
Pagi harinya Azril berangkat kerja terlebih dahulu. Ia janji akan menemani Alesha menjalani CT scan jam sebelas.
Azril menyelesaikan pekejaan yang penting terlebih dahulu. Setelah pukul sepuluh ia keluar dari kantornya, ia pulang untuk menjemput Alesha.
Alesha menunggu Azril di lobby apartemen. Azril yang telah sampai langsung menuju lobby . Ia melihat Alesha yang telah menunggunya.
Azril mengecup Alesha dari belakang , membuat ia kaget.
"Kakak, aku kira siapa"
"Emang ada pria lain yang berani mengecup kamu selain aku. Bisa aku bunuh tuh pria"
"Sadis amat..."
"Tentu aja, semua yang menjadi milikku tak akan aku biarkan orang lain menyentuhnya"
"Emang aku barang, harus dimiliki" ucap Alesha manyun. Azril lalu mengelus rambut Alesha gemas. Azril merangkul bahu Alesha berjalan menuju mobilnya.
"Aku senang banget lihat kamu manyun. Tambah cantik"
"Jadi kakak mau buat aku kesal terus"
"Nggaklah, aku mau buat kamu merintih dan mendesah terus aja dibawah kungkunganku"
"Kakak ...mesum terus" ujar Alesha memukul lengan Azril.
Di saat Alesha memandanginya , Azril melihat sedikit darah keluar dari hidung Alesha. Alesha juga merasakan itu. Ia mengambil tisu dan ingin menghapusnya. Tapi tangannya ditahan Azril.
"Biar kakak aja , Sha"ujar Azril dan Azril lalu menghapusnya dengan pelan sekali.
"Kamu capek melayani kakak tadi malam ya..."
"Nggak kok kak..."
"Sha, kakak mohon...apapun itu jangan kamu pendam sendiri, kamu harus jujur. Jika kamu capek, harus ngomong"
"Apa kakak pikir aku selemah itu. Apa untuk melayani suami aja aku tak mampu. Apa karena aku sakit, aku tak boleh melakukan apa apa. Aku tak suka diperlakukan sebagai seorang penyakitan" ucap Alesha dan meneteskan air matanya.
"Lesha, bukan begitu sayang. Tentu saja kakak sangat senang jika kamu bisa melakukan semuanya. Tapi jangan dipaksakan. Kamu juga harus menjaga kesehatanmu"
__ADS_1
"Aku benci pada diriku, jika memang aku menderita satu penyakit yang akan membuat aku lemah"
"Sayang, kamu belum pasti sakit. Jangan pernah membenci dirimu begitu. Seandainya kamu sakit sekalipun , dan separah apapun sakitmu itu jangan pernah membanci dirimu. Masih ada aku yang akan menemanimu. Jika suatu saat kamu lumpuh tak bisa jalan masih ada kakiku sebagai pengganti kamu. Aku akan menggendong dan membawa kamu kemanapun kamu pergi. Jika suatu saat kamu buta, masih ada mata aku sebagai pengganti matamu yang akan menuntun kemanapun kamu pergi. Jadi jangan terlalu kamu pikirkan penyakitmu itu. Semua penyakit berawal dari pikiran"
"Aku takut pada akhirnya nanti kakak akan menyesal karena telah menikahiku"
"Harus berapa kali kakak harus mengulang ucapan kakak , Sha. Jika kakak tak akan pernah menyesal menikah denganmu, karena dapat hidup bersmamu lagi adalah anugerah terindah dalam hidup kakak. Jadi jangan sedih lagi. Kita akan hidup bersama sampai tua" ucap Azril dan mengecup pipi Alesha dan bibirnya.
Azril lalu mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Ia dan Alesha langsung menuju ruang dokter , karena telah membuat janji terlebih dahulu .
Dokter meminta Alesha melakukan CT scan. Azril meminta izin buat bisa menemani Alesha menjalaninya.
Dokter Bagas mengizinkan Azril menemani Alesha buat memberi ketenangan baginya. Karena CT scan membutuhkan ketenangan dan tubuh yang rileks.
Sebelum melakukan CT scan, Alesha disuntuk terlebih dahulu dan mengganti pakaian dengan baju rumah sakit. Azril memeluk Alesha ketika akan disuntik. Setelah itu Alesha melakukan CT Scan lebih kurang dua puluh menit.
Setelah selesai Azril membantu Alesha mengganti pakaiannya kembali. Mereka menmui dokter.
Dokter Bagas mengatakan jika Alesha memnag sedang menderita leukimia, tapi untuk memastikan jenisnya berbahaya atau tidak masih dibutuhkan diagnosa lagi. Dan seminggu lagi ia meminta Alesha buat melakukan PET scan. Alesha sudah tampak sedih dan murung mendengar ucapan Dokter Bagas.
Dokter Bagas memberikan resep obat buat Alesha minum. Azril tahu saat ini pastilah Alesha cemas memikirkan penyakitnya.
Sampai di kantor , Azril berjalan dengan merangkul bahu Alesha yang terbuka karena ia memakai gaun dengan model sabrina yang memperlihatkan bahu mulusnya.
Alesha selalu memberikan senyumnya pada setiap karyawan di kantor itu yang ia temui.
Semua karyawan tampak mengagumi kecantikan Alesha. Mereka memandanginya tanpa kedip.
Azril juga tampak bertambah ganteng sejak pernikahannya. Aura kebahagiaan selalu terpancar diwajahnya. Sejak menikah pakian Azril diatur Alesha. Mereka berdua selalu berpakaian dengan warna senada.
Alesha duduk di sofa yang ada diruangan Azril, tampak makanan yang dipesan Farrel sudah tersedia di atas meja.
Azril membuka makanan itu dan menatanya dipiring.
"Kamu mau makan dengan lauk apa"
__ADS_1
"Aku nggak lapar kak"
"Lesha, kamu harus makan. Biar cepat sembuh"
"Mana ada penderita penyakit leukemia yang sembuh" ucapnya sendu
"Tuhan menciptakan penyakit, pasti dengan obatnya. Kakak suapi ya..."
"Tapi aku nggak lapar kak...."
"Kamu harus paksakan makan. Sedikit aja"
Azril lalu menyuapi Alesha dengan lauk udang saos padang. Beberapa sendok sudah masuk keperut Alesha.
"Udah kak, aku nggak mau lagi"
"Sedikit lagi ya...." bujuk Azril seperti membujuk Alesha saat kecil.
"Nggak mau kak. Nanti muntah lagi kalau dipaksakan"
"Tapi nanti kalau pengin lagi , kamu bilang ya. Biar kakak suapin lagi"
Alesha hanya menganggukan kepalanya. Ia melihat Azril yang makan dengan sedikit malas. Melihat Alesha yang tidak berselera makan membuat Azril juga kehilangan nafsu makannya.
"Kenapa kak, gantian aku yang suapin ya"
"Kita makan berdua aja ya, biar enak" ujar Azril.
Alesha terpaksa mengikuti maunya Azril. Ia tak ingin Azril juga sakit karena tak ada selera makan.
Setelah selesai santap siang, Azril kembali mengerjakan tugasnya. Ia meminta Alesha istirahat di kamar yang ada di dalam ruang kerjanya.
Alesha yang memang sering merasa kelelahan akhirnya tertidur. Setelah selesai dengan satu tugasnya , Azril melihat Alesha ke kamar.
Azril mendekati tempat tidur dan membelai wajah wanita yang sangat dicintainya itu.
"Sayang, aku sangat sedih melihat kamu yang ketakutan akan penyakitmu. Sebenarnya aku juga merasakan kesedihan yang sama. Tapi aku berusaha menutupinya dan berpura pura tegar agar kamu juga kuat dan tetap semangat. Aku dengan susah menahan air mata ini jatuh agar tak tampak olehmu kerapuhanku. Sayang, aku akan berusaha apapun itu buat kesembuhanmu. Dan aku harap kamu juga akan terus semangat buat kesembuhanmu..."
**********************
__ADS_1
Terima kasih