
Sepulangnya dari menonton Khaira meminta Alby mengantarnya ke rumah Kenzo. Ia telah menghubungi papinya Azril, jika ia akan menginap di rumah daddy Kenzo.
Pakaian Khaira ada banyak di rumah Kenzo, sehingga jika ia akan menginap tidak perlu membawa pakaian lagi.
Sampai di rumah Kenzo, mereka sedang makan malam.
"Selamat malam mami, daddy" ucap Khaira dan mengecup pipi Hanna juga Kenzo.
"Selamat malam , sayang. Sudah lama tak mampir. Pasti karena sibuk pacaran ya" goda Hanna melihat Alby
"Siapa yang pacaran ,mi"
"Alby, ayo makan sekalian. Khaira ambilkan buat Alby" ucap Kenzo. Semua keluarga Khaira memang telah mengenal Alby. Mereka semua mengira Khaira dan Alby pacaran.
Alby duduk dihadapan Kenzo. Khaira mengambilkan nasi dan lauk kepiring buat Alby.
"Kapan nih peresmian hubungannya. Tunangan aja dulu" ucap Hanna
"Mami, Khaira udah bilang kalau Khaira dab mas Alby tidak pacaran. Kami hanya berteman saja, bukan begitu mas"
"Hhhhmmmmm...." jawab Alby.
"Tapi aku menganggap kamu lebih dari sekedar teman Khaira"
"Teman gimana, kalian itu pasangan yang cocok. Jangan malu. Mami dan daddy pasti setuju dengan hubungan kalian..."
"Mami, aku tuh belum ada pikiran buat menikah dalam waktu dekat ini. Siapa tahu mas Alby juga sudah punya pacar"
"Apa kamu sudah punya pacar , Alby" tanya Kenzo
"Belum ada , om"
"Tuh...Alby belum ada pacar. Tunggu apa lagi. Nanti Alby keburu diambil orang"
"Daddy, udah ah jangan ngomong itu lagi. Diegonya mana, kok nggak ikut makan. Apa belum pulang..."
"Tadi udah mami panggil, tapi katanya kurang enak badan"
"Diego sakit, mi. Sakit apa..." ujar Khaira cemas.
"Cuma pusing karena kecapean..."
Mendengar ucapan mami Hanna yang mengatakan Diego sakit, Khaira sudah tampak gelisah. Akhirnya Alby pamit pulang, karena Khaira tampak tak semangat menjawab setiap obrolannya.
"Om, tante...aku pamit pulang"
"Kok cepat banget...." ujar Hanna
__ADS_1
"Khaira pasti udah capek. Biar bisa istirahat"
"Baiklah, hati hati ya" ucap Hanna lagi
Khaira mengantar Alby sampai mobil.
"Khai, aku pulang lagi. Langsung tidur, kamu pasti capek"
"Iya mas. Hati hati...salam buat Yani" ujar Khaira.
"Oke, nanti aku sampaikan"
Yani adalah adik dari Alby, sahabat Khaira ketika sekolah menengah atas. Saat ini merek kuliah di kampus berbeda. Membuat mereka jarang bertemu. Khaira dan Alby akrab sejak ia sering main ke rumah Yani.
Setelah mobil yang dikendarai Alby menghilang dari pandangannya Khaira langsung berlari masuk kerumah.
"Mami, daddy...aku ke kamar Diego dulu" ucap Khaira berlari menuju lantai atas dimana kamar Diego berada.
Sampai di kamar Diego, Khaira langsung membuka pintu kamarnya. Khaira memang sudah biasa begitu. Sejak kecil ia dan Diego sering tidur bareng.
Khaira heran karena ternyata pintu kamar Diego dikunci.
"Tumben pintu kamarnya di kunci, ada apa ya"
Khaira lalu mengetuk pintu kamar Diego, ia memenggil manggil nama Diego. Tapi tak ada sahutan.
Terdengar suara langkah kaki dan suara kunci pintu yang dibuka. Setelah kunci pintu dibuka, Diego langsung berjalan ke tempat tidur tanpa menunggu Khaira masuk.
Khaira langsung masuk dan menuju tempat tidur dimana Diego membaringkan tubuhnya membelakangi pintu.
Khaira naik ke tempat tidur dan memeluk tubuh Diego dari belakang.
"Kamu sakit apa..." bisik Khaira
"Cuma sakit kepala..."
"Udah makan, mbak suapin ya"
"Nggak usah. Aku nggak lapar..."
"Nggak sopan loh membelakangi mbak. Apa mbak ada salah, kamu katakan aja jika ada"
Diego membalikan badannya menghadap Khaira. Ia memandangi wajah Khaira dengan intens.
"Mbak nggak ada salah" lirih Diego
"Kenapa kayaknya kamu beda hari ini. Biasanya kamu nggak pernah mengunci pintu kamar. Kamu juga biasanya senang banget jika mbak menginap. Tapi tadi kenapa kamu lama banget buka pintunya"
__ADS_1
"Aku lagi pusing, mbak"
"Kalau gitu biar mbak pijitin ya" ucap Khaira dan memijat dahi Diego.
"Khaira, bagaimana aku bisa melupakan rasa cintaku padamu jika kamu terus begini. Perhatian kamu ini yang membuat aku makin menyayangi dan mencintai kamu...."
Setelah cukup lama memijat dahi Diego sambil berbaring, Khaira bangun.
"Mbak ambilkan nasi ya. Kamu harus makan, biar nggak tambah parah sakitnya"
Khaira melangkah meninggalkan kamar menuju dapur. Ia mengambil sepiring nasi beserta lauknya.
"Buat siapa itu , sayang. Apa buat Diego"
"Iya, mi. Biar aku suapin. Nanti jika tak makan bisa makin sakit Diegonya"
"Kamu memang mbak yang baik buat Diego dan Atha...."
"Sayang, jangan terlalu dimanjain adik adikmu. Mereka udah dewasa...." ujar Kenzo.
"Nggak apa, daddy. Nggak setiap hari juga disuapin...."
Khaira membawa nasi dan segelas teh hangat ke kamar Diego.
"Diego, duduklah. Biar mbak suapin ya. Kamu sejak kapan sih sakit kepala. Apa sejak dari kafe tadi ya" ucap Khaira sambil menyuapi Diego.
"Ya..." jawab Diego singkat.
"Kok nggak ngomong jika kamu sakit..."
"Emang kalau aku ngomong, kamu mau lakukan apa"
"Jangan mulai lagi Diego, mbak nggak suka dipanggil kamu"
"Mbak mau apa jika aku katakan aku sakit" ucap Diego mengulangi
"Mbak pasti nggak akan pergi nonton sama mas Alby. Mbak akan mengantar kamu pulang, lain kali jika sakit jangan dipaksakan bawa kendaraan. Bahaya..."
"Serius...jika tadi mbak tahu aku sakit , mbak nggak jadi pergi sama Alby"
"Iyalah. Mbak macam apa, adiknya sakit masih juga dibiarkan pulang sendirian"
"Tapi aku nggak mau kamu anggap adik mbak...."
Setelah menyuapi Diego, Khaira lalu menemaninya menonton dikamar sampai akhirnya mereka tertidur.
*****************
__ADS_1
Terima kasih