Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch, 29 Jogja


__ADS_3

Sampai di bandara, aku langsung mencari mushola terdekat. Karena aku belum melakukanya sebelum sampai di Jogja. Pastinya aku harus memastikan barang bawaan ku berada di tempat yang aman. Tidak lucu nantinya kalau setelah shalat, malah barang bawaan hilang.


Selesai shalat, aku mencari halte trans Jogja. Mirip dengan trans Jakarta, di Jogja juga terdapat bus dengan metode yang sama hanya beda namanya saja. Kudengar beberapa daerah lainnya juga memiliki hal yang sama.


Ongkosnya juga murah, dengan 3000 rupiah saja, aku sudah bisa keliling Jogja dengan trans Jogja. Untuk mempermudah pembayaran, trans menggunakan kartu e-money. Sehingga tidak perlu menyiapkan uang kecil untuk bayar. Pengisian e-money bisa di banyak tempat. Hanya perlu mencari yang paling mudah dijangkau oleh penggunanya saja.


Aku masuk ke halte setelah scan kartu ke palang tiket terdekat. Ada hal menarik karena ada turis asing ingin naik trans Jogja. Alhasil petugas yang tidak bahasa Inggris jadi gelagapan. Dengan perlahan aku mencoba mendatangi mereka.


“Hello, how can i help you?” Dengan bahasa inggris seadanya, aku berusaha untuk membantu turis asing itu untuk menggunakan angkutan umum.


Kami berbicara cukup banyak pada kesempatan ini. Beruntung turis yang aku ajak bicara lumayan cantik, sehingga aku semangat ngobrol dengan mereka. Sayangnya aku menjadi sedikit was was karena keadaanku saat ini tidak bisa dibilang proper. Karena aku seharian ini melakukan perjalanan.


Pastinya ada bau keringat dan yang lainnya nyampur dong. Untungnya turis ini cukup sopan dan tidak mempermasalahkan hal itu. Setelah beberapa menit diskusi, akhirnya mereka memutuskan untuk naik taxi saja. Karena mereka tidak hafal jalanan sekitar dan takut tersesat. Pilihan yang tepat menuruku.


“Ok, you can get a taxi there. See you later and welcome to Yogyakarta, have a nice trip.”


Setelah rombongan turis itu pergi, aku melanjutkan menunggu bus datang. Karena di terminal sudah ada peta dan aku sudah tidak asing dengan daerah Jogja. Dengan mudah aku naik bus yang aku butuhkan.


Saat naik ke dalam bus, jangan lupa untuk langsung berpegangan di tiang atau gantungan yang telah tersedia. Akan fatal jadinya kalau menaiki trans jogja dalam keadaan berdiri tanpa pegangan. Tidak akan terluka parah sih, namun malunya itu yang nggak nahan kalau jatuh karena tidak pegangan. Karena biasanya bus semacam ini akan langsung menancap gas penuh saat mulai berjalan.


Untungnya bus kali ini cukup sepi sehingga aku bisa mendapatkan tempat duduk. Sama seperti saat di Jakarta, kalau ketika duduk ada penumpang yang lebih membutuhkan, mereka yang harus diberikan tempat duduk. Sayangnya biasanya orang lain kadang pura-pura tidur agar tidak memberikan kursinya.


Bus yang aku naiki kurang lebih mirip modelnya dengan transjakarta, namun dengan kapasitas yang lebih sedikit. Mungkin hanya sekitar 20 orang saja, itu kalau sudah termasuk berdiri. Kursinya saja mungkin hanya sekitar 10 atau 15 orang. Berbeda dengan transjakarta. kali ini aku duduk di bagian belakang bus.


Biasanya bagian ini ada beberapa penumpang yang tidur. Sama seperti sekarang, aku melihat ada bapak-bapak tidur nyenyak sekali di ujung sisi lain bus.

__ADS_1


Di samping aku melihat ada cewek yang sedang bermain HP. Cewek ini memakai hijab dan sepertinya sangat serius sekali melihat hpnya. Karena itulah aku tidak mendapatkan kesempatan untuk memulai pembicaraan dengan nya. Meskipun memang agak sulit juga memulai pembicaraan dengan orang asing.


Salah satu hal yang harus kalian miliki dalam bermasyarakat adalah ilmu komunikasi. Kalau tidak bisa ngobrol, kalian akan sulit dalam melakukan banyak hal. Kesulitan saat ingin meminta tolong, bertanya mengenai sesuatu, atau mengenai hal lainya. Saking pentingnya komunikasi ini, hingga ada jurusannya sendiri di perguruan tinggi.


“Sebentar lagi bus akan memasuki terminal…., penumpang yang ingin turun di terminal …., silahkan bersiap-siap untuk turun dari bus. Perhatian barang bawaan anda dan jangan sampai tertinggal ataupun tertukar dengan penumpang yang lain.”


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya bus telah sampai ke tempat tujuan. Dari terminal ini, aku tinggal jalan kaki saja menuju tempat nenekku tinggal. Nenek yang kupanggil eyang ini berasal dari keluarga ibu. Ibuku berasal dari Jogja, sedangkan ayahku dari luar Jogja. Namun karena kami mengikuti bapak, dalam setahun hanya dua atau tiga kali kami mampu  pergi ke kota pelajar ini.


Biasanya kami melakukan perjalanan saat liburan semester dan liburan idul Fitri. Awalnya ayahku masih kuat menyetir hingga ke Jogja, namun belakangan kami menggunakan jasa supir setiap kali akan berangkat ke Jogja.


Pastinya sangat capek dari kampungku berasal menuju tempat dengan wisaya keraton ini. Paling tidak membutuhkan waktu 10 jaman lebih untuk sampai ke sini. Membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan ongkos setiap akan melakukan perjalanan.


Dari terminal bus, membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke tempat Eyang. Saat perjalanan, aku melihat banyak sekali orang melewati jalan ini. Kalau kalian pernah ke Jogja, pastinya pernah dong mampir ke Malioboro? Tempat itulah yang sekarang sedang aku lewati.


Banyaknya orang lalu lalang dan kendaraan yang lewat sehingga menyebabkan  kemacetan. Memang kalau ingin keliling tempat ini, lebih enak dengan berjalan kaki. Ada banyak turis yang mampir ke tempat ini. Mulai dari turis lokal yang berasal dari dalam negeri, hingga turis mancanegara. Sampai sekarang aku masih bingung bagaimana turis asing bisa jalan-jalan disini. Apakah pedagang di sini semuanya bisa bahasa asing? atau para turis asing bisa menggunakan bahasa Indonesia?


*Ting Tong*


“Assalamualaikum” Aku membunyikan bel rumah kemudian mengucapkan salam. Semoga saja rumah ini ada orang, kalau tidak, aku akan seperti gelandangan harus menunggu di depan rumah.


“Waalaikumsalam, siapa ya? eh ada Ray. Gimana perjalannya, lancar?”


Eyangku datang ke pintu depan untuk membukakan pintu. Rumah Eyangku memiliki dua tingkat dan biasanya ia berada di kamar yang paling dekat dengan pintu depan. Untung saja ia bangun, karena jam segini biasanya eyang sedang tidur siang.


“Alhamdulilah lancar Eyang, gimana eyang kabarnya, sehat?”

__ADS_1


Setelah aku masuk ke rumah dan menutup pintu, aku memulai ngobrol dengan Eyang sambil menurunkan barang bawaan. Banyak sekali hal yang aku bicarakan dengan Eyang, karena sudah lama sekali aku tidak mampir ke Jogja. Saat pembicaraan kami sudah mau selesai, muncullah bude yang pernah aku memiliki konflik dengannya saat mencari kerja dulu di Jogja.


“Eh, si Ray sudah datang. Gimana kabarnya? sehat?”


Aku tetap ngobrol basa basi dengan bude seperti biasa. Meskipun kita kesal atau benci dengan seseorang, tapi kita harus tetap menyapa dan tersenyum kepadanya. Itu adalah ajaran yang ada di dalam agamaku, tidak boleh tidak saling menyapa lebih dari 3 hari. Kalau ada masalah, harus diselesaikan. Jangan sampai ada permusuhan antara sesama muslim.


Untungnya saat ini ia tidak mengungkit ngungkit masa lalu. Karena pada masa itu menurut saya dia yang salah. Menyuruh sesuatu yang belum tentu aku bisa. Udah capek dibuatkan undangan, bukannya terima kasih atau memberikan upah. Malah ngomel-ngomel hasilnya jelek. Kalau bukan karena dia budeku, mungkin sudah baku hantam kami berdua.


Tes kerja tidak akan dilakukan hari ini. Besok baru aku akan pergi ke tempat test. Hari ini kegiatanku hanya istirahat saja. Setelah selesai ngobrol dengan mereka berdua, aku pamitan untuk istirahat.


“Udah dulu ya Eyang, bude, mau naruh tas dulu kemudian istirahat.” Aku pergi ke lantai dua setelah selesai ngobrol dengan mereka.


Saat aku sampai disana, aku melihat adikku sedang bermain laptop diatas.


“Eh, adikku sedang main, apa kabar?”


“Oh? Mas sudah datang? Iya mas, lagi main laptop ini. Kabarku baik mas, kabar mas sendiri bagaimana?”


Adikku ini bernama Arip. Ia saat ini sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri  yang ada di Jogja. Berbeda denganku yang agak bulat dan lebih pendek, adikku yang satu ini memiliki badan kurus dan lebih tinggi dariku. Entah kenapa hal ini bisa terjadi, namun memang biasanya adik itu tingginya melebihi kakaknya.


Kami ngobrol banyak hal terutama mengenai game yang kami berdua mainkan. Meskipun aku sudah bekerja, kegiatan bermain game ini salah satu yang masih aku lakukan. Namun pastinya setelah bekerja harus bisa lebih lihai dalam mengatur waktu. Jangan sampai kebanyakan main sampai pekerjaan mengajar ketinggalan.


“Kalau gitu, ini aku taruh tasku disini dulu ya dek. Habis ini mau mandi terus main laptop”


“Iya mas, taruh aja di situ”

__ADS_1


Aku menaruh barang di kamar Arip. Dahulu sebelum dia kuliah di Jogja, akulah biasanya yang menempati tempat ini ketika mampir ke rumah Eyang. Namun setelah kehadirannya, aku jadi jarang mampir ke tempat Eyang karena akan sulit motorku masuk ke rumah ini.


Beres aku menaruh barang, mulailah kegiatanku bermain sampai malam hari. Tentunya aku tidak bermain saja, aku juga mempersiapkan materi untuk ujian tes besok. Aku semakin deg degan kira-kira akan seperti apa ujiannya nanti. Semoga saja aku bisa melakukannya dengan baik. Karena ayahku sudah berjuang untuk memasukkan lamaran ke sini.


__ADS_2