
Azril memasuki parkiran rumah sakit. Ia telah menghubungi temannya terlebih dahulu.
"Ayo, Sha. Kenapa diam aja" tanya Azril melihat Alesha hanya diam.
"Kak, aku nggak apa apa. Kenapa harus ke dokter"
"Jika kamu memang nggak sakit nanti dokter bisa menjelaskan semuanya. Kita periksa aja"
"Tapi kak...." ucap Alesha pelan. Ia tak mau ke dokter karena masih takut dengan jarum suntik.
"Alesha Zahra... jangan bilang jika kamu masih takut dengan jarum suntik" ucap Azril. Ia masih ingat ketika Alesha sakit dan harus di rawat , ia menjerit ketika melihat jarum suntik. Terpaksa Azril dan bunda menenangkan dan memeluknya ketika akan dipasang infus.
"Iya...aku tak mau di suntik"gumam Alesha
"Lesha...Lesha, kamu tuh udah jadi mommy. Malu dong, masa masih takut di suntik"
"Emang nggak boleh kalau udah punya anak takut di suntik"
"Nanti jika harus di suntik kakak akan sembunyikan wajahmu didada kakak agar kamu tak melihat suntik. Ayo, turun"
Azril keluar dari mobil dan membuka pintu belakang, menggendong Khaira yang masih tertidur.
Mereka langsung menuju ruang praktik kerja dokter temannya Azril tersebut.
Sampai di pintu , Azril langsung mengetuknya dan terdengar sahutan dari dalam. Rangga dokter umum temannya Azril.
"Masuk..." ucap Rangga.
"Selamat sore, Ngga..."
"Selamat sore, silakan duduk. Ini Alesha adiknya kamu yang manja banget dulu itu ya"
Alesha yang mendengar ucapan Rangga tampak malu. Hampir semua teman Azril mengenal Alesha, walau ia tak mengenalnya. Karena Azril yang tak mau memperkenalkan. Teman Azril mengenalnya karena sering main kerumah dan melihat Alesha.
"Ya, dan ia bukan hanya adikku tapi ibu dari putriku"
"Pantasan dulu setiap ada yang mau kenalan, kamu tak boleh. Ternyata si kakak mencintai adiknya. Takut diembat orang ternyata.Oh ya Siapa nih yang sakit"
"Alesha, akhir akhir ini ia sering sakit kepala, mudah lelah dan mimisan"
"Sejak kapan kamu merasakan semua itu"
"Dua bulan ini, dokter"
"Jangan panggil dokter dong. Panggil kak Rangga aja..."
"Baik, kak..."
"Coba kakak periksa dulu ya. Kamu baring di kasur itu"
"Mau di suntik ya kak...."
"Emang kenapa, jangan bilang kamu takut jarum suntik"
__ADS_1
"Alesha emang takut banget lihat jarum suntik ,Ngga" ucap Azril sambil tertawa
"Oalah...ternyata masih ada ya seorang ibu yang takut jarum suntik"
"Kak Azril..."ucap Alesha sambil melototkan matanya. Ia malu Azril mengatakan semua itu..
Alesha berbaring di kasur. Rangga memeriksa tubuhnya. Sambil melakukan pemeriksaan Rangga bertanya tentang keluhan yang Alesha rasakan akhir akhir ini. Ia juga memeriksa leher dan kulit Alesha yang tampak banyak bercak merah.
Setelah dirasa cukup, Rangga pun meminta Alesha kembali duduk.
"Alesha cuma kecapean. Ini aku beri resep vitamin aja" ucap Rangga.
"Tuh dengar kak, aku cuma kecapean aja..."
"Azril , ada yang ingin aku katakan. Maaf , Alesha bisa tinggalkan kami berdua dulu. Maklum udah lama tak bertemu, jadi ada yang ingin aku tanyakan.Jangan marah ya, ini rahasia sesama pria" ucap Rangga sambil tertawa.
"Nggak apa kak. Kak, biar aku gendong Khaira nya"
"Biar kakak aja, Khaira udah gede. Udah berat , Sha. Kamu tunggu di luar aja sebentar ya..."
"Iya, kak..."
Alesha berjalan keluar dari ruang kerja dokter Rangga. Ia duduk di kursi tunggu yang ada di luar ruangan itu.
"Ada apa, Ngga. Apa ada yang serius dengan penyakit Alesha."ucap Azril. Ia tahu dari ekspresi wajah Rangga yang tampak serius.
"Aku sarankan kamu memeriksa penyakit Alesha ke dokter spesialis hematologi"
"Aku curiga jika Alesha saat ini lagi mengidap leukemia atau kanker darah. Tapi aku tak berani memastikannya. Jadi sebaiknya kamu bawa ia periksa ke dokter hematologi biar pasti. Tapi dari ciri ciri dan pemeriksaan fisik yang aku lakukan tadi semua mengarah ke sana. Sebelum penyakitnya lebih parah lagi secepatnya kamu bawa Alesha"
"Kamu nggak salahkan, Ngga"
"Aku sudah katakan, itu baru kecurigaan aku. Untuk pastinya kamu lakukan pemeriksaan menyeluruh dulu"
"Kamu ada rekomendasi dokter spesialis hematologi yang sudah cukup terkenal dan sangat bagus"
"Ada, tapi prakteknya di Jakarta. Bukankah kamu tinggal di Jakarta..."
"Ya, tapi Alesha kerja dan tinggal di Cirebon"
"Kenapa bisa begitu. Jadi kalian tinggal terpisah"
"Sebenarnya aku dan Alesha udah bercerai karena suatu kesalahanku, dan saat ini aku berusaha untuk membujuk Alesha rujuk kembali. Aku harus mengatakan apa agar ia mau diperiksa. Aku tak mungkin mengatakan kecurigaan kamu itu. Aku tak mau nanti ia menjadi cemas"
"Atau biar aku aja yang mengatakan. Aku sengaja bicara berdua dulu denganmu, jika kamu memang ingin aku berkata jujur , baiklah aku akan katakan sebenarnya"
"Biar nanti aku yang bicara dan membujuknya agar mengambil cuti dan melakukan pemeriksaan menyeluruh"
"Lebih baik kamu bicara berdua dari hati, agar ia nggak syok mendengarnya"
"Baiklah , Ngga. Aku pamit dulu. Bisa kamu kirim nama dan alamat dokter kenalanmu itu"
"Nanti aku kirimkan nama dan alamatnya"
__ADS_1
"Terima kasih, Ngga..."
Azril keluar ruangan dengan masih menggendong Khaira. Ketika akan menebus obat di apotik rumah sakit, Khaira terbangun.
"Papi...ini dimana"
"Di rumah sakit , sayang"
"Siapa yang sakit..."
"Mommy, jadi Khaira jangan ganggu mommy. Khaira jangan nakal ya"
"Iya , papi"
Setelah menebus obat, Azril mendekati Alesha yang menunggu di kursi dan mengajaknya pulang.
Azril melajukan mobilnya menuju sebuah hotel. Alesha yang menyadari itu menjadi heran.
"Kenapa kita ke hotel kak. Kita langsung pulang aja"
"Kita menginap aja, Sha. Kamu bawa baju gantikan. Khaira juga...ini udah malam. Nanti kamu dan Khaira kecapean jika harus melanjutkan perjalanan"
"Tapi kasihan bunda , kak..."
"Jika kita paksakan kembali, kita juga sampai udah tengah malam. Kakak takut mengantuk ketika menyetir" ucap Azril agar Alesha mau menginap.
"Baiklah kak..."
"Kita minta satu kamar aja yang double bed. Ada banyak yang ingin kakak bicarakan denganmu"
"Bicara apa kak, apa masih tentang yang tadi"
"Maksud kamu yang tadi mana, Sha"
"Kakak yang mengajakku menikah kembali" ucap Alesha malu.
"Salah satunya. Tapi ada yang lebih penting lagi. Nanti setelah Khaira tidur , kita bisa lebih lama mengobrol"
"Kenapa harus satu kamar. Beda kamar juga kita bisa mengobrolkan"
"Sha, kakak mau bicara lebih santai. Di kamar. Kenapa...kamu takut kakak macam macam."
"Nggak...bukan begitu" ucap Alesha gugup
"Sudah, ayo masuk. Khaira pasti lapar. Sampai di kamar kita pesan makanan langsung"
Azril menuntun Khaira berjalan dan ia memesan kamar yang double bed. Mereka menuju kamar yang dipesan.
Sampai di dalam kamar, Azril langsung pesan makanan buat makan malam mereka.
*******************
Terima kasih
__ADS_1