
Suasana berbeda tengah menyelimuti meja makan sebuah rumah termewah di kompleks perumahan elit. Rumah mewah itu merupakan tempat tinggal putra-putri bos pemilik tiga pabrik sepatu, John. Itulah rumah yang ditempati Mario dan Alenna. Bahkan, penghuni rumah itu sudah bertambah satu, yakni Mommy Monika yang tidak lain adalah istri kedua John.
Pagi itu pukul 06.00, Mario, Alenna, dan Mommy Monika sudah duduk bersama di meja makan. Ada sosok gagah lain di sana. Dia adalah John. Pagi itu John sengaja menyempatkan diri sarapan bersama putra-putri dan istrinya.
Menu sarapan pagi itu bukanlah menu makanan berat seperti nasi. Pagi itu keluarga John menikmati pancake buatan Mommy Monika. Pancake sederhana yang terlihat begitu lembut, dengan irisan buah strawberry segar di tumpukan teratas.
"Sayang, aku senang dengan penampilan barumu. Gamis dan hijab itu, adem lihatnya," puji John pada istrinya, Monika.
"Oh honey. Thanks. Ini semua karena saran dari putri kita," terang Monika sembari tersenyum manis pada John.
Mario berdehem. Dia tidak biasa melihat kemesraan seperti yang tersuguh di depannya. Kata 'Sayang' yang terucap saat sarapan, sungguh tak biasa terjadi di rumah itu.
"Mario, mau tambah sirup maple?" Monika menawari.
Mario menggeleng pelan.
"Em, Alenna mau!" seru Alenna sambil menyodorkan piring pancake-nya.
Menit-menit berikutnya, obrolan yang tercipta lebih banyak dibuat oleh John dan Monika. Banyak panggilan 'Sayang' yang kala itu meluncur dari bibir John. Alenna ikut dalam obrolan sesekali. Namun, tidak demikian dengan Mario.
Mario belum terbiasa mengobrol banyak dengan Mommy Monika. Tidak seperti John dan Alenna. Itu semua karena Mario memang baru menerima kehadiran Monika sebagai istri kedua ayahnya.
"Em. Aku dengar dari Alenna, Mommy mengelola bisnis cafe di Jerman. Benarkah?" tanya Mario. Dia berusaha membuka obrolan setelah lama terdiam.
Monika tersenyum senang karena akhirnya Mario mau membuka obrolannya. Monika lekas melirik John dan Alenna bergantian, dan mendapat kedipan mata dari suami dan putrinya itu.
"Thats right. Benar, Mommy punya cafe di Jerman sana. Cafenya bersebelahan dengan toko cokelat yang juga Mommy kelola. Mommy-mu ini jago masak, lho." Monika antusias menceritakan.
Mario tersenyum dan mengangguk-angguk. Dia mulai terbiasa dengan keceriaan Mommy Monika yang benar-benar mirip dengan Alenna.
"Wajah Mommy memang bule, karena masih ada turunan blasteran. Mommy jago bahasa Indonesia karena waktu kecil Mommy tinggal di sini. Setelah ikut orang tua ke Jerman, barulah Mommy belajar bahasa di sana, termasuk bahasa Inggris Mommy jadi berkembang. Em ... Banyak sekali kenangan di Jerman." Monika asik bercerita.
"Sayang, aku jadi ingat waktu pertama kali kita ketemu. Waktu itu aku beli cokelat di tokomu. Tiba-tiba saja ada pemuda mabuk masuk tokomu. Aku berniat membantu, malah aku yang diserbu. Untungnya ada kamu yang langsung hap-hap-hap." John antusias bercerita.
"Oh honey. Ternyata kamu masih ingat. Jadi malu, nih. Waktu itu kan tingkahku sama sekali tidak terlihat seperti wanita. Aw!" seru Monika tiba-tiba.
Rupanya John mencubit pinggang Monika. Setelah mencubit, bukannya meminta maaf, John malah melayangkan tatapan mesra pada Monika.
"Sst, ada anak-anak." Monika mengingatkan John.
"Tidak masalah. Kamu kan istriku," kata John sambil tetap menatap mesra istrinya itu.
"Please, deh. Mommy sama ayah mesra-mesraannya di kamar aja sana. Tuh-tuh, Mario dari tadi nunduk! Nggak berani lihat!" Alenna menuding Mario dengan sendok di tangannya.
Mario lekas mengangkat kepalanya begitu Alenna berkata demikian. Mario sedikit melotot pada adiknya itu karena membawa-bawa namanya. Namun, Alenna justru menjulurkan lidahnya pada Mario. Dia cuek, lalu kembali menambahkan sirup maple di piringnya.
"Mario, apa agendamu hari ini?" tanya John pada putranya.
"Mau packing pesanan sepatu milik pelanggan. InsyaAllah Ken membantu Mario hari ini," terang Mario. "Ada apa ayah?" tanya Mario.
"Ayah butuh bantuanmu untuk mengecek beberapa dokumen. Tolong periksa dengan teliti agar tidak ada unsur yang bisa membuat perusahaan merugi. Kamu kan jago urusan seperti ini," puji John.
Mario mengangguk. Dia setuju untuk membantu ayahnya.
"Begini saja. Biar ayah bawakan dokumennya sekalian nanti saat pulang kantor. Beberapa bulan ke depan ayah akan lebih sering di kota ini. Ayah ingin menikmati kebersamaan bersama keluarga ini," tutur John tulus.
Sudah lama sekali Mario tidak melihat binar mata seperti yang saat itu terpancar pada bola mata ayahnya. Benar, keluarga Mario telah lama jauh dari kata utuh. Sejak kasus perselingkuhan John dengan Monika mencuat ke publik, setelahnya kehidupan keluarga itu begitu kacau. Ibu kandung Mario meminta cerai, dan Mario harus menyimpan dendam pada ayahnya sejak saat itu. Kebencian juga berlanjut dengan hadirnya Alenna kala itu.
Tetiba saja ada sedikit sesak saat Mario mengingat masa lalu keluarganya. Kala itu Mario sudah terbutakan oleh rasa dendam, hingga terciptalah sikap dingin pada dirinya. Mario bahkan sempat dikenal sebagai lelaki berwajah tampan yang anti wanita semasa di bangku sekolah menengah. Namun, itu dulu. Kini Mario telah menjelma menjadi sosok yang baru.
"Mario, kalau kamu mulai kesulitan mengelola olshopmu, ayah bisa carikan karyawan untuk membantumu."John menawari.
"Tidak perlu ayah. Aku bisa mencari karyawaku sendiri. Saat ini sudah ada Ken yang membantu. InsyaAllah Mario akan mencari tiga tenaga lain," terang Mario.
John mengangguk-angguk. Jiwa pebisnis telah melekat pada putranya. John bangga pada Mario. Selain cerdas, putranya itu juga mandiri.
__ADS_1
"Ayah senang mendengarnya. Lagipula itu juga sangat membantu ayah dalam penjualan produk sepatu. Saran ayah, sekalian saja buka toko. Pekerjakan beberapa orang, agar kamu punya tempat khusus juga untuk packing orderan. Ayah sangat yakin kamu bisa mendirikannya dengan laba yang sudah kamu kumpulkan dari olshopmu." John panjang lebar memberi saran pada putranya.
Mario tersenyum lebar karena perkataan ayahnya. Dugaan ayahnya benar. Laba yang telah dikumpulkan Mario dari olshopnya selama ini telah cukup untuk mendirikan sebuah toko kecil dan mempekerjakan beberapa karyawan. Mario senang, karena ayahnya mendukung usaha yang dirintisnya.
"Ayah, jangan ngobrolin bisnis aja, dong. Mario juga, nih!" protes Alenna.
Mario hanya tersenyum datar pada adiknya itu.
"Ayah, karena ayah tinggal bareng kita di rumah ini lagi, sekalian aja dijadwalkan khusus buat belajar ngaji. Memperdalam lagi, biar makin jago. Mario akan dengan senang hati membantu ayah," ide Alenna.
"Boleh. Ayah juga ingin lebih dekat dengan-Nya." John menyambut baik ide Alenna.
Mario tidak keberatan. Dia justru senang. Sehingga, Mario dan ayahnya itu tidak melulu harus membahas tentang bisnis sepatu.
"Terus Mommy belajar ngaji sama siapa, dong?" tanya Monika. "Mommy kan baru kemarin pakai hijab. Lidah Mommy kelu nih karena lama nggak ngaji. Bantu Momny, dong!" Monika serius dengan kata-katanya.
Mario tidak menawakan diri untuk membantu Mommy Monika belajar mengaji. Jujur, Mario sendiri masih belum terlalu terbiasa dengan sikap Mommy-nya. Mario khawatir, dia justru akan lebih sering mengelus dadanya saat mendengar Mommynya mulai dengan ocehannya.
Monika melihat ke arah Mario. Tatapannya penuh harap. Namun, Mario lekas berdehem lalu fokus pada pancake-nya. Itu sebuah kode penolakan.
Monika berganti melihat John dengan bibir dimajukan. Monika cemberut karena merasa tidak ada yang mau membantunya.
John mengangkat bahu. Dia tidak punya ide, karena dia sendiri masih mau belajar ngaji juga.
"Mommy belajar ngaji sama Anjani saja," kata Alenna.
Mario dengan cepat mengangkat kepalanya dan langsung menatap Alenna. Mario tidak habis pikir pada adiknya itu. Bisa-bisanya Alenna punya ide seperti itu.
"Mumpung liburan semester juga nih. Lumayan lama kan liburnya. Nah, Mommy bisa belajar ngaji bareng Anjani," tegas Alenna.
"Anjani? Itu kan perempuan yang sering kamu ceritakan di telepon, kan? Calon istrinya Mario." Monika menebak.
Mario berganti melihat ke arah Mommy Monika. Sungguh Mario tidak menyangka obrolan pagi itu bisa merembet kemana-mana. Mommy Monika bahkan menyebut Anjani sebagai calon istri Mario.
"Ayah setuju. Sekalian Mommy kalian ini bisa mengenal Anjani lebih dekat. Bakal calon mantu." John mendukung.
"Nah, Mario. Kapan kamu mau melamar Anjani lagi?" tanya John.
Mario menelan ludah. Sungguh pagi yang tidak terduga. Mario tidak menyangka akan ada pertanyaan itu di tengah aktivitas sarapan pagi keluarganya.
"Kamu sudah bisa dikatakan mapan, Mario. Sudah punya penghasilan sendiri dari olshop sepatu. Selain kuliah, kamu bahkan sering membantu perusahaan ayah, sering dapat upah lumayan besar juga, kan. Ayah yakin kamu bisa menafkahi Anjani lahir batin." John yakin pada Mario.
Jantung Mario mendadak berdebar-debar saat semua orang di meja makan membahas Anjani.
"Ehem." Mario berdehem lebih dulu sebelum menanggapi semua perkataan keluarganya.
"Biar Mommy mengenal Anjani lebih dekat dulu," kata Mario.
"Mommy, kenalannya jangan lama-lama, ya. Biar Mario cepat bisa mengambil keputusan," saran Alenna pada Mommynya.
"Jadi ingin cepet-cepet ketemu Anjani, deh. Sepertinya semua orang suka padanya." Monika antusias. "Apa sore ini Mommy bisa mulai belajar ngaji bareng Anjani?" tanya Monika.
"Mom. Anjani masih liburan ke Jogja," terang Mario.
"Jogja? Kok kamu nggak ikut, sih?" tanya Monika.
"Mario nggak diajak, Mom." Justru Alenna yang menjawab pertanyaan Monika yang ditujukan pada Mario
Alenna tahu kabar Anjani yang sedang berlibur di Jogja bersama Meli. Alenna juga tahu bahwa rencana liburan mereka begitu mendadak, lantara Meli mendapat undangan dari bundanya Azka, hero-nya Meli saat kehilangan dompet di Jogja.
"Mommy tenang aja. Biar Alenna yang bilang sama Anjani untuk bantu Mommy belajar ngaji. Kalau Mario yang disuruh bilang, pasti bakalan muter-muter ntar bingung mau mulai kata-katanya gimana." Alenna kembali menjulurkan lidahnya pada Mario.
Mario sedikit memelototi adiknya itu. Terlihat jelas bahwa saat itu Alenna sedang menggoda Mario. Bahkan Alennalah yang memulai obrolan dengan membawa nama Anjani.
"Terserah saja, deh." Akhirnya Mario pasrah saja dengan apa yang akan dilakukan mereka.
__ADS_1
***
Siang hari. Mario dan Ken asik packing orderan sepatu di lantai dua rumah Mario. Ada dua puluh tujuh pesanan sepatu yang harus segera mereka selesaikan. Sejak Ken hadir di rumah Mario, terhitung sudah ada lima belas kotak sepatu yang sudah selesai di-packing lengkap dengan alamat pemesan. Tersisa dua belas kotak sepatu lagi yang perlu di-packing.
"Istirahat bentar, Bro!" pinta Ken.
Jus melon bagian Mario diambil.
"Kuambil. Haus banget," kata Ken, dengan segera meneguk jus melon bagian Mario.
Mario hanya tersenyum. Dia membiarkan Ken meminum jus melon bagiannya.
"Bro. Fix. Sesegera mungkin kau harus cari karyawan tambahan. Iya hari ini ada 27 orderan. Lah kalau besok sampai ratusan masa iya aku sama Juno aja yang packing!" usul Ken.
"Dalam perencanaan, Ken. Aku akan minta teman-teman kampus untuk ikut mengembangkan olshop ini," jelas Mario, santai sambil membuka plastik pembungkus selotip.
"Jangan lama-lama, ya. Kualahan, nih. Nanti aura tampan kita memudar karena kecapekan," celetuk Ken.
Buntalan plastik selotip lekas mendarat di
hidung Ken.
"Woooo. Slow, Bro. Kalau nggak terima dikatain tampan, biar aku aja yang tampan sendirian." Ken PeDe menyisir rambutnya menggunakan jari.
"Eh, cari yang cewek aja biar telaten packing kayak gini," usul Ken.
"Aku lebih senang semuanya laki-laki. Agar kau juga fokus dengan packing bagianmu," jelas Mario.
"Nggak asik, Bro!" protes Ken, tapi Mario memilih acuh.
Terdengar teriakan dari Mommy Monika memanggil nama Mario.
"Anak Mommy dicariin, tuh!" ledek Ken.
Mario mengabaikan ledekan Ken. Dia berdiri hendak menemui Mommy Monika. Namun, langkahnya terhenti karena Mommy Monika lebih dulu sampai di lantai dua.
"Mario, ada cewek cantik mencarimu. Katanya teman kuliahmu. Mommy suruh duduk di ruang tamu," jelas Monika.
"Siapa, Mom?" tanya Mario.
"Tadi dia bilang namanya Vina." Monika terlihat mengingat-ngingat.
Mario menoleh ke arah Ken. Seolah tahu maksud tatapan Mario, Ken lekas menggeleng.
"Aku nggak ngundang Vina ke sini, kok." Tangan Ken disilangkan di depan dadanya.
"Segera temui dia, ya. Nggak baik ditinggalin di sana lama-lama. Mommy buatkan minum dulu," kata Monika lalu melangkah pergi.
Mario enggan menemui Vina. Namun, sesuai pesan Mommy, tidak baik juga jika mengabaikan Vina lama-lama di sana.
"Ken, temani aku ke bawah." Mario mengajak Ken.
"Kayak anak kecil aja minta temenin, Bro. Udah, sendirian aja sana. Paling Vina cuma perlu sama Mario Dana Putra, idola sekaligus pujaan hatinya." Ken melebih-lebihkan.
Mario melangkah mendekati Ken. Lengan Ken lekas ditarik Mario, hingga mau tidak mau Ken terpaksa berdiri dan mengikuti langkah Mario.
"Ayo!" ajak Mario.
"Aaah. Oke, ayo!" Ken pun ikut.
Bersambung ....
Untuk apa Vina ke rumah Mario? Apakah Vina juga akan mendekati Mommy Monika? Lalu, apakah Vina akan kembali bersaing dengan Anjani?
Ikuti juga keseruan Anjani dan Meli di Jogja, ya. Kepo-in juga sosok Azka yang membuat Meli salah tingkah di depannya. Segera baca novel "Selalu Ada Tempat Bersandar" karya Kak Cahyanti. Dukung karya kami berdua. Like, Vote, dan tinggalkan jejak komentar kalian untuk mendukung kami. See You. 😉
__ADS_1