Cinta Yang Sebenarnya

Cinta Yang Sebenarnya
Bab 137_jangan pernah menemuinya lagi


__ADS_3

Dara berjalan dengan pelan,menyusul suaminya yang kini sedang berada diruang tengah.Awalnya Dia berdikir bahwa Juna akan meninggalkannya seperti kemarin,Tetapi ternyata tidak.Dia masih dirumah walau Juna lebih memilih untuk menjauh darinya.


"Kau tidak kekantor?"Juna menoleh saat mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya.


Mata mereka bertemu dan saling menyapa,yang Menyampaikan sebuah cinta Juga kesulitan.Juna diam dan tak menjawab,Dia hanya menatap Dara yang hanya berdiri disampingnya dengan wajah yang terus menatapnya.


"Kenapa?" Juan bertanya dengan lembut.


Dara menggeleng pelan,Tapi sekian detik kemudian Cairan bening kembali membasahi pipinya.


Juna sangat terkejut dan refleks berdiri untuk menggapainya tubuhnya."Kenapa nangis hmmm?" Juna memeluknya berharap bahwa istrinya akan tenang.


"Aku pikir kau akan meninggalkanku lagi juna hiks...." Lirihnya dengan Pelan.Dia menutup wajahnya Agar Juna tidak melihat wajahnya yang sangat sembab dan jelek sekarang.


Juna tersenyum penuh arti,Senyumnya memang indah,tapi siapa tahu jika hatinya merasakan sakit yang teramat dalam."Maaf Ra...Maafkan aku" Juna semakin mempererat pelukannya.Dia menyesal,sangat menyesal karena telah Meninggalkan Dara semalam.


Dara semakin sedih dan semakin menangis dengan kencang."Hey....!,Jangan menangis" Juna Menggapai wajahnya yang telah dipenuhi air mata."Jangan nangis Dara,Aku disini" dengan perasaan gusar,Juna mulai mengusap air matanya.


"Kau marahkan,Kau marah padaku?.Itu sebabnya kau memanggilku Dara dan tak lagi memanggilku sayang" Dara berteriak dan tangisnya semakin kencang.


Kegusaran Juna tadi kini berganti dengan Kegelian yang tercipta karena kelucuan istrinya."Memangnya siapa Yang Marah hmm,Kalau Aku marah,Aku akan membentakmu bukan?" Juna menarik pipinya karena gemas.


"Juna....".Dia menghempaskan tangan suaminya Dan terus menangis.


Juna diam dan menahan tawanya."Kau sangat menggemaskan" Dia kembali menariknya kedalam dekapan hangat nya.


"Juna,maafkan aku" Dia sedikit mendongak untuk menatap Wajah Juna dari dekat.

__ADS_1


Juna tersenyum dan mengangguk.Dia mendekat untuk mencium istrinya dengan hangat.Dia rindu,sangat rindu Istrinya.Satu malaman tidak memeluknya atau menciumnya,Juna semakin gila dibuatnya.


"Jangan pernah menemuinya lagi." Bisik Juna ditelinganya.


Dara mengangguk dan semakin mempererat pelukannya."Aku berjanji untukku dan juga Untukmu" Ucap Dara dengan pelan.tangisnya sudah mulai mereda.


Juna tersenyum dan mengusap bahunya dengan sayang.


________


"Dimana Dia?"Tanya Varo yang baru memasuki rumahnya.


"Nona Kanaya tidak keluar dari kamarnya sama sekali tuan" Jawab Pengawalnya.


Varo tersenyum penuh arti.Dia bisa menebak bahwa Kanaya akan melakukan segalanya demi kebebasannya.Dengan langkah yang tegap,dia mulai berjalan keatas.


Naya menoleh.Dia menatap Varo yang kini berjalan mendekat kearahnya.


"Untunglah kau tidak nekat untuk mencari nerakamu sendiri" Varo menatapnya dengan intens,begitupun dengan Naya.


' Hanya Satu Minggu Naya..hanya satu Minggu.Bersabarlah Demi hari emasmu nanti dan tinggalkan pria brengsek ini '


"Kenapa dengan tatapanmu itu?,Apa kau mau Aku mengutuknya Untuk terus seperti itu?" Tanya Varo saat melihat Naya yang kini menatapnya dengan tajam.


Naya tersenyum sinis."Jika aku tahu kau adalah pria brengsek,Aku tidak akan Sudi untuk bertemu Apalagi berkencan dengan mu" Ucapnya dengan santai.


Varo Menyipitkan matanya,Dia tidak menyangka bahwa kalimat itu Akan keluar Dari Mulutnya.Tapi untuk saat ini,Varo tidak ingin meledakkan emosinya,mengingat tentang semua rencana yang telah ia susun semalam.

__ADS_1


"Huh....Terserah Kau mau mengatakan apa saja,aku tidak perduli.Yang terpenting bagiku adalah dirimu yang harus menuruti setiap perkataanku" Varo mendekat dan langsung menyeretnya keluar kamar.


"Varo,lepaskan" Naya mencoba untuk Melepaskan diri Dari Varo."Varo lepaskan aku" Teriaknya.


Namun Varo tak menggubris perkataan nya.Dia terus berjalan Hingga sampai didepan pintu kamarnya.Setelah pintu kamarnya terbuka,dia kembali Menyeret Naya dan menghempaskannya dengan kasar keranjang.


"Kau mau apa?. Jangan gila Varo" Naya menggelengkan kepalanya dengan raut yang sedikit ketakutan.


Varo tersenyum sinis dan mendekat."Dimana tatapanmu tadi?.Dimana Cibiranmu tadi hmm?."Varo mencengkram dagunya dengan kuat yang dapat membuat Naya meringis ketakutan."Apa kau takut sekarang?"dia terus tersenyum yang dapat membuat Naya mematung.


Kemudian dia kembali menegakkan tubuhnya."Jangan gila Varo..!" Naya menggeleng karena melihat Varo yang mulai membuka jasnya dan melemparnya ke sembarang arah.


Dia mundur hingga terhenti dipembatas ranjang.Varo tertawa dan terus mendekat kearahnya.Bahkan kini kakinya sudah merangkak naik keatas ranjang."Varo,Jangan gilammmmppppp" Ucapannya terhenti karena Varo langsung menciumnya.


' Dulu aku sangat mencintaimu naya.Bahkan aku pernah membayangkan tentang keluarga kecil kita dengan adanya Roy ditengah kita.Tapi apa nay?,Kau telah menghancurkan mimpiku dan tega membunuh putra kita demi kepuasan duniamu.Dan inilah aku,Varo yang dulu kau kenal telah berubah menjadi jelmaan iblis karena Kesalahanmu sendiri.'


Varo menatap Naya Yang berlinang air mata setelah menyudahi ciumannya."Kenapa kau menangis?,Apa Kau Merasa Menghianati Juna sekarang" suara Varo sangat tercekat.Jika mengingat tentang Roy,entah kenapa emosinya langsung cepat tersulut.


Varo tersenyum diatas diamnya Naya.Dia bisa menebak bahwa pertanyaannya tadi memanglah benar.kemudian Varo beranjak dan tertawa sambil menggelengkan kepalanya."Nayaa...Naya" Dia terus menggeleng,Menatap Naya yang Langsung terduduk didepannya.


"Kau menjaga Cintamu untuk Juna.Apa menurutmu Juna juga menjaga cintanya untukmu?"


Naya mengerutkan alisnya.Perkataan Varo cukup menguras tenaganya untuk berfikir dengan Keras..


"Keluarlah,Kau membuatku pusing" Usir Varo.


Dengan cepat,Naya langsung bergegas lari untuk keluar Dari kamar Varo.ini adalah kali kedua baginya Untuk masuk kekamar Varo.

__ADS_1


Varo tersenyum menatap punggungnya yang sudah menghilang dibalik pintu.


__ADS_2