CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Jebur!


__ADS_3

Acara bertamu pagi-pagi tanpa perencanaan telah sukses mengejutkan Anjani. Kejutan hanya sebagian kecil dari misi. Ada hal lain yang lebih dinanti, yaitu keakraban, kebersamaan, dan keceriaan sebagai bagian untuk mengisi suasana liburan. Ma menyambut dengan hangat kedatangan teman-teman Anjani pagi tadi. Kini, Anjani dan teman-temannya menuju sungai yang disarankan oleh Juno dan Ma.


Jarak rumah Anjani menuju sungai dapat ditempuh sekitar dua puluh menit dengan berjalan kaki. Waktu dan jarak yang ditempuh tidak menjadi masalah dan sama sekali tidak terasa. Semua itu karena canda tawa mengiringi langkah kaki mereka.


Juno langsung memposisikan diri sebagai tour guide. Satu per satu tempat menarik di desanya dikenalkan oleh Juno, dan semua itu dilakukan secara spontan dan sukarela.


"Uwow, kamu tahu banyak tentang desamu, ya?" tanya Dika.


"Ya tentu saja Juno tahu, Dika. Ini kampung halamannya. Ditambah lagi ayahnya kepala desa," jelas Ken.


Saat Ken dan Dika sibuk mengobrol, tiba-tiba saja Meli melangkah cepat meninggalkan Anjani yang sedari tadi berjalan di sebelahnya. Meli mendahului langkah semua teman-temannya, dan begitu sampai di posisi paling depan dia pun berbalik.


"Berhenti dulu! Rasanya nggak adil, nih! Kalian sudah bertamu ke rumah Anjani. Lah, terus kapan kalian mengajakku bertamu ke rumah Juno? Aku kan juga ingin tahu ayah Juno seperti apa. Juno, nanti aku boleh main ke rumahmu nggak?" tanya Meli pada akhirnya.


"Iya-iya. Kepo banget sama ayahku, sih. Nanti kukenalkan, deh. Tenang!" ujar Juno sambil berkacak pinggang.


Satu lompatan tinggi dengan tangan dihentakkan ke atas, juga seruan kata 'hore' menjadi bukti bahwa Meli teramat senang mendengarnya. Meli tidak hanya menantikan untuk melihat sungai jernih yang dipromosikan Juno, tapi dirinya juga menanti-nantikan pertemuan dengan ayah Juno.


Anjani geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya. Tanpa diminta Meli, sebenarnya Anjani sudah memiliki rencana untuk mengajak Meli bertamu ke rumah Juno sore nanti. Akan tetapi, niat Anjani sungguh berbeda dengan Meli. Meli punya niat untuk bertemu dengan ayah Juno, sementara Anjani ingin bertemu ayam kesayangannya yang telah dijual oleh Ma pada ayah Juno.


"Tuan dan nona yang saya hormati. Selamat menikmati suguhan alam sungai jernih desa kami," tutur Juno berlagak lagi.


Anjani dan teman-temannya sampai juga di sungai yang dimaksud Juno dan Ma. Semua mata dibuat takjub dengan pemandangan indah di sana. Bentang sungai terlihat memanjang dengan lebar yang lumayan besar. Tepi-tepi sungai juga tampak jelas dengan beberapa tanaman liar berjajar. Bunga warna-warni dari rerumputan liar benar-benar melengkapi keindahan.


Juno membawa teman-temannya menuju sungai yang lebih dangkal, dengan bebatuan besar-kecil. Saat tiba, semua mata dimanjakan oleh kesegaran dan kejernihan air sungai. Dapat dilihat pula ikan-ikan kecil yang berenang. Rupanya bukan hanya rombongan Juno yang datang di sana. Terlihat pula bocah-bocah yang riang bermain air sungai.


"Kalau sudah ketemu yang seperti ini rasanya ingin terus liburan," tutur Dika.

__ADS_1


"Setuju denganmu," kata Meli sambil tersenyum ceria.


Untuk beberapa menit, Anjani dan teman-temannya hanya berdiri terdiam. Tidak ada satu pun yang berkata-kata. Masing-masing telah larut menikmati suguhan alam di hadapan mereka. Indah, segar, menyejukkan, dan entah kata apa lagi yang bisa mendefinisikan suasana hati mereka saat melihat tempat itu.


"Yang terakhir melompat adalah pengecut!" teriak Ken tiba-tiba, kemudian dia berlari dan menceburkan diri ke dalam sungai.


Jebur!


"Tunggu aku!" teriak Dika sambil menyusul Ken melompat ke air sungai.


Jebur!


"Anjani, Meli, kalian berdua bisa main air di sini saja. Dan .... Mas Mario, aku tunggu di sana, ya. Yuhu!" teriak Juno. Dia terlebih dahulu menyapa bocah-bocah desa yang kebetulan juga bermain air di sana, lalu berlarian kecil, dan menyusul Ken dan Dika.


Jebur!


Di tengah keceriaan bermain air sungai, hanya seorang yang sedari tadi diam, bersedekap, dan memandang heran ke arah teman-temannya. Hanya Mario yang belum mendekat ke air sungai.


Anjani menyadari itu. Dia bergegas memberi kode pada Meli agar segera memperhatikan Mario.


"Kak Mario, kenapa nggak ikut nyemplung?" tanya Meli sambil berteriak. Teriakannya terdengar oleh Ken, Juno, dan Dika, hingga membuat mereka melontarkan pertanyaan yang sama pada Mario.


"Mas, ayo ikut main air. Nggak akan ngerusak kemulusan kulit, kok!" teriak Juno.


Lagi-lagi Mario hanya terdiam. Tangan yang semula bersedekap, kini dia turunkan. Perlahan, dia pun berjalan untuk lebih dekat ke tepian sungai.


"Juno, Dika, dan kau Ken. Kalian bertiga bodoh!" tegas Mario tanpa sungkan.

__ADS_1


Juno, Dika, dan Ken saling pandang. Mereka bertiga tidak mengerti apa yang sebenarnya dimaksud Mario. Begitu pula dengan Anjani dan Meli yang juga tidak paham dengan perkataan Mario.


"Maksudnya?" tanya Ken setelah beberapa saat.


"Smartphone kalian ikut-ikutan main air sungai. Coba lihat!" tegas Mario, kemudian dia tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Juno, Ken, dan Dika seketika sadar bahwa smartphone mereka masih ada di saku celananya. Ken bergegas mengeluarkan smartphone dari saku celananya, disusul hal serupa oleh Juno dan Dika. Mereka bertiga mulai panik, dan cepat-cepat keluar dari air.


"Duh, gimana dong?" tanya Anjani dengan ekspresi panik. Sementara itu, Meli di sebelahnya sedari tadi hanya gigit jari, tidak mampu berkomentar apa-apa.


"Mario, kenapa nggak bilang dari tadi, sih?" tanya Ken.


"Bukan salahku juga. Aku baru sadar saat kalian sudah ada di dalam air," jelas Mario dengan nada santai.


Ken tepuk jidat. Dia telah menyadari kelalaiannya. Sementara itu, Juno dan Dika tampak lesu melihat kondisi smartphone mereka. Akan tetapi, lesu itu tidak berlangsung lama. Wajah mereka sedikit terlihat ceria saat Anjani memberitahukan suatu cara.


"Juno, bawa smartphone yang kena air ke tempat Yudi, teman kita SMA dulu. Katanya dia jago masalah seperti ini. Rumahnya juga dekat dari sini, kan?" Anjani menawarkan sebuah langkah untuk mendapat solusi.


"Benar. Sini-sini smartphone kalian biar kubawa segera ke rumah temanku. Siapa tahu masih bisa tertolong. Mel, ikut aku bentar, yuk!" ajak Juno.


"Kemana?" tanya Meli.


"Katanya ingin tahu ayahku. Bentar lagi lewat balai desa, nih. Sekalian nanti bantu aku bawakan makanan buat teman yang lain. Nggak mungkin juga nungguin service smartphone sampai selesai. Oh ya, kalian di sini saja. Nggak akan lama, kok. Kami segera kembali. Yuk, Mel!" jelas Juno panjang lebar.


Semua setuju dengan ide-ide Juno. Mario, Ken, Dika, dan Anjani tetap menunggu di tepian sungai. Anjani tidak meminta untuk ikut juga, karena begitu tadi Mario menyinggung tentang smartphone, dia pun teringat pada misinya untuk mencari tahu seseorang yang sering menelepon Mario sejak liburan di desa. Anjani akan memulai misinya demi mengungkap gelagat aneh Mario.


***

__ADS_1


__ADS_2