CINTA SUCI ALESHA

CINTA SUCI ALESHA
Bab Dua puluh Tujuh


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan Azril meninggalkan Alesha di Bandung. Ia kemarin menghubungi ayahnya menanyakan kabar bunda.


Ayah Azril mengatakan jika bunda sudah pulih seperti biasa. Azril juga sempat tanya kabar Alesha. Ayah mengatakan jika Alesha sudah kembali ke Jakarta tiga hari yang lalu setelah menerima surat perceraian mereka.


Azril memasuki kamar tamu yang biasa Alesha tempati, ia duduk ditepi ranjang memandangi seluruh isi kamar Alesha.


Azril membuka lemari pakaian, masih ada banyak pakaian Alesha. Ia menciumi pakaian Alesha yang masih meninggalkan bau wangi parfum Alesha.


Azril melihat ada laci di dalam lemari kamar, ia membukanya dan melihat ada satu buku diary kecil. Azril mengambilnya dan membawa buku itu ke ruang keluarga.


Azril membukanya dan terdapat tulisan tangan Alesha.


"Tuhan, malam ini aku melihat kak Azril memeluk dan mencium kak Tiara. Hati ini terasa sakit sekali, walau aku tahu tak ada cinta di hati kak Azril buatku tapi hati ini tetap saja tak bisa menerima kak Azril yang bermesraan dengan wanita lain. Apa aku salah jika aku cemburu dan marah, bukankah Azril suamiku. Tuhan, kuatkan hatiku untuk tetap bersabar sampai Engkau membalikan hati kak Azril jadi milikku"


Azril mengusap air matanya yang tanpa terasa turun membasahi pipinya.


"Maafkan aku Lesha,karena aku yang selalu membuat kamu menangis. Padahal dulu aku pernah berjanji, tak akan aku biarkan sebutirpun air mata jatuh membasahi pipimu"gumam Azril


Azril membuka lembaran diary itu lagi.


"Tuhan, aku kembali melihat dengan mataku sendiri bagaimana kak Azril memperlakukan kk Tiara dengan lembut, beda dengan diriku. Kak Azril selalu saja kasar padaku. Bukan saja perkataan tapi terkadang kak Azril juga menyakiti fisikku. Bersama Kak Tiara, ia begitu lembutnya. Aku ingin kak Azril juga bersikap sama padaku. Dulu kak Azril sangat lembut dan sayang padaku seperti yang ia lakukan pada Kak Tiara. Tapi sejak pernikahan kami,kak Azril berubah. Tuhan, apakah salah aku menerima pernikahan ini. Aku sudah sering menolaknya tapi ayah bunda memohon agar aku mau menerima. Tapi Kak Azril selalu saja menuduh aku yang memaksa ayah dan bunda. Ayah, bunda doakan aku kuat dan sabar menghadapi kak Azril agar aku bisa mempertahankan rumah tangga ini... aku tak ingin ayah dan bunda kecewa "


Azril menarik nafasnya dengan kasar dan mengusap wajahnya.


"Aku selalu saja menyalahkan Lesha atas pernikahan ini,padahal ia juga korban. Ia terpaksa menerima pernikahan ini karena paksaan dari ayah dan bunda. Aku terlalu marah sehingga dibutakan hatiku, aku tak mendengar pembelaan Alesha sedikitpun. Aku terus saja menyakiti hati dan fisiknya sebagai pelampiasan rasa kesalku karena pernikahan kami"


Azril kembali membuka lembaran diary itu lagi.


"Malam ini aku kembali menyaksikan Kak Azril dan kak Tiara bermesraan, hatiku sakit sekali. Aku rasanya ingin menghampiri mereka dan menampar mereka, apa mereka tidak ada tempat selain di apartemen. Apa kak Azril ingin membunuh diriku secara perlahan dengan sikapnya ini. Tuhan, jika kak Azril memang ditakdirkan buatku, buatlah ia sadar akan kehadiran diriku ini. Tapi jika ia memang bukan jodoh terbaik untukku, buat hatiku rela melepaskannya. Tuhan, dada ini sudah terasa sesak setiap melihat kak Azril bermesraan dihadapanku. Aku juga manusia biasa yang punya hati, aku juga bisa merasakan marah dan sakit hati melihat sikapnya padaku"

__ADS_1


Azril kembali menarik nafasnya. Ia merasakan bagaimana dulu sikapnya yang sangat keterlaluan pada Alesha.


"Kamu memang berhak marah Lesha, aku memang pecundang. Aku dengan teganya bermesraan tanpa memikirkan perasaan kamu"


Azril membuka lembaran berikutnya.


"Tuhan kak Azril benar benar keterlaluan sekali, ia tega melempar uang padaku didepan Kak Tiara. Kak Azril benar benar telah membuat aku sakit hati dan malu. Apa aku salah jika aku marah pada Kak Tiara yang dengan tanpa izin menggunakan barangku. Tapi Tuhan, aku sebenarnya marah pada kak Azril dan Kak Tiara, aku mengatakan pada Kak Tiara jika harus memiliki etika jika ingin menggunakan barang orang, padahal Tuhan aku ingin mengatakan pada Kak Tiara jika kak Azril itu milikku, ia suamiku, seharusnya kak Tiara sadar diri. Dan juga harusnya kak Azril sedikit menghormati aku sebagai istrinya. Tuhan, aku ingin rasanya menyusul papi dan mami. Aku ingin berteriak, mengapa papi dan mami tega meninggalkan aku sindirian, tak ada tempat aku mengadu. Aku juga ingin rasanya mengatakan pada ayah dan bunda jika kak Azril sudah keterlaluan, ia tega mengatakan jika aku yang harus sadar diri bukan nya kak Tiara. Apakah tidak ada sedikitpun rasa cinta atau sayang Kak Azril buatku. Apakah begitu besar nya rasa bencinya padaku. Mengapa ia tega melakukan ini padaku Tuhan. Aku ingin mengakhiri segera perkawinan ini. Tapi aku takut ayah dan bunda nanti kecewa. Tuhan, tunjukkan jalan apa yang harus aku tempuh... "


Azril mengingat kejadian malam dimana ia melempar uang ke wajah Alesha.


"Aku memang sudah sangat keterlaluan menyakiti hati Lesha. Semoga nanti Lesha mendapatkan lelaki baik yang benar benar mencintainya. Aku tak pantas buat Lesha "lirih Azril.


Azril ingin membuka lembaran diary itu lagi. Tapi diurungkan karena ia mendengar suara bel apartemennya. Azril mengembalikan diary Lesha ke lemari dan setelah itu baru ia membuka pintu.


Azril kaget melihat orang yang berdiri di depan pintu apartemennya.


"Boleh aku masuk kak, ada yang ingin aku ambil dan bicarakan pada Kak Azril"


"Silakan... "ucap Azril gugup


Lesha masuk apartemen dan duduk di sofa ruang tamu. Ia mengambil selembar kertas dari dalam tasnya. Ternyata itu akta cerai.


"Ini kak Akta cerainya. Mulai saat ini kita sudah tidak terikat lagi dalam pernikahan. Maaf jika selama pernikahan kita, aku tidak bisa menjadi istri seperti yang kakak inginkan. "


"Aku yang seharusnya minta maaf Lesha "gumam Azril


"Aku datang cuma ingin memberi akta nikah ini kak. Aku juga mau mengambil barang barangku yang tertinggal. Karena tidak ada gunanya juga buat kak Azril semua barangku. "


Alesha lalu berdiri dan masuk ke kamar yang biasa ia tempati selama tinggal di apartemen ini.

__ADS_1


"Kamu tinggal di mana Lesha. Atau kamu saja yang tinggal di apartemen ini, biar kak Azril yang mencari tempat tinggal lain. Kak Azril tidak bisa memberikan apa apa sebagai mantan suamimu, hanya apartemen ini yang kakak miliki. Ini bisa buat kamu"


"Nggak perlu kak, aku sudah mencari kontrakan"


"Lesha, maafkan Kak Azril"


"Aku sudah memaafkan semua salah Kak Azril"ucap Lesha sambil memasukan satu persatu baju dan barangnya yang tersisa.


"Bagaimana kabar bunda"


"Alhamdulillah sudah sehat, mengapa Kak Azril menceritakan semuanya dengan bunda"gumam Lesha


"Aku tak bisa berbohong pada bunda "


"Tapi kak Azril tak perlu mengatakan semuanya. Oh ya kak ada barang dan bajuku tinggal sedikit, nggak muat lagi. Kak Azril bisa tolong bakar atau buang aja ya. Terima kasih. Aku pamit dulu"ucap Lesha sambil menarik dua koper berisi pakaian dan barangnya.


"Lesha, boleh Kak Azril memeluk kamu"


"Tentu saja kak,aku juga mau memeluk kakak. .. "ucap Lesha dan segera memeluk Azril erat. Lesha tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia menangis di dalam pelukan Azril. Azril merasakan bajunya basah oleh air mata Lesha. Azril melonggarkan pelukannya dan menghapus air mata Alesha.


"Kak Azril harap tidak akan ada lagi air mata yang mengalir di pipi kamu. Kak Azril minta maaf karena sering membuat kamu menangis "


"Kak Azril"ucap Lesha kembali memeluk tubuh lelaki yang sampai detik ini masih sangat ia cintai.


"Kak Azril,sampai detik ini kamu masih bertahta dihatiku. Aku belum bisa menghilangkan rasa cintaku padamu. Kamu masih saja memenuhi ruang dihatiku"


******************************


Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini

__ADS_1


__ADS_2