CINTA SUCI ALESHA

CINTA SUCI ALESHA
Bab Sembilan puluh Lima


__ADS_3

Setelah makan malam, Alesha memandikan Khaira dan menidurkannya. Lalu Alesha juga mandi dan mengganti pakaiannya.


Setelah Alesha selesai mandi ia duduk di balkon hotel. Azril yang baru selesai mandi, menyusul Alesha yang sedang duduk sambil memandangi langit.


"Sha...ada yang ingin kak Azril katakan, tapi kakak harap kamu jangan cemas dulu"


"Bicara apa kak...kenapa aku harus cemas"


Azril duduk disebelah Alesha dan merapatkan tubuhnya, ia menggenggam tangan wanita yang sangat dicintainya itu.


"Sha, besok kamu ambil cuti ya. Kita ke Jakarta untuk periksa kesehatanmu"


"Buat apa kak, kan tadi kakak udah dengar sendiri jika aku nggak apa apa. Cuma kecapean aja"


"Kakak takut ada penyakit serius yang sedang kamu idap, Sha. Sebelum terlambat , kita periksakan secara menyeluruh ya"


"Kak, sebenarnya ada apa. Apa yang kak Rangga katakan pada kakak"ucap Alesha mulai tampak cemas.


"Sha, ini baru kecurigaan. Perlu pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan penyakitnya kamu"


"Tapi penyakit apa yang mungkin aku idap kak"


"Kak Rangga curiga kamu mengidap kanker darah, Sha..."


Alesha yang kaget langsung melepaskan genggaman tangan Azril dan mengusap wajahnya dengan kasar. Alesha tak bisa menahan air matanya.


"Kak, ini pasti salahkan. Aku tak mungkin mengidap penyakit itu. Bagaimana dengan Khaira jika aku sakit ...."


"Sha, itu belum pasti. Makanya besok kamu ambil cuti dan kita coba periksa ke dokter yang cukup bagus untuk memastikan penyakit apa yang mungkin kamu idap. Semoga saja itu semua tidak terbukti"


"Bagaimana jika itu benar. Kak, aku belum mau meninggal. Khaira masih kecil, ia masih butuh aku kak..."


Azril mendekat dan membawa Alesha kedalam dekapannya. Ia membiarkan Alesha menangis didadanya.


Setelah ia mendengar tangisan Alesha yang sudah mulai hilang, barulah Azril melanjutkan ucapannya.


"Kamu nggak akan meninggal , Sha. Kakak akan mengusahakan pengobatan buatmu. Sampai kamu sembuh, jika memang kamu sakit. Tapi kakak berharap semua kecurigaan Rangga itu tidak benar..."


"Kak, aku takut jika ternyata itu benar..."


"Sha, jika itu benar...kita akan menghadapi bersama. Ada kakak yang akan menemani kamu. Kakak akan mengusahakan segala cara buat kesembuhanmu. Sha, kakak tahu ini bukan waktu yang tepat buat mengatakannya, tapi kakak tak bisa menundanya lagi. Sha, menikahlah dengan kakak. Biar kakak bisa menemani kamu kemanapun kamu pergi dan berada. Semua masalah akan menjadi ringan jika dihadapi bersama"


"Aku nggak mau kakak menikah denganku hanya karena rasa kasihan"


"Sha, kakak mencintaimu bukan kasihan"


"Bagaimana jika benar aku mengidap penyakit kanker darah. Apa kakak masih mau menikah denganku, apa nanti kakak nggak menyesal menikah dengan wanita penyakitan seperti aku"

__ADS_1


"Sha, kakak menikahimu karena kakak mencintai kamu. Tak peduli kamu sakit apa, sepanjang apa umurmu, atau apapun itu. Kakak akan menerima semua yang ada pada dirimu, baik dan jeleknya"


"Tapi aku yang tak bisa , kak. Mana mungkin aku menikah dengan kakak jika aku tahu aku ini hanyalah wanita penyakitan. Apa aku tidak terlalu egois jika aku menerima kakak, dan membawa kakak dlam penderitaan yang sedang aku jalani"


"Sha, kakak akan sangat senang jika kamu mau menerima kakak. Maut itu bukan kita yang menentukan. Dan juga bukan penyakit yang akan membunuh kita, tapi ajal Sha. Nggak ada yang tahu siapa yang akan meninggal terlebih dahulu, kamu atau kakak. Karena semua itu rahasia Tuhan..."


"Kak...tapi..."


"Kamu masih mencintai kak Azrilkan , Sha"


Alesha menunduk, ia tak langsung menjawab pertanyaan Azril.


Azril lalu memegang dagu Alesha , mengangkat wajahnya agar memandangi Azril. Ia menangkup kedua pipi Alesha.


"Sha, lihat mata kakak. Kamu jawab pertanyaan kakak. Masih ada cinta itu buat kakak bukan..."


Alesha kembali menunduk, Azril tahu Alesha masih mencintainya. Azril lalu mengecup kening Alesha dan membawanya kedalam pelukan.


"Kamu nggak bisa bohong , Sha. Kamu ambil cuti, kita sekalian menikah ya"


"Apa itu nggak terlalu cepat kak..."


"Nggak , Sha. Kakak sudah menunggu lama buat hari ini. Kita akan membesarkan Khaira bersama, agar ia bisa tumbuh dengan keluarga yang utuh"


"Aku takut , kak"


"Lesha...percayalah pada kak Azril. Kakak akan berusaha semampu kakak buat membahagiakan kamu. Tak akan pernah kakak menyakitimu. Kakak janji , Sha. Kamu mau ya Sha, jadi istri kak Azril lagi"


Azril tahu jika Alesha masih ragu dengannya. Ia bisa memahami itu. Azril lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Alesha.


Melihat Alesha yang bengong , Azril lalu makin memperdalam ciumanya walau Alesha tak membalasnya.


Ia ******* bibir Alesha. Alesha yang awalnya hanya diam, akhirnya mulai membalas lum*tan Azril. Mereka saling berpagutan. Azril memegang tengkuk Alesha untuk makin memperdalam ciuman mereka.


"Papi...mommy, lagi ngapain"ucap Khaira yang sudah ada dihadapan Azril dan Alesha.


Azril dan Alesha langsung melepaskan pagutan bibir mereka. Dan menghapus saliva dibibir mereka. Alesha langsung menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Sayang, kamu terbangun ya" ucap Azril dan membawa Khaira diatas pangkuannya.


"Khaira haus, papi"


"Tunggu sini, papi ambilkan minum"


Azril meletakan Khaira disamping Alesha. Ia llau mengambil minum ke dalam kamar dan membawanya kehadapan Khaira.


"Ini sayang, minumnya..."

__ADS_1


Khaira lalu meminum air yang diberikan Azril. Setalah itu meletakan diatas meja.


"Mommy tadi ngapain dengan papi"


Mendengar ucapan Khaira kembali Alesha malu, wajahnya langsung memerah. Azril yang melihatnya tersenyum.


"Papi gigit bibir mommy..."tanya Khaira lagi


"Bukan sayang, tadi bibir mommy sakit. Jadi papi meniupnya" ucap Azril


"Benar mommy, sakit kenapa"


"Di gigit serangga yang ganas" ucap Alesha


Azril langsung melototkan matanya mendengar jawaban Alesha. Melihat Azril, Alesha jadi tersenyum.


"Sekarang kita tidur lagi ya. Mommy udah ngantuk..."


"Khaira tidur dengan papi apa mommy" tanya Azril


"Dua dua papi. Sama mommy dan papi..."ucapnya polos


"Mana bisa sayang, kasurnya nggak muat buat bertiga. Kan ada dua kasur, jadi Khaira harus memilih, tidur dengan mommy atau papi"


"Khaira mau dua duanya" ucapnya mulai menangis


"Loh anak mommy kok cengeng..."


"Nggak apa Sha, sempitan sebentar. Nanti setelah Khaira tidur, kakak pindah ke kasur yang satunya"


"Kak...nanti Khaira jadi kebiasaan minta tidur bareng terus"


"Kita akan menikah secepatnya agar bisa tidur bareng terus sampai pagi..."


Alesha hanya tersenyum membalas ucapan Azril. Azril menggendong Khaira dan meletakkan diatas kasur. Setelah itu ia membaringkan tubuhnya disebelah kiri Khaira. Alesha berdiri ragu buat merebahkan dirinya.


"Tidurlah , Sha. Bukan hanya kali ini kamu tidur bareng kakak. Dulu aja kamu nggak akan bisa tidur kalau belum kak Azril peluk"


"Kakak ih...itukan waktu aku kecil"


"Siapa bilang waktu kecil, sampai kamu kuliah masih ada sesekali tidur bareng"


"Udah ah, jangan diingetin" ucap Alesha lalu tidur disebelah kanan Khaira. Karena matanya yang sudah mengantuk, Alesha dengan cepat telah memejamkan matanya.


Azril melihat Alesha yang sudah terlelap lalu menyelimuti tubuh putrinya dan wanita yang dicintainya itu. Ia lalu mengecup kening Khaira dan Lesha. Setelah itu membaringkan tubuhnya di kasur yang lain.


"Alesha...aku ingin kita setiap hari bisa bersama seperti ini. Ada kamu dan Khaira menemani hari hariku. Aku pasti akan merasa pria yang paling beruntung dan bahagia. Semoga kamu tidak berubah pikiran untuk mau menikah kembali denganku , Lesha...aku sangat mencintaimu"

__ADS_1


********************


Terima kasih


__ADS_2