
Ketika waktu pemilu sudah dimulai. Orang yang sudah mengantri langsung masuk secara tertib satu per satu. Pertama-tama, mereka harus melewati cek identitas terlebih dahulu.
Setelah itu, setiap orang diberikan beberapa kertas yang akan mereka pilih. Setiap sesinya dilakukan di tiga bilik secara bersamaan. Lebih dari itu, mereka harus menanti giliran berikutnya.
Pemilihan harus bersifat luber jurdil sehingga tidak boleh ada paksaan dari pihak lain dalam melakukan pemilihan. Pemilih juga memiliki hak untuk merahasiakan siapa yang ia pilih.
Namun pemilu kali ini merupakan sebuah revolusi (katanya) karena menggabungkan beberapa pemilihan menjadi satu (pemilu terpadu atau apa gitu namanya). Hal ini membuat setiap orang memiliki lebih banyak kertas yang harus ia coblos dalam satu waktu.
Tentunya papan maupun tulisan mengenai aturan pencoblosan sudah kami sebarkan. Namun masalah para warga membaca atau paham tulisan itu lain lagi ceritanya. Dalam bilik mereka sudah disediakan paku untuk melubangi kertas yang mereka bawa.
Saya penasaran, kalau ada orang yang takut benda tajam apakah ia akan tetap memilih? Atau kebanyakannya dari mereka merupakan golput? Selesai mencoblos, para pemilih memasukkan surat yang sudah mereka bolongi ke kotak suara.
Semua proses ini harus ketat dan jangan sampai ada kecurangan yang terjadi. Karena hal ini akan merepotkan proses perhitungan nantinya. Beres dari bilik, suara mereka akhirnya pergi ke tempat diriku berjaga, tinta jari.
Warga yang telah selesai memilih harus mencelupkan jarinya ke tinta yang telah disediakan. Biasanya jari kelingking yang merupakan pilihan para pemilih. Namun ada juga orang iseng yang menggunakan jari lain.
"Baik pak. Sudah selesai, silahkan kembali menjalani kegiatan yang lain."
Prosesi ini terus berulang dari kami buka hingga tpu ditutup. Kalau tidak salah, penutupan tpu ini dilakukan saat siang atau sore hari. Karena kalau terlalu lama dibuka, kami nantinya tidak akan memiliki waktu untuk melakukan perhitungan suara.
Nonstop kami para petugas kpps tidak memiliki waktu untuk istirahat. Kalau yang aku lihat, posisi yang banyak menguras tenaga adalah yang pihak administrasi. Karena mereka mengurus banyak dokumen.
Posisiku saat ini menurutku yang paling mudah. Saat pemilih sedang kosong, kami dari panitia harus segera memilih pilihan kami juga. Karena kami masih memiliki hak pilih kami meskipun berperan sebagai kpps.
__ADS_1
"Baik, Ray. Ini kertas pemilihan. Yang cepat ya nyoblosnya."
Aku menerima kertas dari panitia dan pergi menuju ke bilik suara. Kalau tadi aku di posisi panitia. Sekarang aku berada di posisi pemilih. Namun aku harus memilih dengan lebih cepat karena pos yang aku tinggalkan tidak bisa kosong terlalu lama.
Saat Ku buka lembar suara satu per satu, aku cukup kebingungan dengan banyaknya surat yang ada. Untungnya aku sudah memikirkan siapa yang akan aku pilih sebelumnya sehingga bisa mempersingkat waktu. Beres melubangi surat suara, aku meletakkannya ke dalam kotak yang disediakan.
Tidak lupa, aku juga mencelupkan tinta ke jari kelingking untuk membuktikan kalau aku sudah ikut pemilu. Setelah semua itu beres ,aku kembali ke posisi ku semula sebagai panitia. Hal ini terus kami lakukan hingga tempat pemungutan suara ditutup.
Waktu terus berjalan, hingga pada akhirnya. Tempat pemungutan suara sudah mencapai akhir. Pak RT selaku ketua panitia menutup kegiatan pemilu kali ini dengan menggunakan speaker.
"Baik, bapak dan ibu. Dengan ini saya menyatakan kalau tps..ditutup. bapak dan ibu yang belum memilih haknya telah gugur dan surat suaranya sudah tidak diterima."
*Clap clap clap*
“Nak Ray, ayo ke sini untuk membantu perhitungan suara.” kata pak RT sambil melakukan koordinasi siapa yang harus melakukan apa.
Dari pengamatanku, ada beberapa posisi penting dalam perhitungan suara. Pertama, adalah orang yang membuka kotak suara, kemudian membukanya lebar-lebar dan diperlihatkan ke seluruh saksi. Kedua ada saksi yang melihat proses pembukaan surat suara. Ketiga ada yang mencatat hasil pemungutan suara. Dan jangan lupa ada orang yang memsatikan kalau surat suara yang dibuka adalah sah dan dihitung suaranya.
Kebetulan aku yang membuka kotak suara sehingga membutuhkan energi lebih untuk membuka kertas satu per satu. Karena aku tidak boleh membukanya secara sembarangan, khawatir surat suara akan robek saat proses membukanya. Satu per satu kertas suara dibuka sampai tidak ada yang tersisa. Namun karena pemilu kali ini digabung, surat suara yang harus dibuka jumlahnya lebih banyak dari biasanya, itulah kata para panitia yang senior.
Karena itulah, setiap selesai perhitungan suara, biasanya kami melakukan sesi istirahat selama beberapa menit. Ada juga sesi istirahat untuk sholat serta makan siang dan makan malam. Proses ini berlangsung terus menerus hingga malam hari dan itu pun masih belum selesai. Masih ada tugas yang harus kami lakukan, merekap kegiatan.
Kalau dulu, rekap ini hanya perlu tanda tangan ketua panitia saja, sehingga proses pengerjaanya lebih cepat. Namun untuk pemilu kali ini, semua panitia yang hadir harus ikut serta untuk tanda tangan dan menyalin hasil suara sebanyak 7 kali. Hal ini membuat kami semua kerepotan.
__ADS_1
Satu per satu surat laporan kegiatan kami kerjakan. Ada kalanya panitia istirahat sebentar. Mereka meminum kopi dan merokok untuk mengatasi kantuk yang mereka rasakan. Namun aku tidak termasuk ke golongan mereka. Karena aku tidak merokok, ngopi juga kebetulan hari ini aku sedang tidak nafsu untuk meminumnya.
Rekap ini terus kami lakukan hingga subuh. Kami begadang semalaman untuk menyelesaikan rekap kegiatan ini.
“Alhamduliha akhirnya selesai juga.” Ucap salah satu panitia
“Hah, akhirnya selesai juga” Ucapku sambil nyender di kursi.
Saat adzan subuh, barulah kami selesai mengurus segala yang perlu diurus. Pak RT juga sudah tepat karena ia sudah tidak tidur selama hampir dua hari. Dengan kondisi seperti ini, kami juga harus membersihkan TPS karena kursi dan bangku yang kami gunakan akan dikembalikan ke sekolah tempat kami meminjamnya. Selesai membersihkan semuanya, aku pamit ke semuanya untuk istirahat di rumah.
“Terima kasih untuk kerja samanya. Aku pamit dulu untuk pulang.”
“Ya, terima kasih untuk bantuannya.”
Aku kembali ke rumah untuk menjalankan shalat subuh kemudian langsung tidur tanpa banyak bicara. Dari pagi hari, aku menjalani kegiatan kpps hingga pagi hari lagi. Dalam hati, aku sangat marah karena bapak seenaknya mendaftarkan diriku menjadi panitia. Aku tidak ingin menjalani kegiatan seperti ini lagi untuk kedua kalinya.
‘Hah, capek sekali badan ini, aku sudah tidak sanggup membuka mataku…’ ucapku dalam hati sambil memejamkan mata dan pergi ke alam mimpi.
Saat terbangun, hari sudah siang. Aku segera membersihkan tubuhku kemudian pergi ke meja makan. Kemudian, aku mulai mengecek bagaimana hasil dari pemilu periode kali ini.
‘Kira-kira, siapa yang akan pada pemilihan kali ini? Aku tidak sabar untuk menantikan siapa yang akan jadi pemenang’ pikirku sambil menyalakan televisi untuk melihat hasil quick count ataupun count count yang lainnya.
*bersambung*
__ADS_1