
Azril bangun dan melihat Alesha masih terlelap dalam balutan selimutnya. Azril masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
"Kamu masih merasa capek ya jika harus melayaniku. Sebenarnya aku kasihan melihatmu, tapi maaf sayang ...aku tak bisa menahan hasratku untuk tidak bercinta denganmu" gumam Azril sambil mengusap pipi Alesha.
Alesha mencoba membuka matanya karena merasakan kecupan dipipinya. Ia mencoba menyesuaikan cahaya dari matanya.
"Morning kiss...."ujar Azril begitu ia melihat mata Alesha terbuka. Ia mengecup bibir Alesha.
Alesha langsung menutup mulutnya dan bangun dari tempat tidur, lalu berlari ke kamar mandi.
Azril yang kaget melihat Alesha berlari ke kamar mandi , menjadi cemas karena mendengar suara Alesha yang seperti muntah.
Azril lalu berjalan masuk ke kamar mandi , ia melihat Alesha yang menunduk di wastafel kamar mandi sambil muntah.
Azril mendekati Alesha dan memijat tengkuk Alesha pelan. Setelah ia melihat Alesha agak tenang, ia lalu membersihkan mulut Alesha.
Azril merangkul bahu Alesha dan membawanya duduk kembali ditepi ranjang. Azril berjongkok didepan Alesha dan menggenggam tangannya.
"Sayang, apa kamu masih sering mual muntah begini"
"Udah tiga hari ini kak..."
"Pusing..."
"Iya kak...."
"Kenapa kamu nggak ngomong, kita cek ke dokter ya..."
"Nggak usah kak, cuma pagi aja kok mual dan pusingnya..."
"Nggak ada bantahan. Nanti jam sepuluh kakak jemput ya. Kita ke dokter. Jangan disepelekan penyakitmu ini..."
"Tapi aku udah bosan kak harus minum obat terus. Nanti jika aku ada gejala lain, ditambah lagi obatnya"
"Lesha, kakak mohon ...kamu harus tetap semangat dan kuat. Demi Khaira ..."
"Kak, bukankah hidup dan mati seseorang bukn ditentukan karena suatu penyakit. Semua sudah ditakdirkan Tuhan. Wlaaupun aku minum obat banyak dan melakukan semua usaha pengobatan, jika Tuhan ingin menjemputmu, aku akan tetap meninggal. Dan walaupun aku tifak melakukan apa apa jika aku ditaldirkan panjang umur, aku akan tetap hidup"
"Pemikiran apa itu , Sha. Kita diwajibkan juga berusaha, tidak boleh menyerah. Walaupun jodoh , maut dan rezeki Tuhan yang menentukan. Kamu akan tetap minum obat dan kita akan tetap berusaha dengan pengobatan yang lain..."
" Iya, kak..."
__ADS_1
"Ayo, temani kakak sarapan" ucap Azril membawa Alesha berdiri.
Setelah sarapan pagi Azril berangkat kerja bersama Khaira. Ia akan mengantar Khaira kesekolah sebelum ke kantor.
"Selamat pagi mommy, nenek. Khaira pamit ke sekolah dulu ya"
"Selamat pagi sayang, rajin belajar ya. Jangan nakal" ucap Alesha.
"Hati hati ya cucu nenek..."
"Iya nek..." ucap Khaira dan mengecup pipi mommy dan neneknya.
"Sayang, kakak ke kantor dulu. Ingat jam sepuluh kakak jemput. Kamu siap siap ya"
"Iya kak..."
Azril mengecup dahi Alesha dan menyalami tangan bunda. Azril meninggalkan rumah mengendarai mobilnya bersama Khaira.
Sampai di kantor , Azril meminta berkas yang harus ia tanda tangani segera dengan Farrel. Ia menyerahkan urusan kantor hari ini pada Farrel.
Jam setengah sepuluh, Azril meninggalkan kantor menuju rumahnya ingin menjemput Alesha buat ke rumah sakit.
Sampai di rumah ia melihat bunda sedang merawat Bunga yang ada di taman rumahnya.
"Bunda, mana Alesha"
"Alesha sudah tiga hari ini setiap pagi merasa pusing dan mual. Sampai muntah , bun..."
"Apa Alesha merasakan itu hanya di pagi hari"
"Iya bun..."
"Semoga ini berita baik..."
"Maksud bunda apa..."
"Bunda berharap itu bukan gejala penyakit Alesha yang makin parah. Tapi itu karena ia sedang ngidam"
"Apa...jadi ibu menduga Alesha sedang hamil"
"Semoga nak. Karena biasanya seorang wanita yang sedang hamil muda juga merasakan hal yang sama di pagi hari"
"Aku harap begitu bunda..." ujar Azril memeluk bundanya. Setelah itu ia berlari masuk kamar dan melihat Alesha yang telah siap berpakaian.
__ADS_1
Azril memeluk tubuh istrinya dan mengecup pipinya. Alesha menjadi haran melihat Azril yang tampak sangat bahagia.
"Kenapa kak, geli ah...senang banget keliatannya" ujar Alesha menjauhkan kepala Azril yang tadi mengecup lehernya.
"Ya, aku senang mendengar perkataan bunda"
"Emang bunda ngomong apa..."
"Rahasia...sekarang ayo kita segera ke rumah sakit. Kakak harap perkataan bunda benar"
"Jadi penasaran deh bunda ngomong apa..."
Azril memeluk pingang Alesha sambil berjalan keluar. Ia melihat bunda yang sedang duduk di kursi taman.
"Bunda, aku pamit dulu ya..."
"Iya nak hati hati...."
"Bunda tadi ngomong apa sih. Kenapa kak Azril senang banget..."
"Bunda tidak ada ngomong apa apa" ujar bunda . Bunda memang lupa ucapannya dengan Azril tadi.
"Oh...bunda hati hati ya. Jangan terlalu capek. Istirahat lagi. Aku mungkin langsung ke kantor kak Azril"
"Iya nak, kamu juga hati hati"
Alesha masuk ke dalam mobil dan langsung menatap Azril.
"Kenapa mandang kakak kayak gitu"
"Kakak bohong, bunda tak ada ngomong apa apa"
"Bunda lupa mungkin..."
"Sebenarnya apa yang buat kakak senang begini"
"Karena kakak memiliki istri yang sangat cantik begini" ucap Azril mencubit hidung Alesha
Alesha tampak cemberut mendengar jawaban Azril yang tidak sesuai dengan pertanyaannya. Azril menjalankan mobilnya sambil tersenyum, ia tahu Alesha pasti kesal karena tak mendapatkan jawaban sesuai yang ia inginkan.
"Kakak berharap semua perkataan bunda benar. Kamu saat ini sedang mengandung buah cinta kita. Kakak tak ingin mengatakan ini dulu, takut nanti hasilnya ternyata tidak. Kakak takut kamu juga nanti kecewa."
__ADS_1
***************
Terima kasih