
PHP (Pemberi Harapan Palsu). Apakah kalian pernah mengalami PHP? Dengan siapa kalian mengalaminya? Beberapa orang mengalami PHP saat berusaha untuk mendekati lawan jenis yang menarik perhatian mereka. Mereka memberikan harapan palsu bahwa bisa jadian, namun ujung-ujungnya malah tidak ada kabar. Namun PHP juga bisa terpakai selain dari segi percintaan. Saat kita sedang mencari kerja, terkadang hal ini juga menimpa kita sebagai pencari kerja.
“Baiklah pak Ray. Terima kasih sudah hadir di wawancara kali ini. Hasilnya nanti silahkan ditunggu paling lambat dua minggu lagi ya.”
“Sama-sama. Terima kasih juga atas waktunya.”
Virtual meeting aku tutup dan aku menghela nafas panjang di atas kursi.
“Akhirnya selesai juga wawancaranya”
Setelah memulai pencarian kerja, akhirnya aku mulai mendapatkan panggilan untuk melakukan wawancara kembali. Namun aku cukup sedikit santai dengan tahap ini. Karena sekarang, semua kegiatan ini sudah berubah dari yang awalnya harus datang ke kantor mereka untuk tes, semuanya serba online sekarang.
Entah perubahan menjadi online ini mengurangi persentase keterima kerja atau tidak.. Namun menurutku pribadi, perubahan tes menjadi online ini sangat menguntungkan dalam proses rekrutmen. Karena kita tidak harus jauh-jauh pergi ke kantor mereka selama kegiatan tes berlangsung.
Tidak terbayang kalau jaman sekarang kalau misalkan kita melamar kerja di pulau jawa. Sedangkan rumah kita berada di luar pulau. Berapa besar biaya yang kita keluarkan hanya untuk test saja. Itupun kalau cuma sekali. Kalau tesnya berkali-kali dan dilakukan di pulau-pulau yang berbeda? Bisa-bisa uang untuk hidup habis hanya untuk transport.
Karena itulah pada zaman dulu saat kegiatan tes masih seperti itu. Ada banyak kasus penipuan saat melamar kerja dengan iming-iming akan lolos kalau membayar uang muka di depan. Semoga saja tidak ada yang terjebak lagi modus seperti ini. Karena aneh saja, kita kan akan kerja di tempat itu dan mengambil uang mereka. Kalau saat daftar ke sana kita juga memberikan uang, bukannya itu artinya duitnya hanya muter-muter saja.
Tidak masuk akal bagi pelamar kerja sudah harus mengeluarkan biaya. Karena pada dasarnya kalau kita membayar saat masung, belum tentu gaji yang kita dapatkan bisa menutup biaya masuk yang kita bayarkan itu. Gali lobang tutup lobang namanya.
Bahkan pendaftaran BUMN saja tidak mengambil biaya. Masa iya swasta berani melakukan hal yang berbeda dan meminta biaya pendaftaran? Sangat tidak masuk akal. Semoga saja modus seperti ini sudah tidak ada lagi sehingga nantinya para calon karyawan tidak kena tipu lagi.
__ADS_1
Kembali ke PHP. Harapan palsu kembali lagi diberikan kepada setiap tempat yang telah aku lewati tesnya. Berkali-kali aku mengikuti tes namun masih belum ada yang tembus juga. Entah mereka mencari programmer seperti apa. Memang aku masih agak kagok kalau harus ngoding secara live. Kalau ngoding biasa dan debugging mah, insyaAllah saya bisa.
Berkali-kali aku mengikuti tes dan berkali-kali pula aku gagal untuk keterima kerja. Sambil nyambi menjadi novelis, kegiatanku mencari kerja masih aku lakukan juga karena saat ini, reputasi sebagai penulis belum bisa membuatku bisa hidup dari sana. Semoga saja, suatu saat nanti aku bisa menjadi penulis yang terkenal. Terkenal dari karya, bukan terkenal karena sensasi.
Saking seringnya mengalami penolakan, sampai akhirnya aku sudah tidak peduli dengan apa kriteria lengkap dari sebuah job. Selama itu berhubungan dengan dunia IT dan cocok dengan pengalaman kerja milikku saat ini. Semua lamaran yang ada aku libas kirim semua. Siapa tahu ada yang lolos.
Namun terkadang dari puluhan lamaran yang aku kirimkan, tidak sampai sepertiganya mengirimkan balasan. Ada beberapa perusahaan yang bagus mengirimkan pemberitahuan secara resmi kalau lamaran tidak diproses lebih lanjut. Namun ada juga yang menolaknya dengan cara sama sekali tidak memberikan kabar sampai berminggu-minggu lamanya.
“Ternyata yang ini masih belum lulus juga. Ayo coba lagi.”
Aku masih belum menyerah dan terus menerus mencari pekerjaan. Namun sambil mencari, aku juga mendapatkan tawaran dari Bule Yeni. Pada suatu hari, ia datang ke rumah dan ngobrol denganku.
“Ray gimana? sudah mendapatkan pekerjaan?”
“Wah, kalau gitu, gimana kalau kamu ngurus yayasan saja?”
Bule Yeni mulai menceritakan kalau sebentar lagi akan ada jabatan kosong di dalam yayasan. Kebetulan keluargaku mengelola sebuah yayasan dan katanya sekarang sedang ada slot kosong karena bapak yang tadinya menjabat di sana, posisinya digantikan sehingga ada bagian staf yang kosong.
Tentu saja dengan semangat, aku menjawab sangat ingin mengambil pekerjaan itu. Kebetulan juga aku sedang tidak ada kerjaan. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak tawaran yang bagus ini.
“Alhamdulilah kalau begitu. Nanti Bule kabarin lagi ya. Ditunggu saja kabar baiknya.”
__ADS_1
“Okelah kalau begitu.”
Setelah percakapan itu..Tidak ada kabar setelah berbulan-bulan. Bahkan bisa dibilang, hampir setengah tahun lamanya aku diberikan harapan palsu akan diberikan pekerjaan. Awalnya Bule bilang kalau pekerjaan yang tadinya untuk diriku ternyata tidak jadi kosong. Karena pemegang jabatan sebelumnya menolak untuk lengser.
Alasan lucu sekali, dia bilang kalau aku menjabat. Bisanya nanti marah-marah doang. Padahal itu mah maling teriak maling. Omku sekarang yang memegang jabatan itu terkenal sekali dengan sikapnya sering marah-marah dan tidak pernah nongol saat acara keluarga. Dengan keluarga saja komunikasi jelek seperti itu, apalagi saat memimpin sebuah badan?
Kebetulan setelahnya, ada jabatan yang katanya kosong dan akan diberikan kepadaku. Namun ternyata, bukannya mendapatkan pekerjaan, aku hanya mendapatkan harapan kosong saja. Ternyata pekerjaan tersebut juga diberikan ke orang lain. Karena omku menentukan seperti itu. Ia lebih memilih perempuan untuk mendapatkan pekerjaan tersebut daripada diriku.
Berkali-kali mendapatkan penolakan seperti ini, aku hanya bisa angkat tangan dan menyerah mengenai hal-hal berbau yayasan. Semuanya tidak ada koordinasi yang baik serta seringnya memberikan harapan palsu. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak lagi percaya dengan iming-iming kalau ada pekerjaan kosong di yayasan. Toh, ujung-ujungnya tidak dapat juga posisi apapun di sana.
Keputusan ini juga aku beritahukan kepada ibu. Karena saat ini ibu juga bekerja di yayasan dan statusnya sudah senior sehingga memiliki reputasi yang cukup baik dengan pegawai di sana. Meskipun pada saat penentuan keputusan, ia lebih banyak diam karena staf yang lain keras kepala dan ibu tidak memiliki pendukung. Karena semua orang yang biasanya mendukung pendapat ibu sudah tiada.
Padahal setiap saran yang ia buat sangat masuk akal dan sebenarnya dapat menyelesaikan permasalahan. Namun karena kebanyakan keputusan dibuat dengan landasan emosi. Sehingga tidak pernah ada titik temu yang terjadi. Inilah kekurangannya kalau sebuah bisnis dijalankan dengan keluarga. Omong kosong itu kalau ada yang bilang bekerja sama dengan keluarga adalah keputusan bijak. Paling tidak kalau di keluarga besarku ini, hal itu adalah keputusan yang kurang tepat.
Bahkan tidak hanya pekerjaan. Masalah warisan saja sudah satu tahun lebih mbah meninggal. Masih belum selesai dibagi juga. Bahkan bapakku sudah keburu meninggal duluan dan jatah warisan belum pernah sama sekali ia rasakan. Berbeda dengan adik-adiknya yang masih hidup serta masih ribut masalah pembagian ini.
Sama seperti php pekerjaan, aku sudah tidak mengharap warisan akan turun. Bapak juga sama sekali tidak memberikan warisan apa-apa karena kematiannya cukup mendadak. Semua masalah finansial juga bapak tidak pernah bagikan kenapa ibu sehingga ia sama sekali tidak tahu aset bapak itu ada di mana saja. Mau tidak mau, kami sekeluarga menjalani kehidupan tanpa bantuan dari orang lain.
Untungnya di keluarga kami hanya tinggal Yana dan Lamda yang membutuhkan ongkos untuk sekolah. Aku dan Arip sudah tidak perlu merepotkan orang tua karena sudah tidak sekolah lagi. Meskipun aku sekarang statusnya belum ada pekerjaan, ada usaha keluarga yang aku bantu sehingga aku juga tidak bisa dibilang full secara total pengangguran.
Aku sendiri mungkin nantinya akan meminta bantuan ibu saat nantinya aku menikah nanti. Karena jujur kalau untuk sekarang, finansialku masih tidak cukup untuk membiayai pernikahan dengan tabungan sendiri. Lebih lengkapnya akan aku bahas di lain waktu kalau ada kesempatan.
__ADS_1
Sambil merenung di depan laptopku, aku kembali mencari pekerjaan setelah memutuskan untuk tidak lagi berurusan dengan yayasan. Karena kalau mengharapkan mereka, hanya kesedihan dan sakit hati yang aku rasakan. Semoga saja pada nantinya, aku bisa mendapatkan pekerjaan yang cocok denganku. Do what you love, love what you do. Kalau hal itu bisa diterapkan, sepertinya kehidupan di dunia ini akan menjadi lebih menyenangkan.
*Bersambung*