
Siang itu usai mengikuti dua mata kuliah, Anjani dan Meli segera menuju ruko. Sedari tadi hati Anjani berbunga-bunga, terus terngiang kata-kata Mario.
Tunggu sebentar lagi. Insya Allah aku akan segera berniat baik terhadapmu.
Senyum Anjani kembali merekah. Kata-kata Mario masih begitu jelas di ingatannya.
“Sst. Anjani. Mau masuk atau senyum-senyum di situ?” Meli bersedekap di depan pintu masuk ruko.
“Ups. Iya. Ayo masuk!” Anjani melangkah riang memasuki ruko.
Salam dan senyum Rangga lekas menyambut kedatangan Anjani dan Meli. Kedua tangan Rangga penuh dengan tumpukan-tumpukan kotak sepatu yang telah di-packing. Rangga segera meletakkan semua orderan yang telah di-packing rapi itu di dekat pintu masuk. Ada lima belas packing-an.
“Wow. Lumayan juga orderan segini.” Mata Meli berbinar.
“Alhamdulillaah. Banyak peminatnya,” sahut Rangga dengan nafas terengah.
“Kamu tampak kelelahan, Mas.” Anjani mengamati wajah Rangga.
“Hanya kurang tidur saja semalam,” kata Rangga sembari fokus mengecek satu per satu packing-an yang siap diangkut oleh jasa pengantar barang.
“Biar aku bantu. Kamu istirahat saja dulu di bed atas.” Anjani hendak merebut kertas yang dipegang Rangga.
Rangga tidak melepas kertas yang dipegangnya. Itu membuat Meli sedikit gemas karena Anjani dan Rangga memegangi kertas yang sama. Meli khawatir akan terjadi hal yang tidak-tidak, sehingga dia pun lekas merebut kertas tersebut.
“Biar aku saja. Aku kan juga karyawan di sini. Anjani cek pembukuan dan hasil penjualan mulai hari Senin saja. Sudah sesuai atau belum. Kak Rangga istirahat saja di atas. Stamina tubuh itu nomor satu untuk mendukung kinerja,” tegas Meli.
Rangga garuk-garuk kepala. Dia mengangguk-angguk. Matanya memang butuh terpejam sejenak. Begitu pula dengan Anjani. Dia juga menurut dan langsung menuju meja kasir.
“Trus, kamu sendirian ngecek ini? Bos Mario sama Ken masih di kampus, lho.” Rangga belum beranjak dari tempatnya berdiri.
“Biar aku yang menemani,” sahut Dika yang baru saja tiba.
Meli menoleh. Meli tersenyum sekilas membalas senyuman Dika yang ditujukan kepadanya.
Melihat kehadiran Dika, Rangga pun bergegas menuju lantai dua dan memejamkan matanya. Rangga akan memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin agar bisa kembali bekerja.
“Gimana kuliahmu, Mel?” tanya Dika basa-basi. Dia membantu merapikan kembali packing-an yang sudah dicek Meli.
“Alhamdulillaah,” jawab Meli singkat sambil tetap fokus.
Beberapa mata kuliah yang ditempuh Dika memang ada yang tidak sama dengan jadwal yang diambil Anjani dan Meli. Seperti hari itu, dua mata kuliah yang ditempuhnya benar-benar berbeda jadwal. Sehingga mereka tidak saling bertemu di kampus.
Selesai. Petugas jasa pengiriman barang datang. Meli bergegas memanggil Anjani dan memintanya menyelesaikan tagihan pengiriman. Dalam lima belas menit, semua beres.
“Aku ke lantai atas dulu. Mau cek size sepatu yang stoknya menipis. Kamu sama Dika jaga di sini, ya. Siapa tahu ada pelanggan yang lihat-lihat sepatu. Oya, Dika. Sambil cek olshop-nya juga, ya. Nanti setelah Rangga bangun sampaikan saja padanya.” Anjani antusias.
Meli mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Sedangkan Dika segera mengambil smartphone untuk mengecek olshop.
“Anjani sudah terlihat jauh lebih sehat.” Dika kembali membuka obrolan sambil membalas chat dari pelanggan olshop via aplikasi.
“Alhamdulillaah. Itu lebih baik daripada demam seperti sebelumnya.” Mendadak Meli teringat saat Anjani bertingkah aneh, memeluk Mario dan hampir saja berciuman.
“Jangan lagi-lagi,” imbuh Meli sambil menggelengkan kepala.
“Apanya yang jangan lagi?” tanya Dika yang tidak paham.
“Maksudku jangan sampai Anjani sakit seperti itu lagi.” Meli meluruskan.
Dika manggut-manggut. Obrolan mereka berdua tidak berlanjut karena ada ibu muda menggandeng anak lelakinya memasuki ruko. Meli turun tangan. Meli begitu cakap melayani pelanggan. Tidak butuh waktu lama, sepasang sepatu laku terjual.
“Keren juga kau, Mel.” Dika memuji Meli.
__ADS_1
“Istrinya Mas Azka gitu loh,” sahut Meli bangga.
Begitu nama Azka disebut, Dika seketika hilang kata-kata. Dika mengalihkan perhatian dengan mendata orderan sepatu via olshop. Namun, Dika tetap di sana sambil menemani Meli berjaga.
Dua menit berlalu tanpa obrolan. Meli mulai bosan. Dia biasa heboh dan tidak enak diam. Dilihatnya Dika yang masih asik mencatat satu per satu orderan. Mencatatnya di sebuah pembukuan yang dibuatkan Anjani tempo hari.
Sepertinya ada yang baru dari penampilannya Dika, batin Meli.
Dugaan Meli benar. Jika diperhatikan lagi potongan rambut Dika berbeda. Lebih rapi, agak tipis, dan Dika memakai minyak rambut. Jam tangan nuansa hitam melingkar di pergelangan tangan kirinya. Aroma parfum yang dipakai Dika juga berbeda dari biasanya. Kali ini lebih menyengat dan harum.
Meski Meli menyadari penampilan Dika, dia enggan membahas apalagi memuji penampilan barunya. Meli tidak mau Dika berpikiran macam-macam. Demi mengusir kejenuhan, Meli bergegas mengambil smartphone dan ViCall Azka, sang suami tercinta.
“Wa’alaikumsalam, Sayangku.” Meli menjawab salam Azka dengan senyum-senyum manja.
Deg!
Dika langsung berhenti menulis. Dika menoleh dan mendapati Meli sedang bermesraan kata dengan suaminya. Meski Dika sudah bertekad untuk move on, tapi tetap saja semua itu butuh waktu.
“Tiap hari aku nabung juga, kok. Sama seperti Mas Azka, nabung cinta. Hehe.” Meli masih saja berkata-kata mesra via ViCall.
Gombalan demi gombalan terdengar jelas di telinga Dika. Sebisa mungkin Dika meredam perasaannya. Dia mencoba kembali fokus menulis, tapi tidak bisa.
“Nggak mau aku pecah. Nunggu Mas Azka saja. Mau menikmatinya bareng sama Mas Azka,” rengek Meli, terdengar begitu manja.
Duh, mereka berdua ini ngomong apa sih? Batin Dika.
Dika sudah benar-benar tidak fokus. Dika yang semula berniat kembali fokus menulis, segera meletakkan bolpoinnya. Percuma, dia gagal fokus.
“Iiiih. Nanti aja kalau Mas Azka pulang. Barengan, ya.” Meli terus saja bernada manja.
“Sst. Mel. Sungkan dikit dong sama yang single. Panas nih dengernya,” protes Dika yang sudah tidak tahan lagi mendengarkan kemesraan Meli-Azka.
“Sana-sana. Ngadem aja di bagian packing!” suruh Meli memelankan suaranya, sambil menutupi layar smartphone agar tidak terlihat Azka.
“Aamiin.” Meli mengamini lalu mengibaskan tangannya, memberi kode agar Dika lekas pergi.
Dika tidak kesal dengan kemesraan Meli-Azka. Dika hanya kesal pada dirinya yang masih saja belum bisa mengontrol rasa cemburunya.
“Aku harus jatuh cinta pada sosok lainnya. Itu satu-satunya cara agar aku bisa cepat melupakan Meli,” pikir Dika dengan serius.
“Aaaah, tapi mana bisa. Mana ada yang mau sama aku!” Dika memegangi kepalanya.
Sementara itu di lantai dua ruko. Anjani sibuk mengecek stok size sepatu. Anjani begitu teliti, tidak ingin membuat kesalahan. Tinggal sederet tumpukan sepatu lagi. Anjani berusaha menjangkau tumpukan teratas.
Bruk!
Beberapa tumpuk sepatu ambruk dan menimpa wajah Anjani. Rangga yang tertidur di bed langsung bangun dan bergegas menghampiri Anjani.
“Astaghfirullah, Anjani. Kamu tidak apa-apa?” Rangga panik.
“Tidak apa-apa. Hanya kaget,” kata Anjani.
“Biar kubereskan ini. Kuubah tumpukannya biar tidak terlalu tinggi lagi. Kamu duduk saja di sana. Tunggu, biar aku ambilkan minum.” Rangga gesit.
Anjani hendak mencegah Rangga, tapi keburu pergi. Anjani jadi tidak enak sendiri dengan perlakuan baik Rangga padanya.
“Ini minumnya. Lekas minum, ya. Aku tinggal sebentar benahin tumpukannya.” Rangga begitu perhatian pada Anjani.
“Em, Mas Rangga lanjutin saja dulu istirahatnya. Biar nanti aku yang benahin. Toh aku yang membuatnya ambruk,” tawar Anjani.
“Akan kulakukan. Kamu duduk saja di sini,” jawab Rangga, kemudian berbalik badan menuju tumpukan kotak sepatu.
__ADS_1
Bagaimana aku bisa nyenyak istirahat kalau yang mengganggu tidurku adalah kamu, Anjani. Ah, Bos beruntung banget bisa mengenalmu lebih dulu. Batin Rangga.
Anjani memperhatikan ketekunan Rangga dalam bekerja. Pantas saja jika Mario memilihnya sebagai karyawan dan mempercayakan kunci ruko padanya. Merasa tidak enak hanya berdiam diri dan menonton Rangga, Anjani pun pamit turun untuk mengerjakan yang lain bersama Meli.
***
Di kampus. Mario dan Ken baru saja selesai kelas mata kuliah yang diampu oleh Pak Koko.
“Kenapa nggak minta anak buah ayahmu saja sih yang mengurusnya? Harus kau yang turun tangan? Mereka bukan keluarganya Anjani, loh. Si wanita itu hanya mantan istri kedua ayahnya Anjani. Sudah pisah ranjang juga sama ayahnya Anjani. Ngapain lagi harus dikorek informasinya. Nggak penting, Bro!” Ken melontarkan pikirannya.
“Aku mau memastikan sendiri, Ken. Memastikan wanita itu tidak berniat merusak hubungan keluarga Anjani lagi,” jawab Mario santai.
“Yakin?” tanya Ken.
Mario mengangguk mantap.
“Lagipula Paman Li dan anak buahnya sudah dapat informasi terbaru. Istri kedua ayahnya Anjani yang minggat dengan anak-anaknya, rupanya selingkuh dengan lelaki lain. Bahkan sampai memiliki anak. Ayahnya Anjani tidak tahu tentang kebusukan itu. Beliau hanya tahu istrinya minggat karena keadaan ekonomi yang tidak menentu,” terang Mario.
Ken tidak paham dengan jalan pikiran Mario. Namun, dia mencoba memahami keputusannya. Semua itu untuk membantu menyatukan kembali keluarganya Anjani.
“Baiklah. Mau kutemani?” Ken menawarkan diri.
“Tidak perlu, Ken. Aku takut kau membuat ulah dan mengacaukan rencanaku,” canda Mario dengan mimik wajahnya.
Seperti yang biasa dilakukan pada Juno, kali ini Ken menjitak kepala Mario. Kekehan kecil terdengar kemudian.
“Eh, Bro. Btw, serius kau sudah memberi kode pada Anjani?” tanya Ken yang seolah belum percaya.
“Sudah. Meli saksinya. Aku serius akan melamar Anjani lagi, Ken. Ayah, Mommy Monika, dan Alenna sudah bersiap dengan itu.” Mario tersenyum bahagia menjelaskannya.
“Wah, selamat deh. Akhirnya nyalimu balik juga,” puji Ken.
“Tapi, aku masih mau menyatukan keluarga Anjani lebih dulu. Aku pastikan tidak akan lama. Karena aku pun ingin segera merasakan kebahagiaan yang sama seperti Meli dan Mas Azka. Aku ingin segera membahagiakan Anjani. Menjaganya sepenuh hati. Menafkahinya lahir batin. Mencintainya dengan ....” Kata-kata Mario disela Ken.
“Cukup! Kau malah bikin aku baper. Segera wujudkan!” Ken menepuk-nepuk bahu Mario.
Senyum Mario mengembang. Ya, Mario sudah tidak sabar menyelesaikan misinya, sehingga bisa segera menikah dengan Anjani yang begitu dicintainya.
***
Usai menunaikan ibadah solat dhuhur, Anjani melayani seorang pengunjung toko yang datang bersama sahabatnya. Anjani selalu menyertai penjelasan detil sepatu dengan nada dan senyum ramah. Sukses besar, si pengunjung toko seketika membeli tiga pasang sepatu dengan kualitas dan harga terbagus di toko itu.
"Kembaliannya tiga puluh ribu rupiah," kata Meli ramah.
"Terima kasih sudah berbelanja di toko kami." Anjani menyerahkan bungkusan berisi tiga pasang sepatu kepada pembeli.
Setelah pengunjung pulang, Anjani dan Meli kompak saling lirik lantas mengucap hamdalah berbarengan.
"Anjani, aku bisikin tapi jangan kaget ya?" pinta Meli.
"Kaget?" Anjani yang penasaran lekas mendekatkan diri.
"Dari tadi aku mergokin Kak Rangga merhatiin kamu. Kadang senyum-senyum sendiri," bisik Meli.
"Masa, sih?" Anjani tidak percaya.
Meli mengangkat bahunya. Meli hanya memberi tahu Anjani. Sementara itu, Anjani mencoba untuk tidak berpikiran macam-macam.
Mungkin Mas Rangga hanya memperhatikan caraku melayani pelanggan. Tidak lebih, pikir Anjani.
Bersambung ...
__ADS_1
Hello reader semua. Maaf baru bisa up lagi, ya. 😳 Semoga suka dengan ceritanya. Kepoin juga kehidupan suami Meli dan keluarganya di novel karya Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung kami selalu, ya. See You. Barakallah.