
Berbeda saat tadi pagi wisuda, kali ini kami semua sekeluarga berangkat untuk mengambil foto. Tidak hanya keluargaku, Eyang dan juga bude Nana ikut serta untuk sesi foto kali ini. Tentunya foto yang kami ambil adalah untuk mengabadikan momen Arip wisuda. Tidak sembarangan, kami pergi ke studio foto khusus untuk mengambil foto kami. Arip sudah booking sebelumnya sehingga kami bisa melakukan sesi foto.
Kalau pada saat aku wisuda dulu. Tidak ada momen seperti ini, karena momen tersebut sedang bulan puasa sehingga aku terlalu lemas untuk mengadakan sesi foto. Untungnya kami memiliki beberapa foto setelah wisuda dari kampus dan juga foto pribadi.
Dari kampus juga ada foto ketika rektor memindahkan toga. Aku ingat foto itu sudah aku bawa ke rumah. Entah sekarang fotonya berada di mana. Harus dicari-cari dulu letak foto tersebut di sebelah mana.
Kali ini Arip masih masih menggunakan toga dan menjadi bintang utama untung acara kali ini. Aku sendiri menggunakan kemeja serta celana panjang untuk sesi foto ini. Bapak mengenakan jas hitam dengan celana panjang lengkap dengan dasi dan sepatu pantofel.
Ibu mengenakan kebaya sama dengan Yana. Mereka menggunakan kebaya serasi berwarna biru. Sedangkan Lamda mengenakan baju kemeja kotak kotak dengan celana panjang berbahan jeans.
Eyang beserta bude Nina juga mengenakan kebaya dengan warna merah. Aku rasa sesi foto kali ini akan cukup warna warni dengan isinya yang seperti ini. Sedangkan om Maman tidak ikut foto dan hanya menunggu di mobil. Dia memang lebih sering menunggu di mobil kalau sedang acara seperti ini. Malu untuk ikut nimbrung katanya.
"Permisi mbak, atas nama Arip sudah siap untuk foto?"
"Sebentar ya mas, saya cek dulu." Resepsionis mengecek data di komputer selama beberapa menit.
"Sudah siap kak, silahkan naik ke lantai dua di ruang dua ya. "
"Baik mbak, Terima kasih."
Kami semua menuju lantai dua untuk mengambil foto. Agak repot naik tangga karena bapak dan Eyang membutuhkan bantuan saat melakukanya. Sontak kami yang muda mudi langsung membantu mereka untuk menaiki tangga dengan cara menuntun mereka. Meskipun tidak sepenuhnya kami tuntun karena mereka berdua masih ingin berjalan dengan kaki mereka sendiri.
Sampai di lantai dua, kami mengecek dimana ruangan kami berada. Melihat kalau fotografer sedang bersiap-siap, kami menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki penampilan kami terlebih dahulu. Agar nanti saat difoto menjadi lebih keren.
"Silahkan bapak ibu tunggu di sini. Sebentar ya, saya panggilkan fotografer nya dulu. "
Ruangan kami berada saat ini cukup luas. Kira-kira sekitar 2x3 meter. Di dalam ruangan ini terdapat beberapa atribut foto seperti sofa, lukisan, dan hiasan lainnya. Sambil menunggu tukang foto datang, kami puas-puas mengambil foto dengan kamera handphone kami terlebih dahulu.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, tukang foto akhirnya datang dan langsung mempersiapkan kami untuk diambil fotonya.
"Ya bapak ibu, Siap-siap ambil posisi. Adek yang di situ agak geser sedikit berdirinya. Siap ya, satu dua tiga. "
Abang foto mengarahkan kami setiap pengambilan sesi foto. Ada saat Arip di foto sendiri, foto bersama keluarga inti. Barulah foto dengan seluruh anggota. Kami diambil fotonya berkali-kali.
Setelah puas mengambil foto, kami keluar ruangan untuk melakukan pilihan foto mana yang akan kami cetak. Seharusnya kami juga akan mendapatkan versi digital dari foto ini selain dalam bentuk fisik. Biasanya foto diberikan selain cetak, adalah dalam bentuk CD.
Arip dan ibu berdua memilih foto yang akan dicetak, kemudian mereka akan membereskan masalah administrasi seperti membayar biaya pengambilan foto. Setelah semuanya beres, kami melanjutkan jalan-jalan sebentar kemudian kembali ke tempat Eyang.
Keesokan harinya, kami sudah bersiap-siap untuk pulang. Karena nanti hari senin semuanya akan kembali bekerja. Aku sendiri akan kembali ke Tangerang duluan karena besok aku akan kembali berangkat ke kantor. Jadi aku turun lebih dulu daripada bapak dan yang lain. Arip sendiri masih menetap di Jogja karena masih ada urusan yang harus ia bereskan. Karena itu formasi kami saat pulang adalah lengkap sekeluarga kecuali Arip, serta Om Maman sebagai supirnya.
Karena pada saat ini masih awal pandemi sehingga belum wfh. Perjalanan kami cukup melelahkan apalagi ketika momen Yana ngambek. Hal ini terjadi ketika kami sampai di sebuah rest area.
"Ayo belok dulu, cari makan padang." Bapak ngotot memaksa kaki semua makan padang.
Bapak dengan lahapnya memakan masakan yang ia pesan. Aku, Lamda, dan Om Maman juga melakukan hal yang sama. Selesai makan, bapak dengan pedenya merokok di ruangan ber-AC. Lucunya, pegawai restoran ya malah membawakan asbak untuknya, bukanya melarang bapak merokok. Katanya dilarang merokok malah menyediakan asbak, kok aneh ya?
Beres makan padang, aku yang membayar biaya makan. Nantinya sih biasanya akan diganti tidur oleh ibu. Setelah selesai makan, aku melihat Yana masih ngambek karena gak mau makan di tempat karena masih ada was was pandemi. Dia lebih pengen makanya di bungkus sehingga bisa dimakan di dalam mobil.
Selesai masalah makan, kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya aku turun di Tangerang. Ketika sampai di Tangerang, waktu sudah cukup malam. Sepertinya mereka akan sampai ke rumah pada saat pagi dini hari nanti. Aku membawa barang yang aku bawa kemudian turun dari mobil. Tentunya aku sudah cek terlebih dahulu apakah ada barang yang tertinggal.
"Bapak, ibu, Raya pamit dulu ya mau ke kontrakan. "
"Iya nak, hati hati di jalan sama kerja yang rajin ya. "
Setelah pamitan dengan keluarga, aku kembali melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sampai ke kontrakan, aku langsung istirahat karena sudah lelah perjalanan seharian. Tentunya aku sudah ganti baju terlebih dahulu dan mengenakan baju yang lebih nyaman dikenakan di rumah.
__ADS_1
Malam ini istirahat, dan esok harinya aku kembali bekerja. Arip sudah wisuda, sudah mulai saatnya ia mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Semoga ia bisa cepat mendapatkan pekerjaan. Karena masa pandemi seperti ini, sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Aku juga belum tentu bisa mencari pekerjaan dengan cepat kalau berada di situasi yang sama.
Beberapa bulan setelahnya, aku kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Aku juga mendapatkan kabar kalau Arip sudah mulai tes kesana kemari untuk mencari pekerjaan. Hingga pada akhirnya, ia mendapatkan kesempatan kerja setelah lulus dari semua tes.
"Mah, pah, aku dapat pekerjaan. "
Saat kami semua ngumpul di ruang keluarga, Arip memberikan kabar kalau ia akan mulai pelatihan kerja secara online dan akan melakukan tanda tangan kontrak.
"Selamat Arip, akhirnya setelah melalui banyak tes. Kamu akan mulai bekerja. Mau dimana acaranya?"
Ia berkata bahwa tanda tangan kontrak akan dilakukan di hotel yang berada di Jakarta. Aku sempat iri karena pada zaman ku dulu, tidak ada acara megah seperti itu. Walaupun begitu, aku tetap senang akhirnya adikku sekarang sudah memasuki dunia kerja seutuhnya.
Namun ia cukup dilema. Karena kalau ia menerima tawaran ini. 5 tahun lamanya ia harus mengabdi sesuai dengan kontrak. Karena ia diterima di salah satu perusahaan milik negara. Sekalinya ia ambil kontrak ini, ia tidak bisa baik keluar kecuali membayar denda.
Hal lainnya yang membuatnya semakin galau adalah lini bisnis yang ia masuki adala perbankan. Dari banyak kajian yang aku ikuti. Masuk ke dalam bank konvensional dan mengurusi riba hukumnya haram. Entah yang benar aturannya seperti apa karena banyak pendapat dari ulama yang masing-masing hukumnya berbeda. Tergantung aliran mana yang kalian ikuti.
Aku sempat menanyakan kepada teman-temanku yang lain mengenai pekerjaan adikku ini. Kebanyakan dari mereka memilih untuk menghindari perbankan. Masalahnya, semua duit awalnya dari sana dan banyaknya di sana. Apalagi, kesempatan kerja saat pandemi seperti ini jarang sekali ada.
Untungnya aku tidak masuk ke bagian penawaran kredit, ia malah masuk ke bagian IT nya. Job yang sebenarnya lebih cocok denganku daripada lulusan adikku. Meskipun begitu, aku senang ia akhirnya mendapatkan pekerjaan yang cukup baik.
Setelah perdebatan panjang dan ia sempat berpikir lama, akhirnya ia memutuskan untuk mengambilnya. Karena lokasi hotel ya di Jakarta, orangtua kembali menelepon Om Maman untuk mengantarkan Arip ke lokasi hotelnya berada.
Semoga saja semua urusan kantor adikku dapat berjalan lancar. Karena ia juga masih harus mempertimbangkan isi kontrak sebelum tanda tangan. Aku sangat wanti-wanti ia harus membaca secara detail dan memahami semua isi kontrak kerja yang akan ia tandangati. Agar kedepannya ia tidak akan mendapatkan masalah karena ada cacat di kontrak tersebut.
Ya Allah, lancarkanlah urusan adiku dalam urusan pekerjaan dan semoga ia dapat sukses di jalan yang ia pilih ya Allah. Aamiin
*bersambung*
__ADS_1