CINTA SUCI ALESHA

CINTA SUCI ALESHA
Bab Tujuh puluh Empat


__ADS_3

Kenzo duduk di balkon sampai pagi, ia belum bisa bertemu Alesha. Ia teringat akan perlakuannya pada Alesha.


Kenzo mendengar suara deringan ponselnya, ia melihat nama Azril tertera di layar ponselnya. Kenzo mendiamkan saja ponselnya. Beberapa saat kembali ponselnya berdering, masih dengan nama Azril yang tertera. Kenzo tak menghiraukan lagi. Ia membaringkan tubuhnya di sofa yang ada di balkon.


Satu jam kemudian kembali ponselnya berdering , kali ini nama Bunda yang tertera. Kenzo akhirnya mengangkat ponselnya.


"Akhirnya kamu mengangkatnya"ucap Azril diseberang sana


"Mau apa kamu...."


"Katakan pada Alesha jika ayah telah tiada"


"Apa...kamu tidak sedang bercandakan"


"Apa kamu pikir , aku bisa bercanda dengan kematian ayahku"


"Maaf...nanti akan aku sampaikan"


"Kami sudah diperjalanan ke Bandung. Dari tadi aku menghubungi tapi kamu tak mengangkatnya, jadi aku dan bunda putuskan berangkat saja tanpa Alesha"


"Aku dan Lesha akan menyusul"


"Terserah, aku hanya ingin mengabarkan itu. "


Azril menutup sambungan ponselnya. Kenzo langsung bangun dari tidurnya dan menuju kamar.


Ia melihat Alesha yang sedang memakaikan baju Khaira. Kenzo menyentuh bahu Alesha membuat Alesha kaget.


Alesha memandangi Kenzo dan menggenggam tangannya.


"Maafkan aku kak, aku janji tak akan pernah menemui kak Azril lagi. Kita akan kembali sekarang ke Singapura. Aku sudah siapkan semuanya"


"Sha, aku minta maaf"


"Kak Kenzo nggak salah, aku yang salah. Aku seharusnya tidak menemui pria lain tanpa izin suami"


"Sha, ayah telah meninggal"lirih Kenzo


Alesha mendengar ucapan Kenzo langsung melepaskan genggaman tangannya dan merosot ke lantai. Tubuhnya terasa lemah.

__ADS_1


Kenzo berlutut dihadapan Alesha dan memegang kedua bahu Alesha. Ia melihat tatapan mata Alesha yang kosong. Tak ada air mata yang keluar.


"Sha, menangislah. Jangan diam begini. Jika kamu sedih kamu bisa luapkan dengan air matamu, jangan diam aja"


"Kita tetap akan kembali ke Singapura hari inikan ,kak"


"Kita ke Bandung dulu. Kita akan mengikuti prosesi pemakaman ayah"


"Nggak perlu kak, ayah tidak akan juga bisa kembali. Aku bisa mengirim doa buat ayah dimanapun aku berada"


"Sha, jangan bersikap begini. Ini sama aja kamu menghukum kakak. Kakak nggak akan sekejam dan setega ini membawa kamu kembali ke Singapura tanpa bertemu ayah buat terakhir kali"


"Tapi aku lebih baik tidak ketemu ayah lagi kak. Aku akan merasa sangat bersalah di depan jenazah ayah nantinya. Karena sampai akhir hayatnya aku masih saja belum bisa mengatakan kebenaran tentang Khaira"


"Sha, ini bukan salahmu. Kamu menutupi kebenaran ini juga untuk menjaga kesehatan ayah, kamu tak ingin ayah tahu apa yang telah Azril lakukan padamu. Bersiaplah, agar kita tak telat mengikuti prosesi pemakaman ayah. Aku akan minta kawalan polisi nanti agar mobil kita tak terjebak macet"


Sementara Alesha berganti pakaian , Kenzo menghubungi temannya yang petinggi di kepolisian. Ia minta bantu buat pengawalannya ke Bandung.


Dalam perjalanan menuju Bandung Alesha hanya diam tanpa suara, pandangannya masih kosong. Tak ada air mata yang keluar. Seolah air mata Alesha telah kering. Kenzo melihat Alesha begitu, merasa sangat bersalah. Tidak seharusnya ia melarang Alesha menjaga ayah kemarin.


Sampai di rumah duka, kediaman Azril. Para pelayat telah tampak memenuhi rumah dan halamannya. Alesha masuk ke dalam rumah. Tampak jenazah ayah terbujur kaku dipembaringan.


Bunda dan Azril melihat langkah Alesha yang mendekati jenazah ayah. Alesha membuka penutup wajah ayah dan mengusapnya.


Azril yang duduk di samping Alesha berbisik padanya.


"Puas kamu Lesha, akhirnya kebenaran itu tak dapat ayah dengar dari mulutmu sampai ia menutup mata"


Alesha memandangi Azril dengan pandangan kosong, ia beranjak dari samping Azril tanpa bersuara. Ia memeluk bunda.


"Bunda, maafkan aku. Aku tak bisa menemani ayah di saat saat terakhir ayah"


"Tak apa nak, ayah pasti sudah cukup senang karena dapat melihat dan bertemu kamu sebelum ia menutup mata"


Alesha hanya diam sambil memeluk bunda. Setelah itu jenazah ayah dimandikan lalu dikafani.


Ustad membaca doa, dan Azril sebagai ahli waris menyampaikan kata sambutannya. Barulah jenazah di bawa ke pemakaman.


Sepanjang perjalanan Alesha tetap diam. Kenzo tambah menjadi kuatir melihat perubahan sikap Alesha. Ia yang biasanya mudah menangis, kenapa saat ayah pergi tiada air mata yang keluar. Apa Alesha menahan semua rasa sakitnya.

__ADS_1


Kenzo masih menggendong Khaira sampai kepemakaman. Semua mata tetangga yang mengantar melihat Khaira dengan mata heran. Wajah Khaira mengingatkan mereka akan Azril kecil.


Kenzo menutupi wajah Khaira dengan topi yang dipakainya. Ia tak ingin Khaira menjadi pusat perhatian tetangga Azril.


Jenazah ayah mulai diturunkan ke liang lahat. Alesha yang berdiri di samping bunda tampak gemetar. Azril menyambut jenazah ayah dari dalam liang lahat.


Setelah diletakan dengan baik, Azril mengadzani jenazah ayahnya. Tubuh Alesha tampak tambah gemetar. Kenzo melihat itu mendekati Alesha.


"Sayang, jika kamu nggak kuat lebih baik kamu duduk di mobil aja"bisik Kenzo. Alesha tak mendengarkan ucapan Kenzo.


Azril naik ke atas dan mulai menurunkan pasir untuk menutupi jenazah ayah bersama pekerja penggali kubur yang lainnya.


Melihat tubuh ayah yang mulai ditutupi tanah, Alesha tidak bisa menahan dirinya lagi.


"Ayaahh....maafkan Lesha"teriak Alesha dan menjatuhkan dirinya kedalam kuburan ayah. Alesha akhirnya pingsan.


Semua pelayat terkejut melihat apa yang Alesha lakukan. Azril mengangkat tubuh Alesha . Ia menggendong tubuh Alesha dan membawa masuk ke dalam mobilnya.


Kenzo mengikuti langkah Azril yang membawa Alesha dan Khaira di dalam gendongan Kenzo pun menangis seakan tahu apa yang sedang mommy nya rasakan saat ini.


"Kenapa bukan ke mobil aku saja kamu letakkan Alesha"tanya Kenzo


"Aku tak akan membawa lari istrimu. Boleh aku menggendong Khaira,siapa tahu ia akan diam dalam gendonganku"


"Nggak perlu.Khaira pasti hanya haus"


"Kamu tidak akan bisa menjaga Alesha dan Khaira sekaligus. Aku tidak akan membawa lari Khaira walau aku yakin ia anak kandungku. Aku tak akan bertindak tanpa bukti"


"Aku lagi tak ingin berdebat, Azril"


"Kalau begitu biar aku bawa Alesha ke rumah sakit, kamu jaga Khaira..."


"Aku bisa melakukannya sendiri. Selama ini aku juga bisa menjaga Alesha dan Khaira sendiri tanpa bantuanmu"


Kenzo lalu meminta tolong kepada supirnya buat menggendong Alesha ke mobil. Ia lalu meninggalkan area pemakaman menuju rumah sakit terdekat.


Kenzo membawa Alesha masuk menuju ruang IGD ketika sampai rumah sakit. Supirnya yang menggendong Khaira.


Setelah mendapati penanganan dokter, Alesha akhirnya dipindahkan ke ruang rawat. Ia hanya terlalu banyak pikiran dan dehidrasi sehingga membuat ia pingsan.

__ADS_1


*****************************


Terima kasih


__ADS_2