
“Selamat datang pak, ada yang bisa kami bantu?”
“Aku mau mengurus nomor yang hilang mbak”
Petugas menanyakan apakah aku sudah membawa semua syarat yang diperlukan. Satu per satu, aku memperlihatkan semua dokumen yang ia minta. Setelah menerima semua dokumen, ia memastikan bahwa dokumen yang aku berikan semuanya valid.
“Baiklah pak, tunggu sebentar ya. Saya ambilkan nomor antrian dulu.”
Langsung ia mengambil nomor antrian dari alat yang sudah dipersiapkan. Kemudian ia memberikan kertas tersebut kepada diriku. Kulihat nomor antrian kurang lebih harus menunggu 2 atau 3 orang lagi. mau tidak mau, sambil nunggu aku bermain hp dan juga melihat orang-orang sekitar.
Memang senang sekali kalau melakukan observasi terhadap orang. Karena penduduk indonesia yang 200 juta lebih ini, semuanya memiliki keragaman dan keunikan satu dengan yang lain. Dari sekilas saja kita sudah bisa melihat fashion yang orang itu suka, kemudian terlihat juga dari gaya bicara dan gestur tubuhnya, dapat mengetahui orang tersebut kerja di bidang apa. Namun ilmu masih belum bisa ke sana. Karena memang aku tidak melakukan hal ini secara rutin. Pergi ke luar rumah saja jarang, apalagi melakukan observasi orang.
Aku sendiri sebagai cowok normal, kebanyakan memperhatikan cewek cantik saja. Cowok aku lihat sekilas tapi tidak terlalu detail. Biasanya aku lebih lama melihat wanita saat melakukan observasi. Karena biasanya mereka selalu tempati prima saat keluar rumah. Berbeda dengan cowok yang biasanya tampil seadanya saat keluar (contohnya diriku sendiri, hehehe).
Beberapa menit setelah aku bermain hp dan juga melakukan observasi, akhirnya giliranku dipanggil sudah tiba.
“Nomor antrian xxx, silahkan menuju loket”
Aku langsung beranjak dari kursiku dan duduk di loket yang ditentukan. Kali ini yang menjaga counternya adalah mas-mas.
“Ada yang bisa saya bantu pak.”
“Jadi begini mas...”
Seperti biasa, aku kembali menceritakan kronologi kejadian dan maksud tujuanku ke tempat ini. Setelah mendengar ceritanya, sang petugas langsung meminta data kembali dan melakukan identifikasi sebelum melakukan proses pemindahan kartu sim. Sempat ada masalah karena dulu aku menggunakan nomor KK yang lama untuk mendaftar nomor tersebut. Karena itulah aku harus menginputkan kembali nomor tersebut kalau ingin melakukan transfer kartu sim.
Untungnya Arip juga mengirimkan data KK yang lama. Aku kurang ingat, kenapa KK sempat dilakukan pembaruan. Perasaan tidak ada anggota keluarga baru yang masuk ataupun keluar. Selesai mengurus itu semua, akhirnya aku mendapatkan nomorku kembali. Tentunya setelah ini aku membayar dengan biaya yang juga telah ditetapkan. Seingetku sih, tidak terlalu mahal, tidak sampai ratusan ribu untuk biayanya.
“Nanti ditunggu selama 24 jam sebelum nomornya aktif kembali kak. Kalau ada problem, tinggal telepon ke call center. Boleh juga kembali ke sini.”
__ADS_1
“Terima kasih mas”
“Sama-sama.”
Beres mengurus kartu, aku lihat kalau toko ini dekat dengan tempat kantorku. Melihat kalau saat ini masih waktu jam kerja. Aku mampir ke sana untuk melihat siapa saja yang masih kerja. Perjalanan aku lalui dengan menyebrang jalan dan juga melangkahkan kaki sejauh ratusan meter.
Sampai di kantor, kembali aku merasa sedikit kelelahan karena aku sudah banyak jalan hari ini. Pak Herman melihat diriku sedang ngos-ngosan duduk di depan kantor.
“Eh, ada pak Ray. Gimana pak? lancar tadi buat laporanya.”
Aku memberitahukan apa saja yang terjadi. Terutama mengenai pemberian barang bukti yang kurang.
“Wah, kalau itu minta saja ke Pak Sabar. Kayaknya dia ada deh.”
“Oke, makasih pak kalau begitu, nanti saya tanyakan.”
Mendapatkan informasi itu, aku langsung berusaha untuk mengontak pak Sabar. Agar besok bisa langsung kembali ke kantor polisi dan mengurus laporan laptop kantor yang hilang itu. Tentunya saat ini aku sudah menggunakan nomor WA yang lama, sehingga tidak perlu kembali aku memperkenalkan diri, karena nomornya tidak ganti.
*Keesokan harinya*
Sebelum ke kantor polisi, aku kembali mampir ke kantor terlebih dahulu.
Pak Rawan dan yang lain melihatku yang sudah masuk ke kantor tapi tidak mengeluarkan laptop. Mereka pastinya berwajah sedikit sedih karena sudah mendengar cerita yang terjadi tempo hari. Aku ngobrol dengan mereka sambil menunggu dokumen yang aku butuhkan tiba.
Beberapa jam kemudian, Pak Sabar akhirnya mengirimkan pesan melalui wa.
[Sudah ada nih Ray, dokumen yang kau minta]
[Ok, terima kasih pak. OTW ke sana]
__ADS_1
“Semuanya, aku duluan ya. Mau ngurus kembali ke kantor polisi”
“Oh, silahkan pak. Semoga lancar semua dan cepat selesai”
Aku langsung pamitan ke semua orang di sana dan pergi ke tempat pak Sabar berada. Ia saat ini berada di gedung sebelah, sepertinya dokumen tersebut disimpan di tempat lain. Pintu ruangan aku ketuk terlebih dahulu dan baru aku buka setelah ada respon dari dalam. Karena tidak sopan kalau main nyelonong masuk saja.
“Cari siapa pak?” Tanya salah satu karyawan di sana.
“Nyari pas Sabar”
“Pak Sabar..tuh ada di sana. Langsung saja ke sana.” Ucapnya sambil menunjuk ke arah pak Sabar.
Setelah mengucapkan terima kasih, aku langsung menuju tempat pak Sabar berada. Ruangan ini tipikal kantor pada umumnya. Terdapat beberapa meja kecil dan juga bilik yang memisahkan antara satu meja dengan meja yang lain. Meskipun kecil, meja tersebut cukup untuk menaruh laptop ukuran 14 inci dan juga menaruh beberapa dokumen. Kursinya juga semuanya kursi kantoran yang agak bagus dan juga cukup empuk. Cocok untuk dipakai duduk di depan meja seharian.
Sampai ke tempat pak Sabar, aku langsung menanyakan dokumen yang aku minta.
“Gimana pak? Ada semua dokumennya?”
“Ada sih, kamu itu sebelum Banu kan ya datangnya. Kayaknya sih yang ini. Speknya mirip, tapi punya kamu lebih murah.”
Aku melihat dokumen tersebut. Satu per satu kata di dalam dokumen itu aku baca dengan seksama.
“Benar pak yang ini invoicenya. Makasih ya, saya langsung ke kantor polisi dulu untuk mengurusnya.”
“Sama-sama. Hati-hati ya di jalan. Yang tabah ya Ray. Kehilangan seperti ini adalah musibah. Harus perbanyak sabar, insya Allah, nanti akan dibalas yang lebih baik.”
Senang sekali ada orang yang memberikan semangat seperti ini. Tidak seperti pak Tian. Saat aku cerita seperti ini, malah aku di salah-salahin karena tidak mengunci pintu kamar. Memang benar aku yang salah, tapi bisa kan, hibur aku juga dengan memberikan semangat.
Kali ini perjalanan sudah lebih enak, pergi ke kantor polisi sudah menggunakan ojek online. Karena aku sudah mengurusnya tadi malam. Sudah berhasil bikin akun dan juga bisa aku gunakan untuk berangkat ke kantor polisi, karena angkutan umum untuk ke tempat itu jarang sekali. Aku tidak ingin menghabiskan waktu untuk menunggu yang tidak pasti.
__ADS_1
Sampai di kantor polisi, tiba saatnya untuk aku membuat laporan mengenai alat elektronik yang hilang. Apakah aku akan mengalami kendala sama seperti kemarin? Semoga saja semuanya aman dan terkendali.
*Bersambung*