
Setelah satu minggu di rawat Khaira akhirnya diizinkan kembali ke rumah. Ia memilih kembali ke rumah Azril, papinya.
Kenzo dan Diego telah mencoba membujuk Khaira agar tinggal di rumah mereka agar ia tak kesepian karena ada Hanna.
"Aku mau di rumah papi aja" lirih Khaira ketika Diego merayunya.
"Khaira , aku pastikan mami tak marah lagi denganmu" ucap Diego sambil menggenggam tangannya.
"Papii...aku mau ke rumah aja"
"Iya , sayang. Nanti biar papi yang temani jika Diego pergi kuliah. Papi akan kerja hingga siang hari aja" ucap Azril sambil mengusap rambut putrinya.
"Kamu dengarkan yang, papi bisa temani aku. Aku tak akan kesepian"
"Sayang, papi itu pria. Tak tau apa yang dibutuhkan dan harus dilakukan wanita hamil. Kalau mami pasti mengerti" bujuk Diego lagi.
"Aku tak butuh apa apa"
"Diego, biarlah Khaira di rumah papi aja. Nanti setelah rumah kamu dan Khaira selesai , baru kalian pindah" ucap Kenzo.
"Rumah kami...." tanya Diego
"Daddy janji memberi rumah jika kalian menikah. Apa kamu lupa. Saat ini rumah masih tahap penyelesaian. Setelah siap ditempati, kalian bisa pindah ke sana"
"Terima kasih, daddy. Tapi aku ada rumah juga pemberian papi. Aku tempati rumah dari papi aja jika nanti telah siap buat hidup mandiri"
"Sayang, itu janji daddy..."
"Aku tak mau ada kesalah pahaman lagi, dad. Berikan aja buat mami" gumam Khaira.
Hanna yang akan masuk ke dalam ruang rawat Khaira mengurungkan niatnya. Tadi Hanna ikut dengan Kenzo ingin menjemput Khaira, tapi ia mampir dulu ke dokter langganannya meminta obat. Tensinya sedikit tinggi sehingga kepalanya sering pusing.
"Apa kamu masih marah dengan mami, Khaira. Kamu pasti sangat terluka atas sikap mami yang mengusirmu dan tak membela kamu saat oma memojokan kamu"
Azril meminta Kenzo dan Diego buat bicara, membawanya duduk di sofa.
"Kenzo, Diego...saat ini aku harap kalian ikuti saja maunya Khaira. Kalian ingatkan jika ia tak boleh stres. Itu akan mempengaruhi kandungannya" ucap Azril pelan takut Khaira mendengar.
"Baiklah, pi. Aku mengerti...." ucap Diego akhirnya
"Aku berharap suatu saat Khaira mau tinggal bersamaku atau di rumah pemberianku" gumam Kenzo
__ADS_1
"Kenzo, jika oma belum merestui dan menerima Khaira...aku sebagai papinya juga keberatan Khaira tinggal bersamamu"
"Tapi mama tidak tinggal bersama kami" ucap Kenzo
"Walaupun begitu, aku tak mau mamamu menyakiti Khaira lagi. Aku takut nanti aku tak bisa mengontrol emosiku jika Khaira terus disakiti."
"Maafkan mama ,Ril..."
"Papi, aku tak akan biarkan oma menyakiti Khaira lagi"
"Papi percaya. Tapi sebaiknya kamu dan Khaira tinggal di rumah sendiri. Aku bisa terima jika mamamu menghinaku, Kenzo. Tapi aku tak akan tinggal diam jika anak anakku yang diusik."
"Aku mengerti, Azril. Aku akan bicara lagi dengan mama. Tapi aku mohon padamu bujuklah Khaira agar mau menerima hadiah rumah dariku. Itu aku buat atas nama Khaira"
"Akan aku lakukan, tapi tunggu keadaan kandungannya telah kuat"
Hanna masih menunggu di luar ruangan. Setelah ia tidak mendengar perdebatan lagi. Hanna mengetuk pintu.
"Silakan masuk...." ucap Azril.
Hanna membuka pintu dan masuk ke ruang itu dengan sedikit gugup. Ia tersenyum ke arah Khaira yang sedang duduk di ranjang. Khaira tampak telah siap untuk pulang.
"Selamat sore mami"
"Kamu kelihatan udah membaik"
"Ya, mi. Aku udah diizinkan pulang. Mami datang dengan siapa..."
"Dengan daddy. Tapi tadi mami ambil obat dulu"
"Mami sakit...sakit apa. Kenapa mami masih sempatkan kesini jika sakit. Kenapa tak minta daddy temani periksa ke dokternya." ucap Khaira sambil menggenggam tangan Hanna erat.
Hanna tak bisa lagi menahan air matanya mendengar kata kata Khaira yang mencemaskan dirinya. Hanna mendekat dan memeluk Khaira.
"Terima kasih, sayang. Kamu masih perhatian dengan mami. Kamu tetap putri mami yang selalu saja mengkuatirkan mami"
"Tentu saja aku kuatir, mi...."
"Mami nggak sakit kok. Cuma tensi mami sedikit tinggi. Makanya tadi mami minta daddy duluan ke kamar kamu. Mami yang memang tak mau ditemani"
Diego mendekati Khaira setelah selesai mengambil obat dan memasukan semua barang Khaira.
__ADS_1
"Sayang, obatnya udah aku tebus. Sekarang kita bisa pulang"
Diego menggendong Khaira dan mendudukan di kursi roda. Setelah berdiskusi tadi, akhirnya Kenzo dan Azril sepakat akan mempekerjakan seorang perawat yang akan membantu menjaga Khaira di rumah.
"Sayang, kamu nggak mau tinggal bersama mami" ucap Hanna. Ia berharap Khaira akan berubah pikiran.
"Aku tinggal bersama papi aja, mi"
"Baiklah, tapi mami bolehkan mengunjungimu setiap saat kapan mami mau"
"Tentu saja ,mi"
"Semoga bayi dalam kandunganmu ini sehat terus. Begitu juga kamu , sayang...." ujar mami sambil mengusap perut Khaira
"Terima kasih, mi"
Setelah Diego dan Khaira masuk , Azril mengendarai mobilnya dengan pelan. Ia tak mau terjadi sesuatu dengan kandungan Khaira.
Sampai dihalaman rumah, Diego menggendong Khaira menuju kamarnya. Azril meminta Diego menempati kamar tamu yang ada dilantai bawah.
Kamar Khaira ada di lantai atas. Ia tak mau itu membuat Khaira akan capek jika harus turun naik tangga.
Hanna dan Kenzo tidak mengantar sampai ke rumah Azril, ia langsung pulang ke rumah. Dalam perjalanan menuju rumah mereka, Hanna tampak termenung sambil memandangi jalanan.
Kenzo udah menceritakan tentang kisah antara dirinya dan Alesha. Setelah mendengar cerita Kenzo, Hanna jadi bisa mengerti kenapa Kenzo menyembunyikan pernikahan antara Diego dan Khaira. Pasti Kenzo takut kisah cinta yang ditentang orang tuanya dialami kembali oleh Diego.
Dan ia dapat mengerti kenapa Kenzo begitu menyayangi Khaira. Karena dari ia hadir di rahim Alesha , Kenzo lah yang selalu hadir dan menemani. Pasti ia telah menganggap Khaira seperti putrinya sendiri.
"Ada apa, kenapa kamu termenung dari rumah sakit tadi" ujar Kenzo mengagetkan Hanna
"Tidak ada apa apa. Aku cuma tak mengira jika Khaira menolak tinggal bersama kita. Padahal dulu ia lebih sering menginap di rumah..." gumam Hanna
"Kamu harus bisa memakluminya. Saat ini ia sedang hamil, jadi ia pasti akan lebih sensitif"
"Iya ,kak...."
"Semoga nanti Khaira mau berubah pikiran dan tinggal bersama kami. Aku juga ingin ikut menjaga calon cucuku"
**************
Terima kasih
__ADS_1