
Khaira memandangi Diego dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Diego...nggak lucu loh becandanya"
"Aku nggak bacanda, aku memang mencintaimu"
"Kamu pasti masih sakit. Ucapanmu ngawur. Sebaiknya kita pulang aja. Mbak jadi nggak pengen terusin menontonnya"
Khaira lalu berdiri dan menuju pintu keluar. Diego berjalan mengikutinya.
"Mbak pulang naik taksi aja...."
"Aku antar mbak pulang"
"Nggak usah. Ingat ya, mbak nggak mau kamu bicara begitu lagi. Nanti mbak bisa anggap kamu serius"
"Sini ikuti aku ...." ucap Diego menarik tangan Khaira
"Kamu mau bawa mbak kemana...."ucap Khaira sedikit keras membuat banyak mata memandang kearah mereka.
Diego menarik tangan Khaira memasuki sebuah kafe. Ia memilih duduk di sudut paling dalam dari kafe.
"Duduklah..."
"Nggak...mbak mau pulang aja"
"Aku mohon mbak...duduklah. Apa mbak lebih senang menjadi pusat perhatian. Mbak lihat tuh mata para pengunjung kafe udah memandangi kita dari tadi"
Khaira memandangi sekitarnya, emang tampak para pengunjung kafe melirik ke arah mereka. Akhirnya Khaira memilih duduk. Diego duduk bagian luar dari bangku itu menghalangi Khaira agar tak bisa keluar.
"Mbak, apa yang ada yang salah dari ucapanku. Mengapa mbak jadi marah begini. Apa sebenarnya yang membuat mbak marah"
"Salah...kamu salah jika mengatakan cinta dengan mbakmu sendiri"
"Kamu bukan mbakku. Kita tidak ada ikatan darah...."
"Tapi kita udah seperti saudara, apa kamu lupa itu"
"Nggak aku tak akan lupa. Aku memang dulu menyayangi mbak layaknya saudara. Tapi seiringnya waktu aku baru sadar jika rasa sayangku itu bukanlah sayang selayaknya adik ke kakak. Tapi sayang dan cinta layaknya pria pada wanita"
__ADS_1
"Kamu pasti salah. Kamu tak mungkin mrncintai mbak"
"Kenapa nggak mungkin...."
"Kamu tuh lebih pantas sebagai adik"
"Kenapa, karena aku lebih muda dari mbak"
"Ya, usia kita jauh berbeda..."
"Jika usiaku sama dengan mbak, apa mbak akan membalas cintaku"
"Nggak juga. Karena aku hanya menyayangi kamu seperti adikku Atha"
"Apa mbak yakin hanya menyayangiku seperti seorang adik, tidak lebih"
"Diego, udahlah. Mbak benar benar nggak akan memaafkan kamu jika kamu terus bicarakan ini"
"Kenapa mbak. Apa salah jika aku mencintai mbak. Apa salah jika seorang pria yang lebih muda mencintai seorang wanita yang lebih tua darinya..."
"Diego, ini tidak benar. Kamu harus menghilangkan rasa itu. Kamu tahukan, kita ini dari kecil sudah bersama layaknya saudara"
"Tidak Diego...ini salah. Ayo kita pulang. Dan lupakan semua pembicaraan kita ini"
"Mbak, cinta itu datangnya dari hati. Ia tak akan memandang usia ,status dan jabatan. Dan aku juga tak bisa menghilangkan begitu saja rasa cinta ini"
Mereka berhenti bicara karena pelayan mengantar minuman pesanan Diego tadi.
"Tapi mbak nggak mencintaimu...." gumam Khaira
"Aku tak peduli, aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku. Aku tak bisa menyimpan perasaan ini lebih lama lagi. Aku mencintaimu, Khaira"
"Awas...mbak harus pergi" ucap Khaira meminta Diego berdiri agar tak menghalanginya.
"Oke, kita pergi. Tapi sekali lagi aku katakan pada mbak...Aku sangat mencintaimu Khaira. Aku tak meminta kamu menjawabnya saat ini. Aku hanya ingin kamu tahu dengan perasaanku ini"
"Aku tak akan pernah membalas cintamu. Itu harus kamu tahu ...Diego"
"Jangan mbak berkata begitu. Bisa saja saat ini mbak belum menyadari rasa cinta mbak...."
__ADS_1
"Aku mencintai Alby, aku akan bertunangan dengannya" ujar Khaira dengan penuh penekanan.
Diego mengepalkan tangannya menahan amarah mendengar ucapan Khaira.
"Berdirilah Diego...mbak mau pulang"
"Baiklah...aku antar mbak" ucap Diego dan memegang pergelangan tangan Khaira erat agar ia tak bisa pergi tanpanya.
Setelah membayar pesanannya, Diego membawa Khaira keparkiran. Dan memaksa Khaira masuk.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, mereka hanya diam membisu dengan pikiran masing masing.
"Ya Tuhan, apa Diego benar benar mencintaiku sebagai seorang wanita. Apa kata papi, daddy dan mami jika tahu perasaan Diego ini. Aku tak mau semuanya jadi salah paham. Apa aku terima saja mas Alby...."
Sampai di depan rumah Papi Azril, Khaira yang akan membuka pintu mobil memandangi Diego. Karena pintu tak bisa dibuka. Diego menguncinya.
"Buka, Diego. Mbak mau keluar"
"Jangan pernah menerima cinta Alby sebelum kamu yakin dengan perasaanmu padaku"
"Apa yang harus aku yakini lagi, Diego. Perasaanku padamu hanyalah rasa sayang seorang mbak pada adiknya"
Diego merapatkan tubuhnya pada Khaira, ia menarik tengkuk Khaira agar wajah mereka merapat. Dan Diego langsung ******* bibir Khaira.
Khaira yang tersadar mendorong dada Diego dengan kuat hingga terlepas pagutan dibibirnya. Ia lalu menampar Diego.
"Kamu keterlaluan, Diego. Mbak, nggak akan pernah memaafkan kamu. Buka pintunya, jangan sampai mbak berteriak" ucap Khaira terisak. Diego jadi merasa bersalah karena membuat Khaira menangis.
Diego membukakan kunci pintu mobil, Khaira dengan segera turun dari mobil.
"Mbak...maafkan aku" ucap Diego sedikit teriak
Khaira tidak menghiraukan ucapan Diego, ia terus berjalan masuk ke rumah.
"Khaira, aku tak bermaksud membuat kamu menangis. Aku hanya tak bisa menerima ketika kamu mengatakan akan menerima Alby"
******************
Terima kasih
__ADS_1