
MOHON BIJAK dalam membaca part ini.
Bagi yang belum genap 18 tahun disarankan untuk melewatinya saja. Part ini adalah salah satu seni author dalam bercerita. Mohon bijak menyikapinya. Terima kasih. Mohon dukungannya dengan tekan like dan tinggalkan jejak komentarnya. 💚
________________________________________
Malam hari sebelum akad dilaksanakan, Meli menginap di rumah Anjani. Meli menemani calon pengantin wanita sembari memberi nasihat diri sesuai dengan apa yang sudah dilaluinya dulu saat menikah dengan Azka. Meli menenangkan rasa gugup sahabat baiknya itu. Bukan lagi dengan nasihat, melainkan dengan canda agar Anjani bisa tertawa.
"Mel, apa rasanya segugup ini?" tanya Anjani usai canda tawa mereka.
Meli memperbaiki mimik wajahnya, menjadi mode serius.
"Iyap, seperti yang kamu rasakan saat ini. Bisa jadi Kak Mario malah lebih gugup lagi," tukas Meli.
"Kok bisa Mario lebih gugup? Kan biasanya dia pede tingkat tinggi," terang Anjani.
Meli geleng-geleng kepala.
"Besok setelah kalian sah dan lagi berduaan aja, coba deh tanya Kak Mario. Berapa kali dia latihan ijab qobul sebelum akad." Meli mengedipkan matanya cepat.
Anjani mengangguk singkat. Obrolan lain lekas tercipta karena malam itu tumben-tumbennya kantuk tak kunjung melanda. Anjani terjaga. Namun, saat melihat Meli sering menguap, Anjani memutuskan untuk pergi tidur meski belum juga mengantuk.
"Ayo tidur dulu!" ajak Anjani.
"Hoaaam. Akhirnya kamu mau pergi tidur juga. Tidur yang nyenyak, Anjani. Besok kamu akan sibuk dari akad sampai resepsi," gumam Meli lirih, dan mulai memasuki alam mimpi.
Tak lama berselang, Anjani pun ikut terbuai dalam mimpinya. Bermimpi indah. Mimpi bahagia. Sebuah mimpi yang akan menjelma nyata.
***
Hari berganti. Hari ini, Big Day Mario-Anjani.
"Saudara Mario Dana Putra bin John Darmawangsa Putra, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Adinda Dewi Anjani binti Joko Ahmad dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 99 gram dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Adinda Dewi Anjani binti Joko Ahmad dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 99 gram dibayar tunai."
"SAH"
Kaburku dari desa ke kota membawa banyak cerita. Tak hanya tentang masa kuliah dan persahabatan, tapi juga tentang cinta. Tak pernah kusangka bahwa lelaki yang kutemui di toko bunga adalah jodoh dari-Nya. Mario Dana Putra. Sosok tampan yang dulu dingin, sekarang justru menjadi seterang mentari menghangatkan hari-hari. Kini, dia bersanding denganku. Usai kata sah yang diserukan para saksi nikah, kami resmi bersatu.
"Alhamdulillaah." Seruan syukur tamu undangan terdengar. Semua bahagia menyaksikan momen sah Mario-Anjani.
Hati Anjani dipenuhi bunga-bunga syukur. Anjani meraih tangan Mario lalu mencium punggung tangannya sebagai bentuk tanda bakti kepada suami.
Dua pasang bola mata kini beradu. Saling tatap. Menyalurkan cinta kasih sekaligus rasa bahagia.
Usai penandatanganan buku nikah, Mario-Anjani berfoto bersama keluarga, para sahabat, dan tamu. Ucapan selamat dan doa sakinah mawaddah warahmah menyertainya.
"Mommy sungguh bahagia," tutur lembut Mommy Monika sambil memeluk erat Anjani yang kini sudah resmi menjadi menantunya.
"Dampingi Mario dengan sepenuh hati, ya?" pinta Mommy Monika disertai air mata bahagia.
"Insya Allah, Mom." Anjani kembali memeluk Mommy Monika.
"Dan kamu Mario. Jaga istrimu baik-baik. Penuhi nafkah lahir batin istrimu ini. Ingat, jangan pernah menyakiti hatinya!" nasihat Mommy Monika pada Mario.
Mario tersenyum lantas mengangguk. Dalam hati Mario pun sudah terpatri kesungguhan akan menjaga dan membahagiakan Anjani.
"Anjani, hadapi Mario dengan sabar, ya. Percayalah, Mario ini lelaki yang bisa diandalkan!" John memeberi petuah pada Anjani sambil menepuk-nepuk bahu Mario.
"Akan Mario pastikan Anjani tidak akan pernah menyesal bersanding dengan Mario, ayah." Mario mantap berbicara, membuat John mengangguk lantas merangkul putranya itu.
Giliran keluarga Anjani. Ma dan Joko yang paling antusias. Disusul Paman Sam, Bibi Sarah, dan Renal yang hari itu kompak mengenakan batik sarimbit.
"Menantu Ma tampan betul," puji Ma.
"Nak Mario sudah mirip pemeran pangeran di film-film kerajaan." Joko ikut memuji Mario.
"Anak gadis kau tuh puji juga, kak!" seru Paman Sam.
"Bentar lagi nggak gadis lagi dia. Kalian berdua bikin anak yang banyak, ya!" Ma tanpa sungkan berkata demikian, membuat Anjani tertunduk malu.
"Sudah-sudah. Ayo segera foto bersama!" Bibi Sarah menengahi.
Cekrek!
Juno yang menjadi juru kamera. Menggantikan Ken sebentar yang kebetulan sedang membantu Berlian membawa berkatan untuk tamu undangan. Sekuat hati Juno melakukannya. Walau bagaimanapun, dia tetap harus mengikhlashkan Anjani.
"Jun, sini kugantikan! Kamu kasih ucapan selamat dulu sana. Tuh, bareng Meli!" perintah Dika, langsung merebut kamera DSLR dari Juno.
Juno mengangguk, tapi tak kunjung beranjak pergi.
"Mario-Anjani akhirnya sah juga. Kalian sukses bikin gemes beberapa hari ini tahu! Uuuuh." Meli hendak mendaratkan cubitan andalannya, tapi tangannya lekas dihentikan. Meli tidak mau merusak make up pengantin Anjani.
Detik berikutnya tangan kiri Mario meraih pinggang Anjani, hingga sukses membuat tubuh Anjani bergeser dan mendekat ke Mario. Anjani yang kaget sempat berdebar karenanya.
"Kami serasi, kan?" tanya Mario tanpa melepas rangkulan tangannya di pinggang Anjani.
__ADS_1
"Iya-iya. Kak Mario sama Anjani serasi banget. Ayo foto dulu sama aku! Oya, maaf ya Mas Azka belum bisa hadir," terang Meli kemudian.
Mario-Anjani kompak mengangguk. Senyum manis dan kemesraan keduanya sukses membuat baper tamu undangan di sana. Termasuk Juno. Dia sedikit emm, gimana gitu.
Mario yang menyadari kehadiran Juno lekas melepas pelukannya pada Anjani. Mario membiarkan Anjani saling berpelukan dan berfoto selfie dengan sahabatnya, Meli. Sementara Mario, dia menyambut Juno.
"Mas Mario, selamat ya!" ucap Juno tulus. Dia tersenyum.
Mario menyambut senyum Juno itu. Dia lekas merangkulnya ala lelaki.
"Kudengar dari Alenna, kamu kembali mendekatinya lagi, ya?" bisik Mario.
Juno sedikit terkekeh. "Iya, Mas." Juno tidak menutup-nutupi.
"Kalau begitu kau harus bersaing dengan Rangga. Adikku sepertinya sangat menyukainya," terang Mario.
"Aku nggak mau saingan lagi, Mas. Tapi aku juga nggak mau ngalah gitu aja. Aku tetap berusaha. Siapa pun yang dipilih Alenna nanti, insya Allah memang takdir yang terbaik." Juno bijak.
Mario menepuk-nepuk bahu Juno. "Doa terbaik untuk kalian," katanya.
"Bahagiakan Anjani, ya Mas. Sekarang aku ikhlash," aku Juno.
Mario mantap mengangguk. Kebetulan Anjani mendengarnya juga dan langsung tersenyum.
Resepsi sederhana selesai digelar di kediaman rumah Paman Sam. Di saat Mario masih mengakrabkan diri dengan yang lainnya, Anjani mengambil kesempatan itu untuk menghapus make up dan berganti pakaian. Sebentar lagi dia dan keluarganya akan menuju hotel. Menyiapkan beberapa hal di sana dan bersiap menyambut malam resepsi.
***
Tiga mobil yang membawa rombongan keluarga Anjani, John, dan Mommy Monika sampai di hotel. Mario-Anjani tak terkecuali. Mereka bahkan ada di mobil khusus pengantin.
"Sayang, kita sudah sampai. Kamu bisa lanjut bersandar di bahuku setelah ini," kata Mario lembut.
Anjani tersenyum, lantas mengangguk. Pipinya sudah bersemu.
Mommy Monika mengantar rombongan keluarga Anjani ke kamar masing-masing. Ma, Joko, Paman Sam, Sarah, Roni, Fatimah, Meli, dan Renal mengekori sambil melihat takjub ke arah interior hotel.
John tidak ikut mengantar. Dia memilih menuju hall dan mengecek semua persiapan untuk resepsi nanti malam. John tidak sendiri, dia langsung disambut oleh beberapa orang kepercayaannya sekaligus beberapa bodyguard yang khusus ditugaskan untuk mengawal acara resepsi.
Mario membimbing langkah Anjani hingga sampai di depan kamar hotel yang sudah didesain khusus.
"Sudah siap melihat kamar pengantinnya?" bisik Mario tepat di telinga Anjani.
Suara lirih Mario membuat Anjani berdesir. Jantungnya mendadak brutal. Terus berdegup kencang.
Mario menggenggam erat tangan Anjani. Dia membimbingnya masuk ke dalam kamar pengantin. Harum semerbak bunga lekas tercium wangi begitu pintu dibuka.
"Letakkan tasmu di sana, Sayang!" perintah Mario dengan lembut.
Tiba-tiba saja Anjani merasakan kehangatan menyelimuti tubuh. Rupanya Mario mendekap tubuhnya dari belakang. Anjani seketika balik badan lalu menyambut dekapan itu. Mario merengkuh tubuh Anjani dengan lembutnya.
"I love you," tutur lembut Mario.
"I love you too," sahut Anjani dengan sama lembutnya.
Mario tidak menyia-nyiakannya. Dengan lembut Mario memutus jarak bibirnya dengan Anjani. Sensasi hangat nan lembut dapat dirasakan keduanya. Semakin lama semakin dalam. Semakin panas saja, hingga Anjani mulai kehabisan nafas. Mario melepas. Ganti dia kecup kening Anjani.
"Istirahatlah sebentar. Resepsi nanti malam akan sangat melelahkan," tutur lembut Mario.
Lagi-lagi Anjani hanya menurut. Dia menurut ketika Mario membimbingnya menuju sofa. Mario duduk lebih dulu, lantas meminta Anjani tidur di pangkuannya.
"Sebaiknya kamu istirahat juga, Mario!" perintah Anjani.
Mario menaikkan sebelah alisnya.
"Buat sebutan lain untukku, Sayang. Honey, sweety, hubby?" Mario memberi pilihan sambil tersenyum manja pada Anjani.
"Em, sementara panggil sayang juga, deh." Anjani seketika menutupi wajahnya.
"Baiklah. Sekarang pejamkan matamu. Akan kubangunkan nanti sebelum waktu ashar tiba." Mario kembali mengecup kening Anjani lantas membiarkannya tidur di pangkuannya.
***
Anjani terbangun saat mendengar alarm dari ponsel Mario. Anjani benar-benar memanfaatkan waktu istirahatnya dengan baik hingga dirinya benar-benar terlelap. Begitu mata Anjani terbuka, terlihat sang suami masih terlelap sambil bersandar di bantalan sofa. Anjani tersenyum melihatnya.
Detik berikutnya, Anjani justru dibuat terkejut. Pasalnya, baju yang dikenakan Anjani berantakan. Tiga kancing bagian atas terbuka dan kain pembungkus bagian dalamnya tampak mata. Ya, ulah siapa lagi kalau bukan suaminya.
Satu cubitan gemas dilayangkan Anjani tepat di perut Mario. Membuat Mario seketika terjaga dari tidurnya.
"Ada apa, Sayang?" Mario berlagak bodoh.
"Mesum!" seru Anjani gemas.
Mario yang sadar dengan maksud sang istri pun lantas tersenyum jahil.
"Sepertinya itu akan menjadi hobi baruku pada istri cantikku ini," goda Mario.
Kali ini Anjani tidak menghujani Mario dengan cubitan, melainkan dengan satu kecupan lembut di pipi. Mario membalas perlakuan Anjani dengan tatapan mesra.
__ADS_1
"Ayo siap-siap sholat ashar dulu. Aku imami," tutur lembut Mario.
Malu-malu, Anjani mengangguk. Dia sadar bahwa sekarang telah hadir seorang imam yang akan menua bersamanya. Beribadah bersama.
***
Malam tiba. Resepsi pernikahan Mario-Anjani berlangsung megah. Sangat wajar bagi kalangan pebisnis semacam John. Tamu undangan ratusan. Suguhannya pun bermacam-macam. Pasangan pengantin menjadi sorotan karena penampilan yang bak raja-ratu di malam bahagia itu.
Meli tampak ramah menemui dan mengajak ngobrol teman-teman Anjani dan Mario yang datang. Untuk tamu dari kalangan pebisnis sudah dihandle oleh orangtua Mario. Keluarga Anjani yang lain berperan sebagai penyambut tamu.
"Terima kasih sudah hadir teman-teman!" seru Meli saat teman-temannya pamit pulang.
"Mel, aku sama Kak Lisa pulang juga, ya. Kamu nggak papa kan hunting makanan sendiri?" goda Berlian sambil menunjuk beberapa hidangan makanan yang lezat-lezat.
"Iiih. Udah kenyang. Aku nggak apa-apa, kok. Bentar lagi bisa gabung sama ibu, ayah, dan yang lainnya. Hati-hati di jalan, ya." Meli tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Teman-teman Meli sudah banyak yang pulang. Mereka datang meski sebentar. Tidak terlihat lagi tamu undangan yang datang, tapi hall masih penuh karena banyak rekan bisnis ayah Mario yang masih asik mengobrol. Bukan mengobrol dengan pengantin, tapi mengobrol dengan sesama rekan bisnis mereka.
Meli mengedarkan pandang ke sekitar. Keluarga Anjani dan orangtuanya rupanya sudah kembali ke kamar.
"Huft. Andai Mas Azka ada di sini," gumam Meli yang mulai merasa kesepian.
Meli memandang ke arah Mario-Anjani yang rupanya sedang asik berbisik-bisik mesra. Senyum Meli merekah melihatnya. Meli seolah bisa merasakan kebahagiaan Mario-Anjani, karena Meli sendiri sudah melalui fase pernikahan.
"Assalamu'alaikum, istriku."
Salam sapaan itu begitu Meli kenal. Meli seketika terpaku di tempatnya. Debar merdu dia rasakan, tapi begitu takut untuk berangan akan sosok yang kini ada di pikiran. Hingga kemudian Meli merasakan pipinya menghangat karena kecupan dari seseorang.
"M-mas Azka?" Meli seolah tidak percaya dengan sosok tampan yang kini menggenggam tangannya.
"Assalamu'alaikum istriku," ulang Azka.
"Wa'alaikumsalam suamiku," jawab Meli berkaca-kaca.
Meli menghambur ke pelukan suaminya. Rasa syukur seketika menggema dalam dada.
"Ini beneran Mas Azka atau aku lagi bermimpi?" tanya Meli sambil melepas pelukannya.
"Kalau nggak percaya sini aku bantu cubit," sahut Azka sambil mencubit pelan hidung mancung sang istri.
"Aw-aw-aw!" Meli lebay, cubitan hanya sekali tapi aw-nya tiga kali.
"Bagaimana kabar istriku?" tanya Azka lagi tanpa melepas genggaman tangannya.
"Alhamdulillaah. Meli baik. Apalagi setelah lihat Mas Azka. Tapi Mas Azka kok nggak ngasih kabar sih kalau ternyata bisa hadir. Jahat, deh!" Meli mencebik lucu.
"Iya deh aku penjahatnya. Karena aku jahat sama istriku, berarti bentar lagi dapat hukuman, dong!" Azka berlagak manja juga.
"Iya. Harus dihukum!" Meli gemas.
"Heeem, jadi nggak sabar deh dapat hukuman dari istriku ini. Apa ya hukumannya?" Azka semakin menggoda sang istri.
"Iiiih. Mas Azka pasti ini sudah mikir mesum. Padahal Meli cuma mau ditraktir es krim sebagai hukumannya," jelas Meli.
Azka terkekeh pelan melihat ekspresi sang istri. Dia memang sengaja membuat kejutan dengan datang diam-diam ke acara pernikahan Mario-Anjani. Padahal, orangtua Meli sudah dikabari Azka lebih dulu kalau dia akan datang.
"Temani ke Mario-Anjani, yuk!" ajak Azka.
"Ayuk! Mereka berdua pasti senang mas Azka datang." Meli tanpa melepas genggaman tangannya beriringan langkah dengan sang suami.
Mario-Anjani rupanya juga tidak terkejut dengan kedatangan Azka, karena tadi Azka sempat memberi kode tangan begitu akan menghampiri Meli.
"Mario, Anjani, selamat atas pernikahan kalian. Semoga segera dapat baby lucu unyu-unyu," doa Azka.
"Terima kasih. Doa yang sama untuk kalian," sahut Mario.
"Ayo, Sayang!" ajak Anjani pada Mario, tiba-tiba.
"Loh, kalian mau kemana?" tanya Meli terheran.
"Mau istirahat. Mereka yang ada di sini otomatis akan berganti topik bisnis. Ayah dan Mommy juga sudah menyuruh kami istirahat," terang Mario tanpa memudarkan senyum di wajah tampannya.
"Eeeeem. Pasti kalian sudah nggak sabar mau begituan!" goda Meli blak-blakan.
"Istriku ini bicaranya ya. Ayo, Sayang. Sebaiknya kita istirahat juga!" Azka menarik pelan lengan sang istri.
"Loh, Mas Azka. Kita mau kemana?" tanya Meli.
Azka menjawabnya dengan satu kedipan mata. Azka dan Meli menuju lift. Begitu pintu lift tertutup, Azka langsung mendekap Meli dengan mesranya.
"Bisakah kita melakukannya malam ini?" bisik Azka di telinga Meli.
Meli seketika tersipu malu. Dalam rona wajah yang masih bersemu merah, Meli mengangguk menyambut keinginan sang suami.
Bersambung ....
Sudah bisa ditebak belum, next episode tentang apa? Sabar menanti lanjutan ceritanya, ya.
__ADS_1
Hayuuuuk semua, Via-Farhan, Ratna sebenarnya juga diundang ke pernikahan itu sama seperti Azka. Cari tahu yuk alasan mereka tidak bisa datang. Bakal ada yang seru di sana. Segera cari tahu di novel kece karya Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung karya kami, like dan tinggalkan jejak komentar di setiap babnya.