
“Gimana mas, dengan si Seli itu?”
“Gak ada kelanjutan mah, dianya gak aktif lagi.” Jawabku dengan nada sedih.
Saat aku sedang istirahat di rumah, ibu menanyakan perihal Seli denganku. Wajar saja, sepertinya ia belum mendapatkan kabar kalau wanita yang satu ini kelihatan tidak tertarik kepadaku. Mungkin itulah alasannya memberikan alasan klise seperti sekarang masih fokus nyari kerja, belum mau mencari pasangan. Berbeda sekali dengan informasi yang dahulu ibunya berikan kepada kami.
Aku yakin, kalau ketemu pasangan yang pas. Dia tidak akan membalas dengan alasan seperti itu. Tetapi aku harus tetap bersyukur, karena ia menolak dengan cara halus. Tidak mendapatkan penolakan secara kasar seperti yang temanku rasakan.
Meskipun aku sedih, namun aku tidak boleh menyerah. Mungkin memang ini belum jodohnya. Aku yakin suatu saat nanti, akan ada jodoh yang sudah ditetapkan oleh yang maha kuasa. Hanya dengan menghabiskan waktu dengan kegiatan positif bisa mengurangi kesedihanku atas kejadian ini. Paling tidak kegiatan itu membuatku tidak terlalu memikirkan penolakan yang aku terima.
Waktu berlalu, hingga pada akhirnya aku bersiap untuk mencari kembali pasangan hidup yang akan menemaniku sehidup semati. Kali ini, calon bukan berasal dari ibu. Melainkan dari Om Beni. Om Beni merupakan adik dari bapakku yang memiliki perawakan jenggotnya yang panjang. Serta dandannya mirip dengan ustad ustad gitu.
Aku pernah intens ngobrol dengan om yang satu ini, karena tadinya sebelum aku pegang. Ia yang mengurus kontrakan jatahnya bapak. Setelah dilimpahkan kepadaku, aku menjadi pengurus tunggal kontrakan tersebut.
[Ray, denger-denger lagi nyari calon ya? om ada nih. Mau kenalan gak?]
__ADS_1
[Boleh om, kapan mau ketemuan?]
Kami kemudian melanjutkan obrolan dengan lokasi tempat dan juga waktu ketemuannya. Dilihat dari rencananya, sepertinya hasilnya akan sama dengan sebelumnya. Karena selain kami berdua, keluarga juga akan ada yang menemai. Sepertinya aku akan canggung dan tidak akan banyak bicara. Semoga saja, aku bisa memiliki kesempatan untuk bersama dengan wanita bernama Dewi ini.
Hari demi hari berlalu. Semakin mendekati waktu ketemuan. Hatiku semakin berdebar-debar. Kali ini, aku sudah lebih memantapkan teori untuk pdkt yang aku miliki. Namun entah nanti prakteknya akan seperti apa hasilnya. Lebih baik aku banyak banyak mempersiapkan teori, daripada tidak sama sekali. HIngga pada akhirnya, waktu ketemuan dimulai.
Dari rumah, aku berangkat sendiri dengan menggunakan sepeda motor. Dewi berangkat dengan rombongan yang lain dan tidak perlu aku jemput. Setelah sampai di sebuah restoran, aku mulai masuk dan mencari dimana posisi om Beni berada. Aku menemukan posisi mereka dan mulai melambaikan tanganku.
“Sini Ray, ayo duduk. SIni, om perkenalkan. Ini Dewi, kenalin ini Ray.”
“Oh ya? di mana?”
Jawaban Dewi membuatku sedikit kaget. Namun setelah kuperhatikan lagi Dewi dengan seksama. Ternyata ia merupakan teman sekolahku saat SMA dulu. Meskipun memang kami tidak pernah sekelas. Namun aku tahu mengenai dirinya. Sayangnya, kami tidak ngobrol banyak saat masa sekolah dulu. Karena saya memang tipikalnya lebih ke arah orang yang pendiam.
Dewi memiliki paras tubuh yang sedikit berisi, kemudian ia mengenakan kerudung serta dandanan islami. Ia juga memiliki kulit berwarna sawo matang. Indonesia banget deh. Namun sayangnya, ia tidak termasuk ke dalam tipe cewek yang aku sukai. Meskipun begitu, aku masih akan mengetes apakah Dewi akan punya ‘rasa’ padaku setelah pertemuan ini.
__ADS_1
Kami mulai memesan makanan sebelum memulai pembicaraan. Setelah semua pesanan sudah beres, barulah acara inti dari pertemuan ini dimulai. Aku memulai pembicaraan terlebih dahulu, berusaha untuk lebih proaktif.
“Dewi bagaimana kabarnya? Kerja apa sekarang? kuliah dimana dulu?”
Aku mulai membombardir Dewi dengan pertanyaan yang sudah aku siapkan sebelumnya. Namun bukannya mendapatkan respon yang positif, istrinya om Beni malah bercanda denganku dan bilang kalau nanyanya terlalu serius, sudah seperti wawancara kerja katanya. Aku hanya bisa tersenyum pahit mendengar hal itu. Ternyata tipe pertanyaan yang aku siapkan menimbulkan hasil yang tidak sesuai dengan tujuan utama.
Mau tidak mau, aku mengganti topik menjadi lebih ringan. Namun sama seperti sebelumnya, aku juga tidak bisa merasakan klop di antara kami. Dewi juga kelihatannya juga merasakan hal yang sama. Untungnya makanan restoran yang merupakan trakritran dari om Beni membuatku sedikit bersemangat. Meskipun kelihatannya kurang berjalan lancar, kesempatan masih ada. Aku masih bisa melanjutkan kontrak dengan DM Lamagram.
Selesai makan, kami berpisah dengan adanya tanda-tanda akan ada kontak selanjutnya. Namun meskipun Dewi bilang tinggal DM dia saja melalui Lamagram, kenyataannya ia tidak membalas pesanku, sama seperti wanita sebelumnya. Berpisah dengan om Beni, aku pulang dengan hawa yang sangat berat.
Pertemuan kali ini ada unsur paksaan di dalamnya, karena hingga saat ini aku masih belum terlalu siap untuk menikah. Aku menyadari hal ini setelah pertemuan ini berakhir. Awalnya semangat PDKT, malah berakhir seperti ini. Meskipun belum ingin mencari pasangan, tetapi orangtua getol banget mengenalkan cewek-cewek kepadaku dan aku harus bertemu dengan mereka dan tidak bisa menolak. Ditambah dengan hasil PDKT kali ini yang bisa dibilang cukup gagap total. Membuatku semakin malas saja untuk berurusan dengan lawan jenis.
Dengan perasaan bete, aku langsung istirahat saja begitu sampai di rumah. Meskipun ibu dan bapak sempat menanyakan bagaimana hasil PDKT kali in. Aku hanya menjawab sekilas saja dan hampir saja membentak mereka. Untuk hal itu tidak jadi dilaksanakan. Kalau kejadian, bisa dikutuk aku nanti menjadi batu seperti malin kundang.
Selesai istirahat semalaman, beruntung mood ku sudah membaik dan aku siap untuk melanjutkan kegiatan hari ini sama seperti biasa. PDKT sudah gagal dua kali, bagaimana dengan PDKT berikutnya? Semoga saja tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Karena aku masih belum ada keinginan untuk membangun rumah tangga. Namun untuk kedepannya, siapa yang tahu? Bisa saja aku berubah pikiran dalam waktu dekat.
__ADS_1
*Bersambung*