merasa nyaman dengan perasaan Meli pada Mas Azka. Dengan iman dan akhlak baik yang Mas Azka miliki, insyaAllah Mas Azka akan mampu menjadi imam yang baik bagi Meli," tutur Meli tanpa rasa ragu.


Fatimah tersenyum tulus. Kata-kata Meli barusan meyakinkan dirinya, putri kecilnya itu telah tumbuh menjadi dewasa.


"Azka sendiri apa menyukaimu?" tanya Fatimah lagi, ingin mendenger lebih banyak lagi.


Meli tersenyum dengan wajah tersipu. Untuk sesaat Meli teringat bagaimana tatapan mata Azka saat sigap menangkap kedua lengannya ketika hampir limbung karena ceroboh di area replika Menara Eiffel dari bambu. Dada Meli kembali berdebar-debar saat mengingatnya. Sesaat kemudian Meli mengangguk membenarkan pertanyaan ibunya.


Fatimah senang melihat anggukan putrinya. Rasa senangnya bercampur rasa lega. Fatimah lega karena cinta putrinya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Meli, Sayang. Kalau ibu sendiri tidak keberatan kamu menikah dengan Nak Azka. Andai kamu sudah menikah nanti, di mana pun kamu ikut dengan suamimu, mau di Jogja, di Medan, ataupun di mana saja, cinta kasih ibu pada Meli akan tetap sama. Meli harus selalu ingat itu." Fatimah terharu mengatakan itu.


Meli sigap memeluk sang ibu. Kehangatan lekas mengalir dalam pelukan antara ibu dan anak itu. Ada rasa syukur yang membuncah dalam hati Meli. Selangkah lebih baik lantaran pesan Bunda Aisyah berhasil Meli sampaikan pada ibunya. Kini, tinggal restu dari sang ayah.

__ADS_1


"Bu .... Gimana dengan ayah? Meli bakalan diijinin nggak nikah sama Mas Azka?" Meli mencurahkan rasa gelisahnya pada sang ibu.


"Eem. Jadi ini toh alasan kamu tadi hanya memberi salam pada ayahmu saja. Rupanya kamu kepikiran sekali ya, takut ayahmu tidak memberi izin?" tanya Fatimah.


Bibir Meli manyun. Dia lantas membenarkan kata-kata ibunya.


Fatimah membelai lembut kepala Meli. Senyum Fatimah tidak henti-hentinya disuguhkan untuk putrinya itu.


"Sekarang kamu istirahat. Biar besok ibu yang bilang pada ayahmu, ya."


"Bilang sekarang aja," desak Meli.


Fatimah terkekeh.


"Baiklah. Ibu bilang sekarang, ya."


Meli bersemangat. Dia sungguh tidak sabar mendengar jawaban ayahnya.


Fatimah keluar dari kamar Meli. Sebelum itu, dia menyuruh Meli untuk pergi istirahat dan tidak perlu terlalu khawatir dengan ayahnya. Namun, dasar Meli. Dia mengabaikan pesan ibunya. Diam-diam Meli melangkah mengekori sang ibu.


Sayang sekali, Roni, ayah Meli sudah terlelap di sofa. Fatimah lekas berbalik untuk menemui Meli lagi.


"Loh, kamu mbuntuti ibu toh!" Fatimah kaget saat balik badan tiba-tiba saja ada Meli hampir menabraknya.


Meli cengar-cengir dengan wajah tanpa dosa. Fatimah hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap putrinya itu.


"Besok saja ya ibu bilang sama ayah." Fatimah berusaha memberi pengertian pada Meli.


"Uhmm. Kalau besok, pagi-pagi sekali ayah pasti sudah terburu ke pasar. Pulang dari pasar baru siang harinya. Duh, lamaaaa!" keluh Meli.


"Sst. Harus sabar. InsyaAllah niat baiknya akan dimudahkan. Berdoa saja," nasihat Fatimah.


Meli berusaha memahami. Pada akhirnya Meli pun menuruti nasihat sang ibu.


"Biar nggak terlalu kepikiran, besok pagi ajak Anjani nganterin oleh-oleh buat teman-temanmu. Oke? Sekarang istirahatlah!" perintah Fatimah dengan senyum ramah.


Meli mengangguk. Kakinya dilangkahkan menuju kamar. Meli segera naik ke kasur, tarik selimut, dan memejamkan matanya.


Beberapa menit berlalu, mata Meli kembali terbuka. Sedari tadi dia tidak bisa terlelap. Sesekali Meli tampak senyum-senyum sendiri lantaran teringat momen di Jogja bersama Azka, Via, Farhan, Ratna, Anjani, Bu Aisyah, Pak Haris, dan Baby Zayn. Meli teringat tempat-tempat wisata yang telah dikunjungi, pesona Pantai Glagah, Pantai Congot, wisata hutan mangrove Pantai Kadilangu, hingga sampai di replika Menara Eiffel dari bambu, tempat Meli-Azka terhipnotis dalam tatapan mata selama beberapa detik. Momen Azka kembali menjadi hero Meli.


"Mas Azka, baru sebentar aku meninggalkan Jogja, tapi hati ini sudah merindu akan sosokmu di sana. Teganya kau menawan hatiku agar tertinggal di sana. Ah, tapi hati ini memang harus kau tawan Mas, karena di hatiku telah terukir namamu." Jiwa puitis Meli bergejolak. Dia senyum-senyum sendirian sambil berbaring di atas kasur.


Debuk-debuk-debuk!


Tangan dan kaki Meli dihentakkan dengan cepat hampir bersamaan di kasurnya. Meli girang. Akan tetapi, kegirangan itu lekas terganti dengan kekhawatiran menanti esok saat sang ibu bercerita tentang sosok Azka, demi mendapat restu sang ayah.


"Aaaa! Aku kualat nih tadi ngatain Anjani nggak bakal bisa tidur malam ini karena Kak Mario. Sekarang malah aku yang nggak bisa tidur!" gumam Meli. "Anjani, apa kamu sudah terlelap malam ini?" tanya Meli dalam gumamannya.


***


Di saat yang sama, di rumah Paman Sam. Anjani berguling ke kanan, berguling ke kiri, lantas terduduk di kasurnya. Jantungnya tak henti-hentinya berdebar sejak Mario membisikkan kata di telinganya.


"Besok aku tunggu di rumah. Mommy ingin mengenalmu."


Kalimat Mario terngiang jelas di benak Anjani. Lantaran terus terngiang, Anjani sampai terus-terusan tersenyum dan berdebar-debar.


"Meli, doamu langsung terkabul, nih. Aku beneran susah tidur malam ini," gumam Anjani.


Oh, Mario. Doa apa yang telah kupanjatkan, hingga setibaku dari Jogja tiba-tiba saja kujumpai sikapmu yang seperti di masa lalu, saat aku dekat denganmu. Apakah kau akan berniat baik lagi padaku? Apakah kebahagiaan yang kini dirasakan Meli-Azka akan menular pada kita? Batin Anjani.


Malam berbintang dengan angan dan senyuman. Meli-Azka, Mario-Anjani, Bagaimanakah kelanjutan cerita cinta mereka?


Bersambung ....


***


Akankah Meli mendapat restu dari sang ayah untuk menikah dengan Azka? Bagaimana pula kelanjutan kisah Mario-Anjani? Sabar menanti lanjutan ceritanya, ya. Sambil nunggu update selanjutnya, yuk cari tahu sosok Azka dalam novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti.

__ADS_1



Dukung karya kolaborasi kami, ya. Vote, like, dan tinggalkan jejak komentar kalian. Dukungan kalian akan semakin membuat author semangat untuk melanjutkan ceritanya. See You. 😉


__ADS_2