Cinta Yang Sebenarnya

Cinta Yang Sebenarnya
Bab 135_Sebuah kebenaran 4


__ADS_3

_Dara terbangun dan mendapati Juna yang sedang duduk disampingnya."Kau sudah bangun?" Juna menatapnya dengan lembut dan mulai menutup laptopnya.


Melihat wajah Istrinya membuat Hati Juna kembali tersayat.Pasalnya,setelah dara tertidur tadi Juna langsung mengecek seluruh Cctv yang terpasang dimansionnya.Dia sangat terkejut saat melihat Dara Yang terus menangis dikamar,dan yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah dimana Dara keluar seorang diri Dan berlari kegarasi hanya untuk mengecek mobilnya.


" Kau tidak kekantor?" Tanya dara dengan serak.


Juna menggeleng dan mulai membawa dara kedalam pelukannya.Dara terpana melihat senyum serta tatapan suaminya.Tatapan itu sangat berbeda dengan semalam karena tatapan ini penuh cinta dan kehangatan.


"Mandi ya" Dara mengangguk dan mulai turun untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai mandi,Dia mendapati Juna yang masih setia diranjang dengan Sepiring nasi dan segelas susu disampingnya."Kemari" Perintah Juna Sambil menepuk-nepuk pahanya.


Dengan patuh Dara mulai Duduk dipangkuan Juna.Rasanya masih janggal,Karena Pertengkaran mereka semalam."masih marah padaku?" Tanya Juna yang sesekali mengecupnya.


Dara menggeleng lemah dan terus menatapnya."Makan ya" Dengan perhatian Juna mulai menyuapkan sesendok nasi Kemulut Istrinya.


Dara menggeleng lagi tanda Ia tak setuju dengan permintaan sang suami."Kenapa?,Ini sudah siang sayang"


Dara terus menggeleng."Bagaimana Jika kamu sakit nanti.Kasian baby kita sayang" Juna mencoba untuk membuatnya mengerti.namun Tetap sama,Dara masih setia menutup mulutnya dengan rapat.


Juna menghela nafasnya dengan berat.Dia tahu bahwa istrinya masih marah kepadanya walau Dara Menjawab gelengan atas pertanyaannya tadi.


Dara diam karena melihat raut wajah Juna yang berubah.Perasaan takut kembali menyeruak dalam dirinya,Dia takut bila Juna kembali bersikap kasar kepadanya.Dengan pelan-pelan dia mulai turun dari pangkuan Juna tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun."Kenapa?"Tanya Juna yang dijawab gelengan oleh dara.


Juna meletakkan piringnya dan kembali menarik tubuh dara kepangkuannya."Aku tahu kau masih marah.Tapi jangan egois sayang,Pikirkan anak Kita" Juna menempelkan keningnya kepipi Dara.


Dara diam dan mencerna setiap perkataan Juna."Makanlah.Aku berjanji akan menjelaskan Segalanya kepadamu nanti" Dara mengangguk.Dia meraih piring yang tadi sempat dipegang oleh Juna dan melahapnya dengan tenang.


Juna Tersenyum setelah Melihat Makanan istrinya habis tak tersisa."Gadis pintar"Pujinya sambil mengecup bibir nya dengan singkat.


"Aku ingin kekamar mandi"Ucap Dara pelan.Juna mengangguk dan mulai melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Saat Dara masih berada didalam kamar mandi,Tiba-tiba saja ponselnya bergetar.Juna bangkit dan berjalan untuk membukanya.


"Apa kau baik-baik saja Ra?" Matanya memanas saat melihat sebaris pesan yang masuk kedalam ponsel istrinya.Dia bisa menebak bahwa pesan ini dikirim dari Nomor Varo, Musuhnya.


"Brengsek" Dia melempar ponsel itu Kedinding hingga pecah.


Dara yang baru saja keluar merasa terkejut dengan apa yang dia lihat Barusan.Tubuhnya bergemetar hebat,Dia Mundur beberapa langkah Untuk menghindari Juna.Namun gerakannya kalah cepat,Juna sudah lebih dulu melihatnya.


"Sayang...!" Juna berlari untuk menghentikan istrinya yang berniat untuk menutup pintu itu kembali.Tapi sayang,Dara sudah lebih dulu menguncinya.


"Sayang buka pintunya" Teriak Juna sambil menggedor-gedor pintunya.


"sayang aku bilang buka pintunya"Teriak Juna lagi.


Mendengar teriakan serta Ketukan Juna yang sangat kuat membuat Dara semakin merasa ketakutan.Dia berfikir bahwa suaminya akan menyakitinya lagi nanti."Sayang,Buka pintunya" Teriakan Juna masih terdengar jelas diluar sana.


Tanpa berfikir panjang,Juna Langsung mendobraknya dan pada Dorongan ketiga,akhirnya pintu itu terbuka sempurna.


"Hey,Siapa yang ingin menyakitimu hmm."Juna mendekat dan langsung memeluknya dengan hangat."Aku tidak akan menyakitimu sayang."Juna mencoba untuk menenangkannya.


"Aku takut Juna,Aku takut..." Lirih Dara Yang terus meronta-ronta ingin dilepaskan.


"Sayang tenanglah.Aku tidak akan menyakitimu" dengan sekuat tenaga,Dara terus mencoba untuk melepaskan diri dari dekapan suaminya.


"DARA...!" bentak Juna.


Tepat,Dara langsung terdiam dan mulai berhenti untuk memberontak."Siapa yang ingin menyakitimu ha?.Aku ini suamimu,dan kau adalah istriku.Suami mana yang tega menyakiti istrinya sendiri?.Aku sudah bilang kan bahwa aku tidak akan menyakitimu.tapi Kenapa kau semakin menangis" Ucap Juna dengan suara yang sedikit tinggi.Dia merasa kesal sekarang.


Dara Diam dan Terus menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Juna."Kau menyakitiku semalam"Lirih Dara Dengan pelan.Bahkan Juna hampir tak bisa mendengarnya.


Juna terdiam.Perkataan istrinya membuatnya merasa tertampar dan tak bisa berkata apa-apa.Iya..Istrinya benar,Dia telah menyakitinya semalam.Dan itulah yang membuat Dara merasa takut dengannya.

__ADS_1


Saat ini hanya penyesalan lah yang tertinggal.Karena sikap emosional yang tak terkontro,Dara jadi sangat takut dengan nya."Maafkan aku sayang" Juna mempererat pelukannya.


Dara sudah tenang,Hanya isakan kecil lah yang terdengar."Jangan menangis lagi ya" Juna Menggapai wajahnya dan menghapus air matanya dengan perhatian.


Dara mengangguk dan kembali memeluk Juna lagi."ayo" Juna mulai beranjak dan membantu Istrinya untuk berdiri.


"Jangan takut sayang.Ini aku suamimu"Dara berjongkok dan menatap wajah istrinya yang sedang duduk diranjang sekarang.


"Kau tidak akan menyakiti ku lagi kan?"Air matanya kembali menetes.


Dengan cepat Juna menggeleng dan menghapus air matanya."Maafkan Kesalahanku saat itu.aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi sayang" Juna beranjak dan Memeluk istrinya dengan hangat.


Sekarang Dara merasa lebih tenang.Setidaknya pelukan serta sentuhan Juna membuatnya bisa Menghilangkan rasa takutnya dengan perlahan.


Kemudian Dara menoleh kearah ponselnya yang pecah.Juna ikut memandangnya."Aku akan menggantinya" Ucap Juna dengan singkat.


"Tapi bisakah kau berjanji padaku" Juna menatapnya dengan lekat.


"Apa"Jawab Dara serak.


"Jangan pernah menerima telfon atau pesan Darinya."Juna berkata dengan pasti.Matanya memancarkan harapan yang sangat besar kepadanya.


Dara mengangguk,Karena dia tahu siapa yang dimaksud oleh suaminya.Regan..Iya Reganlah yang dimaksud oleh suaminya.Karena Regan jugalah salah satu penyebab dari pertengkaran mereka.Tapi hingga sekarang dara masih tidak paham tentang apa yang membuat Juna bisa semarah itu kepadanya.


"Juna kenapa kau sangat marah saat itu?"


Juna terdiam dan mencoba untuk mengatur detak jantungnya yang sangat hebat.Sebenarnya dia bingung harus memulainya dari mana.Dan Juga,Bila dipikir-pikir,Dara sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu.Dia hanya tidak tahu siapa Varo sebenarnya.Lalu kenapa Juna bisa sangat marah semalam.


___________


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2