
Kenzo mendekati mamanya yang tampak gugup karena melihat wajah Kenzo yang memerah menahan amarahnya.
"Apa yang mama katakan pada Khaira" teriak Kenzo emosi
"Kak tenang, ingat kak. Bagaimanapun itu mama" ucap Hanna menenangkan Kenzo
"Mama cuma bertanya"
"Pertanyaan mama itu sama aja dengan mama menuduh jika Khaira itu pernah melakukan hubungan badan dengan pria lain"
"Emang kamu yakin ia tidak pernah melakukan dengan pria lain"
"Mama mau mengakui atau tidak, Khaira itu putriku. Namaku yang pertama tersemat dibelakang namanya. Jadi aku tahu pasti bagaimana dirinya. Ia tidak pernah disentuh pria selain Diego. Itulah sebabnya aku merestui hubungan mereka. Aku tau di zaman sekarang sangat sulit mencari wanita yang masih polos seperti Khaira. Seharusnya mama bersyukur Diego dapat menikahi Khaira"
Setelah mengucapkan itu , Kenzo mengambil vas bunga yang ada di atas meja makan dan melemparnya ke dinding.
Hanna dan mama kaget melihat apa yang Kenzo lakukan.
Kenzo perlahat merosot dan terduduk di lantai sambil menarik rambutnya frustasi. Ia menangis tersedu.
Hanna berjongkok di depan Kenzo dan memeluknya.
"Kenapa mama menghukum Khaira atas apa yang pernah aku lakukan. Harus berapa kali lagi aku katakan, jika dulu bukan Alesha yang meminta aku menikahinya, tapi aku yang memaksa Alesha agar mau menikah denganku. Pergilah ma, jangan sampai aku lepas kontrol. Aku nggak mau berbuat kasar"
Hanna berdiri dari jongkoknya dan menghampiri mama. Ia membawa mama ke ruang keluarga.
"Mama...aku sebagai mami Diego sudah bisa terima keputusannya menikahi Khaira, karena aku melihat kebahagiaan pada diri Diego. Aku bukannya tak menghargai mama, tapi aku minta mama bisa menerima Khaira. Aku tak mau jika Diego jadi menjauhi rumah ini karena mama yang tak bisa menerima istrinya"
"Apa kamu melarang mama datang..."
"Bukan aku melarang, ma. Aku hanya minta mama menerima kehadiran Khaira sebagai bagian dari keluarga. Saat ini ia telah menjadi menantuku"
Diego yang baru pulang mendengar ucapan maminya menjadi marah.
"Apa yang oma lakukan lagi pada Khaira" ucap Diego dengan marah
"Kamu pikir oma ini apa ?. Apa oma begitu jahatnya dalam pikiranmu"
"Mulut oma yang selalu jahat...mana Khairanya mi"
"Khaira...Khaira...." ucap Hanna terbata, ia tak tau harus menjawab apa.
__ADS_1
"Khaira...Khaira...sayang" teriak Diego sambil berjalan tergesa menuju dapur .
Diego melihat daddy nya yang masih terduduk di lantai dengan sisa tangisnya.
"Daddy...kenapa. Khaira mana, dad"
"Khaira pulang...." gumam Kenzo
"Apa yang oma katakan lagi pada Khaira"
Diego kembali berjalan cepat menuju ruang keluarga di mana oma dan maminya berada.
"Coba oma jujur, apa yang oma katakan pada Khaira...." teriak Diego
"Oma tidak ada mengatakan apa apa...."
"Oma jangan bohong" teriak Diego lagi
Hanna melihat mata dan wajah Diego merah menahan amarahnya dengan tangan mengepal. Ia takut Diego khilaf pada omanya.
Hanna berdiri dan memeluk Diego. Kenzo yang mendengar teriakan Diego bangun dan berjalan perlahan menghampiri.
Oma berdiri dengan wajah yang juga tampak marah.
"Kamu berani marah dan teriak dengan oma. Hanya karena wanita itu kamu jadi seperti ini. Apa kamu lebih memilih wanita itu dari oma mu sendiri"
"Apa yang oma katakan pada Khaira" ulang Diego lagi. Kali ini ia mengambil vas bunga dan melemparnya ke guci keramik yang besar, sehingga vas dan guci pecah.
"Diego, udah nak. Sabar..." ucap Hanna memegang tangan Diego agar tak mengambil vas yang lain.
Pembantu rumah tangga mereka ,ketakutan di dapur. Baru sekali ini mereka melihat Kenzo dan Diego marah.
"Oma hanya bertanya. Wanita itu aja yang sensitif...oma hanya bercanda"
"Wanita itu Khaira namanya, ia istriku. Dan saat ini tengah mengandung anakku. Apa yang oma tanyakan sehingga ia pergi "
"Diego udah. Kamu duduklah. Tenangkan dirimu dulu" ucap Hanna. Kenzo hanya diam berdiri melihat Diego yang marah pada omanya.
"Oma hanya bertanya , apakah anak yang ia kandung itu anakmu"
"Apaa...oma keterlaluan"
__ADS_1
Diego melepas pelukan Hanna , ia kembali mengambil vas bunga dan menggenggamnya kuat hingga pecah ditangannya.
Tangan Diego berdarah karena ada pecahan kaca yang menancap ditangannya.
Hanna berteriak dengan panik melihat darah mengucur dari tangan Diego. Kenzo juga kaget melihat anaknya melakukan itu.
"Aku tak ingin melihat wajah oma lagi sebelum oma meminta maaf pada Khaira. Aku yang pertama kali meniduri Khaira, Oma. Bagaimana bisa oma tanyakan itu pada Khaira. Apa oma kira Khaira wanita jal*ng"
Setelah mengucapkan itu Diego berjalan menuju pintu keluar.
"Diego...jangan pergi nak. Tanganmu terluka. Biar mami obati dulu"
Diego terus berjalan tanpa mendengar ucapan maminya. Hanna berlari dan memeluk Diego dari belakang.
"Jangan pergi nak. Mami mohon...tanganmu terluka. Kamu juga sedang emosi. Tak baik mengendarai mobil dalam keadaan marah. Mami akan jemput Khaira dan meminta oma pergi. Mami mohon...." ucap Hanna sambil menangis.
"Aku harus pergi, mi. Aku takut tak bisa menahan emosiku melihat oma"
"Mami akan minta oma pergi" ucap Hanna masih memeluk Diego.
Diego melepaskan pelukan Hanna. Ia memandangi mami nya yang menangis terisak.
"Aku harus menyusul , Khaira. Ponselnya tak aktif. Aku takut terjadi sesuatu dengan Khaira."
"Biar daddy yang melihat keadaan Khaira. Mami obati dulu tanganmu. Jika kamu tetap pergi dengan luka ini, mami juga akan melukai tangan mami"
Diego akhirnya kembali masuk ke rumah dan langsung menuju kamarnya.
Hanna mengambil kotak obat ,sebelum ia masuk kamar Diego ia mendatangi mama dan memintanya pergi.
Mama Kenzo tampak sangat marah ketika Hanna memintanya untuk pergi dulu dari rumahnya.
Hanna juga minta tolong Kenzo buat melihat dan membujuk Khaira buat kembali ke rumah.
Setelah mengobati tangan Diego, Hanna menahan Diego agar tetap di rumah karena daddynya telah menyusul Khaira.
Tapi Diego tak mau, ia tetap ingin pulang ke rumah Khaira. Ia tak yakin Khaira mau diajak kembali.
*****************
Terima kasih
__ADS_1