Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 43 Bali 5


__ADS_3

"Aduh, badan pegal-pegal" ucapku saat bangun di pagi hari.


Karena kemarin kami pergi makan di luar, pulangnya aku sudah sangat lelah dan langsung tidur sambil menonton tv. Untungnya kasur di hotel ini cukup empuk sehingga mempengaruhi berkurangnya rasa lelah pada tubuhku. Saya beruntung tidak termasuk orang yang susah tidur di luar.


Kadang ada orang yang kalau bukan kasur atau bantal yang biasa dipakai, dia tidak akan bisa tidur. Setahuku di dalam keluarga, tidak ada yang seperti itu. Karena itulah tidak ada yang membawa bantal khusus saat bepergian.


Mungkin hanya ibu saja yang susah kalau tidur di alas yang keras. Maklum karena faktor umur. Namun sebenarnya kalau memang terpaksa sih, ibu juga masih bisa tidur dalam keadaan seperti itu.


Setelah menjalani kegiatan rutin seperti biasa seperti sholat dan mandi, kami semua makan dan bersiap-siap untuk pergi kembali hari ini.


Karena hari ini merupakan hari terakhir kami menginjakan kaki di tanah Dewata. Nanti malam kami sudah akan terbang pulang ke kampung halaman kami.


Seperti biasa, ada saja pihak yang telat siap-siap entah karena kesiangan atau dandan kelamaan. Padahal hari ini kami akan ke tiga tempat yang lumayan terkenal.


Tujuan pertama kami adalah tanah lot. Ini merupakan salah satu tempat wisata terkenal di Bali. Saat sampai ke tempat ini. Hal pertama kali yang aku rasakan adalah hawanya yang panas dan tempatnya yang luas.


Banyak sekali toko ataupun kios kecil berjualan di sepanjang jalan. Karena tempat menuju tanah lot cukup jauh dari tempat parkir. Kami dipandu hingga sampai ke sana. Jalan menuju tanah lot sebenarnya tidak terlalu sulit dicapai. Namun akan lebih cepat sampai dengan diantar oleh pemandu.


Tidak lucu kan kalau nanti malah ada yang nyasar. Nantinya akan merepotkan satu rombongan kalau hal itu terjadi. Aku menemukan hal unik saat mengunjungi salah satu minimarket yang ada di tempat ini. Hal ini jarang terjadi di tempat lain sejauh yang aku tahu.


Ketika aku membeli minum, betapa terkejutnya aku melihat ada minuman keras dijual dengan bebas dan ada di dalam kulkas minimarket. Hal ini cukup aneh karena di kampungku tidak ada hal seperti ini.


Aku hanya melihatnya sebentar kemudian langsung pergi keluar dari tempat itu. Takut tergoda untuk mencobanya.


Kalau menurut kepercayaan yang aku anut. Menjual, membagikan, dan meminumnya. Semuanya mendapatkan dosa. Karena itu aku menghindari jauh jauh hal seperti ini. Tidak perlu iseng untuk mencoba-coba.


*Beberapa menit kemudian*


Akhirnya kami tiba di tanah lot setelah jalan selama beberapa menit. Aku melihat tempat ini sangat padat akan orang dan banyak bule di setiap sudut jalan ke sana ke mari.

__ADS_1


Untungnya belum masa pandemi sehingga belum ada imbauan untuk menjaga jarak. Tempat bagus seperti ini pasti nya momen yang pas bagi ibu-ibu untuk mengambil foto di segala penjuru tempat ini.


Aku sendiri kurang suka foto namun karena momen seperti ini langka. Sayang sekali kalau tidak ikutan mengambil foto. Terdapat ritual yang sedang berlangsung sehingga ada banyak orang mondar mandir membawa sesajen.


Tidak berani aku mengganggu dan bertanya ritual yang mereka lakukan. Sehingga aku hanya mengikuti rombongan saja sepanjang perjalanan. Ketika puas berkeliling, kami semua kembali ke bus untuk melanjutkan wisata ke tempat yang lain.


Tujuan kami berikutnya adalah toko baju yang katanya terkenal di Bali, Joget. Mungkin kalau di Jogja mirip dengan Dagdigdug. Ada salah satu aturan unik dari tempat ini.


"Orang yang menggunakan barang palsu Joget tidak boleh masuk ke tempat ini." Hal ini mengakibatkan orang yang membeli barang ke Joget palsu harus buka baju saat masuk ke tempat ini.


Kira-kira itulah yang terjadi kepada salah satu anggota rombongan. Untungnya aku tidak termasuk orang yang harus membuka baju. Melihatnya hanya pakai kaos dalam saja membuatku merasa kasihan kepadanya. Ia langsung membeli baju asli untuk dipakai di dalam toko Joget.


Tempatnya cukup luas, bahkan kalau mau keliling, mungkin membutuhkan waktu selama 15 menit dengan berjalan kaki untuk mengelilingi tempat ini.


Toilet yang ada di dalam toko juga unik, terdapat banyak tulisan khas Joget. Banyaknya ornamen ini membuat momen saat menggunakan toilet menjadi lebih menyenangkan. Unik saja, jarang ada toilet yang memiliki hiasan unik seperti ini.


Meskipun aku juga mendapatkan uang saku, untung nya ibu masih menawarkan untuk membelikan aku baju. Kesempatan gratis seperti ini tidak mungkin aku tolak.


Tentunya ibu tidak hanya membelikan diriku baju, semua anaknya juga mendapatkan tawaran yang sama. Setelah puas belanja, kami kembali ke bus untuk pergi ke tempat tujuan akhir perjalanan kali ini.


*Beberapa jam kemudian*


Kami tiba di suatu pantai. Berbeda dengan pantai biasanya, pantai di tempat ini menyediakan banyak wahana bermain. Harusnya tempat ini sangat menyenangkan bagi yang suka aktifitas di luar.


Namun aku lebih suka kegiatan indoor. Aku tidak tertarik sama sekali untuk mencoba wahana di tempat ini. Kebanyakan anggota keluarga juga lebih menyukai hal yang sama.


"Bapak dan ibu , silahkan bebas kemana saja. Selama nanti kalau sudah waktunya tiba. Kumpul di bis tepat waktu ya." Ucap kepala sekolah sambil memperkenalkan tempat kami berada saat ini.


Setelah mendengar kan penjelasan kepala sekolah, keluarga kami memutuskan untuk pergi ke pulau Penyu. Entah apa nama tempatnya, namun ada banyak penyu di tempat itu.

__ADS_1


Kami berangkat menggunakan perahu. Pak Dani juga ikut bersama kami. Aku cukup gemetaran karena ini pertama kalinya aku menaiki kapal. Apalagi aku tidak bisa berenang, bisa repot kalau bisa kecebur di air.


Untungnya perjalanan berjalan lancar dan kami sampai ke pulau penyu. Tidak hanya penyu, tempat ini juga memiliki banyak hewan lain seperti ular dan burung. Tempat ini seperti surganya para pecinta reptil.


Petugas juga memperbolehkan memegang ular sambil difoto namun karena aku geli, tidak berani aku mencobanya.


Namun saat bertemu penyu, aku takjub karena ada banyak sekali penyu disini dan ukuran mereka cukup besar. Mungkin kalau mereka berdiri hampir setengah dari tinggi orang dewasa.


Aku berkesempatan untuk membawa dan berfoto bersama penyu. Diluar dugaan, ternyata penyu cukup berat. Aku takut kalau nanti tidak sengaja menjatuhkan hewan yang satu ini. Karena itulah aku sangat berhati-hati saat menyentuhnya.


Bagian cangkang penyu aku sentuh dengan kedua tanganku secara perlahan. Mungkin karena aku jarang olahraga, terasa berat sekali penyu yang satu ini.


Aku lupa menanyakan berapa berat dari penyu ini. Namu kalau aku kira-kira, hampir menyentuh puluhan kilo. Setelah puas berkeliling tempat ini, kami kembali ke bus. Setelah kembali menggunakan perahu tentunya. Pemandangan saat menaiki kapal cukup bagus untuk diabadikan menjadi bentuk foto.


*Beberapa menit kemudian*


Sekarang tinggal pergi menuju bandara. Karena sudah tidak ada agenda kegiatan lagi. Namun ternyata dugaan ku salah. Masih ada tempat oleh-oleh yang kami datangi.


Karena menurutku ini tempat terakhir bisa belanja, aku membeli beberapa barang di sini. Si Arip juga membeli beberapa kopi untuk oleh-oleh temannya yang ada di Jogja.


Kami juga membeli beberapa makanan karena takut di jalan tidak sempat membeli makan. Namun ternyata terdapat masalah saat kami sampai di bandara. Pesawat mengalami kendala.


"Pesawat .. menuju … mengalami keterlambatan. Kepada penumpang pesawat … di harap untuk sabar menunggu." Suara pengumuman di dalam pesawat terdengar ke dalam telinga.


Setelah kutanya panitia, memang benar itu pesawat kami yang mengalami delay. Karena itulah, kami harus menunggu beberapa jam lebih lama sebelum bisa sampai ke rumah.


'berapa lama ini kira-kira delaynya?' ucapku dalam hati sambil menghela nafas.


Semoga saja aku bisa menunggu keberangkatan dengan sabar. Ditemani oleh gadget yang cuma punya fitur seadanya. Mau tidak mau, aku harus bisa betah menanti delay bersama dengan anggota peserta tour yang lain.

__ADS_1


__ADS_2