
Di salah satu apartemen milik Azril yang dulu pernah ia tempati ketika bujang, Khaira sedang termenung memandangi langit dari balkon kamarnya.
Azril memang membawa Khaira ke apartemen tempat ia pernah tinggal bersama Alesha saat pertama menikah dulu.
Azril masuk ke kamar dimana dulu Alesha pernah tinggal. Kamar yang menjadi saksi saat Azril selalu menyakiti hatinya.
"Alesha...sayang, di kamar ini dulu kamu selalu menangis saat aku menyakiti hatimu. Kamar ini yang menjadi saksi kebodohanku karena membuatmu menangis dan terluka"
Azril melihat Khaira duduk di balkon, ia menghampiri putrinya. Duduk disamping Khaira .
"Papi..."
"Kenapa kamu belum tidur, sayang"
"Papi...aku kangen Diego" ucap Khaira dan langsung memeluk papinya.
"Apa kita pulang aja lagi"
"Apa Diego juga rindu aku, pi"
"Tentu saja, apa lagi saat ini kamu sedang hamil. Pasti Diego sangat kuatir"
"Papi...dua hari lagi kita kembali ya"
"Terserah kamu aja. Jika perasaanmu sudah baik, kita kembali"
"Papi...aku merasa bersalah karena pergi tanpa pamit dengan Diego. Padahal itukan bukan salah Diego."
"Papi udah tanyakan padamu sebelum pergikan, apa kamu yakin akan pergi. Sekarangpun jika kamu minta kita kembali, papi akan bawa kamu kembali pulang"
"Papi...apa aku hubungi Diego aja ya..."
"Terserah kamu , sayang. Papi hanya mengikuti saja. Tapi ingat kata kata papi, jika kamu mau ke rumah Daddy tanyakan dulu apa ada oma. Jika ada oma, jangan pernah menginjakan kakimu di sana. Papi nggak mau melihat kamu menangis lagi. Dan jika papi melihat kamu menangis, papi akan ikut campur. Papi akan pisahkan kamu dan Diego selamanya"
"Papi... aku tak akan ke rumah daddy lagi jika ada oma. Seharusnya tiga hari lagi pesta syukuran kehamilanku. Semua batal..." gumam Khaira sambil mengelus perutnya.
"Papi akan tetap adakan syukuran itu, jangan kuatir sayang"
"Papi, aku sayang papi"
Khaira memeluk erat papinya, ia tak ingin bertanya tentang masa lalu apa yang membuat oma begitu membencinya. Ia tau itu pasti ada hubungan dengan papi dan mommynya.
__ADS_1
"Papi, aku tau kamu begitu menyayangiku. Aku sebenarnya ingin tau dan bertanya pada papi tentang apa yang oma katakan. Tapi aku takut itu akan membuat papi sedih. Aku tak ingin melihat papi sedih. Sejak kepergian mommy, papi selalu tampak murung. Senyummu hanya terlihat padaku dan Atha, dan aku tau itu terpaksa papi lakukan agar aku tidak ikutan sedih. Apapun itu yang pernah papi lakukan dimasa lalu, biarlah terkubur bersama mommy. Aku tak perlu menghukum papi dengan bertanya tentang itu. Papi pasti sudah sangat merasa bersalah, sejak mommy meninggalkan papi untuk selamanya"
"Kamu tidur lagi ,ya. Papi mau selesaikan kerjaan papi dulu. Ini udah malam, angin malam tidak baik buat kesehatan kamu "
"Papi juga jangan bekerja hingga larut malam. Aku tak mau papi sakit...."
"Iya, nak...."
Azril berjalan meninggalkan kamar itu, sedangkan Khaira membaringkan tubuhnya di ranjang.
.........................
Hanna heran dan kuatir, sudah siang hari Diego belum juga keluar dari kamarnya.
Hanna mengetuk pintu kamar Diego. Tapi udah beberapa kali mengetuk pintu tak ada juga sahutan. Ia lalu mengedor pintu kamar Diego, tapi tak ada juga terdengar suara Diego.
Ia semakin kuatir. Hanna lalu meminta bantuan supirnya untuk mendobrak pintu.
Supir dengan tukang kebun sudah mencoba mendobrak tapi tak juga berhasil. Pintu kamar terlalu kokoh buat dirobohkan.
Hanna meminta supirnya buat mencari tukang bangunan yang bisa membongkar kunci pintu kamar Diego.
Kebetulan tak jauh dari tempat tinggalnya ada pembangunan ruko. Supir itu lalu minta bantuan salah satu tukang bangunan itu.
"Diego....."teriak Hanna. Membuat supir dan tukang bangunan itu ikutan masuk.
"Ada apa ,bu..."tanya supir
"Tolong pak, bawa Diego..."
Diego yang pingsan di lantai kamarnya tampak sudah sangat pucat wajahnya.
Supir dibantu tukang bangunan menggendong Diego, membawanya masuk ke mobil.
Hanna membeti uang buat tukang bangunan itu sebelum ia masuk ke mobil.
"Terima kasih , pak" ucap Hanna
"Sama sama ,bu"
Setelah itu , Hanna meminta supir untuk mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Hanna meletakan kepala Diego dipahanya.
__ADS_1
Ia mebfhubungi Kenzo , mengatakan jika ia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit membawa Diego.
"Sayang, sadar nak. Kamu kenapa...mami sudah katakan, makan...jangan menyiksa dirimu begini. Mami udah janji akan membawa Khaira kembali. Kenapa kamu tidak percaya"
Hanna mengguncang tubuh Diego pelan, berharap puteranya sadar.
Sampai di rumah sakit, Diego langsung dilarikan ke ruang IGD.
Hanna menunggu dokter memeriksa dengan gelisah. Tak lama tampak Kenzo datang mendekatinya.
"Hanna...Diego kenapa"
"Aku mendapatinya pingsan dikamar kak. Aku takut terjadi sesuatu dengan Diego"
"Kamu yang sabar, Diego pasti kuat. Ia tak akan apa apa"
"Kak, aku mohon temukan Khaira secepatnya. Minta bantuan teman teman kakak. Aku tak peduli seberapa biayanya. Khaira harus secepatnya kembali. Jika sudah tau kemana Azril membawanya, biarlah aku yang bersujud di kaki Azril dan Khaira, meminta maaf atas kata kata oma yang menyakiti Khaira"
"Iya, Hanna. Aku sudah tau keberadan Khaira. Nanti aku menjemputnya. Sekarang kamu tenang ya"
"Kakak nggak bohongkan..."
"Nggak...aku yakin Azril membawanya ke sana"
"Kemana kak...jauhkah"
"Nggak...masih di kota ini"
"Jemput sekarang kak, pergilah..."
"Aku tunggu kabar dari dokter dulu. Aku ingin tau keadaan Diego"
"Baiklah, setelah itu kakak jemput Khaira ya. Jika ia tak mau kembali, hubungi aku. Biar aku yang memohon padanya"
"Khaira pasti mau kembali. Aku mengenal putriku itu. Ia bukanlah seorang pendendam. Kemarin ia hanya butuh waktu sendiri..."
Kenzo memeluk Hanna ,membawa kedalam dekapannya. Ia memang tak mencintai Hanna, tapi ia sangat menyayanginya.
"Aku akan membawa Khaira kembali. Aku harap Azril dan Khaira memang berada di apartemen itu. Hanya tempat itu yang belum aku datangi"
**********************
__ADS_1
Terima kasih