Cinta Yang Sebenarnya

Cinta Yang Sebenarnya
Bab 127_Kisah lalu


__ADS_3

_Juna memejamkan matanya,Perkataan Varo tadi masih terngiang-ngiang ditelinganya."Sayang,Apa yang terjadi?" Dara Terlihat khawatir saat merasakan deru nafas Juna yang tidak teratur.


Juna menggeleng dan semakin mempererat pelukannya."Juna katakan padaku,Ada apa?" Dara berusaha melepaskan pelukannya dan menatap Juna dengan Heran.


Tapi tetap sama,Juna hanya menggeleng dan tak berani Membalas tatapannya."Aku tahu kau ada masalah,Katakan padaku Juna." Dara menggapai wajah Juna dan membuat mata mereka bertemu.


"Bukan salah mereka..Bukan salah mereka sayang.." Juna menangis,Dan itu semakin membuat Dara kebingungan.


"Juna ada apa ini...?"Dia memeluk Juna dan membawanya Keruang tamu." Sayang katakan padaku,Ini bukan salah mereka kan?.Ayahku bukan pembunuh.Dia Hanya tidak sengaja,iya kan Ra?" Juna semakin menangis.Sedangkan dara yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menatapnya dengan bingung Dan Tak mengerti.


Tapi Dari perkataan suaminya tadi,Dara menangkap perkataan Juna yang sangat janggal Dibenaknya.Pembunuh?,Orang tua Juna pembunuh?.Dara diam dan terus terhanyut dalam lamunannya.


"Sayang,Kenapa kau diam.jawab aku,Iyakan ayahku bukan pembunuh,benarkan Ra?" Juna berteriak.

__ADS_1


"Juna tenanglah,Kumohon.Kiya bisa bicarakan ini baik-baik." Juna mulai tenang.Dia Juga Sadar bahwa Istrinya tak tahu menahu tentang masalahnya selama ini.


"Ceritakan padaku,Ada apa sebenarnya?" Dara mengangkat tangannya dan Mengusap rambut Juna dengan lembut.


Jika ini bukan masalah yang gawat,Mungkin saja Dara akan tertawa saat melihat Hidung Juna yang memerah karena menangis." Saat Itu" Juna menghentikan Ucapannya dan mulai mengatur deru nafasnya.


"Saat Itu,Disaat hujan yang deras.Tanpa sengaja ayahku menabrak Sebuah mobil yang membuat beberapa mobil lainnya juga ikut celaka.ayahku selamat,Dan juga beberapa pengemudi lainnya.Tapi naasnya,Salah satu mobil yang ditabrak ayahku saat Itu mengalami Kritis Hingga lama-kelamaan membuat Nyawanya melayang.Itu hanya kecelakaan,Namun Semua Mata tertuju pada ayahku dan Menyudutkannya Dengan sesuka mereka.Mereka menuduh bahwa ayahku Mabuk hinggga tak bisa mengendalikan mobilnya.Perusahaan kami mengalami masalah dan hampir saja bangkrut.Tak ada jalan keluar saat itu,Hingga akhirnya ayahku memilih untuk menutup kasus ini dengan uang.saat itu,Istri dan anak Dari almarhum itu meraung-raung meminta pertanggung jawaban atas semua ini.Tapi kami bisa apa,saat dipengadilan pun Ayahku memenangkan kasus ini,Karena Ayahku terbukti tidak bersalah.Ada orang lain yang menjebaknya dan membuat rem mobilnya blong hingga membuat mobilnya hilang kendali saat itu..Namun mereka masih tidak terima Dan terus menuntut kami.Hingga saat kasus ini tertutup sempurna,Kami tak lagi pernah bertemu dengan mereka.Dan sekarang...Anak Itu Telah berada di hadapanku dan kembali meminta pertanggung jawaban atas kejadian itu" Juna menghela nafasnya panjang.Dia menutup rapat matanya dan kembali mengingat kisah itu.


Dara menutup mulutnya tak percaya dengan sebuah kejadian yang diceritakan suaminya Barusan.Yang lebih terkejutnya lagi adalah,Anak itu sekarang telah berada Disekitar Juna.Dara merasa takut, Bagaimana jika orang itu menuntut Juna nanti?,Dan bagaimana jika dia nekat untuk melukai Juna nantinya?.


Dara menoleh dan membalas tatapan suaminya.Dia menggeleng dan tersenyum semangat kearahnya."Aku percaya padamu" Juna tersenyum dan kembali memeluk istrinya.Dia merasa sedikit tenang saat ini,Setidaknya Dia tak harus Lagi tenggelam karena masalah itu karena sekarang Ada dara yang akan menemaninya Disetiap langkahnya Walaupun mereka juga tidak tahu Apa yang akan terjadi nantinya.


"Aku memang tidak mengenal ayahmu.tapi aku tahu bahwa ayahmu adalah orang yang baik.Lihat saja,Putranya sangat baik dan perhatian seperti ini.itu semua karena Sifatnya menurun kepadamu bukan?" Dara mencoba untuk menenangkan suaminya.Dia tahu Bahwa Juna sangat gelisah dan takut sekarang.Semua itu dapat dilihatnya dari mata Juna yang memancarkan sebuah ketakutan besar.

__ADS_1


memang Saat bersama Varo tadi,Juna sama sekali tidak menunjukkan ketakutan apapun kepadanya.Namun siapa yang tahu bahwa Juna memang takut,Atau bahkan sangat-sangat takut.bukannya dia merasa tidak percaya untuk bisa melawan Varo nantinya,Dia hanya takut bahwa Varo akan menggunakan Dara untuk kelemahannya nanti."Sayang,Berjanjilah kepadaku..Jika ada sesuatu yang terjadi denganmu,Kumohon jangan menutupinya dariku.walaupun masalah sekecil apapun" Juna mengangguk.Kali ini bukan dirinya yang memeluk Dara.Dara lah yang memeluknya,Dan mencoba untuk membuatnya tenang.


"Dan kau juga harus berjanji untuk selalu berada disampingku Hingga Batas waktuku nanti.Karena apa?,Karena Aku dan anakmu tidak bisa hidup tanpa Dirimu" Juna semakin tersentuh mendengar perkataan istrinya.


tangannya terangkat untuk membalas pelukannya semakin erat.


"Aku mencintaimu sayang" Hati dara menghangat dibuatnya."Terimakasih karena telah mau mengerti diriku" Sambungnya lagi.


Dara mengangguk dan tersenyum."Itu sudah tugasku sebagai istrimu." Dara melepaskan pelukannya.


"Sayang,Dimana wajah dinginmu 7


itu,Kenapa Tergantikan dengan wajah melow sekarang.Berkacalah,Kau sangat jelek tau" Juna terkekeh dan menghapus sisa air matanya.

__ADS_1


"Aku ingin Juna yang dulu.Juna yang dingin namun perhatian dan penyayang" Juna tersenyum dan mennjitak kepala dara dengan pelan." Jangan bercanda sayang..." Dara tertawa dan kembali memeluk Juna.


"Aku hanya mencoba untuk menghiburmu" Juna mengangguk Dia tersenyum dan meninggalkan Kecupan dirambutnya.


__ADS_2