
*Selamat hari raya idul Adha bagi yang merayakannya. Happy qurban!!!*
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya kami telah sampai ke tempat tujuan kami. Cafe daun.
“Wih, bagus juga tempatnya.” Ucapku sambil menghirup nafas dalam-dalam.
Saat ini kami sudah berada di dataran tinggi dan bisa melihat pemandangan alam yang indah. Kami dikelilingi oleh pohon-pohon yang asri dan juga telah dihias secara menarik. Petugas melakukan cek suhu tubuh kami semua, lalu kami pergi ke wastafel untuk mencuci tangan. Sekarang, setiap pintu masuk tempat umum biasanya sudah disediakan tempat untuk melakukan hal tersebut. Karena hal ini termasuk prokes yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Kita tidak ingin terdapat cluster baru, bukan.
“Hi guys, ayo sini. Kita cari tempat duduk dulu.” Ucap Jiran yang sudah sampai duluan di tempat ini lebih dulu daripada kami.
Karena ia tinggal di sekitar sini, tentu saja ia bisa lebih cepat sampai. Apalagi ia memiliki kendaraan pribadi, berbeda dengan kami yang menggunakan angkutan umum untuk pergi ke tempat ini. Setelah bertemu dan ngobrol sebentar, kami mulai mencari tempat duduk untuk memulai obrolan kami.
Tempat kami berada saat ini ada cukup banyak tempat duduk. Serta lokasinya lumayan luas, bahkan untuk mencari tempat duduk saja sampai membuat kakiku mulai terasa pegal. Setiap tempat duduk juga memiliki jarak yang lumayan jauh, tidak terlalu mepet. Hal ini semakin menambah jarak yang harus kami tempuh untuk mendapatkan kursi dan meja yang kami cari. Sudah kayak apa aja, mau nyari kursi saja harus berjuang dulu.
Beberapa menit kami mencari, akhirnya kami menemukan lokasi duduk yang cocok. Setelah perjalanan yang melelahkan ini, akhirnya aku bisa kembali duduk dan mulai ngobrol. Kami memulai diskusi kami mengenai banyak hal. Mulai dari dunia sekolah, kerja, sampai isu-isu kabar teman kami yang lain. Kami juga sempat melakukan foto-foto bersama di tempat yang pemandangan nya ‘instagramable’ ini.
Lagi asik-asik kami ngobrol, ternyata ada gangguan yang datang.
*tik tik tik wooos*
Tiba-tiba, hujan turun dengan lebatnya. Lokasi duduk kami saat ini berada di luar ruangan. Karena itulah tidak ada atap yang melindungi kami dari air yang turun dari langit itu. Lari-larian kami mencari tempat duduk yang bisa kami duduki untuk melanjutkan obrolan. Beruntung kami berhasil menemukan tempat yang baru. Karena itulah kami dapat melanjutkan diskusi di tempat itu.
Kebetulan kami semua yang sedang ngumpul ini semuanya adalah mantan anggota ROHIS saat SMA. Karena itulah kami tidak melewatkan ibadah wajib kami meskipun topik obrolan sedang seru-serunya.
Waktu terus berjalan, tidak terasa dari tadi pagi kami ke Bogor. Sekarang hari sudah mulai gelap. Kulihat dari handphone, waktu sudah menunjukkan hampir jam 5 sore. Saat ini kami masih menunggu cuaca hujan sampai ia sedikit reda. Karena nantinya kami akan kembali ke kota dengan menggunakan ojek. Agak ribet kalau harus pakai jas hujan saat naik motor.
__ADS_1
Beruntung saat waktunya tiba, hujan sudah mulai reda, segera kami mencari tukang ojek untuk kami naiki. Bilangnya sih lebih murah kalau untuk 2 orang. Kebetulan kami memang butuh 2 ojek. Karena Zul akan nebeng bersama Jiran untuk turun gunung. Hanya aku dan Rendra yang naik ojek. Setelah selesai diskusi harga, kami langsung turun ke bawah gunung.
Memang tidak enak rasanya menjadi penumpang. Karena aku tidak bisa mengatur kecepatan saat berada di atas motor. Perasaan takut dan tegang selalu muncul sepanjang perjalanan. Karena tukang ojek membawa motornya dengan kecepatan tinggi. Untungnya aku bisa sampai ke tujuan dengan semangat.
Menunggu beberapa menit, akhirnya Rendra yang juga naik ojek sudah sampai. Saat kami akan mulai membayar, betapa kagetnya kami karena harganya tidak sesuai kesepakatan. Awalnya kami kira 2 lebih murah itu maksudnya kalau pesan ojeknya dua. Ternyata ongkos lebih murah kalau kita naiknya gayoran, yaitu satu motor bertiga.
“Tahu gitu, mending gayor tadi” Ucap Rendra dengan nada kesal.
“Sudahlah, yang penting sudah selamat di sini. Gayoran malah tidak aman nanti kita di jalan.”
Aku berusaha untuk menghibur Rendra yang cemberut karena masalah ongkos. Hingga pada akhirnya, Zul dan Jiran akhirnya tiba setelah kami tunggu mereka selama beberapa menit.
“Mau kemana nih sekarang?” Tanya Jiran kepada kami.
“Pas banget nih. Ayo ngebakso dulu sebelum pulang” Ucap Zul sambil berjalan masuk ke tempat makan.
Kami semua masuk ke dalam dan mulai memesan makanan di sana. Hanya Rendra dan Jiran yang memesan. Sedangkan aku dan Zul belum memesan karena perut kami masih kenyang.
“Ini pesanannya. Selamat menikmati!”
Beberapa menit setelah memesan makanan, akhirnya masakan yang ditunggu-tunggu datang juga. Meskipun tidak pesan, aku dan Zul sempat mencicipi makanan yang dipesan oleh kedua teman kami itu. Rasanya enak sih meskipun agak pedas. Aku bisa makan pedas namun tidak terlalu doyan. Karena ibuku jarang sekali memasak makanan pedas. Seleraku lebih ke makanan yang manis-manis dan asin.
Selesai makan, Jiran pamitan pulang karena ia tidak bisa pergi sampai malam. Ia sudah punya istri dan anak yang menunggunya di rumah. Kami pamitan dengan nya setelah ojol pesanan kami telah datang. Sama seperti sebelumnya, kami memesan satu mobil untuk bertiga. Tentunya kali ini lebih murah ke stasiun karena posisi kami lebih dekat dari pesanan sebelumnya.
Dalam perjalanan, kami kembali habiskan waktu dengan mengobrol satu sama lain. Memang sepertinya obrolan kami ini tidak ada habisnya. Sampai di stasiun, kami pergi ke kamar mandi sebentar sebelum naik ke dalam kereta. Untungnya kereta tujuan kami sudah stand by di dalam stasiun, sehingga kami tidak perlu lama menunggu.
__ADS_1
Awalnya hanya aku yang akan menginap di rumah Rendra. Namun mendengar rencana kami, Zul langsung mengubah rencana dan ingin ikut nginap di tempat Rendra juga. Katanya ia ingin berkeliling kota Jakarta dimalam hari.
“Tapi motor gua kopling bro.”
“Weh, nantangan loh? gua bisa kali kopling” Ucap Zul dengan wajah yang sombong.
Memang aku sendiri kurang lancar pakai kopling. Lebih enak naik motor yang matic. Gak perlu ribet dan simpel. Tinggal gas rem saja tidak perlu mengatur gigi. Tapi itu kembali lagi ke selera orangnya. Karena ada juga yang lebih suka naik kopling daripada matic.
Dari stasiun, kami kembali naik mobil ojol menuju lokasi kontrakan Rendra berada. Sering sekali ya, kami menggunakan aplikasi ojek online dalam perjalanan kali ini. Sangat membantu sekali untuk traveler seperti kami.
Sampai di tujuan, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Beberapa menit kemudian, barulah kami tiba di kontrakan Rendra. Akhirnya kami bisa istirahat setelah seharian ini bepergian. Zul langsung pergi keluar untuk jalan-jalan dengan motor. Kebetulan aku juga nitip makan malam bersama dengan nya. Karena katanya, di jalan ia juga ingin membeli sesuatu.
Aku lanjutkan kegiatan dengan ngobrol bersama dengan Rendra sampai ia capek dan memilih untuk tidur duluan. Kami juga sudah membahas mengenai bagaimana rute kami untuk pulang esok hari. Pastinya, aku akan nonton film dulu sebelum pulang kembali ke kota C.
Ketika Rendra sudah tidur, aku melanjutkan kegiatan dengan bermain handphone milikku. Sampai beberapa jam kemudian, akhirnya Zul sudah sampai kembali ke kontrakan.
“Assalamualaikum. Nih Bro, udah gua beliin”
“Mantap, terima kasih ya.”
Kami mulai makan bersama-sama makanan yang ia bawa. Memang benar sih apa kata Zul, makanan yang ia bawa porsinya cukup besar. Rasanya enak pula, mantap lah pokoknya. Aku sempat heran, ada ya orang yang makan satu tangan pegang hp, lalu satu tanganya lagi sambil makan. Heran saja aku melihat saat Zul makan dengan posisi seperti itu. Selesai makan, kami menunggu makanan turun dulu barulah kami tidur untuk istirahat.
Perjalanan ke Bogor sudah selesai. Sekarang tinggal tersisa satu kegiatan lagi yang belum terlaksana. Nonton film bersama dengan Gusti.
*Bersambung*
__ADS_1