
Khaira memeluk Diego sebelum masuk ke dalam ruang tunggu.
"Diego, jaga diri baik baik. Aku pergi..." bisik Khaira
"Khaira, kamu seolah akan pergi jauh saja. Aku akan menyusul dua hari lagi. Kamu hati hati"
"Kamu juga hati hati" ucap Khaira kembali memeluk Diego erat.
"Diego...maafkan aku. Aku harus pergi, jika kamu memang jodohku, pasti kita akan dipertemukan kembali. Aku mencintaimu..."
Khaira menahan air matanya agar tifak jatuh. Ia tak mau Diego curiga.
Diego melambaikan tangannya menghantar kepergian Khaira. Ia masih berdiri sampai Khaira menghilang dari pandangannya.
"Kenapa hatiku terasa hampa begini. Seakan Khaira akan pergi jauh dan menghilang dari hidupku...."
Khaira telah menghubungi papi Azril untuk mengurus keberangkatannya ke pulau Sumatera besok pagi.
Ia telah meyakinkan papinya jika ia yang terbaik baginya dan Diego. Ia juga meminta pada Atha untuk menyembunyikan semua ini dari Diego.
Sangat sulit meyakinkan Atha buat tutup mulut, tapi dengan air matanya yang terus mengalir memohon, Atha akhirnya setuju.
Khaira sampai di Jakarta menjelang magrib. Ia dijemput Atha. Adiknya membawa Khaira intuk makan malam di salah satu restauran favorit mereka dari kecil.
"Mbak ....apa mbak yakin dengan keputusan ini"
"Ya, Atha..."
"Mbak nggak mencintai Diego..."
"Karena aku sangat mencintainyalah aku mengambil keputusan ini"
"Maksud mbak apa...jika mbak sangat mencintai Diego, mana mungkin mbak tega meninggalkannya"
"Atha...usia Diego masih muda. Masih banyak yang bisa ia lakukan buat masa depannya,jika mbak tetap bertahan disampingnya mbak takut akan merusak masa depannya..."
"Aku nggak ngerti, mbak..."
"Kamu pasti tahu jika oma tidak pernah menyukai aku. Dan jika oma tahu aku menjalin hubungan dengan Diego,aku pastikan oma tak merestuinya. Diego masih sangat muda, jiwa mudanya pasti memberontak jika tahu oma menentang hubungan kami. Ia pasti akan melawan semua perkataan keluarganya. Ak u tak mau ia memberontak. Aku pergi saat ini agar Diego bisa lulus sekolah dulu. Jika bisa sampai ia wisuda kuliah baru aku kembali"
__ADS_1
"Itu kelamaan mbak, dan pastinya usia mbak nggak muda lagi. Bisa saja Diego jatuh cinta pada wanita lain...."
"Jika ia jatuh cinta dengan wanita lain berarti Diego memang bukan jodohku"
"Bagaimana jika mbak yang jatuh cinta dengan pria lain"
"Itu juga artinya kami bukan jodoh. Mbak yakin pada takdir Tuhan, sejauh dan selama apapun mbak pergi jika Diego memang jodohku pasti kami akan dipertemukan suatu saat nanti"
"Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik buat mbak dan Diego. Aku tahu seberapa besarnya cinta Diego pada mbak. Aku sebenarnya keberatan atas keputusan yang mbak ambil ini. Tapi aku juga mengerti dengan maksud mbak. Biarlah waktu yang bicara. Dengan kedewasaannya nanti, Diego bisa menentukan dengan pasti bagaimana perasaan sebenarnya pada mbak ketika kalian bertemu kembali"
Setelah dari restauran Khaira dan Diego kembali ke rumah. Khaira langsung memasukan barang barang yang dibutuhkan untuk ia berangkat esok hari.
Setelah selesai Khaira mendatangi papinya yang berada diruang kerjanya. Ia langsung memeluk dan menangis di dada papinya.
"Papi, nanti papi jangan lupa mengunjungi aku sekali seminggu"
"Sayang, masih ada waktu buat membatalkan semuanya. Dengan kamu pergi menjauh itu tak akan menyelesaikan masalah. Papi rasa itu akan menambah masalah baru. Bagaimana jika Diego tidak bisa menerima kepergianmu dan ia menghancurkan hidupnya"
"Papi, jangan menakuti aku...."
"Kamu tak mau Diego terluka bukan...."
"Apa kamu yakin ini yang terbaik"
"Ya, papi tahukan gimana oma. Aku tak mau Diego nanti jadi membantah oma. Ia cucu satu satunya oma. Aku juga tak mau nanti gara gara aku nanti Diego bertengkar dengan oma dan membuat sekolahnya terganggu"
"Kamu sama dengan mommymu. Selalu saja memikirkan orang lain walau kamu sendiri yang akan terluka"
"Papi, sekali lagi aku mohon rahasiakan ini semua dari siapapun sampai aku lihat Diego telah masuk perguruan tinggi. Hanya satu tahun aja papi sembunyikan ini...."
"Setelah setahun papi boleh beritahu Diego di mana keberadaanmu. Biar nanti ia menyusul kamu. Itu juga bisa mengganggu kuliahnya"
"Papi, bukan begitu maksudku..."
"Ya, udahlah. Papi hanya bisa mendukung semua keputusanmu"
Esok harinya Khaira dan Azril papinya berangkat menuju kota Pekanbaru tempat ia akan mengajar di salah satu yayasan. Ia akan mengajar di sekolah menengah pertama sebagai guru mata pelajaran matematika.
Azril mencarikan tempat buat Khaira tinggal tak jauh dari sekolah. Khaira akan menjadi guru pengganti selama dua tahun saja. Khaira sekaligus akan melanjutkan S2.
Setelah Azril menyiapkan semuanya, ia kembali ke Jakarta esok harinya. Khaira mengantar papinya hingga ke bandara. Azril membelikan mobil bekas untuk Khaira sebagai transportasinya.
__ADS_1
"Kamu nggak akan berubah pikiran, nak. Jika kamu ragu disini, kita kembali bersama ke Jakarta" ucap Azril sebelum berangkat.
"Aku udah yakin, pi. Aku juga ingin menambah pengalamanku dengan menjadi guru. Nanti setelah dua tahun,aku akan kembali dan bekerja diperusahaan papi"
"Baiklah, jika ada apa apa cepat kabari papi"
"Iya, pi. Papi hati hati ...."
Khaira memnadangi papinya hingga hilang dari pandangan. Setelah papinya menghilang, ia tak bisa menahan air matanya.
Baru kali ini ia tinggal jauh dari keluarga. Dan untuk waktu yang cukup lama. Tapi ia harus kuat. Ini semua demi Diego.
Di hari yang sama dengan kembalinya Aztil ke Jakarta, Diego juga sedang bersiap siap kembali ke Jakarta.
Oma sebenarnya tak mengizinkan Diego cepat kembali tapi ia tak bisa juga terus menahan cucunya karena Diego beralasan ia kembali untuk mengurus masalah sekolah.
Diego dengan hati sedikit heran menaiki pesawat yang akan membawanya ke Jakarta. Perasaannya sudah tidak enak. Sejak kemarin Khaira tidak bisa dihubungi. Atha juga tak pernah mau mengangkat atau membalas chat darinya.
Ingin rasanya Diego menghubungi papi Azril. Tapi ia menahannya. Bukankah ia akan bertemu dengan Khaira begitu sampai di Jakarta.
Diego meminta supir taksi langsung menuju ke rumah Khaira atau Azril. Sampai di rumah Azril, setelah membayar uang taksi Diego langsung mengetuk pintu rumah.
Ia langsung masuk ke dalam rumah seperti biasanya setelah bibi membukakan pintu. Ia mengetuk pintu kamar Khaira tanpa bertanya keberadaan Khaira pada bibi yang ditemuinya.
Bibi yang melihat Diego mengetuk pintu Khaira menjadi heran.
"Den Diego, mau ngapain mengetuk pintu kamar non Khaira" tanya bibi
"Ya pengin ketemu Khairalah bi, kalau ketemu bibi kan udah" canda Diego
"Apa den Diego nggak tahu jika non Khaira udah berangkat dari kemarin" tanya bibi
"Berangkat...kemana"
"Bibi nggak tahu. Tapi non Khaira banyak membawa barang, kayak mau pindahan gitu"
Mendengar ucapan bibi , Diego menjadi lemah. Ia terduduk di lantai dekat pintu kamar Khaira.
*****************
Terima kasih
__ADS_1