
“Untuk peserta latihan kursus mobil. Pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) akan dilakukan pada tanggal.... Silahkan mempersiapkan berkas yang diperlukan. kemudian pergi ke tempat kursus terlebih dahulu. Nanti akan diberikan instruksi lebih lanjut.” Itulah bunyi pesan yang masuk ke dalam SMS handphoneku.
Telah tiba waktunya untuk diriku membuat SIM A setelah menyelesaikan kursus menyetir. Awalnya aku berpikir pembuatan SIM sudah tidak perlu biaya lagi, sudah sepaket dengan latihan menyetir. Ternyata dugaanku salah, biaya pembuatan SIM ternyata dibuat terpisah.
Mau tidak mau, aku harus kembali mengeluarkan sejumlah uang untuk membuatnya.
Sebelum hari H tiba, aku harus membawa berkas yang dibutuhkan untuk pembuatan SIM. Sama seperti saat pembuatan SIM C, syarat yang akan diminta tidak terlalu berbeda. Cukup membawa KTP, surat keterangan sehat, dan dokumen pendukung lainnya. Semua itu seharusnya tidak sulit didapatkan namun memerlukan waktu dan biaya lagi.
Contohnya untuk surat keterangan sehat pastinya kita harus ke puskesmas terdekat kemudian membayar biaya untuk dilakukan pengukuran tinggi badan, berat badan, keterangan sehat dari buta warna, dan pengecekan lainnya. Hal ini memerlukan biaya juga. Meskipun tidak terlalu besar, tidak sampai seratus ribu rupiah.
Aku dengar desas desus bahwa nanti saat pembuatan atau perpanjangan SIM, diperlukan dokumen baru yaitu hasil psikotes. Entah hal itu benar atau tidak. Kalau benar, saya rasa itu cukup memberatkan karena kembali lagi, pastinya tes tersebut memerlukan biaya dan tidak gratis. Bersyukur sekali kalau tes seperti itu bisa bebas dari biaya.
Aku berhasil melengkapi semua berkas yang dibutuhkan sebelum hari H. Semoga saja pembuatan kartu SIM nanti akan berjalan lancar. Karena sudah lama sekali saya tidak membuat SIM. Terakhir kali membuat SIM adalah saat SMA dulu untuk kendaraan roda 2. Sudah berapa tahun lalu itu?
*Hari pembuatan SIM*
Pagi pagi sekali aku sudah berangkat menuju tempat les. Semua orang yang ingin membuat SIM harus berkumpul di tempat pada pukul 7 pagi. Karena aku sudah biasa bangun pagi. Tidak sulit untuk datang kesana tepat waktu. Mudah sekali bagiku untuk melakukan hal itu.
Sampai di sana, aku juga melihat ada beberapa orang yang juga akan membuat SIM sama sepertiku. Tidak hanya bapak-bapak, ada juga ibu-ibu yang ingin membuat SIM. Sepertinya zaman sekarang sudah tidak aneh bagi wanita untuk bisa menyetir.
Karena itulah aku sempat heran ketika tahu kalau beberapa guru wanita di sekolah ada yang sama sekali tidak bisa menyetir. Awalnya aku mengira itu hal yang aneh, namun ternyata memang tidak semua wanita bisa mengendarai kendaraan sendiri. Karena biasanya menyetir adalah tugas dari pria.
Namun kembali lagi, itu semua pilihan masing masing orang. Kita tidak tahu, bisa saja ada yang tidak bisa menyetir karena trauma. Bahkan ada juga yang harus ditangani secara khusus untuk mengatasinya. Karena trauma bisa terjadi kepada siapa saja dan dimana saja.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya petugas dari tempat les memberikan arahan.
“Bapak ibu. Nanti silahkan bisa langsung menuju pintu belakang polres. Silahkan masuk lewat pintu tersebut. Nanti tinggal menuju ruangan pembuatan SIM. Kemudian akan dipanggil satu persatu untuk diambil fotonya. Semuanya pada bawa kendaraan sendiri kan? ” Mendengar penjelasan dari petugas, kami tanpa banyak diskusi langsung meluncur ke lokasi pembuatan SIM.
__ADS_1
Semua orang membawa kendaraan pribadi sehingga tidak perlu charter angkot.
*15 menit kemudian*
“Wah, sepi sekali” ucapku sambil melihat kondisi Polres melalui pintu belakang.
Biasanya pada saat pagi hari, terdapat beberapa polisi yang melaksanakan upacara. Namun dilihat dari jam yang sudah hampir mendekati pukul 8, seharusnya upacara bendera sudah selesai dilaksanakan.
Bersama dengan pembuat SIM lainnya, kami menuju ke tempat pembuatan SIM. Namun kami sempat heran karena tempatnya masih tutup. Mau tidak mau, kami harus menunggu petugas membukanya terlebih dahulu. Masa iya pintunya kami dobrak paksa.
Sambil menunggu waktu buka, aku habiskan dengan ngobrol dengan yang lain serta membaca beberapa artikel melalui handphone milikku. Beberapa menit setelah menunggu, akhirnya datang polisi yang membukakan pintu ruangan.
*tap tap tap *
Serentak kami semua juga langsung mengikuti petugas untuk memasuki ruangan. Petugas juga langsung meminta kami untuk duduk secara teratur dan mengisi formulir terlebih dahulu. Setelah pengisian formulir selesai, satu per satu kami semua dipanggil untuk masuk ke ruangan foto.
Aku memasuki ruangan setelah namaku dipanggil. Kulihat cuma ada dua petugas di sini. Satu orang admin dan satu lagi tukang foto. Foto untuk SIM tidak boleh banyak gaya, semuanya harus dilakukan dalam posisi formal.
Pakaian yang kupakai saat ini adalah jaket dengan kemeja di dalamnya. Sehingga terlihat nonformal di foto. Mungkin lucu juga kalau aku mengambil foto SIM dengan memakai setelan jas. Kelihatan kayak lagi foto work trip deh.
“Silahkan duduk disini pak, hadap kamera. Tahan posisi jangan ketawa dan muka datar. satu, dua, tiga, “
*Jepret*
Petugas memeriksa hasil foto kemudian memintaku untuk menunggu dipanggil lagi untuk pengambilan SIM. Setelah semua proses pembuatan SIM sudah selesai. Aku harus kembali menunggu untuk kartunya di cetak ke dalam kartu.
Saat dipanggil kembali oleh petugas, aku mengambil kartu kemudian berjalan kembali menuju parkiran. Sambil berjalan, aku memperhatikan SIM yang aku dapatkan.
__ADS_1
“Jadi, ini SIM A untuk mobil?” Ujarku sambil melihat SIM secara seksama.
Karunya berukuran seperti kartu debit dan memiliki corak warna dominan putih dan merah. Sepertinya agar mirip dengan bendera negara kita. Tidak lupa juga terdapat lambang polisi di kartu tersebut.
SIM mengalami perbedaan desain dari waktu ke waktu. Terakhir saat aku membuat SIM motor, tampilannya bukan seperti SIM A saat ini. Desain ya agak berbeda namun corak warna nya sama.
Anehnya, pada tahun yang sama aku membuat SIM A. Aku juga memperpanjang SIM C. Hal ini sangat menguntungkan karena itu artinya, dalam tahun yang sama aku bisa melakukan perpanjangan secara bersamaan. Tidak perlu datang ke polisi lebih dari dua kali dalam periode 5 tahun.
Seharusnya hal itu membuat proses perpanjangan menjadi lebih ringkas, tidak perlu bolak-balik. Namun pahitnya hal ini juga mengakibatkan ongkos perpanjangan juga bertambah. Karena kedua SIM diperpanjang secara bersamaan. Lebih besar biayanya daripada hanya mengurus satu SIM dalam satu waktu.
Setelah memastikan data SIM A sesuai dengan KTP, aku langsung kembali ke rumah karena sudah tidak ada lagi yang harus aku lakukan di tempat ini. Pastinya jangan sampai lupa untuk memperpanjang SIM ini 5 tahun lagi. Repot nantinya kalau lupa memperpanjang dan harus kembali mengurus pembuatan SIM.
Karena SIM yang tidak diperpanjang akan mati sehingga warga harus membuat SIM kembali. Sudah ada beberapa kasus orang lupa memperpanjang sehingga harus mengulang ujian mengemudi.
Sampai di rumah aku istirahat serta memastikan kalau materi mengajar sudah beres. Tinggal berlatih cara mengajar di depan murid saja. Karena kalau tidak praktek dulu, bisa gelagapan nanti saat mengajar di depan kelas.
*Sebelum mendapatkan informasi lowongan di Jogja*
Apakah kalian masih ingat dengan pak Rangga? yang bermasalah dengan kepala sekolah saat akreditasi. Dengan adanya karyawan yang mundur, pastinya akan ada karyawan baru yang masuk untuk menggantikan dirinya. Kebetulan posisi pak Rangga yang kosong ini sudah diisi oleh orang baru.
Orang itu bernama Aang. Ia masuk berdasarkan rekomendasi dari pak Dani. Sebelum di sekolah ini, ia sudah pernah mengajar di sekolah sebelumnya. Kurang lebih ia juga mengajar TKJ juga sama seperti diriku. Namun untuk saat ini, ia kerja di sekolah sebagai staff TU.
Tugas yang tadinya dipegang pak Rangga sekarang pindah ke tangan pak Aang. Ia memiliki perawakan cukup tinggi dan memiliki kulit agak gelap. Ia juga menggunakan motor gunung ke sekolah. Entah kenapa ia menggunakan motor tersebut di pinggir kota. Kalau kalian pernah main game GTA dan tahu motor sanchez, kurang lebih seperti itulah penampakan dari motor pak Aang.
motornya cukup unik dan aku tidak pernah melihat motor sejenis kecuali ketika melihat video orang bermain offroad dengan motor tersebut. Ia juga menggunakan helm Full Face yang desainya dipakai ketika orang offroad di gunung. Apakah ia gemar mendaki gunung?
Pak Aang orangnya cukup ramah dan suka bercanda. Jarang lah bisa diam kalau ada dua. Secara garis besar ia ramah dan senang bercanda mirip seperti pak Dani. Kemungkinan besar, kalau aku sudah tidak mengajar. Dialah yang akan menggantikan posisiku sebagai guru.
__ADS_1
Karena aku masih ingin mengetahui, seperti apa pekerjaan selain menjadi guru. Apakah lebih sulit? Atau lebih mudah? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.