
Azril berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan tangannya yang melingkar di pinggang Alesha.
Ia langsung melangkahkan kaki menuju ruang praktek dokter Bagas. Sebelum ke sini Azril telah menghubungi dokter Bagas untuk membuat janji bertemu.
Depan ruang praktek dokter Bagas, perawat yang bertugas langsung mempersilakan Azril dan Alesha masuk.
Dokter Bagas memulai prakteknya siang hari. Itulah sebabnya Azril selalu membuat janji bertemu jam sebelas sebelum praktek umumnya dimulai.
"Ada keluhan...." tanya dokter Bagas begitu Azril dan Alesha telah duduk
"Alesha udah tiga hari ini setiap pagi merasakan mual, dan muntah dok. Kepalanya juga pusing. Apa itu reaksi dari penyakit atau obat yang tak sesuai atau..." ucap Azril berhenti.
"Atau apa pak...."
"Ini pemikiran saya saja...atau mungkin saat ini Alesha lagi hamil"
"Apa bapak menginginkan kehamilan..."
"Maksud Dokter..."
"Ada banyak pertimbangan yang harus bapak pikirkan jika benar istrinya saat ini lagi hamil"
"Apa sangat berbahaya ya jika istri saya hamil"
Alesha yang kaget atas pertanyaan Azril hanya diam mendengarkan.
"Saya tidak bisa mengatakan bahaya atau tidak, tapi memang agak sedikit berisiko. Saya akan mengganti obat yang saat ini digunakan istri anda dengan obat yang cocok buat wanita hamil, dan itu hanya bisa melalui suntikan. Jadi anda mungkin memerlukan seorang perawat di rumah buat memberi obatnya"
"Kalau begitu jika memang istri saya saat ini hamil, bisa aborsi aja dok. Jika itu memang berbahaya" ujar Azril pelan.
Mendengar ucapan Azril, Alesha sangat kaget.
"Nggak, saya nggak mau aborsi. Jika saya memang hamil, biar anak ini tetap hidup dirahim saya. Apakah anak saya otomatis juga mengidap kanker darah dok"
"Tidak, anak anda tidak akan tertular penyakit anda. Tapi anda harus ekstra menjaga kesehatan. Imun tubuh harus tetap kuat, dan jangan terlalu lelah. Jangan sampai terluka yang banyak mengeluarkan darah..."
"Baiklah dok. Saya akan tetap pertahankan janin ini...."
__ADS_1
"Tapi Lesha, itu berisiko..."
"Hamil atau tidak hamilpun , penyakit ini sanagt berisiko"
" Ya Tuhan , kenapa aku tidak pernah bertanya tentang akibat apa yang akan Alesha alami jika ia hamil. Aku hanya tahu jika penderita leukemia bisa hamil tanpa mencari tahu resiko apa yang akan dialami ibu hamil tersebut"
Dokter meminta Alesha berbaring dan memeriksa denyut nadi dan lainnya. Dokter lalu mengambil sampel darah Alesha buat di cek di laboratorium. Sementara hasil darah keluar , Azril dan Alesha bertanya tentang resiko kehamilan dan hal apa yang harus dilakukan agar kehamilan itu tidak berisiko.
Dokter hanya menyarankan untuk Alesha tetap menjaga imun tubuhnya. Berpikir positif dan jangan banyak kegiatan. Memakan banyak makanan bergizi, agar perkembangan bayi tak terhambat.
Setelah beberapa saat masuk perawat membawa hasil tes darah Alesha.
"Selamat bapak ...istri anda positif hamil..."
Azril terdiam mendengar ucapan dokter. Jika tadi dari rumah ia sangat berharap Alesha hamil, tidak untuk saat ini. Ia berharap Alesha tidak hamil , setelah tahu jika itu berisiko bagi Alesha.
Alesha yang mendengar ucapan dokter jadi tersenyum, ia memang sangat berharap memberikan adik buat Khaira. Agar nanti setelah dewasa Khaira punya teman tempat ia berbagi suka dan duka. Alesha merasakan sendiri, jika tidak enak menjadi anak tunggal. Disaat kita butuh orang buat berbagi, kita hanya bisa memendam sendiri. Karena tidak ada saudara buat berbagi kesedihan.
Setelah cukup dengan penjelasan dokter dan sedikit tanya jawab, dokter Bagas menyarankan buat Azril dan Alesha menemui dokter kandungan.
Setelah semua selesai Azril membawa Alesha kembali ke kantor. Sepanjang jalan Alesha tersenyum sambil memegang perutnya.
"Sayang, kamu harus tumbuh yang sehat di dalam rahim mommy. Jadilah teman buat mbak Khaira. Kalian harus akur. Saling berbagi. Jika suatu saat mommy harus pergi, mbak Khaira tidak akan terlalu kesepian jika papi pergi kerja karena ada kamu yang akan menemani mbak Khaira"
Azril melihat Alesha yang selalu menyunggingkan senyumnya. Ia sebenarnya juga bahagia mengetahui Alesha hamil, tapi ia juga mencemaskan kesehatan Alesha.
Dengan kehamilannya, Alesha harus menghentikan semua jenis kemo yang dilakukan. Karena itu tidak baik bagi perkembangan janinnya.
Sampai di kantornya Azril berjalan sambil memeluk pinggang Alesha masuk ke ruang kerjanya.
Azril membawa Alesha duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya.
"Kak, dari tadi aku lihat wajah kakak muram. Kak Azril nggak bahagia tahu aku lagi hamil" ucap Alesha cemberut melihat wajah Azril yang terlihat cemas.
"Kakak pasti yang paling bahagia mengetahui kehamilan kamu, sayang. Tapi jujur ada kecemasan didiri ini, kakak nggak mau karena kehamilan ini membuat penyakit kamu jadi makin berbahaya"
"Kak, sakit yang aku derita ini memang berbahaya. Tanpa aku hamil ataupun tak hamil. Aku sangat senang mengetahui aku hamil. Karena aku akan memberikan kakak satu lagi keturunan kakak, dan juga aku akan memberi adik buat teman Khaira. Agar ia tak merasa kesepian saat aku harus pergi nantinya"
__ADS_1
"Sayang, kakak nggak mau dengar kamu berkata begitu. Kamu akan sembuh dan hidup bersama kakak dan anak anak kita sampai kita menua"
Alesha memeluk Azril. Ia mengerti kecemasan yang saat ini suaminya rasakan.
"Sayang...aborsi aja ya"
"Kakak, apa kakak sadar dengan apa yang kakak ucapkan. Yang ada dirahimku ini darah daging kakak. Apa kakak tega membunuhnya. Apa salahnya , harus pergi sebelum bisa melihat dunia ini." ucap Alesha dengan emosi
"Sayang, kakak sangat menginginkan kamu mengandung darah daging kita. Tapi ini waktunya belum tepat"
"Aku tak mau jika kakak masih bicara tentang aborsi, jika kakak tidak menginginkan anak ini biar aku yang membesarkannya sendiri"
Alesha berdiri dari duduknya dan akan meninggalkan Azril. Azril cepat berdiri dan menyusul Alesha. Dipeluknya Alesha dari belakang.
"Jangan tinggalkan kakak. Jangan salah paham, sayang. Kakak hanya tak mau kehilangan kamu . Kakak takut jika kehamilan ini akan membuat kamu pergi meninggalkan kakak selamanya"
Azril tak bisa lagi menahan air matanya. Tangisnya tumpah dalam pelukan Alesha.
Alesha membalikan badannya dan memeluk Azril.
"Kak...penyakit ini suatu saat akan tetap membunuhku. Dengan kehamilan aku ini, aku berharap anak ini dapat mengobati kesedihan kakak dan Khaira saat aku nanti harus pergi selamanya"
"Sayang berjanjilah kamu akan tetap berjuang dengan penyakitmu. Anak yang ada dalam kandunganmu ini pasti ingin melihat mommynya juga. Kita akan hidup bersama selamanya"
"Iya kak...."
Azril menghapus air mata dipipi Alesha, begitu juga Alesha, ia menghapus air mata Azril.
"Kak...aku mencintaimu"
"Kakak juga sangat mencintaimu..."
Azril lalu menggendong Alesha dan membawanya masuk ke dalam kamar yang ada diruangan kerjanya itu.
**********************
Terima kasih
__ADS_1