
Diego berlari masuk kedalam kamar begitu ia menginjakan kakinya di rumah Azril.
Ia mencari keberadaan Khaira. Ketika tak didapati istrinya di dalam kamar, Diego menuju dapur. Tampak bibi yang sedang membersihkan dapur.
"Bi, Khaira di mana" tanya Diego
"Mbak Khairakan pergi bersama tuan Azril"
"Kemana bi...."
"Bibi nggak tahu mas. Cuma tadi mbak Khaira bawa tas berisi pakaian. Bibi kira mas sudah tau"
"Bawa pakaian...bersama papi"
"Iya, seperti buru buru. Bibi kira mas tau kemana perginya"
Diego langsung meninggalkan rumah menuju ke bengkel Atha. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Sampai di bengkel, Diego langsung masuk menemui Atha.
"Kemana Khaira di bawa papi, Atha"
"Aku tak tahu. Papi cuma minta selama papi pergi aku menginap di sini aja"
Diego menggebrak meja dengan keras, membuat Atha menjadi geram.
"Jangan bohong, Atha...."
Atha berdiri dari duduknya dan menarik kerah baju Diego.
"Aku udah peringatkan kamu. Jangan pernah membuat mbak Khaira menangis. Karena aku tidak akan pernah memaafkan itu"
"Aku tak pernah membuat Khaira menangis" ucap Diego dengan suara pelan.
Atha melepaskan cengkeraman tangannya dibaju Diego.
"Kenapa mbak menangis pulang dari rumahmu"
Diego merasakan tubuhnya lemah, ia terduduk di lantai.
"Aku nggak tahu, Atha. Oma yang membuat Khaira pergi. Saat itu aku nggak di rumah. Aku menitipkan Khaira dengan daddy dan mami, aku ada perlu ke kantor. Saat aku kembali, Khaira udah nggak ada"
__ADS_1
Diego berkata dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya.
"Kenapa kamu tinggalkan mbak Khaira bersama oma. Kamu tahukan oma nggak pernah suka dengan mbak Khaira"
"Aku berani meninggalkannya karena ada daddy dan mami. Atha...aku mohon katakan kemana papi membawa Khaira. Kamu tahukan aku sangat mencintai Khaira, aku mohon...jangan pisahkan aku dan Khaira"
"Aku nggak tau Diego"
"Atha...aku mohon" ujar Diego sambil memegang kaki Atha memohon.
Atha melepaskan pegangan tangan Diego, ia berjongkok dihadapan Diego.
"Aku bersumpah Deigo. Aku tak tau kemana papi membawa Khaira"
"Aku nggak akan sanggup hidup terpisah dari Khaira. Aku janji akan menjauh dari oma selamanya, tapi Khaira janji kembali" ucap Diego terisak.
"Aku yakin papi tak akan memisahkan kamu dengan mbak Khaira. Papi mungkin membawa mbak Khaira menjauh untuk sementara sampai mbak Khaira tenang. Papi hanya tak ingin mbak Khaira stres"
"Tapi papi pernah sembunyikan Khaira dariku selama setahun"
"Saat ini ada anakmu di dalam rahim mbak Khaira. Papi tak mungkin memisahkan ayah dan anaknya"
"Aku harus mencari Khaira...." ucap Diego berdiri dan membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sementara itu, setelah mencari Khaira dirumahnya dan tidak dapat menemui, Kenzo juga mencari Khaira ke tempat biasa Azril menginap. Kenzo tau dari bibi Khaira pergi dari rumah bersama Azril. Tapi tadi ia tak mengabari Diego berharap bisa bertemu Khaira dan Azril sebelum Diego pulang.
Telah beberapa kali ia menghubungi Azril tapi ponselnya belum juga aktif.
Kenzo akhirnya mengirim pesan, berharap ketika Azril mengaktifkan kembali ponselnya ia membacanya.
"Azril, aku mohon ....bawa Khaira kembali. Aku mohon maaf yang sebesar besarnya karena oma kembali mengatakan sesuatu yang menyakiti Khaira. Tapi aku mohon padamu, jangan pisahkan Khaira dan Diego. Diego tidak bersalah, jangan hukum dirinya. Aku janji akan menjauhi oma dari Khaira. Aku nggak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Diego jika kamu tega memisahkan mereka."
Kenzo kembali ke rumah, barulah ia menghubungi Diego. Diego mengatakan jika ia saat ini berada di perjalanan menuju villa mereka.
Kenzo kembali menghubungi Diego karena Hanna memintanya setelah mendapat pesan dari Diego jika Khaira tidak berada di villa dan ia akan kembali sesaat lagi dari villa.
Hanna duduk dengan gelisah disamping Kenzo. Setelah beberapa kali sambungan ponsel akhirnya diangkat Diego.
"Diego, sebaiknya kamu istirahat dulu. Jangan paksakan kembali saat ini juga."
"Aku ingin mengejar keberangkat yang pagi ke Pekanbaru, dad"
__ADS_1
"Tapi bahaya , Diego. Tubuhmu pasti lelah"
"Aku tak mau menundanya , dad. Aku tak mau pisah dari Khaira"
Hanna yang mendengar suara Diego yang terisak menahan tangisnya, mengambil alih ponsel dari tangan Kenzo.
"Sayang, dengarin mami. Kamu harus istirahat. Jangan kamu paksakan tubuhmu. Jika kamu sakit, kamu akan lebih lama lagi bertemu Khaira."
"Mami, Khaira nggak akan meninggalkan akukan"
"Nggak sayang. Yakinlah, itu. Saat ini Khaira butuh waktu buat menyendiri. Semua itu juga baik buat Khaira dan bayimu, biar ia tidak stres"
"Mami, aku lebih baik mati jika Khaira pergi"
"Sayang ...jangan bicara begitu. Kamu mencintai Khaira, begitu juga Khaira. Mami yakin kalian bisa melalui semua ini. Saat ini Khaira lagi terbawa emosi karena ucapan oma, ia perlu suasana yang baru untuk menenangkan pikirannya"
"Mami janji ...akan membawa Khaira kembali"
"Mami janji, daddy dan mami akan melakukan apapun untuk membuat Khaira dan kamu kembali bersama"
"Baiklah, mi. Habis subuh aku kembali ke Jakarta"
"Iya, nak. Istirahatlah. Berdoa agar semuanya baik baik saja"
"Iya, mi"
Hanna mematikan sambungan ponselnya dan menangis di pelukan Kenzo.
"Kak, bujuklah Azril untuk membawa Khaira kembali"
"Iya, Hanna. Aku yakin Azril saat ini hanya terbaw emosi. Ia tak akan tega memisahkan putrinya dengan Diego"
"Jika Khaira kembali, aku janji tidak akan membuat ia bertemu mama lagi. Maafkan aku kak, bukannya aku nggak suka dengan mama. Tapi aku hanya ingin melihat kebahagiaan anakku. Diego satu satunya puteraku"
"Kakak mengerti. Kakak juga tidak akan mau lagi mengambil resiko. Azril sudah mengancam dulu. Ia akan membawa Khaira pergi jauh jika mama menyakitinya. Semoga saja Azril tidka benar benar melakukannya saat ini" gumam Kenzo.
Hanna menarik nafasnya , ia tak mau jika Azril memang nekat membawa Khaira pergi jauh.
"Ya Tuhan, aku mohon ...jangan pisahkan Khaira dan Diego"
********************
__ADS_1
Terima kasih