
Sampai di Cirebon Alesha mengajukan cuti. Kebetulan cuti tahunannya belum diambil. Karena alasan untuk berobat, perusahaan langsung mengabulkan cuti Alesha.
Keesokan harinya Alesha dan Azril juga ibunda dan Khaira langsung menuju ke Jakarta. Sebelum berangkat Alesha mampir ke sekolah Khaira meminta izin untuk libur karena menemani ia berobat.
Alesha duduk di kursi depan samping Alesha. Khaira sudah tertidur di pangkuan bunda di kursi belakang.
"Sha, kamu mengantuk ya. Tidurlah...sebentar lagi kita sampai. Tapi sebelum ke apartemen kita makan dulu ya..."
"Tapi aku masih kenyang kak...baru satu jam yang lalu makan"
"Atau kita beli buat makan di rumah aja..."
"Beli bahan makanan aja kak. Biar nanti aku masak"
"Nggak usah, Sha. Kamu pasti capek. Beli yang udah masak aja. Nanti tinggal dipanasin"
"Terserah kakak ajalah..."
"Sha, apa kepala kamu terasa sakit lagi"
"Saat ini nggak kak. Sakitnya terkadang datang tiba tiba"
Azril meraih tangan kanan Alesha lalu menggenggamnya dan diletakan dipaha. Alesha memandangi Azril yang serius menyetir dengan satu tangan.
"Kak...lepasin tanganku. Kakak harus konsentrasi nyetirnya"
"Siapa bilang kakak main main. Kamu lihatkan kakak serius bawanya. Tanganmu nggak mengganggu kok"
"Kamu mau kita beli masakan apa buat makan malam, Sha"
"Terserah kakak aja..."
"Alesha...sifatmu yang selalu menyerahkan semua pada orang itulah yang terkadang membuat orang salah arti. Seharusnya kamu tuh punya pendirian. Keluarkan pendapatmu. Mana yang kamu suka dan tidak kamu suka. Jangan terserah aja jawabnya..."
"Terus aku harus jawab apa..."
"Jawab sesuai pertanyaan, jika aku bertanya kamu mau makan apa, kamu tinggal katakan keinginan kamu. Jadi aku bisa langsung membelinya. Jika jawabannya terserah, dan aku membeli yang tidak kamu suka,pasti kamu kecewa. Walau kamu tetap memakannya, tapibkan karena terpaksa. Begitu juga jika bersikap dengan seseorang, jika kamu tidak menyukai seharusnya kamu bilang tidak. Jangan jawab terserah"
"Iya...iya...kembali deh bawelnya"
__ADS_1
"Kamu tuh kalau diomongin selalu aja bilang kakak bawel." ucap Azril dan mengacak rambut Alesha.
"Kalau nanti kak Kenzo mau ke Cirebon aku bilang apa ya"gumam Alesha, tapi didengar oleh Azril.
"Kamu harus jujur , Sha. Dan juga kamu harus mengatakan jika kita akan menikah lagi dalam waktu dekat ini. Atau kita menikah aja besok ya , Sha. Secara agama aja dulu. Biar aku bisa melakukan apa apa denganmu tanpa ada larangan lagi"
"Apa itu tidak kecepatan kak..."
"Sha, kita bukan baru mengenal. Kita sudah pernah hidup bersama selama lima belas tahun. Aku dan kamu sudah mengenal betul sifat dan karakter masing masing. Mengapa harus menunda lagi buat kita bersatu. Atau kamu masih belum percaya pada kak Azril. Kita nikah secara agama dulu sambil mengurus surat buat nikah secara resmi"
Bunda yang duduk dibelakang, tersenyum mendengar ucapan Azril. Bunda hanya berpura pura tidur. Ia dari tadi mendengar semua yang Alesha dan Azril bicarakan.
"Semoga saja Alesha menerima Azril kembali sebagai suaminya. Walau hanya secara agama dulu. Tapi bagiku itu sudah lebih dari segalnya. Aku sudah lama menantikan Alesha dan Azril kembali hidup bersama sebagai suami istri"
Sampai di Jakarta , Azril langsung menuju salah satu restauran yang terkenal dengan masakan lautnya. Azril membeli ikan bakar, cumi goreng tepung dan ayam goreng buat Khaira.
Setelah membeli makanan , mereka menuju aprtemen Azril. Bunda berpikir jika Alesha mengambil cuti karena ingin menikah dengan Azril. Bunda memang tak diberitahu mengenai kemungkinan sakit yang sedang diderita Alesha.
Bunda dengan penuh semangat meletakan semua makanan diatas meja dan membawa Khaira ke kamar. Bunda memandikan Khaira. Alesha sudah melarang bunda, tapi bunda tetap ingin memandikan Khaira.
Alesha segera ke dapur dan memasak nasi buat makan mereka. Setelah itu ia menyiapkan piring dan gelas di meja makan.
"Azril, apa kamu ingin segera menikahi Alesha" tanya bunda dengan senyuman yang selalu menghiasi bibirnya.
"Aku maunya segera, jika Lesha mau besokpun aku siap menikahinya bunda, tapi semua tergantung Alesha"
"Nanti biar bunda yang bicara dengan Alesha"
"Tapi aku tak mau Alesha terpaksa mau menerima aku karena paksaan dari bunda"
"Azril, bunda tak akan memaksa Lesha, bunda hanya ingin tahu perasaannya padamu"
"Jika itu aku nggak masalah, asal bunda jangan memaksa Lesha agar mau menikah denganku. Pernikahan dulu gagal karena diawali atas dasar paksaan. Biarlah ia menerima aku karena memang dari hatinya"
"Bunda adalah orang pertama yang paling bahagia jika kamu dan Lesha akan menikah"
Alesha yang baru keluar dari kamar mendengar ucapan bunda.
"Bunda, aku tidak ingin mengecewakan bunda lagi. Aku akan menerima kak Azril dan aku berharap kali ini pilihanku menikah lagi tidak akan salah. Aku mau ini menjadi pernikahan terakhirku. Ini semua juga demi Khaira. Karena prioritas utamaku saat ini adalah Khaira. Jika memang aku menderita kanker darah dan umurku tak panjang, paling tidak ia akan ada yang melindunginya. Dan orang tuanya sudah terikat pernikahan. Bukan lagi dua orang asing yang hanya terikat karena anak...."
__ADS_1
Alesha berjalan ke arah bunda dan Azril yang menemani Khaira bermain.
"Udah pada lapar ya, biar aku panasin lauknya dulu ya" ucap Alesha dan segera menuju dapur.
Setelah lauk dipanasin , mereka semua makan. Habis makan Azril kembali menemani Khaira bermain. Ia membawa Khaira bermain di balkon kamarnya. Azril sengaja memberi waktu buat bunda bicara.
"Lesha, sini nak temani bunda. Ada yang ingin bunda bicarakan"
Alesha duduk disamping bunda. Ia tahu pasti bunda ingin bertanya tentang pernikahan. Tapi Alesha memilih berpura pura nggak tahu.
"Ada apa bunda, apa yang ingin bunda bicarakan"
"Lesha, apa kamu tidak pernah berpikir untuk rujuk kembali dengan Azril. Bunda tahu, Azril memang banyak melakukan kesalahan padamu. Tapi bunda bisa menjamin jika saat ini Azril sudah berubah. Ia sudah menyadari semua keslahannya. Apa kamu tidak mau memberi Azril kesempatan sekali lagi ,nak"
"Apa bunda yakin jika aku dan kak Azril akan bahagia dengan pernikahan kami kali ini"
"Bunda yakin nak. Apa lagi saat ini ada Khaira diantara kalian. Tak mungkin Azril tega menyakiti ibu dari putrinya"
"Apa bunda sangat menginginkan pernikahan ini"
"Terus terang bunda memang menginginkan pernikahan kamu dan Azril. Tapi bunda tak mau jika kamu menerima Azril hanya karena permintaan bunda. Ini semua harus dari hatimu"
"Baiklah bunda, aku akan memberi kak Azril kesempatan sekali lagi. Ini juga semua demi kebaikan Khaira. Ia juga memerlukan figur seorang ayah"
"Kamu serius , nak" ucap bunda senang.
"Iya bunda..."
Bunda lalu memeluk Alesha dan menangis dalam pelukannya.
"Kenapa bunda menangis..."
"Bunda sangat senang , nak. Akhirnya impian dan harapan bunda terkabul"
"Bunda, melihat bunda tersenyum dan bahagia membuat aku tak tega untuk menolaknya . Aku tak mau bunda kecewa lagi, aku ingin bunda bahagia.Aku sudah melakukan kesalahan menyembunyikan semua kebenaran tentang Khaira dari ayah. Dan aku tak mau lagi membuat kesalahan lain. Aku hanya ingin membuat bunda selalu tersenyum dan bahagia. Mungkin ini dapat menebus rasa bersalahku pada ayah..."
********************
Terima kasih....
__ADS_1