Cinta Yang Sebenarnya

Cinta Yang Sebenarnya
Bab 150_Bukan Karma.


__ADS_3

_Naya berjalan dengan gontai menyelusuri Jalanan yang sedikit padat karena ini adalah waktunya jam makan siang.Apa yang didengar atau dilihatnya Tadi membuatnya merasa sangat Gila Dan putus asa.Sekarang tidak ada lagi tempat atau ruang Untuk dirinya dalam hidup Juna.


' Apa yang harus kulakukan Tuhan?,Haruskan aku menerima Ini semua?,Atau haruskah aku menjadi wanita Yang kejam demi sebuah Berlian yang sangat Kuinginkan? '


Naya terduduk Seorang diri di halte bus ditempatnya berada.Dia menunduk dan meremas dadanya dengan erat." Hiks...hikss...hikss..."


Disana,Ditempat sang sama dengannya seorang pria tengah tersenyum penuh arti didalam mobilnya.Dia sengaja berhenti dipinggir jalan hanya untuk menyaksikan Bagaimana sedihnya Wanita itu saat Mengetahui bahwa tunangannya telah memiliki kehidupan sendiri sekarang.


" Bagaimana rasanya,Sakit kan?." Gumamnya dengan pelan.Dia senang tapi juga sedih,Karena Semua ini terjadi karena rencananya Dulu."Itulah yang kurasakan dulu Naya,Saat kau lebih memilih untuk meninggalkanku demi Pria Brengsek itu." Varo menatap dalam kearah Kanaya yang masih menangis senggugukan Disana.


Disini bukan hanya Kanaya yang tersakiti,Karena dirinya juga merasakan itu.Varo tersenyum dan mulai keluar dari dalam Mobilnya.


Dengan serentak kakinya mengayun ketempat seorang wanita Yang saat ini sedang menumpahkan segala tangisnya disana.


" Dunia ini sangat sempit bukan?" Kanaya mendongak,menatap Pemilik suara yang baru saja menyapanya.


"Varo.." Gumamnya dengan tercengang.Air matanya berhenti mengalir karena melihat sosok Varo yang tiba-tiba saja muncul didepannya.


"Rasanya sangat sakit bukan?" Varo bertanya untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


" Varo kenapa kau tidak mengatakan ini semua sedari awal Hah,Kenapa Kau membiarkanku Untuk mengetahuinya sendiri Hikss,apa kau sengaja hah?,Kau sengaja melakukan itu Agar kau bisa tertawa saat aku menangis seperti ini Hiksss" Kanaya berdiri Dan mencengkram kerah Varo dengan erat.Dia kembali menangis dan meluapkan segala Kesedihan dan kekesalannya.


"Apa aku tertawa sekarang?.Apa aku tertawa saat melihatmu menangisi pria brengsek itu?.Tidak kan" Varo menghempaskan tangan Kanaya dengan kasar."Apa yang kau alami sekarang adalah bentuk Karma untuk segala perbuatanmu yang telah menghianatiku dan menyingkirkan putraku." Bentak Varo.


"Itu bukan Karma Varo,Itu bukan Karma hiks.Semua ini adalah Rencanamu untuk membalasku.iya kan?" Teriak Kanaya Yang kembali mencengkram erat Kerah Varo.


"Jika Yang kau katakan itu memang benar,Lalu kau mau apa?."


Kanaya tercengang untuk beberapa saat.Dia bingung harus menjawab apa karena Memang dirinya pantas untuk dibalas karena perbuatan kejinya Dulu.Tapi kenapa harus Juna?,Kenapa Harus Juna lah yang membuatnya merasa sangat sakit dan terluka.


Varo ikut diam dan melepaskan Tangan Naya." Dengarkan Aku Naya,Apa yang kau alami sekarang Itu semua belum setimpal dengan Apa yang kurasakan Dulu." Dia Menjedanya dan mengatur nafasnya dengan sangat Dalam."Keputusanku untuk melepaskanmu Hanya untuk meringankan segala beban yang kutanggung akibat semua kejahatanku selama Ini.Aku hanya Ingin jika kau akan Merasa tersakiti dengan sendirinya tanpa Ada campur tanganku sedikitpun" Jelas Juna yang membuat Kanaya Tersenyum sinis.


"Jangan Berbicara Tentang dosa dihadapanku Naya,Karena Kau Lah yang pendosa disini" jawab Varo dengan mata yang menajam." Apa yang kulakukan Ini belum sebanding dengan Dosa yang selama Ini kau perbuat." Varo berkata dengan sorot mata yang tajam.


"Seharusnya Kau berterimakasih kepadaku Karena Kau telah Bebas dan dapat mengetahui segala kebenaran Ini dari pada kau harus Terkurung seumur hidup demi sebuah Harapan Yang Tidak akan pernah Kau dapatkan" Ucap Varo yang langsung meninggalkan Kanaya yang masih terdiam Ditempatnya.


****@****


_Juna duduk sambil memeluk istrinya dengan hangat.saat Ini pikirannya masih dipenuhi oleh Kanaya,Seorang wanita Yang baru saja Bertamu kerumahnya."Sayang..!" Dara memanggilnya dengan pelan.

__ADS_1


"Hmmm"


Mereka saling memandang dalam Jangka waktu yang cukup Lama." Ada apa?" Juna bertanya Saat melihat Dara yang masih diam dan menatapnya dengan pandangan yang rumit.


' Aku hanya berfikir Juna,Berfikir tentang takdir kita yang akan selanjutnya.Melihat Kanaya yang menangisimu membuatku tahu jika Dia masih sangat-sangat mencintaimu.Lalu bagaimana Nanti jika takdir kembali mempermainkan Kita?,Haruskah aku bersiap dari sekarang '


"Ada apa?...Katakan Saja Sayang"


Dara menggeleng Dan Kembali menenggelamkan wajahnya."Jika Saat ini kau belum mencintaiku,Apa kau akan meninggalkanku demi Kanaya?" Tadi dia menggeleng Tapi Setelah Berdiam Beberapa saat akhirnya Kalimat Itu keluar dengan begitu mulus Dari bibirnya.


Juna menahan Nafas Dan memejamkan matanya dengan Rapat. " Tidak..." Jawabnya singkat.


Dara mendongak Menatap Ekspresi Juna yang sangat tak biasa saat ini."Kenapa?" Dia bertanya dengan heran.


"Sayang berhentilah bertanya sesuatu yang membuatku sulit untuk bernafas nantinya.Aku sudah bilang bahwa Dalam Hidupku aku hanya akan menikah sekali dalam seumur hidup.Dan jika kau bertanya seperti itu apa salah jika Aku menjawab Tidak?.Aku tidak ingin menjadi pria brengsek yang akan meninggalkanmu dan anak kita hanya demi kebahagiaan semata yang yang tidak akan membuatku tenang nantinya"


Dara terdiam tak berkutik karena mendengar Perkataan Juna.Dia berkata dengan lembut,Tapi Dara tahu jika itu adalah kalimat yang memarahinya."Aku hanya takut Juna" Ucapnya dengan tercekat.Dia menunduk dan bersiap untuk kembali menangis.


"Apa yang kau takutkan sayang?,Aku disini.Aku akan terus bersamamu.Dan aku telah berjanji untuk itu" Juna Berusaha untuk merubah Suasana hatinya karena tidak ingin Dara menangis lagi nantinya.

__ADS_1


Dara mengangguk dan kembali memeluk suaminya dengan erat.Jawaban Juna memang Mampu menggertak nya Tapi setidaknya Ketakutan Itu Bisa sedikit menghilang Dari dirinya.


__ADS_2