
Kenzo menyusuri lorong rumah sakit menuju ke ruang operasi. Ia melihat Azril yang terduduk sambil menunduk.
"Ril, bagaimana Alesha..." ucap Kenzo begitu sampai dihadapan Azril. Azril memandangi Kenzo.
"Ia sedang dioperasi..."
"Bukankah perkiraan lahirnya bulan depan"
"Ya ,tapi ketubannya udah pecah. Ken, aku takut sekali"
"Kita sama sama berdoa aja tidak akan terjadi apa apa pada Alesha dan bayinya"
Bunda yang baru sampai dirumah sakit , diantar pak Ali sampai kehadapan Azril. Setelah itu ia pamit, karena Khaira ada dirumah bersama istrinya. Ia akan menjaga Khaira.
"Bunda, aku takut banget" ucap Azril memeluk bunda
"Yakinlah nak, semua akan berjalan baik"
"Aku tak siap jika terjadi sesuatu dengan Alesha , bunda"
"Alesha dan bayinya pasti selamat..."
Setelah hampir satu jam , dokter keluar dari ruang operasi. Azril dan Kenzo langsung menghampiri dokter.
Di belakang dokter tampak bidan mendotong kereta bayi.
"Selamat pak Azril, bayi anda laki laki. Tapi kami harus masukan putra anda diruang NICU, untuk perawatan intensif karena bayi anda lahir prematur"
Azril dan Kenzo melihat bayinya sebelum di masukan keruang NICU.
"Bapak dapat mengadzani nanti diruang perawatannya"
"Baik dok, dan bagaimana dengan ibunya"
Dokter tampak menatik nafasnya sebelum bicara.
"Maaf pak, kami telah berusaha semampu kami tapi Istri anda tidak dapat kami selamatkan"
"Maksud dokter...."
"Bapak Azril yang tabah ya, istri anda telah tiada...."
Azril langsung terduduk di lantai tanpa mendengar lagi penjelasan dari dokter. Kenzo juga ikut luluh ke lantai.
Azril perlahan berdiri kembali dan menggenggam tangan dokter.
__ADS_1
"Dokter, anda pasti salah. Alesha tidak mungkin meninggalkan saya. Saya mohon dok, periksa ulang istri saya. Selamatkan Alesha, saya akan membayar berapapun yang dokter minta. Saya mohon dok"
"Pak Azril, sskali lagi kami tim dokter meminta maaf. Kami sudah berusaha maksimal , tapi pendarahan yang dialami istri anda tidak dapat menolong"
"Tiidaaak..." teriak Azril
Bunda mendekati Azril dan memeluknya.
"Bunda, katakan semua ini tidak benar, ini hanya mimpi. Alesha masih hidupkan bunda"
"Azril, bunda juga berharap ini semua mimpi. Tapi kita tidak bisa menyalahkan takdir. Ini semua sudah menjadi kehendak Tuhan"
"Kenzo...Alesha tidak akan meninggalkan aku lagikan. Alesha bilang ia tidak marah lagi padaku. Ia sudah memaafkan aku. Jadi tak mungkin Alesha meninggalkan aku"
Kenzo tidak bisa menjawab perkataan Azril, ia hanya terisak menahan tangisnya. Hanna yang baru sampai kaget melihat semuanya menangis. Ia mendekati Kenzo dan memeluknya.
"Ada apa sayang...."
"Hanna...Lesha"
"Kenapa Lesha"
"Lesha telah pergi, ia pergi Hanna"
Hanna membawa Kenzo ke dalam pekukannya. Ia dapat merasakan kesedihan Kenzo. Ia tahu Alesha masih menempati hati Kenzo.
Azril dan Kenzo sama sama berdiri dari duduknya. Mereka berempat masuk ke ruang observasi. Tampak satu tubuh ditutupi kain putih.
Azril mendekat dan membuka kain penutup dan tampak Alesha yang tersenyum.
"Sayang, kamu pasti mau ngerjain kakak. Udah sayang bercandanya,kamu jangan buat kaget kakak lagi. Sekarang kamu bangun ya. Sudah cukup buat cemas kakak"
Azril mengusap wajah Alesha dan mengecup seluruh bagian di wajah istrinya.
"Sayang bangun, jangan buat kakak cemas lagi. Bangun sayang, kamu mau lihat putra kitakan" ucap Azril memeluk tubuh Alesha.
Bunda memeluk Azril dan mengusap lengan putranya.
"Azril, sadar nak. Kamu harus menerima kenyataan. Alesha telah pergi meninggalkan kita"
"Tidak bunda, bunda lihat. Lesha tersenyum, ia cantik banget. Ia masih hidup, Alesha tak mungkin menghukumku seperti ini. Ia tak akan meninggalkan aku"
Azril memeluk erat tubuh Alesha. Kenzo mendekat jenazah Alesha diikuti Hanna.
"Azril, siap tak siap kita harus menerima kenyataan jika Lesha memang telah pergi meninggalkan kita selamanya"
__ADS_1
Mendengar ucapan Kenzo, Azril mengguncang pelan tubuh Alesha.
"Sayang bangun, jangan tinggalkan kakak dan anak anak. Bangun sayang...kenapa kamu tega meninggalkan kakak. Apa kamu masih marah, sayang maafkan kakak" ucap Azril dan akhirnya kembali terduduk dilantai.
Bunda berjongkok dihadapan Azril. Dan mengusap lengan Azril.
"Nak, kamu harus kuat. Kamu tak boleh rapuh begini. Kamu harus menjaga buah hatimu dengan Lesha. Sekarang bangunlah, kamu harus mengadzani anakmu dulu"
"Iya bunda, aku akan mengadzani anakku dulu"
Kenzo membantu Azril berdiri dan memapahnya menuju ruang perawatan bayi. Kenzo meminta Hanna mengurus semua administrasi rumah sakit.
Bunda diminta Kenzo buat menghubungi orang rumah, dan ia juga meminta bantuan Dita serta karyawannya yang lain menyiapakan rumah Azril buat kedatangan jenazah Alesha.
Azril mengganti pakaiannya dengan yang steril. Dengan gemetar dan berurai air mata ia mengumandangkan adzan dekat telinga putranya yang berada didalam inkubator.
Setelah mengadzani bayinya , Azril memegang tangan mungil putranya.
"Sayang, kamu peninggalan mommymu. Papi janji akan menjaga kamu dan mbak Khaira dengan sepenuh jiwa papi. Tidak akan pernah papi membiarkan kalian menangis. Maafkan papi karena tidak bisa menahan kepergian mommy kamu. Semua ini telah menjadi takdir nya Tuhan. Bantu doakan papi, agar papi kuat mengahadapi semua ini"
Azril lalu berdiri. Ia tak boleh lemah, itu yang saat ini dipikirkan. Setelah melihat putranya , ia seperti mendapat kekuatan.
Azril mendekati Kenzo yang menunggunya.
"Ayo, Ken. Aku harus mengurus kepulangan jenazah Alesha"
"Aku sudah minta bantuan Hanna buat mengurus semuanya. Dan Hanna mengabarkan jika kita bisa membawa jenazah Alesha sekarang"
"Baiklah, Ken. Terima kasih..."
Azril berjalan dengan pandangan kosong. Ia menitipkan putranya pada dokter dan seorang perawat yang biasanya mengurus Alesha.
Jenazah Alesha dibawa masuk ke ambulan. Azril duduk disamping jenazah istri tercintanya itu. Bunda duduk di depan. Mereka pulang dengan ambulans. Azril meninggalkan mobilnya, dan ia telah meminta Farrel menjemputnya. Ia menitipkan kunci mobil pada satpam.
"Sayang, kenapa kamu pergi secepat ini. Kakak belum puas hidup bersamamu. Kenapa kamu tidak membawa kakak sekalian. Jika kakak tahu, kamu akan meninggalkan kakak secepat ini, kakak tidak akan pernah meninggalkan kamu sedetikpun buat bekerja. Sayang, apa kamu sudah tenang disana. Kamu tidak merasakan lelah lagi. Kamu sudah tidak merasakan sakit lagi. Kamu melihat kakak disinikan. Kakak sebenarnya belum siap kehilanganmu" gumam Azril didepan jenazah Alesha.
Sampai dirumah kediamannya, tampak telah berdatangan pelayat. Mobil ambulan memasuki pekarangan.
Azril dan Kenzo mengangkat keranda jenazah Alesha. Setelah itu Azril dan Kenzo menggendongnya, meletakan diatas kasur yang berada di ruang keluarga.
Azril membuka kain penutup tubuh Alesha dan menggantinya dengan kain panjang yang diberikan bu Ali.
Azril menutup dengan penuh hati hati tubuh istrinya. Ia menunduk dan mengecup seluruh bagian tubuh istrinya. Ia bersimpuh didwpan jenazah Alesha.
**********************
__ADS_1
Terima kasih. Aku membuat bab ini dengan sedikit sulit. Karena aku juga terbawa sedih. Jadi jika ada typo harap dimaklumi.