
Azril mengantar Khaira ke bandara. Sore ini Khaira kembali ke Pekanbaru. Ia tak mengatakan alamat tempat tinggalnya pada Diego. Ia hanya mengatakan kota tempat ia kuliah saat ini.
Khaira tak mau jika tiba tiba Diego muncul di kontrakannya. Ia tak mau mengganggu waktu kuliah Diego.
Khaira memandang jauh ke tempat parkir sebelum ia melangkah masuk.
"Kamu menunggu seseorang" tanya Azril melihat putrinya yang belum juga masuk ke ruang tunggu.
"Pi, apa Diego marah. Kenapa ia tak juga muncul mengantar kepergiaanku"
"Kenapa Diego marah, sayang" ucap Azril menangkup wajah putri tersayangnya.
"Aku nggak beri alamat kontrakanku di Pekanbaru, aku hanya mengatakan kota tempat tinggalku aja..."
"Kenapa kamu tak mau Diego tahu"
"Pi, aku tak mau nanti Diego tiba tiba muncul dan bolos kuliah hanya untuk menemuiku"
"Apa kamu yakin Diego akan melakukan itu"
Khaira mengangguk dengan ragu. Ia malu papi bertanya seolah ragu akan ucapan Khaira.
"Kenapa kamu yakin Diego akan muncul secara tiba tiba jika tahu alamatmu"
"Papi, jangan bertanya begitu seolah papi memojokan aku"
"Kenapa...papi tak merasa memojokan kamu. Apa kamu benar benar yakin akan besarnya cinta Diego, sayang"
"Hhhmmm...."
"Papi juga percaya akan besarnya cinta Diego. Papi bersyukur kamu dicintai oleh pria seperti Diego. Walau usianya jauh lebih muda darimu, tapi papi yakin ia bisa membuat kamu bahagia. Papi sangat merestui hubungan kalian" ucap Azril sambil mengacak rambut Khaira.
"Papi, tapi kenapa ia langsung marah saat aku tak memberikan alamatku"
"Mungkin ia berpikir kamu tak percaya padanya"
"Papi, nanti jika Diego menanyakan alamat tempat tinggalku papi katakan saja, ya...."
"Kenapa berubah pikiran"
"Papiii...."ucap Khaira malu dan memeluk Azril.
"Sekarang masuklah. Maaf papi tak bisa mengantarmu hingga Pekanbaru"
"Nggak apa ,pi. Aku kan sudah dewasa. Masa kemana mana harus papi antar"
__ADS_1
Azril mengecup pipi Khaira dan kembali menangis.
"Kenapa papi menangis lagi...."
"Papi sangat menyayangimu nak. Kamu harus ingat itu. Papi selalu berdoa semoga Tuhan mengampuni dan memaafkan kesalahan yang pernah papi lakukan. Semoga kamu selalu bahagia dan mendapatkan pria yang menyayangimu seperti ia menyayangi dirinya sendiri"
"Papii...aku juga sangat menyayangi papi. Papi adalah papi terhebat..."
"Kamu tak tahu nak. Apa yang pernah papi lakukan pada mommy mu dulu. Penyesalan itu masih menghantui papi hingga saat ini. Itulah sebabnya papi tak pernah mau menikah lagi. Cukup sekali papi berpaling dari cinta mommy kamu. Papi tak akan menduakan mommy kamu lagi"
Azril melambaikan tangannya ketika Khaira masuk ke ruang tunggu meninggalkan Azril sendirian.
Azril pulang setelah memastikan Khaira telah masuk.
Khaira memasuki pesawat yang akan membawanya menuju ke kota Pekanbaru. Ia duduk sambil termenung.
"Kenapa Diego tak mengantarku. Dan juga tak menghubungiku. Katanya sangat mencintaiku, tapi buktinya ia marah hanya karena tak aku katakan alamat kontrakanku...."
Khaira membuka ponselnya dan melihat galeri foto. Ia melihat foto foto mereka berdua. Tanpa ia sadari dari sudut matanya keluar air. Dengan mode pesawat ia menghidupkan ponselnya.
Khaira kaget ketika seseorang memegang bahunya. Ia memandang kesamping tempat orang itu duduk.
Khaira langsung memukul bahu pria itu secara bertubi tubi sambil menangis.
"Jahat banget , sih...."
"Loh kok jahat. Aku udah mengantar kamu dikatakan jahat juga"
"Kenapa tak menghubungiku...."
"Aku mau buat kejutan...." ujar Diego tersenyum.
Khaira melepaskan pelukan Diego dan memandangi wajah kekasihnya itu dengan cemberut.
"Jangan marah lagi, nanti tambah cakep"
"Aku pikir kamu marah karena aku tak mau katakan alamat kontrakanku"
"Aku tak mungkin marah hanya karena itu. Karena aku tahu alasan kamu itu juga buat kebaikanku"
"Lalu kenapa masih nekat ikut aku ke Pekanbaru sekarang "
"Nggak boleh nih, nanti aku langsung kembali aja kalau begitu"
"Ngambekan..."
__ADS_1
"Bukannya kamu yang ngambekan..." ujar Diego mencubit hidung Khaira.
Khaira bersandar di bahu Diego sepanjang perjalanan.
"Sayang, kamu tahu alasan aku ikut kamu ke Pekanbaru..."
"Kenapa...."
"Aku akan menikah denganmu di Pekanbaru. Papi dan daddy sedang mengurus surat surat buat kita menikah di Pekanbaru. Setelah surat selesai papi dan daddy menyusul"
"Jadi papi tahu kamu ikut denganku ..."
"Tentu saja, yang beli tiket buat akukan papi"
"Papi jahat...ternyata ia juga ikutan membohongi aku"
"Tapi kamu sukakan kejutan ini"
"Bagaimana dengan kuliahmu"
"Aku udah ambil cuti enam bulan ini. Aku akan menemani kamu selama enam bulan mendatang, sampai kamu akan wisuda...."
"Jangan bercanda, pernikahan bukanlah suatu candaan..."
"Aku nggak becanda, Khaira"
"Bagaimana dengan mami..."
"Yang jelas kita menikah aja. Nanti mami dan oma pasti akan merestui hubungan kita jika kita telah menikah. Tak mungkin mereka memisahkan kita"
"Diego, aku merasa berdosa karena membohongi mami. Kenapa kita harus menikah secara diam diam begini."
"Udahlah , semua ini juga rencana papi dan daddy. Bukankah mereka juga orang tua kita. Jadi kita tak salah, bukan...."
"Apa itu tak kecepatan buat kamu. Kamu baru dua puluh tahun...."
"Ini justru kado terindah selama aku ulang tahun. Karena hari pernikahan kita nanti bertepatan dengan tanggal ulang tahunku"
Diego mengecup dahi Khaira dan kembali membawa kepala Khaira bersandar di bahunya.
"Apa ini memang jalan terbaik. Aku takut nanti pernikahanku dengan Diego harus terpisah karena mami dan oma yang tak merestui. Jika kami masih pacaran mungkin tak sesakit saat sudah menikah jika kami dipaksa harus berpisah"
****************
Terima kasih
__ADS_1