
Juna Diam dan menatap istrinya dengan Haru."Sini" Juna mengulurkan tangannya dan meminta istrinya untuk menghambur kedalam pelukannya.
Dengan patuh,Dara Langsung menghambur kedalam pelukan suaminya.Moment ini sangat indah,Bahkan Lebih indah Dari lebahagiaan yang dulu pernah diberikan Juna kepadanya."Aku mencintaimu Juna" Dara mendongak menatap suaminya Yang juga menatapnya.Bibir mereka tersungging membentuk sebuah senyuman yang sangat indah.
"Aku lebih mencintaimu sayang" Jawab Juna sambil kembali memeluknya.
' Apa kau tahu Dara?,Aku juga pernah merasakan takut kehilangan yang luar biasa.Disaat Varo memberitahuku bahwa dia juga menyimpan sebuah Harapan dan cinta untukmu '
Juna memejamkan matanya,Mencoba Untuk mengingat segala ucapan yang dilontarkan Varo saat itu.
*Flashback on
Saat Juna mengetahui Fakta Jika Sahabat yang dimaksud Dara itu adalah Varo,Dia langsung bergegas Untuk menemuinya setelah meninggalkan Rumah Selama hampir semalaman.
" Varo...!" Teriak Juna menggema diseluruh ruangan.
"Varo...!"
Awalnya Varo sedang ingin menenangkan Diri dengan cara merendam wajahnya di Air dingin.Tapi saat mendengar suara yang sangat dikenalinya, Varo Langsung bergegas untuk turun.
" Apa kau Tidak memiliki sopan santun?" Varo menatapnya sinis sambil menuruni satu-persatu anak tangga yang berada dimansion nya.
Juna menoleh dan tersenyum sinis."Aku tidak menyangka Jika trik yang kau mainkan ini sangatlah Pengecut"
Alis Varo mencerut menjadi satu.Kepalanya belum benar-benar bisa untuk mencerna ini semua."Apa maksudmu?"
Juna memasang wajah sinis,Hingga akhirnya dia tertawa."Varo..Varo" Dia menggeleng sambil menatap kearah lain."Apa kau pikir aku Tidak tahu,Jika kau menggunakan Dara untuk meluruskan segala rencanamu itu"
__ADS_1
"Jaga mulutmu Itu Juna" Varo Mendekat dan langsung mencengkram bajunya dengan erat.Emosinya Langsung tersulut saat Juna menuduhnya dengan seenaknya
"Kenapa?,Apa yang kukatakan Ini benar bukan?.."Mereka saling bersitatap dan saling Melontarkan kebencian terhadap lawan masing-masing."
"Rencanaku untuk membalasmu itu samasekali tidak ada hubungannya dengan Dara karena Aku juga tidak tahu Jika Suami yang dimaksud dara itu adalah kau Juna"
"Tutup mulutmu"Juna menghempaskan Tangan Varo dengan Kasar.Dia tersenyum penuh arti kearahnya."Ingat ini baik-baik Varo.Jika kau berani melukai dara walau sedikit saja pun..Aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu" Sorot matanya terlihat sangat Tajam,Tapi Varo sama sekali tidak takut dengan itu.
Setelah itu,Juna langsung berbalik untuk pergi.
"Aku tidak akan melukainya Juna,Karena aku mencintainya"
Deg!
Juna menghentikan langkahnya.
"Brengsek" dia berbalik Dan...
BUG.....
Satu pukulan keras mendarat Diwajah mulus milik Varo.
"Dara adalah milikku,dan sampai kapanpun dia akan tetap menjadi milikku.Jadi jangan pernah melakukan Hal yang dapat melampaui batasanmu Varo,karena aku akan benar-benar membunuhmu jika itu sampai terjadi"
Juna kembali berjalan Untuk pergi meninggalkan Varo yang masih tersungkur dilantai sambil mengusap darah yang mengalir Dipipinya."Kita lihat saja Nanti,Aku yang akan membuatmu sendiri melanggar ucapanmu ini Juna"Gumamnya sambil beranjak dari Lantai.
Flashback off
__ADS_1
Juna Memejamkan matanya sambil menikmati hangatnya pelukan istrinya ini."Sayang,Kau tidak papa?"Dara bertanya dengan heran karena sudah hampir delapan menit lamanya mereka berpelukan.
"Hahaha,Maaf Sayang..." Juna melepaskan Pelukannya sambil tertawa tidak jelas.Dia merasa sangat down ketika mengingat perkataan Varo itu.
______________
"Apa kau bilang,Juna tidak memberikan reaksi apapun?" Varo bertanya dengan raut tak percaya karena selama ini dia berfikir jika Juna akan goyah setelah Kanaya kembali masuk kedalam Hidupnya.
"Ini tidak mungkin!" Dia menggeleng sambil memijit pelipisnya dengan pelan."Setahuku Juna sangat mencintai Naya.Tidak mungkin jika dia melepaskan Naya begitu saja" Gumam Varo yang masih didengar oleh Akbar, sekretarisnya.
"Menurut informasi yang kami Dapat,Tadi siang Tuan Juna Dan Nona Kanaya sempat bertemu di Landofa cafe.Saat Itu tuan Juna hanya memasang wajah Dingin dan datarnya..."
"Lalu Kanaya?"Piring Varo yang sangat penasaran.
"Nona Kanaya hanya menangis Tuan,bahkan hingga Tuan Juna sudah pergi dari sana" Jelas Akbar lagi.
"Apa kalian tahu Apa yang mereka bicarakan?,atau apapun itu?"
Akbar menggeleng lemah,karena hanya itulah informasi yang mereka dapat.
"Ahhhkkk,sial"Umpatnya dengan rasa kesal.
Dia duduk dengan kasar sambil Memegangi kepalanya yang terasa pusing.Jika seperti ini jadinya,Dia tidak lagi memiliki kesempatan untuk memiliki dara nantinya.
Sedangkan Akbar,Dia hanya bisa menunduk Karena Melihat Varo yang sangat prustasi.Dia juga sangat Takut Jika tiba-tiba Varo menghajarnya atau Memecatnya nanti.
"Baiklah kau boleh pergi" Ucapnya singkat tanpa menatapnya.
__ADS_1
"Ahhhhh,Syukurlah kau selamat Akbar.karena kau tidak harus mendapat tendangan keluar dari bos gilammu ini" Batin akbar."Baik tuan"Akbar membungkuk dan langsung berlalu pergi dari sana meninggalkan Varo yang terlihat sangat prustasi karena hal itu.