
Dokter keluar dari ruangan IGD. Kenzo dan Hanna langsung menghampirinya.
"Bagaimana anak saya, dok. Ia sakit apa" ucap Hanna
"Anak ibu saat ini keadaannya sudah stabil. Ia hanya dehidrasi. Ia kekurangan asupan cairan yang menyebabkan tubuhnya lemah hingga ia pingsan. Saya harap ke depannya perhatikan pola minum dan makannya"
"Baik ,dok. Apa yang harus dilakukan lagi ,dok.."
"Bapak dan ibu bisa mengurus administrasi agar ia bisa pindah ke ruang rawat. Saya permisi dulu"
"Baik dok. Terima kasih"
"Sama sama...."
Dokter itu pergi meninggalkan Kenzo dan Hanna. Setelah itu Kenzo pamit untuk mengurus administrasi agar Diego dapat segera dipindahkan.
Setelah Diego pindah k kamar rawat barulah Kenzo pamit.
"Aku pamit dulu , menjemput Khaira. Aku yakin ia ada di sana. Temanku pernah melihat Azril di aparteemen itu"
"Iya, kak. Semoga kakak bisa membawa Khaira kembali"
"Kamu jangan kuatir. Diego dan Khaira pasti akan selalu bersama. Ini hanyalah sedikit ujian dari rumah tangga mereka"
"Iya kak. Aku tak tau apa yang akan Diego lakukan jika benar Khaira ingin berpisah dengannya"
"Khaira itu wanita baik. Ia tak mungkin minta pisah hanya karena ini"
"Aku berharap memang begitu, kak"
Kenzo meninggalkan Hanna di kamar rawat untuk menjaga Diego yang belum juga sadarkan diri.
Kenzo mendatangi apartemen dimana dulu ia pernah tinggal bersama Alesha. Kenzo mengetuk dan menekan bel beberapa kali tapi tak ada sahutan.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Kenzo kembali.
"Ya Tuhan, ternyata Azril dan Khaira juga tidak ada di apartemen ini. Kemana lagi aku mencarinya"
Kenzo menemui satpam dan bertanya tentang Azril. Satpam mengatakan jika tadi pagi Azril sudah meninggalkan apartemen.
"Kemana lagi Azril membawa Khaira, apa ia tau aku akan ke sini. Kenapa aku tak terpikir dari kemarin kemarin jika mereka ada di sini"
Kenzo meninggalkan aparteemen menuju ke rumah sakit. Ia mengirim pesan buat Azril jika Diego saat ini sedang dirawat di rumah sakit.
"Semoga saja setelah membaca pesan dariku, kali ini Azril akan luluh dan membawa Khaira kembali"
Azril dan Khaira yang baru sampai di rumah langsung menuju kamarnya. Ia berharap Diego menunggu dalam kamar.
__ADS_1
Ketika ia masuk, Khaira tak mendapati siapa siapa. Ia menanyakan keberadaan Diego pada bibi.
"Biasanya setiap hari mas Diego akan kesini. Cuma tidur aja yang nggak mbak. Mas Diego bilang, jika ia tidur sendiri di kamar akan membuat ia makin sedih dan merindukan mbak"
"Jadi semenjak aku pergi mas Diego nginapa di rumah orang tuanya, bi"
"Iya, mbak. Tapi bibi kasihan lihat mas Diego. Kemarin ia tampak sangat pucat. Badannya agak kurusan. Mungkin kangen banget dengan mbak Khaira"
"Apa Diego nggak makan kalau ke sini ,bi"
"Sering bibi tawaran mbak, tapi selalu jawabannya nggak ada selera makan. Atau nggak lapar. Kasihan banget. Jangan pergi pergi lagi mbak..."
"Iya, bi. Nanti aku hubungi Diego..."
Azril masuk ke ruang kerjanya. Ia mengaktifkan ponselnya. Azril membaca pesan dari Kenzo yang mengatakan jika Diego lagi di rawat.
Azril menghampiri Khaira yang sedang duduk termenung di tepi ranjangnya. Ia tampak memegang ponselnya. Mungkin Khaira masih ragu untuk menghubungi Diego.
Azril duduk disamping Khaira dan merangkul bahunya.
"Kenapa hanya dipandangi ponselnya. Kmu mau menghubungi siapa"
"Papi...aku mau hubungi Diego. Tapi aku takut ia marah karena aku pergi tanpa pesan"
"Diego pasti senang kamu hubungi...."
"Papi yakin...."
"Aapaa...papi tau dari mana"
"Papi dapat pesan dari daddy"
"Papi...aku mau ke tempat Diego. Apa ia di rumah daddy"
"Diego saat ini sedang rawat di rumah sakit"
"Papii...apa sakitnya Diego. Kenapa ia di rawat, pi" ujar Khaira menangis dipelukan papinya.
"Papi juga belum tau. Sekarang kita ke rumah sakit ya. Kamu ganti baju dulu. Papi juga mau mandi"
"Papi...jangan mandi. Nanti kelamaan"
"Baiklah, papi ganti baju dulu ya"
"Cepat papi..."
"Iya ,sayang"
__ADS_1
Kenzo berjalan perlahan di lorong rumah sakit menuju ruang rawat Diego. Ketika akan sampai, ia melihat mama yang masuk ke kamar Diego.
Pintu kamar yang tidak tertutup rapat membuat mama masuk tanpa mengetuknya. Mama melihat Hanna yang menangis sambil memegang tangan Diego.
Diego baru sadarkan diri ,tapi ia hanya diam saja.
"Sayang, bicaralah nak. Apa yang sakit. Apa yang kamu rasakan. Jangan menyiksa dirimu seperti ini. Daddy saat ini sedang menjemput Khaira. Kamu harus makan ya. Kamu nggak mau kan jika Khaira kuatir melihat keadaanmu seperti ini"
Diego tetap diam, hanya air mata yang keluar dari sudut matanya. Mama yang berdiri di belakang Hanna hanya diam mendengar.
Hanna tak menyadari kedatangan mamanya. Ia terlalu fokus dengan Diego sehingga tak menyadari mama masuk tadi.
Kenzo masuk dengan langkah pelan. Ia tak tau harus berkata apa saat Hanna atau Diego bertanya tentang Khaira.
Diego memandangi omanya dengan mata yang menyiratkan kebencian. Oma jadi tertunduk.
Hanna melihat ke arah pandangan Diego. Ia membalikan tubuhnya dan melihat mama.
"Mama...dari mana mama tau Diego di rawat"
"Aku tadi menghubungi rumah dan bibi mengatakan Diego di rawat"
"Ma...sekarang mama udah puas melihat Diego terbaring sakit" ucap Kenzo mendekati mamanya.
"Kenapa kamu menyalahkan mama"
"Apa mama belum sadar juga, ini semua karena ucapan mama pada Khaira sehingga ia pergi meninggalkan Diego"
"Mama tak pernah mengira jadi begini. Mama hanya bertanya. Bukan meminta Khaira meninggalkan Diego"
"Mama...apa mama belum juga mengerti atas apa yang telah mama lakukan"
"Mama, kakak...udah, jangan bertengkar. Diego baru sadar" ucap Hanna.
Kenzo menarik nafasnya kasar, ia berusaha menahan amarahnya.
"Daddy...mana Khaira" lirih Diego
Kenzo mendekati Diego. Ia memegang tangan puteranya.
"Khaira nanti akan datang. Kamu makan dulu ya...."
"Daddy bohongkan...daddy nggak ketemu Khaira"
"Diego...daddy nggak bohong. Khaira pasti nanti akan datang"
"Maafkan daddy, nak. Daddy harus berbohong padamu. Daddy saat ini sedang berusaha membawa Khaira kembali. Daddy akan lakukan apapun itu untuk mencari keberadaan istrimu"
__ADS_1
****************
Terima kasih