CINTA SUCI ALESHA

CINTA SUCI ALESHA
Bab Delapan puluh Enam


__ADS_3

Azril mengetuk pintu kamar hotel tempat ia menginap. Khaira yang sedang bermain dengan bonekanya, di minta Alesha membuka pintu.


"Sayang, bukakan pintunya. Coba tanya ada perlu apa"


"Baik...mom"


Khaira berjalan mendekati pintu dan membukanya. Ia melihat Azril didepan pintu.


"Om perlu apa..." ucap Khaira melihat Azril yang berdiri di balik pintu itu.


Azril yang melihat ada anak kecil perempuan membuka pintu yakin jika itu pasti Khaira anak kandungnya.


Azril berjongkok dihadapan Khaira dan memeluknya.


"Khaira...kamu pasti Khaira anak papi"


Khaira yang tak mengenal Azril melepaskan pelukan Azril dan berlari masuk ke dalam mendekati Alesha.


"Mommy...om itu peluk peluk Khaira" adunya pada Alesha.


Alesha lalu membalikan badannya dan melihat Azril yang berjalan masuk ke kamar.


"Kak Azril..."


"Azril, sini nak. Kenapa kamu nggak ngomong jika kamu bertemu Alesha. Pantas kamu senang banget tadi"


"Jika aku katakan, bukan lagi kejutan bagi bunda"


Azril kembali berjongkok dihadapan Khaira yang duduk di sofa. Ia mengukung Khaira dengan kedua tangannya.


"Khaira...kamu cantik banget nak"


Bunda dan Alesha hanya diam melihat interaksi ayah dan anak itu.


"Oom siapa...om juga ganteng banget" ucap Khaira mengelus wajah Azril.


"Bukan om nak, tapi papi. Ini papi Khaira" ucap Azril menunjuk dirinya.


"Papi...."


"Ia sayang...papi" ucap Azril memeluk Khaira. Azril lalu berdiri dan menggendong Khaira membawanya ke meja makan. Azril membuka ayam goreng yang dibelinya. Ia mendudukan Khaira dipangkuannya.



"Khaira suka ayam goreng..."


"Suka , papi"


"Kita makan ayam goreng bersama ya"

__ADS_1


Azril menyuapi Khaira dengan matanya yang tak lepas memandangi Khaira. Ia terus saja mengecup rambut putrinya itu.


Alesha dan bunda tak banyak bicara , mereka membiarkan Azril buat berinteraksi dengan Khaira. Agar Azril dan Khaira bisa mengakrabkan diri mereka.


Azril dan Khaira terus saja mengobrol. Banyak yang Azril tanyakan pada putrinya yang sangat cerewet itu.


Setelah puas bercerita dan bermain , Azril membawa Khaira ke tempat tidur. Ia mengusap punggung Khaira untuk menidurkan putrinya.


Perlahan mata Khaira terpejam. Ia tampak nyaman di dalam pelukan dan dekapan Azril.


Azril menyelimuti tubuh Khaira dan mendekat ke tempat Alesha dan bunda.


"Sha, kamu tidur di sini aja ya. Biar kakak tidur di sofa. Kamu tidur bertiga sama bunda di kasur"


"Nggak usah kak, aku pulang aja. Bunda mau tidur di rumahku" tanya Lesha pada bunda


"Azril benar nak, kamu tidur aja malam ini bersama kami... bukankah besok sabtu, kamu liburkan"


"Tapi aku dan Khaira nggak ada bawa pakaian bunda"


"Bisa beli di toko yang ada depan hotel ini kan, Sha. Biar kakak temani"


"Biar aku aja yang pergi kak. Titip Khaira bunda , kak Azril"


"Lesha...biar Azril yang temani. Bunda bisa jaga Khaira sendiri"


"Baiklah bunda...."


"Temani kak Azril makan ya, Sha. Kamu juga belum makankan"


"Iya, kak..." ucap Alesha masih canggung


Azril memilih duduk di sudut ruangan dengan sofa sebagai tempat mereka duduk. Azril memesan makanan buatnya dan Alesha.


Setelah selesai menyantap makanannya, Azril memiringkan tubuhnya menghadap Alesha yang masih menyuap hidangannya.


Azril terus memandangi Alesha tanpa kedip. Tampak jelas kerinduan dimatanya. Alesha yang menyadari Azril memandanginya menghentikan suapannya.


"Kenapa mandangnya gitu banget..."


"Kakak senang banget dapat ketemu kamu lagi , Sha..."


Alesha melanjutkan suapannya. Setelah selesai ia pun menghadap ke arah Azril.


"Sudah kenyang...."tanya Azril


"Udahlah, sebanyak ini aku makan masa belum kenyang"


"Kakak senang lihat kamu sekarang. Kamu makin tambah dewasa. Nggak ada Alesha yang dulunya makan harus dipaksa"

__ADS_1


"Aku harus tetap sehat dan kuat karena ada Khaira yang harus aku jaga"


"Kenapa kamu nggak pernah mengatakan jika kamu mengandung anak kakak. Kenapa kamu menyembunyikan semua ini , Sha"


"Boleh kalau aku nggak mau menjawabnya"


"Sha, kakak ingin tahu satu aja alasannya"


"Karena aku benci kak Azril melakukan itu padaku. Kakak bukan aja menyakiti hatiku, tapi fisikku. Kakak memaksaku, hingga aku trauma"


"Maafkan kak Azril , Sha. Kamu memang berhak membenci kakak. Bukan hanya sekali dua kali kakak menyakitimu. Tapi Sha, tidak seharusnya kamu menyembunyikan kehadiran Khaira dari kakak dan ayah bunda. Jika kamu memang tak ingin menikah dengan kakak, nggak apa. Tapi kamu tak seharusnya memisahkan seorang ayah dan putrinya. Kecuali jika kakak yang memang tak pernah mau bertanggung jawab. Dari awal kakak udah memintamu untuk melakukan apa saja agar kakak bisa mempertanggungjawabkan perbuatan kakak. Sekalipun itu kamu akan melaporkan kakak ke polisi, kakak akan jalankan. Tapi kamu hanya diam . Apa kamu sengaja membalas dan menghukum kakak dengan menjauhkan darah daging kakak"


"Aku nggak tahu...."


"Sha...kenapa kamu tega menyembunyikan ini sampai ayah meninggal"


Alesha langsung menangis mendengar nama ayah disebut. Ia teringat ayah yang begitu menyayanginya.


"Aku nggak berani mengatakannya, kak. Aku tak mau ayah tahu apa yang telah kakak lakukan padaku. Aku tak mau penyakit ayah makin parah jika tahu perbuatan kakak padaku..."


"Tapi Sha, walau ayah akan marah dan kecewa pada sikap kakak, setidaknya ia pasti juga akan sangat bahagia karena tahu Khaira darah dagingnya. Kamu nggak tahu Sha, ketika pertama melihat foto Khaira bayi, ayah sudah merasa jika itu anak kak Azril. Dari situlah pertama kalinya kak Azril mulai mencurigai semuanya"


Alesha tak bisa menahan tangisnya, ia makin terisak mendengar ucapan Azril. Azril memeluk Alesha , membawa kepalanya kedalam dekapan dadanya.


Alesha menumpahkan tangisnya di dalam pelukan Azril. Tanpa sadar ia memeluk tubuh Azril kuat. Tubuh yang dulu selalu ada buatnya. Tubuh yang dulu tempat ia mencurahkan semua kesedihannya sebelum pernikahan mereka.


Alesha melepaskan pelukannya pada tubuh Azril. Azril mengambil tisu dan menghapus air mata wanita yang paling disayang dan dicintanya.


"Apa rencana kamu selanjutnya , Sha"


"Aku tetap di sini. Aku sudah betah disini , kak. Jika bunda mau ikut denganku, itu akan lebih baik. Tapi jika kak Azril mengizinkan"


"Itu semua terserah bunda , Sha. Jika ia memilih tinggal bersamamu, kak Azril pasti akan izinkan. Bagaimana dengan Kenzo. Kamu masih terikat pernikahan dengannya...."


"Tapi aku tak mau mengikat kak Kenzo lagi. Ia berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Pernikahan kami juga secara agama sudah dianggap bercerai. Mungkin dalam waktu dekat , aku akan menemui kak Kenzo dan ingin mengurus perceraian kami. Aku akan membesarkan Khaira seorang diri"


"Khaira anakku juga , Sha. Aku juga ingin ikut serta dalam membesarkannya"


"Aku nggak akan melarang kakak ataupun kak Kenzo menemui Khaira. Kakak ayah kandungnya, dan kak Kenzo daddy yang ada saat ia masih dalam kandungan sampai hadir di muka bumi. Daddy nya yang ada saat ia pertama kali menangis. Aku harap kak Azril bisa mengerti jika kak Kenzo masih mau dekat dengan Khaira. Itu juga jika kak Kenzo masih mau menganggap Khaira anaknya seperti dulu. " gumam Alesha


"Kakak nggak mungkin melarang Kenzo jika masih ingin dekat dengan Khaira. Kakak meskinya berterima kasih banyak pada Kenzo karena telah menjagamu dan Khaira saat saat kehamilanmu...."


"Kak...aku rasa cukup kita bicaranya. Aku takut Khaira bangun. Kita kembali ke hotel sekarang ya kak..."


"Baiklah, tapi kakak masih banyak pertanyaan. Kita akan bicara besok lagi. Kakak mau ambil cuti tiga hari. Ayo..."ucap Azril menggenggam tangan Alesha membantunya berdiri.


Keluar dari restauran itu Alesha mengajak Azril untuk ke toko pakaian.


Alesha dan Azril memasuki salah satu toko pakaian, ia memilih baju tidur buatnya dan Khaira sebelum mereka kembali ke hotel.

__ADS_1


*****************************


Terima kasih


__ADS_2