
Setelah aku selesai menagih kontrakan, aku kembali ke rumah untuk istirahat. Sayangnya meskipun aku sudah capek-capek bawa laptop ke rumah, aku jarang memakainya karena lebih banyak tidur akibat lelah perjalanan daripada bermain laptop. Karena mood untuk bermain malah hilang saat pulang ke rumah akibat kelelahan.
Hari biasa kujalani hingga sampai pada minggu sore. Aku harus bersiap-siap untuk kembali ke Tangerang. Karena hari Senin aku sudah harus kerja kembali ke sana. Opsi lainnya selain sore hari, bisa saja sih aku kembali ke Tangerang Senin pagi.
Namun kalau berangkat pada jadwal itu, takutnya aku terlalu lelah untuk bekerja. Karena itu aku memilih pulang saat sore hari satu hari sebelumnya. Pastinya aku sudah pamitan dengan keluarga terlebih dahulu.
“Mamah, adik-adik. Aku kembali dulu ke Tangerang" Ucap diriku sambil memesan ojek online.
"Iya nak, Hati-hati di jalan. Yang rajin ya kerjanya. Harus semangat dan pantang menyerah."
"Baik mah"
Sambil menunggu ojek online datang, aku ngobrol sebentar dengan ibu. Sayangnya bapak belum bisa mengantarkan ke stasiun karena masih dirawat. Walaupun dia sedang tidak sakit, aku juga pasti akan tetap menggunakan ojek agar tidak merepotkan. Jarang sekali aku meminta orang di rumah untuk mengantar sampai ke stasiun.
Saat ojek telah datang, aku langsung membawa tas ku dan bergegas untuk naik ojek. Karena kalau terlalu lama, nanti driver tidak bisa narik penumpang berikutnya. Setelah aku naik, tidak lupa aku mengingatkan mamang ojek untuk menyetir secara perlahan dan hati-hati. Keselamatan berkendara itu nomor satu, karena keluarga menanti di rumah.
Jadwal keberangkatan kereta masih masih cukup lama, sehingga tidak perlu terlalu terburu-buru saat berangkat. Perjalanan menuju stasiun tidak memakan banyak waktu, hanya sekitar lima menit saja. Di perjalanan, aku hanya bisa menikmati pemandangan. Melihat orang lalu lalang di trotoar hingga melihat berbagai macam mobil lewat kesana dan kemari.
Sampai di stasiun, aku masuk ke dalam setelah memberikan helm kepada tukang ojek. Aku tidak membayar ojol tersebut secara tunai karena sudah kubayar melalui dompet elektronik. Pada pos tiket, aku sudah membeli tiketnya secara online.
Sehingga aku hanya perlu melakukan scan terhadap handphone milikku. Aku hanya tinggal menunggu kereta datang. Sambil menunggu, aku seperti biasa hanya menatap layar handphone sambil membaca berita.
Aku tidak berani ngobrol dengan sebelah karena malu. Kemampuan untuk berbicara dengan orang asing saat ini masih belum miliki. Sehingga aku hanya melakukan observasi saja kepada mereka. Karena cukup menarik melihat orang-orang yang akan naik kereta.
Ada yang sendirian, ada yang berpasangan suami istri, ada juga yang bersama dengan keluarga mereka pergi bersama. Aku mengamati mereka sambil melihat berita di dalam handphone.
"Kereta menuju Rangkasbitung akan segera datang. Silahkan tunggu di belakang garis kuning" Suara pengumuman kereta sudah muncul. Sepertinya sebentar lagi kereta akan datang.
Aku melihat ke arah rel, kulihat kereta sudah mulai datang ke Stasiun tempatku berada saat ini. Tidak ada yang spesial dari kereta ini. Sama seperti kereta lokal lainnya. Memiliki beberapa gerbong namun tidak ada gerbong restoran. Ketika kereta sudah berhenti secara total, aku mulai naik ke atas kereta.
Biasanya pada momen ini kita bisa mengetes seberapa cekatan penumpang kereta. Beberapa ada yang dengan cepat dan yakin menggunakan tangga yang telah disediakan. Ada juga yang berani lompat tinggi masuk melalui pintu gerbong kereta tanpa menggunakan tangga. Aku sendiri menggunakan tangga agar tidak terlalu memakan banyak energi.
__ADS_1
Satu gerbong kira-kira terdapat 100 kursi tempat duduk. Tempat duduknya dibagi menjadi a hingga e kemudian di depannya ada nomor bangku. Sayangnya kereta lokal ini masih belum ada pembagian kursi berdasarkan nomor.
Sehingga kalau mau duduk, harus rebutan dengan penumpang lain. Jadi untung untungan saja. Kadang dapat tempat duduk yang bagus, kadang malah berdiri sampai tempat tujuan. Setiap gerbongnya juga memiliki toilet untuk para penumpang.
Sayangnya kalau kita meninggalkan kursi, kemungkinan kursi kita diambil oleh orang lain cukup besar. Karena itulah aku berniat untuk tidak sama sekali pergi ke toilet sepanjang perjalanan. Aku sudah mempersiapkan diri dengan mengurusnya di toilet rumah. Kalian juga sebaiknya menggunakan toilet kereta sebelum menaiki kereta lokal. Karena WC di dalam kereta ini kurang nyaman.
Untungnya aku mendapatkan kursi paling bagus, persis di samping jendela. Namun sayangnya tempat ini dekat dengan toilet, sehingga bau pesing sering sekali aku cium. Karena itulah aku pakai masker untuk naik kereta ini.
Bau tidak sedap tidak hanya datang dari toilet. Terkadang penumpang di sebelahku memiliki bau yang menyengat juga. Sepertinya ia sudah melewati perjalanan yang panjang. Karena itulah aku hanya bisa bersabar saja. Toh, hanya satu setengah jam perjalanan dengan kereta ini.
Sambil menunggu waktu berlalu, aku menikmati pemandangan diluar jendela kereta. Terkadang aku juga mengecek handphone siapa tahu ada chat dari teman yang masuk.
"Kereta sebentar lagi akan sampai di stasiun akhir Rangkasbitung. Penumpang yang akan turun di stasiun Rangkasbitung harap perhatikan barang bawaan anda. Jangan sampai tertinggal atau tertukar. Terima kasih sudah menggunakan kereta lokal Merak Rangkasbitung. Kami tunggu kehadiran anda di perjalanan selanjutnya."
Aku langsung memeriksa semua barang yang aku bawa. Karena aku hanya membawa satu tas, tidak repot untuk memastikan ada atau tidak barang yang ketinggalan. Saat kereta sudah berhenti total, aku mengantri untuk keluar dari kereta. Biasakan budaya antri agar tidak terjadi keributan dan semua orang bisa nyaman menggunakan fasilitas umum.
Setelah itu aku masih harus pindah ke kereta KRL. Karena itu aku segera pergi ke luar untuk tap on di pintu depan stasiun terlebih dahulu. Saldo e-money sudah aku isi sehingga tidak perlu repot pergi ke loket untuk membeli tiket KRL.
Selesai melakukan tap on, aku kembali menanti kereta KRL datang. Karena saat ini kereta ke arah Serpong hanya datang setiap satu jam sekali. Jangan sampai aku melewatkan kereta, karena nanti terlalu malam aku sampai ke Serpong.
Pengumuman telah keluar dan semua penumpang berbondong bondong menuju tempat tunggu sesuai arahan petugas. Karena ini stasiun awal berangkat. Seharusnya semua kursi masih kosong melompong. Tidak ada penumpang yang sudah naik duluan di kereta ini.
Menurut temanku yang pernah menaiki kereta ini, saat menggunakan kereta ini, akan terjadi perang. Aku penasaran apakah hal itu benar. Beberapa menit kemudian kereta telah masuk peron dan pintu kereta mulai terbuka.
*Gruduk gruduk gruduk*
Ternyata benar kata temanku, banyak orang berebut untuk mendapatkan tempat duduk. Karena ini pertama kalinya aku menaiki kereta KRL. Wajar kalau aku kalah rebutan kursi.
'hahaha, serasa ulang tahun di restoran saja, main rebutan kursi.' ucapkan sambil tertawa kecil melihat kelakuan penumpang kereta KRL..
Lagipula kalaupun aku mendapat tempat duduk. Kalau di depanku ada orang tua, ibu hamil, atau ibu membawa anak. Aku harus memprioritaskan mereka dan memberikan kursiku.
__ADS_1
'jadi aku harus gelantungan seperti ini sampai tempat tujuan ya.' aku memperhatikan penumpang yang lain di sekitar tempatku berdiri. Jarak pandang di dalam kereta cukup terbatas karena terdapat pintu di antar gerbong dan banyak penumpang lain yang menghalangi pandangan.
Tidak seperti dugaanku, ternyata ada juga orang yang lebih butuh kursi tapi yang muda cuek dan tidak ingin menyerahkan kursinya. Namun ada juga orang baik memberikan kursinya. Memang tidak semua orang di dunia ini memiliki hati yang mulia. Aku sendiri hanya gelantungan sambil mendengarkan musik melalui handphone.
Sayangnya, terkadang gak susah dapat sinyal sehingga musiknya mati. Aku tidak menyimpan lagu secara offline karena storage hp tidak memadai. Kalau sudah tidak dapat internet, aku hanya bisa menikmati pemandangan saja. Baik itu pemandangan alam atau pemandangan manusianya.
Karena ada juga cewek cantik yang memperindah pemandangan bisa aku nikmati. Namun tidak sedikit bapak-bapak yang mukanya capek serta bau yang tidak sedap. Untungnya KRL memiliki AC sehingga baunya tidak separah kereta lokal yang tadi aku naiki
Satu persatu stasiun aku lewati. Sayangnya setiap penumpang yang turun, tempat mereka duduk jauh dari posisi diriku. Sehingga aku tetap melanjutkan berdiri hingga sampai ke tujuan.
"Stasiun Serpong, stasiun serpong. Penumpang yang akan turun di stasiun Serpong harap perhatikan barang bawaan anda. Jangan sampai ada barang yang tertinggal dan tertukar."
"Permisi pak, Bu, mau turun"
Aku langsung stand by di dekat pintu keluar. Karena biar lebih gampang dan tidak ketinggalan turun. Bisa repot kalau turun di stasiun yang berbeda. Waktu perjalanan bisa jadi lebih lama.
Sampai di stasiun, aku langsung ke tempat makan terdekat yang ada di stasiun. Fast food dengan menu ayam seperti biasa. Aku makan di tempat karena nanti ribet kalau makan di kontrakan.
Pengenya sampai kontrakan tinggal langsung tidur. Tidak perlu melakukan hal lain. Saat makan aku cukup senang bisa melihat pemandangan di stasiun. Kapan lagi bisa makan sambil lihat pemandangan kereta mondar mandir keluar masuk dari stasiun.
Selesai makan, aku shalat di mushola stasiun setelah menggunakan toilet umum. Beres melakukan semuanya, aku melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum. Saat di angkot, aku hanya fokus melihat pemandangan seperti biasa.
Karena kalau main hp aku takut ada pencopetan atau hpnya jatuh terlempar keluar angkot. Hal ini mungkin saja terjadi apalagi kalau supir angkot yang kita naiki punya darah pembalap.
"Pak, kiri pak" ucapku setelah melihat tempatku harus turun.
Sisa perjalanan aku tempuh dengan kedua kakiku. Menaiki jembatan penyebrangan kemudian memasuki gang hingga akhirnya sampai ke kontrakan.
"Akhirnya sampai, lumayan juga perjalanan kali ini." Gumamku sambil membuka pintu dengan kunci yang aku bawa.
Kurang lebih aku menghabiskan waktu 4 jam sampai ke kontrakan dari rumah. Memang kalau pakai kereta waktu perjalanan lebih lama. Namun relatif lebih murah. Kalau pakai mobil pribadi harus habis bensin 50 ribu dan tol 100 ribu rupiah. Tetapi waktu tempuh yang lebih cepat, hanya satu jam.
__ADS_1
Memastikan pintu telah terkunci kemudian mencuci kaki dan tangan. Aku langsung tidur setelah ganti baju dan menaruh tas pada tempatnya.
'Besok kerja seperti biasa. Hari Senin akan datang lagi.' ucapku dalam hati sambil menutup mata dan membaca doa sebelum tidur.