CINTA SUCI ALESHA

CINTA SUCI ALESHA
Bab Delapan puluh Tujuh


__ADS_3

Pagi hari Azril bangun dengan wajah yang sangat ceria. Ia melihat bunda, putrinya dan wanita yang sampai saat ini masih sangat dicintainya tidur dengan posisi saling memeluk.


Azril mendekati tempat tidur dan duduk ditepi ranjang. Ia mengusap kepala putrinya yang tidur dengan posisi kepala bersembunyi didada Alesha.


Khaira menggerakan tubuhnya merasakan sentuhan tangan Azril. Ia membuka matanya dan tersenyum melihat Azril.


"Papi..."


"Iya sayang, maaf papi ganggu tidur Khaira ya"


Alesha yang merasakan pergerakan tubuh Khaira membuka matanya. Begitu juga bunda.


"Wahh....papi jadi ganggu tidur semuanya nih. Padahal papi tadi cuma ingin melihat Khaira tidur"


"Udah pagi ya , pi..."ucap Khaira dan langsung berdiri memeluk Azril yang telah merentangkan tangannya.


Azril menggendong dan mengecup pipi Khaira dengan gemasnya.


"Udah sayang. Gimana tidurnya Khaira, nyenyak"


"Nyenyak, papi..."


"Nyenyak juga..."


"Sayang, mandi dulu ya. Nanti lanjut ngobrolnya"


"Iya, mom. Papi...Khaira mandi dulu"


"Oke tuan putri..."


Alesha memandikan Khaira. Setelah Khaira selesai berpakaian, giliran Alesha yang masuk kamar mandi.


"Khaira, mommy mandi dulu. Khaira main dengan nenek dan papi dulu , ya"


Khaira mengambil sebotol air mineral dan meminta Azril membukanya.


"Papi, tolong buka minumnya..."


"Sini papi bukain, tapi Khaira harus cium papi dulu"


Azril memajukan bibirnya mendekati wajah Khaira dan langsung di kecup oleh Khaira.



Bunda yang melihat interaksi ayah dan anak itu tanpa sadar meneteskan air matanya.


"Seandainya ayah masih ada, pasti ia orang yang paling bahagia melihat pertumbuhan Khaira cucunya"


Azril lalu menggendong Khaira dan membawanya tiduran di sofa. Azril meletakkan Khaira diatas perutnya.


"Khaira mau tinggal dengan papi"


Alesha yang baru keluar dari kamar mandi mendengar Azril dan Khaira bicara.

__ADS_1


"Nggak, Khaira mau sama mommy"


"Mommy juga sekalian tinggal sama papi dan nenek"


"Mommy...boleh" tanya Khaira melihat Alesha yang berdiri dibelakang Azril


"Untuk saat ini Khaira tinggal dengan mommy aja dulu ya. Papi Azril harus bekerja. Nanti nggak ada yang jagain Khaira"


Azril berdiri dari tidurannya dan melihat ke arah Alesha. Ia masih menggendong Khaira dipangkuannya.


"Lesha, aku nggak akan membawa Khaira buat tinggal bersamaku tanpa kamu. Aku ingin kamu dan Khaira bersamaku, biar aku yang menanggung semua biaya hidupmu dan Khaira."


"Kak, aku sudah katakan jika aku masih ingin tetap di sini. Aku masih ingin mengembangkan karierku. Jika kak Azril ingin bertemu Khaira , kakak bisa datang ke kota ini"


"Baiklah , Sha. Jika kamu memang memilih untuk tetap di sini. Tapi kakak masih berharap kamu memikirkan saran kakak. Kakak tak ingin kamu capek kerja, Sha"


"Tak mungkin aku memilih tinggal bersama kak Azril, jika kak Kenzo tahu pasti ia akan sangat terluka dan kecewa, lebih baik aku hidup hanya bersama Khaira"


"Akan aku pikirkan dulu, kak. Bunda, apa bunda akan tinggal bersamaku" tanya Alesha


"Bunda mau, nak. Tapi apa kamu nggak keberatan bunda tinggal bersama Lesha. Kamu bisa masak sendiri buat makan malam kamu nantinya"


"Bunda,jika bunda ingin tinggal bersama Alesha nggak apa apa. Aku bisa pesan makanan jika aku lapar. Atau sebelum pulang kerja aku bisa beli makanan"


"Pakaian bunda bagaimana , Ril"


"Bunda , nanti aku belikan baju buat bunda sementara dulu. Minggu depan aku dan bunda bisa ke Jakarta mengambil pakaian dan semua kebutuhan yang akan bunda bawa" ujar Alesha


"Kamu ke Jakarta minggu depan" tanya Azril


"Biar kak Azril yang jemput kamu ya"


"Nggak usah kak, aku bisa menyetir sendiri. Apa lagikan ada bunda yang menemani Khaira di dalam mobil nantinya."


"Baiklah, jadi nanti sore kak Azril kembali ke Jakarta berdua Farrel aja. Rencananya kakak mau cuti tiga hari, tapi nggak bisa karena besok ada rapat penting.Tapi kakak boleh bawa Khaira main ya menjelang sore nanti"


"Boleh kak...."


Azril segera mandi dan mengganti pakaiannya. Ia membawa Khaira ke salah satu mall bersama Farrel.


Bunda dan Alesha menunggu di kamar hotel. Ia membiarkan Azril pergi dengan Khaira tanpa dirinya agar Khaira bisa lebih cepat dekat dengan ayah kandungnya itu.


Setelah makan siang , Alesha memeilih membaringkan tubuhnya. Kepalanya terasa sedikit pusing.


"Bunda, aku tidur sebentar ya. Kepalaku terasa sedikit pusing"


"Kamu nggak bawa obatnya, nak. Atau bunda carikan obat ya"


"Nggak perlu bunda, nanti juga hilang sakit kepalanya. Aku hanya butuh istirahat sebentar"


"Bunda boleh temani kamu tidur"


"Tentu saja boleh bunda"

__ADS_1


Bunda membaringkan tubuhnya di samping Alesha sambil memijat pelan kepala Alesha sampai ia tertidur.


Setelah Alesha tertidur , bunda lalu menyelimuti tubuhnya.


"Walaupun kamu telah memiliki putri, tapi bagi bunda kamu masih putri kecil bunda. Yang dulu setiap malam selalu menangis ketakutan ketika orang tuamu baru meninggal. Bunda akan selalu membawamu ke dalam dekapan ini, memberi kehangatan. Walau kau bukan lahir dari rahimku, tapi rasa sayangku padamu sama besarnya dengan rasa sayangku pada anak kandungku sendiri, mungkin kamu yang lebih sering tidur dalam pelukannku dari pada anak kandungku sendiri"


Sore harinya Azril kembali dari jalan jalannya dengan Khaira yang tertidur dalam gendongannya.


Azril meletakkan tubuh Khaira di sebelah Alesha. Azril melihat Alesha yang masih tidur dengan nyenyaknya.


"Kenapa Alesha, bun...." tanya Azril yang melihat wajahnya sedikit pucat


"Mungkin kecapean. Tadi Alesha mengatakan jika kepalanya sakit. Kasihan Alesha, pasti selama ini ia berusaha kuat dan semangat menjalani hidup buat Khaira. Ia pasti sebenarnya juga lelah. Tapi ia berusaha tegar dan kuat demi membuktikan jika ia juga bisa membesarkan Khaira seorang diri tanpa bantuan siapa siapa"


"Aku sudah menawarkan agar ia berhenti bekerja, biar aku yang biayai hidup Khaira dan Alesha, tapi ia menolak"


"Mana mungkin Alesha mau, ia sudah bersusah payah sampai pada titik ini. Bukankah saat ini kariernya juga lagi bagus. Pasti ia sayang melepaskan semuanya begitu saja"


"Mungkin ini memang pilihan yang tepat, bunda menemani Alesha, jika terjadi sesuatu bunda bisa menolong dan cepat bisa mengabariku"


"Iya, nak. Paling nggak bunda bisa membantunya memasak. Kasihan jika harus masak dulu pulang kerja. Pasti capek banget"


Setelah Azril menyiapkan pakaiannya dan Alesha yang telah bangun juga bersiap siap kembali ke rumahnya.


Azril mengantar bunda sampai ke rumah Alesha. Sekalian agar ia tahu dimana tempat tinggal putrinya.


Sehabis magrib baru Azril meninggalkan tempat kediaman Alesha.


"Sayang, papi berangkat dulu ya. Minggu depan Khaira ke tempat papi ya. Papi akan tunggu kedatangan putri cantik papi ini. Jangan nakal dan jangan cengeng"ucap Azril sambil mengecup pipi Khaira


"Iya ,papi. Hati hati"


"Sha, jika kamu capek kamu bisa bawa supir. Jangan menyetir sendiri. Cirebon Jakarta cukup jauh. Kakak nggak mau kamu kecapean"


"Nggak apa kak, aku sudah biasa nyetir sendiri. Aku juga pernah ke Jakarta nyetir sendiri"


"Kamu pernah ke Jakarta..."


"Tentu saja pernah, jika ada pertemuan dengan klien..."


"Tapi hati hati ya. Pelan aja. Jangan ngebut"


"Iya..."


"Bunda, aku pamit..."


"Ya , hati hati. Sudah malam. Jangan ngebut. Sampai apartemen langsung kabari bunda"


"Iya bun...."


Setelah pamit Azril menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan rumah Alesha. Jika saja besok ia tak ada rapat mungkin ia akan menambah waktunya sehari lagi bersama orang orang tercintanya.


**************************

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2