CINTA SUCI ALESHA

CINTA SUCI ALESHA
Bab Seratus Satu


__ADS_3

Azril menggandeng tangan Alesha melewati lorong rumah sakit menuju ruang dokter hematologi yang bernama dokter Bagas.


Sampai didepan ruang dokter Bagas , Azril langsung menemui perawat yang berjaga dan mengatakan jika ia janji konsultasi.


Perawat itu mempersilakan Azril dan Alesha masuk. Dokter Bagas yang duduk di kursi kerjanya tersenyum ke arah Azril.


Azril dan Alesha bersalaman dan memperkenalkan dirinya. Dokter Bagas orangnya sangat ramah dan murah senyum.


"Rangga sudah ada sedikit menceritakan tentang keluhan istri bapak. Boleh saya bertanya lagi tentang semua keluhan yang ibu rasakan akhir akhir ini"


"Boleh, dok..."


Dokter mulai menanyakan semua tentang apa yang Alesha rasakan akhir akhir ini. Setelah ia merasa cukup, ia meminta Alesha berbaring di kasur dan mulai melakukan pemeriksaan di tubuh Alesha.


Setelah ia merasa cukup dengan pemeriksaannya , ia kembali meminta Alesha duduk.


"Kita ambil sampel darah ibu buat memastikan penyakit yang ibu derita. Setelah itu ibu harus melakukan pemeriksaan radiologi. Rontgen, CT scan dan PET scan dan terakhir aspirasi sumsum tulang"


"Kakak..." ucap Alesha mulai cemas mendengar darahnya yang akan diambil, berarti ia akan disuntik.


Azril menggenggam tangan Alesha memberikan ia kekuatan.


"Jangan takut dan cemas , ada kakak" bisik Azril


"Hari ini kita ambil sampel darah dan rontgen dulu ya. Minggu depan CT scan dan PET scan. Dan terakhir baru kita lakukan aspirasi sumsum tulang. Untuk itu ibu harus pastikan dalam keadaan sehat dan siap"


"Baik dok" ucap Azril yang menjawab


Dokter meminta perawat buat mengambil sampel darah Alesha. Melihat jarum suntik Alesha langsung pucat.


Azril lalu memeluk tubuh Alesha dan membawa kepalanya bersembunyi di dada Azril. Dokter yang melihatnya langsung tersenyum


"Ibunya takut dengan jarum suntik" tanya dokter


"Iya dok" ucap Azril sambil tersenyum.


Perawat mulai menyuntik lengan Alesha dan mengambil darahnya. Bebarapa kali jarum suntik menancap dilengannya buat diambil.


Alesha sudah menahan air matanya agar tak jatuh. Azril mengusap punggung Alesha menenangkannya. Setelah semua selesai Azril lalu meminta Alesha kembali duduk.


"Setelah ini ibu bisa ikuti perawat untuk melakukan Rontgen"


Alesha mengikuti perawat buat melakukan rontgen, tinggallah Azril bersama dokter diruangan itu. Azril pun mulai bertanya tentang penyakit Alesha.


"Maaf dok, apa memang istri saya menderita kanker darah"


"Saya belum bisa memastikan sekarang leukemia apa yang sedang diderita istri anda,sebelum melakukan pemeriksaan menyeluruh"


"Tapi selain leukemia apa penyakit yang mungkin diidap istri saya"


"Berdasarkan keluhan yang dialami dan dirasakan istri anda, dan setelah saya melakukan pemeriksaan tadi , istri anda memnag menderita leukemia. Dan untuk menentukan leukimia yang sedang diidapnya kita harus melakukan pemeriksaan dulu"

__ADS_1


"Maksud dokter apa"


"Leukemia ada beberapa jenis. Yaitu Leukemia limfoblastik akut, mieloid akut dan limfositik kronis. Dan pemeriksaan yang dilakukan untuk memastikan jenis leukemia yang diderita istri anda"


"Apa leukemia bisa disembuhkan dok"


"Tentu saja kemungkinan untuk sembuh itu selalu ada"


"Dokter, saya percayakan semua masalah kesehatan istri saya pada anda. Dan saya mohon lakukan yang terbaik buat istri saya"


"Aku akan berusaha semampu saya dan semuanya kembali kita serahkan pada Tuhan. Karena Tuhanlah yang menyembuhkan."


Alesha masuk diikuti perawat. Ia kembali duduk dekat Azril


"Bapak dan Ibu bisa kembali tiga hari lagi untuk melihat hasilnya. Dan nanti bisa kita jadwalkan untuk lakukan CT scan dan PET scannya"


"Baik dok..."


"Ini resep obatnya. Ibu jangan terlalu cemas, ini semua memang harus dilakukan untuk menentukan penyakit yang ibu idap. Pikiran juga dapat juga mempengaruhi kesehatan..."


"Iya dok..."gumam Lesha


"Ini ada obat saya resepkan dan dapat ditebus di apotik rumah sakit ini"


"Baik dok. Kami pamit, terima kasih"ujar Azril


"Terima kasih dok" ujar Lesha dan menyalami dokter Bagas.


Di dalam mobil, Azril melihat wajah Alesha yang masih murung. Ia lalu mendekat ke tubuh Alesha dan mengecup pipinya.


"Kamu dengarkan kata dokter, jangan banyak pikiran karena itu akan menambah penyakitmu"


"Kak, yang paling aku kuatirkan jika aku memang leukemia adalah Khaira, apa Khaira bisa hidup tanpaku"


"Jangan bicara begitu, bukan hanya Khaira yang tak bisa hidup tanpamu, tapi juga kakak. Apapun akan kakak lakukan untuk kesembuhanmu"


Azril membawa Alesha kedalam dekapan didadanya. Akhirnya tangisan Alesha pecah. Azril membiarkan ia menumpahkan tangisnya.


"Udah nangisnya, nanti jelek kalau menangis terus"


"Kakak, aku nggak bercanda"


"Siapa bilang kakak bercanda, sekarang kita makan di resto tempat dulu biasa kita makan ya. Kakak rindu makan disana bersamamu"


Alesha mengangguk, Azril lalu mengendarai mobilnya diantara kemacetan menuju resto yang terletak diseberang kantor Kenzo dan juga kantor Azril dulu, tempat biasa mereka dulu makan.


Resto itu tampak ramai dengan pengunjung karena ini waktunya makan siang. Banyak mata memandang ke arah mereka ketika memasuki resto. Karena Alesha dan Azril memang tampak sangat serasi dengan pakaian yang berwarna senada. Azril juga selalu menyunggingkan senyum bahagia sambil merangkul Alesha.



__ADS_1


"Woww...ada pengantin baru, tampak aura kebahagiaan diwajah mereka" ucap Dita yang ternyata sedang makan siang berdua Kenzo di resto itu.


Kenzo membalikan badannya melihat ke arah yang ditunjuk Dita. Ia melihat Azril masuk dengan merangkul bahu Alesha.


Azril dan Alesha tak melihat kehadiran Kenzo. Dita lalu berteriak memanggil nama Alesha.


Alesha yang namanya di panggil lalu mencari asal suara dan tampak Dita melambaikan tangannya.


Azril dan Alesha berjalan mendekati meja Dita. Sampai dihadapan Dita ,ia baru menyadari orang yang duduk bersama Dita adalah Kenzo. Karena Kenzo tadi memunggungi mereka.


"Selamat siang kak Kenzo" sapa Alesha kikuk


"Selamat siang"


"Kamu mau makan, gabung sini aja. Jam segini susah cari meja" ujar Dita


"Nggak apa nih kami gabung" ucap Azril


"Nggak apalah, atau kak Azrilnya yang nggak mau karena takut mengganggu. Maklum pengantin baru biasanya pengen berduaan aja terus" canda Dita


"Dita, jangan ngomong gitu ah" ucap Alesha karena ia tak enak dengan Kenzo


"Duduklah,Ril." ucap Kenzo


Alesha dan Azril terpaksa duduk karena jika menolak lebih tak enak. Lagi pula memang tak ada tempat duduk yang lain. Setelah memesan makanan dan pesanannya datang, Azril dan Alesha menyantap dengan diam.


Cuma Dita yang sesekali bercerita dan di balas dengan senyuman dan jawaban singkat dari Alesha.


Setelah makanannya habis disantap, Kenzo lalu pamit diikuti Dita. Tampak kecanggungan dari sikap Kenzo.


" Maaf ,Ril...Lesha,Kami pamit dulu ya. Masih banyak kerjaan. Lain kali kita bisa makan malam bersama, agar lebih santai kita mengobrolnya"


"Nggak apa Ken. Aku mengerti kok..."


"Aku pamit ya say..." ucap Dita dan mengecup pipi Alesha.


"Hati hati..."


"Oke, kak Azril...ingat ya pesan Dita. Jaga Alesha baik baik"


"Jangan kuatir , satu ekor nyamukpun tak aku biarkan ada yang menggigit Alesha"


"Jangan gombal aja...harus dibuktikan. Mari bos , jalan kita lagi"


Dita dan Kenzo meninggalkan resto menuju kantor mereka yang berada diseberang jalan.


"Kamu tambah cantik aja Lesha. Tampak sangat bahagia. Semoga Azril selalu memberikan kebahagiaan buatmu. Semoga suatu saat aku juga menemukan wanita yang aku cintai dan juga yang dapat mencintai aku dengan tulus.Semoga aku juga merasakan kebahagiaan sama denganmu ,Lesha"


**********************


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2