
Satu Bulan kemudian...
"Kapan Jadwalmu untuk periksa Ke dokter?"Juna bertanya dengan lembut,Melingkarkan Tangannya Dan sesekali mencium istrinya dengan hangat.
"Minggu depan!.Kenapa,Apa kau ingin menemaniku?"Dara bertanya dengan gembira.Dia sangat Senang Jika akhirnya Juna akan menemaninya untuk periksa kandungan,Karena Selama lebih dari Tujuh Bulan lamanya Dia mengandung,Juna tidak pernah Menemaninya untuk check up.
Juna Diam sambil menunjukkan raut yang terlihat sedang berfikir keras."Ummmmm,Aku rasa Minggu depan Pekerjaanku Tidak terlalu padat.Jadi aku bisa menemanimu!"
Sudut bibir Dara Terangkat membentuk sebuah senyuman."Aku mencintaimu"Dara mendengar Dan memangut bibirnya dengan pelan.
Awalnya Juna Sangat terkecil karena perlakuan istrinya yang secara tiba-tiba,Tapi Karena Perasaannya Yang sangat indah membuat Juna dengan senang hati untuk membalasnya.
"Aku berangkat ya" Juna Menatap isrinya setelah melepaskan ciumannya.
Dara Mengangguk dengan senyum.
Dengan perlahan,Dua pasang kaki Itu Mulai berjalan dengan seirama.Terkadang Juna Akan tersenyum Saat Mengingat Beberapa momen yang telah mereka habiskan selama ini."Hahhhh,tidak terasa Waktu telah bergulir dengan begitu cepat." Juna menghentikan langkahnya Dan menoleh kearah istrinya.
"Jika Saat Ini kau sendiri yang mengantarku keluar,Maka dua bulan Lagi akan ada jagoan kita yang akan menemanimu"Tangan Juna terangkat untuk menyapa Babynya yang Masih setia didalam Perut ibunya.
Dara tersenyum dan mengelus Rambut Suaminya."Daddy Berangkat ya sayang.Jangan nakal,Dan satu lagi,Jagain Mom"
__ADS_1
"Iya Daddy" Jawab Dara dengan menirukan suara anak-anak.
Juna kembali berdiri tegak,menatap istrinya dengan Sayang,Dan tak lupa untuk mengumbar senyum indahnya."Aku pergi ya" Sekali lagi Juna mendekat untuk Mencium istrinya yang seakan Candu baginya.
"Hati-hati"
Juna mengangguk dan mulai melangkah pergi untuk menyelesaikan harinya dengan pekerjaan.
........
Jika disana Juna dan dara sedang Berbahagia dengan Segala cinta Dan kasih yang selama Ini Mereka Rasakan,maka berbeda dengan Varo yang saat Ini lebih memilih untuk Berdiam diri dikamarnya.
Dia bersandar dan memejamkan matanya yang terasa lelah.Entah apa yang dia pikirkan hanya dialah Yang tahu.Tapi yang pasti selama kurang lebih dari satu bulan Ini,Varo merasa sangat Sulit untuk bernafas Ataupun Berfikir dengan baik.Karena yang ada dihati dan benaknya adalah sebuah Kesalahan ataupun penyesalan yang sudah Lama dia pendam selama ini.
Selang beberapa menit,Varo berdiri dan menyambar sebuah Jas dan kunci mobil yang tergeletak diatas meja.Dengan kecepatan Rata-rata,Dia mulai melajukan mobilnya Kearah Jalanan yang selama ini jarang dilaluinya.
setelah menempuh perjalanan selama Lebih dari setengah jam, Akhirnya Mobil Varo mulia Terparkir pelan Dia Area TPU dimana Tempat peristirahatan Terakhir Putranya.
Dengan sedikit keberanian,Varo sedikit menurunkan kaca mobilnya dan menatap kearah pemakaman yang Terlihat sepi tak banyak pengunjung.Dia tersenyum tipis dan Memberhentikan matanya dititik makan Putranya.
Kemudian Varo mulai turun dan berjalan ketempat yang ditujunya dengan sebuah Buket mawar ditangannya.Saat Langkah kakinya sudah mula mendekati pusara, Jantungnya mulai berdetak dengan hebat dan sulit untuk dikendalikan Hingga kakinya benar-benar berhenti didepan pusara Kecil yang bertuliskan Nama putranya disana.
__ADS_1
Dia berjongkok dengan wajah Yang terlihat sedih,Meletakkan bunga yang tadi sempat dibawanya Dan memejamkan mata untuk melantunkan sebuah Do'a.
" Hey Boy...!" Tangan Varo terangkat untuk menggapai sebuah Nisan Kecil yang ada dihadapannya."Apa kau marah pada Daddy,Karena tidak pernah menjengukmu selama ini?"Air mata Varo mulai menetes Menemani setiap Rasa sakit yang tertanam didadanya."Maafkan Daddy Sayang,Maafkan Daddy Karena terlalu sibuk dengan urusan dunia ini hingga Tak pernah meluangkan waktu untuk menemuimu.Sebenarnya,bukan Daddy tidak Mau sayang,Daddy Cuma Tidak sanggup untuk bertemu denganmu Karena kebodohan Daddy lah yang membuatmu harus pergi secepat Ini."
Tangis Varo pecah mengisi kesunyian TPU yang terlihat Sunyi.Varo sangat menyesal,Sangat menyesal karena telah Bersikap lalai hingga Naya berbuat Nekat seperti itu.
Lama kelamaan Varo mulai bersimpuh untuk menyandarkan Kepalanya Diranah yang sudah ditumbuhi rerumputan hijau."Maafkan Daddy Roy...Maafkan Daddy hikss..."
Disaat Itu Juga,Ada seorang wanita yang menyaksikan kesedihannya dari Sebuah tempat yang tak jauh darinya.Dengan langkah yang pelan dan serangkai bunga ditangannya,wanita Itu mulai berjalan kearah Varo Berada.
Dia ikut berjongkok Disamping Varo dan mengusap Bahunya dengan pelan."Maafkan Aku...Maafkan aku Varo" Ucapnya dengan Nada yang tercekat.
Varo terdiam dan mendongak untuk mentap sang pemilik suara Itu.Saat Ini hanya keheninganlah yang menemani mereka walau sekarang Dua pasang Mata itu telah bertemu.
"Untuk apa kau meminta maaf padaku?,Untuk pengkhianatan mu Naya?" Varo bertanya dengan wajah Yang tersenyum.
Kanaya Menggeleng Dan tanpa sengaja dia langsung memeluk Varo dengan erat."Maafkan aku Varo....Maafkan aku hiks.. hiks" tangisnya pecah Didalak dekapan Varo,mantan Kekasihnya.
Sama halnya seperti Varo,Selama sebulan Ini Kanaya Juga mengurung diri dirumahnya dan terus menangis setiap Waktu.Dia sadar Jika semua ini bukanlah keseluruhan dari kesalahan Varo.Dia sadar Jika Dia juga bersalah disini,dan itu sebabnya Varo nekat untuk menyembunyikannya Hingga Juna Menganggapnya telah tiada untuk selamanya."Maafkan Aku Varo Hiks.....Aku salah dan kau berhak membenciku.Bahkan bukan kau saja,Juna,Dia,mereka ataupun semua Orang didunia ini berhak membenciku.Karena aku adalah sosok wanita yang sangat kejam Varo hiks.."
Varo tersenyum dan tanpa sengaja tangannya membalas pelukan erat yang dilakukan oleh Kanaya.
__ADS_1